
Dap dap dap
Derap kaki cepat yang ditimbulkan oleh sepatu pantofel hitam kepunyaan wanita paruh baya yang memiliki garis wajah tidak ramah menggema sepanjang koridor, menyusuri marmer kosong di lobi sekolah, melangkah cepat dengan sorot wajah murka, kacamata tebal bertengger di pangkal hidungnya, di genggamannya terdapat penggaris rotan tebal nan panjang.
"Berhenti kalian!" teriak guru tersebut, suaranya melengking dan bergema menyebabkan seluruh murid dapat mendengar.
Tiga cowok yang dikejar, berlari tergopoh-gopoh menerjang keramaian di koridor, mendorong siapa saja yang menghalangi dan menendang sekumpulan cowok yang sengaja mencari gara-gara dengan menghambat jalan.
"Woi awas!" Reyhan berdecak, mendorong kumpulan cewek-cewek cheerleader yang sedang merumpi di tengah koridor.
Akhirnya setelah perjuangan setengah mati melewati berbagai rintangan, ketiganya sampai di taman belakang tak terpakai.
"HEY! SAYA BILANG BERHENTI!"
"Maaf Bu, tapi Ibu bukan lampu lalu lintas yang harus dipatuhi!" jawab Azka berteriak, sempat-sempatnya di saat memanjat tembok.
"AZKA, SATYA, REYHAN!" Sang Guru hampir mencapai mereka tapi gagal, taman belakang menjadi ramai, para murid berbondong datang sekadar menonton apa yang terjadi, bahkan anggota osis ikut berpartisipasi menangkap troublemaker tetapi tidak sempat karena ketiga cowok itu lebih dulu menghilang.
"KEMBALI KALIAN!"
"Ogah," ledek Reyhan dari balik tembok. Ketiganya langsung berlari menjauh sebelum satpam menangkap mereka.
Memastikan jarak sudah lumayan jauh dari sekolah, Satya menghentikan langkah, menopang tubuh di lutut seraya menetralkan deru napasnya yang terengah-engah.
"Nih, kampret!" Reyhan melempar sesuatu kepada Azka yang langsung diterima oleh si empu benda.
"Fiuh~ finally."
"Nyusahin mulu lo, anying!"
Azka menyengir cepat. "Salah?"
"Gue sama Reyhan kena getahnya!" tukas Satya. Cowok itu membetulkan jaket denim yang ia pakai lalu kembali berjalan.
"Mana motor masih di sekolah. Dasar beban lo!" Reyhan memicingkan mata pada Azka lalu menyusul Satya dari belakang.
"Ya sori, gue juga nggak tahu ini bakalan jatoh depan Bu Reni." Kedua bahu Azka terangkat acuh, sama sekali tidak merasa bersalah. Dia menyimpan barang berharganya lalu menyusul kedua temannya dari belakang.
"Jadi kemana?" tanya Satya sambil menyipitkan mata karena terik matahari menghalau pandangan.
"Rumah si Azka lah. Rumah gue nggak bisa, nyokap bisa nyerocos kalau tau gue ngulah lagi di sekolah," jawab Reyhan.
"Jangan rumah gue, bokap gue pulang entar malem." Azka ikut menyipitkan mata.
"Ck, kan lo yang ngulah, gue sama Satya korban."
"Ssst! Gue anak baik."
"Anak baik dari hongkong? Tai."
Drrrt
Satya merogoh saku, mengambil benda pipih yang barusan bergetar. Sebuah panggilan dari kontak 'Sya ❤️' tertera di layar ponsel. Tanpa ragu ia menggeser tombol hijau.
"Kenapa Sya?"
"...."
"Nggak, Azka yang ngulah."
"...."
"Hum, entar aku jemput."
Tut.
__ADS_1
Satya kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Rumah gue dah, ngantuk banget, masih ada waktu tidur sebelum jemput Mei-Mei."
Ketiga cowok tersebut mengangguk setuju, lagipula rumah Satya yang paling aman digunakan membolos dikarenakan orangtua Satya berbeda rumah dengannya sehingga tidak akan ada yang menginterogasi. Ketiga cowok itu pun menaiki bus umum yang lumayan ramai. Tidak ada kursi tersisa, namun mereka masih bisa berdiri.
"Eh Sat, ada sabun nggak di rumah lo?" tanya Azka di sela kesesakan bus.
"Yee." Satya menoyor kepala Azka. "Buat dosa aja lo."
"Apaan? Orang gue mau mandi. Pikiran lo yang jorok, tuh."
...🍂🍂🍂...
"Vit, lo nggak papa?"
Vita tersenyum, tetap bersabar meski ini sudah pertanyaan kelimabelas kali yang keluar dari bibir Kayla.
"Gue serius, muka lo pucet banget."
"Nggak papa."
"Tuh! Suara lo jadi lemah gemulai gini."
Vita mengabaikan Kayla, memilih menelungkupkan wajah di tumpukan ransel. Sebenarnya kini ia tengah menahan sakit yang luar biasa, namun ia tidak ingin memberitahu siapapun atau sekadar mampir ke UKS. Bila ia melakukan itu, tamat riwayatnya karena dokter akan memeriksa kondisinya dan seluruh sekolah akan segera mengetahui kondisinya. Ia tidak bisa melakukan itu dan lebih memilih menahan segalanya. Toh, bel pulang sebentar lagi akan berbunyi. Vita hanya perlu menunggu beberapa menit lagi.
"Kalau lo tetep nggak mau ke UKS, gue bakal suruh Jono ngegendong lo."
Vita tidak menggubris. Decitan kursi terdengar yang berarti Kayla beranjak dari kursi menghampiri Jono. Vita meringis. Si Kayla itu menepuk bahu Jono, berbicara ngegas sambil menunjuk ke arah Vita, Jono pun mengikuti arah tunjuk Kayla, lima detik berikutnya keduanya berjalan mendekat.
"Kayla bilang lo butuh bantuan?"
Ringisan kembali keluar dari bibir Vita, dasar Kayla. Tersenyum kikuk, Vita menolak dengan halus. "Enggak, tapi makasih ud-"
"Apain sih lo pake nanya?! Tinggal gendong, Jono!" potong Kayla.
"Gue juga nggak masalah kok Vit bantuin lo." Dia ingin melingkarkan lengannya lagi, tapi Vita segera berdiri.
"Aku bilang nggak papa!" sentak Vita tanpa sadar.
Jono terkejut, merasa kecewa lalu pergi kembali ke kursinya.
"Lo kenapa sih Vit? Dibantuin malah ngeyel! Lo nggak tau badan lo sepanas apa?!"
Tepat saat ingin menjawab, bel pulang berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.
"Sekarang aku baik-baik aja." Vita mengemas barang-barangnya, tidak butuh waktu lama selesai, ia menenteng ransel dan keluar dari kelas, meninggalkan Kayla yang mulai kesal.
Di sepanjang koridor, Vita berusaha keras melangkah, selain ramai suasana koridor begitu ricuh, dorong mendorong dan saling berteriak, apalagi para cowok bertindik dengan seragam tercoret-coret, mereka berteriak-riak entah apa fungsinya, mungkin caper. Tetap saja hal itu mengganggu pendengaran, apalagi Vita yang kini sangat sensitif terhadap apapun.
Untungnya sekarang Vita memakai hoodie, ia menutupi atas kepalanya sampai pinggang dengan hoodie tersebut, di bagian kaki ia memakai stoking sehingga seluruh tubuhnya tertutup sempurna, ia juga memakai masker sehingga jarang orang mengenalinya selain Kayla dan Nova.
Setelah berjuang setengah mati melewati gelombang murid, akhirnya Vita sampai di penghujung koridor yang luas, di sana Vita bisa menghela napas lega. Ia melanjutkan langkah usai lima menit beristirahat, sesampai di halaman utama sekolah, perhatiannya tercuri ke depan gerbang. Meski sangat sakit, Vita berusaha acuh, memilih keluar dari gerbang lain.
Setiba di halte, seluruh kursi ternyata telah dipenuhi, tidak ada kursi kosong untuk ibu hamil seperti Vita, ditambah perut Vita lagi-lagi mengeram.
"Satya, satya, satya," gumamnya berulangkali, berharap Satya datang untuk mengantarnya pulang. Tapi jelas itu mustahil, hanya terdapat dalam angannya saja.
Mengorbankan seribu tetes keringat, akhirnya ada kursi kosong, Vita bersiap-siap mendudukkan bokong di sana, namun tiba-tiba saja orang lain merebutnya.
"Ini kursi gue," ucapnya tegas.
Ingin Vita menangis, padahal ia duluan yang menargetkan kursi itu. Tetapi Vita apa daya? Dengan kesedihan mendalam gadis berkulit putih itu kembali berdiri di bawah terik matahari, menunggu bus datang.
Lima belas menit menunggu, ini lah saatnya, sebuah bus berwarna hijau berhenti tepat di depan halte, pintunya terbuka menurunkan beberapa penumpang, setelah itu para murid mulai naik. Dengan susah payah Vita melangkah---selayaknya ibu hamil---menuju pintu bus, Vita mendapat giliran masuk terakhir, saat dia mau naik---
"Maaf Dek, busnya penuh. Tunggu bus berikutnya ya," ucap si supir, mendorong Vita turun lalu menutup pintu. Bus tersebut melaju menyisakan asap kendaraan yang mengepul di udara.
__ADS_1
Air di pelupuk mata sudah menggenang, Vita tidak bisa menahan lagi, ia terisak. Kini halte sudah sepi, hanya ada dirinya yang sangat bodoh. Menyedihkan.
Brum Brum~~
Tiga motor melaju melewati halte dengan kebut-kebutan, Vita terbatuk-batuk karena asapnya begitu tebal, padahal sudah pakai masker, rasanya tetap sesak. Tiba-tiba saja deru motor kembali terdengar, sepertinya salah satu di antara ketiga motor tadi berputar balik. Tapi anehnya, motor itu malah berhenti tepat di depan halte, tepat di hadapannya.
Si pengendara membuka helm, menampakkan wajahnya yang membuat Vita mengerti mengapa ia melakukan itu.
"Belum balik juga?" Ia bertanya.
"Belum." Gadis itu mengusap mata sambil membuang muka.
"Terus lo nunggu apa? Bus berikutnya dateng sejam lagi."
"...."
Dia turun dari motor, Vita langsung panik saat dia berjalan mendekat.
"Ngapain?!"
"Ya duduk, ini halte kan?" Sang cowok bernametag Azka itu duduk di ujung kursi, sangat jauh dari jarak Vita berada yang membuat Vita sedikit lega.
"Nih!" Azka mengoper ponselnya begitu saja lewat kursi halte, untungnya tidak jatuh dan tepat berhenti di sebelah bokong gadis putih tersebut.
"Apa?"
"Baterai ponsel lo abis makanya nggak bisa pesen ojol? Pake ponsel gue tuh!"
Padahal Vita tidak memberitahu tapi dia tahu? Ponsel Vita memang tidak menyala karena sudah habis baterai sejak istirahat pertama, itu sebabnya ia tidak bisa menghubungi siapapun dan tidak bisa memesan ojek online seperti biasa. Sedikit lambat Vita mengambil ponsel tersebut, ponsel yang sangat berbeda dari miliknya---tentu saja---ponsel yang ada di genggamannya kini tidak bercasing lalu---saat Vita menyalakan layar ternyata tidak diberi kunci apapun, wallpapernya juga cuma hitam, sangat berbeda dari punyanya yang berwallpaper genggaman Satya.
Tidak ingin berlama-lama, Vita mulai mencari aplikasi ojol di menu beranda, tapi sudah mencari sedetail mungkin sepertinya tidak ada tanda-tanda aplikasi pemesan ojek.
"Aplikasi ojeknya nggak ada," desisnya, terus menggeser menu ke kanan dan kiri.
"Ada kok, di menu kedua."
Vita mencari sesuai perintahnya, tapi ... tetap tidak ada.
"Nggak ada!"
"Ada, Vit!"
Desisan Vita keluar, apa ia sedang dipermainkan?
"Gue nggak lagi ngegoda lo, beneran ada."
Benaran ada katanya?!
"Tapi di sini nggak ada!"
Dia mengernyitkan dahi, berjalan mendekat, duduk tepat di sebelah Vita lalu menggeser menu ponsel.
"Tuh! Di sebelah galeri," tunjuknya.
Tentu saja Vita tidak dapat menemukan apa yang dicari, nama aplikasinya ialah 'hihi', dia pikir apa?! Harusnya dia bilang sejak awal! Dengan kesal Vita mulai memesan ojek, mengetikkan alamatnya melalui keyboard, tanpa sadar Azka mengintip diam-diam.
Selesai memesan, Vita tersadar bahwa Azka sudah sangat dekat dengannya. "Kamu---!" Pupil matanya membesar.
Azka menyengir, merebut ponselnya lalu berlari menuju motor untuk ia naiki. "Bentar lagi ojol lo nyampe, gue duluan ya," katanya sambil menggoyangkan ponsel.
Mengenakan helm, menyalakan mesin dan melajukan motor, ia pergi begitu saja meninggalkan Vita yang wajahnya memerah. Bukan, wajah Vita memerah bukan karena malu, melainkan karena mengingat jaraknya dengan Azka tadi sangat dekat, meski tidak bersentuhan Vita tetap ketakutan.
Air mata Vita kembali menetes, mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Satya.... Kejam sekali.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1