
VOTING MAIN MALE ROLE PENTAS SENI SMA PERKASA 2021
Azka Putra Radena 12 IPA 3 : 41%
Enzino Satya Aksara 12 IPA 3 : 39,7%
Ricky Samudera 10 IPA 2 : 19,3%
VOTING MAIN FEMALE ROLE PENTAS SENI SMA PERKASA 2021
Meisya Amelia 12 IPA 3 : 45,3%
Vita Erlis Pryanka 11 IPA 1 : 39,6%
Aresya Anandita 10 IPA 2 : 16,1%
"Nggak!" Nada tegas bercampur ketidak-setujuan menggelora di ruang aula, suara gebrakan menyusul, para anggota kepengurusan menyorot bingung. "Gue nggak setuju! Ini nggak adil!"
"Nggak adil gimana? Jelas-jelas ini udah paling fair!"
"Gue nggak setuju! Meisya itu cewek gue! Gue ikutan karena bareng dia, kalau ujungnya gini, mending gue pergi." Satya menggenggam lengan gadisnya, membalikkan badan.
"Lo nggak bisa gitu! Harus profesional, dong! Lagian yang milih satu sekolahan. Ikhlas kalau bukan lo yang pemeran utamanya!"
Wajah Satya mengeras, dari ekor mata ia melirik Azka yang diam-diam memperhatikan Vita. Ada rasa tidak rela dalam hatinya apalagi mengingat hubungannya dengan Azka tidak baik belakangan ini. Dan juga, ia jadi membenci cowok itu karena selalu mendekati Vita, bahkan sekarang masih bisa curi-curi tatap.
"Nggak masalah tau. Aku nggak keberatan," seru Meisya.
"Kamu beneran mau?" Satya memastikan. Tanpa sengaja melirik Vita sekilas, gadis itu terlihat mematung di pijakan. Melihatnya saja sudah menimbulkan kejengkelan dalam hati Satya.
"Iya, lagian Azka doang mah. Kita kan udah sahabatan dari kelas sepuluh."
Merasa ucapan itu ada benarnya, Satya kembali menghadap anggota kepengurusan, bersama Meisya yang masih ia genggam. Menepis perasaan kesal karena mungkin harus bertemu Vita lagi.
"Sekarang gue sama Ricky perannya apa?" tanya gadis bercepol, berintonasi lugas.
"Sabar dulu, biar dijelasin." Chelsea meminta rekannya mengambil lembar kertas dari atas dispenser. Saat kertas yang dimaksud sudah berada di genggamannya, ia membalikkan lembar tersebut memastikan. "Jadi, kita udah ngerevisi naskah, dan ngediskusiin, drama yang dibawa bukan Cinderella tapi Rapunzel."
"Lebih tepatnya Tangled," ralat cowok kemayu.
"Wow, gue jadi Rapunzel," celetuk Meisya sambil memiringkan seluruh rambutnya ke bahu.
"Intinya itu-lah. Meisya jadi Rapunzel. Azka jadi Flynn Rider. Aresya jadi Ibu Gothel---"
"What?! Ibu Gothel?!" Gadis berwajah galak memekik sembari memegang kedua pipi, kaget.
Tak menyahut, Chelsea malah melanjutkan pembagian peran. "Ricky jadi prajurit. Vita dan Satya jadi orangtua Rapunzel."
"Apa?!" sahut Vita terkejut, air mukanya kentara pucat.
"Gue nggak setuju!" Kali ini Azka yang menentang.
Tapi, Chelsea tampak acuh. "Peran lainnya bakal nyusul dari anak bahasa. Sekarang kalian pelajari dulu dialognya." Dia menyuruh rekannya membagikan naskah. Vita, Azka dan Satya tidak mau menerima lembar naskah tersebut.
"Nggak masuk akal," gumam Vita, masih dapat didengar semua orang.
"Nggak masuk akal gimana?"
"Drama pensi biasanya Cinderella atau Snow White, kenapa berbeda dari yang lain?" Vita tidak tahu caranya mengelak, sejujurnya ia tidak setuju karena perannya disandingkan dengan Satya, bukan karena jalan ceritanya.
__ADS_1
"Perannya nggak memuaskan!" lantang Aresya.
"Puas kok, gue suka," timpal si peran utama, Meisya.
"Ya itu lo! Kalau gue yang jadi Rapunzelnya juga bakalan seneng!"
"Nasib lo dapet peran Ibu-Ibu, jahat lagi, pftt."
"Ih, kurang ajar lo ya!"
"Udah-udah! Jangan bertengkar di sini!" Si cowok kemayu menengahi. "Kalian baca dulu naskahnya gimana, jangan asal nggak setuju. Lagian ini untuk pensi sekolah, nggak penting siapa atau gimana pembagian perannya. Yang penting peran utama dipilih melalui voting terbanyak. Kita harus turutin permintaan penonton, jangan pikirin masalah pribadi. Dan lo, Vita, jangan serakah pengin ngambil hati Pak Kepsek seorang diri, kita dari ekskul kepengurusan udah ngeluarin banyak waktu dan tenaga, kita pengin dinotice juga. Mohon bantuannya supaya kita dilirik Pak Kepsek."
"Nggak bisa gitu! Sama aja kalian ngemanfaatin Vita!" tukas Azka.
"Bukan ngemanfaatin, kita ngajak kerjasama."
"Seenggaknya kasih peran yang Vita mau!" Tidak biasanya seorang Azka yang doyan bercanda menjadi sedikit emosional.
"Udah! Aku nggak keberatan, kok." Cepat, Vita mengambil kertas naskah, membacanya dengan tubuh bergetar. Jujur, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang.
Sedikit tidak rela, namun karena Vita sudah setuju meski terpaksa, Azka juga mengambil naskahnya. Sedangkan Satya menerima naskahnya atas sodoran Meisya. Semua orang kini sudah mendapatkan naskah, dan mulai asyik membaca dialog. Ralat, yang membaca cuma Vita. Sedangkan yang lain sekadar membolak-balikkan kertas sampai akhir.
"Loh? Ada kiss scene?" Ucapan itu memancing kepanikan, apalagi Vita, dirinya terlanjur tremor karena takut ada adegan aneh-aneh. Namun ketika melihat siapa yang melakukannya, ada rasa lega dalam hatinya.
"Apa-apaan, sih! Yang bener aja kalau buat drama!" sarkas Satya, melempar kertas dari tangannya ke lantai.
"Bukan aneh-aneh, Azka cuma nyium kening Meisya!"
"Cuma lo bilang? Udah sinting, lo?!"
"Nggak papa, Sat. Kening doang, kok." Meisya menenangkan Satya.
"Kita udah jadi sahabat, udah ngelupain masa lalu."
"Nggak. Gue nggak bisa."
"Satya." Meisya memberikan tatapan seriusnya, menyudutkan manik legam milik Satya. Keduanya saling menatap. Sedangkan yang melihat melengos jengah. Kecuali Vita, dadanya diremat begitu sakit. Ujung-ujungnya Satya menghela napas, yang berarti tak bisa membantah keinginan gadisnya.
"Oke, semuanya udah setuju. Semoga nggak ada perdebatan lagi. Jadwal latihan setiap pulang sekolah. Gue harap semuanya hadir."
Anggota kepengurusan bubar, ada yang keluar aula, ada juga yang menetap mengerjakan urusan lain.
Vita berjalan cepat keluar dari aula, perasaannya dipenuhi kesesakan. Akan lebih baik jika dia tak melihat dua insan itu. Airmatanya meluruh jatuh di tengah perjalanan. Kejadian tadi terulang bak kaset rusak, dimana Satya sangat menjaga Meisya. Mengapa? Mengapa bukan dirinya yang ada di posisi itu?
...๐๐๐...
Sebagai sosok perempuan, kehormatan adalah nomor satu bagi mereka. Kehormatan menjadi mahkota yang harus dijaga setengah mati. Namun, sejak saat itu, Vita kehilangan apa yang seharusnya dia jaga. Dia tidak bisa mempertahankan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Kepala Vita mendongak ketika sebuah kacamata dipasangkan tanpa ijin ke kepalanya. Sebuah kacamata hitam. Untungnya saat dipasang tidak berkontak fisik dengannya.
"Apa?" Vita mengambil kacamata itu.
Azka tersenyum miring. "Kasian, orang-orang pada heran ngeliat mata lo mendadak sebesar bola pimpong."
Genggaman Vita di kacamata mengerat. Pandangannya menyorot kekosongan. Azka mengisi kursi sebelah, duduk berjauhan darinya sambil menatap langit. "Gue males jadi pemeran utama kalau bukan lo female role-nya. Mana gue harus nyium kening cewek yang nggak gue suka." Dia memetik beberapa kuntum bunga, meremasnya menjadi satu lalu melemparnya ke dalam kolam di depan mata. "Gimana kalau kita kabur?"
Para ikan yang ada di kolam mendekati bunga lemparan Azka, menelannya padahal bukan makanan. Spontan Vita merogoh saku mengambil sepotong roti, membelahnya menjadi beberapa bagian, melemparkan ke kolam hingga para ikan berebutan.
"Aku nggak mau kabur."
__ADS_1
Jawaban selang lima menit itu membuat Azka belum puas. "Kenapa? Bukannya lo juga keberatan?"
"Apapun yang dilakuin dan diputusin, itu udah jadi sebuah tanggung jawab, orang yang kabur nggak lebih dari pecundang." Tersirat luka tatkala Vita mengatakannya.
"Lo pernah ngebenci orang karna perbuatannya?" Azka bertanya penasaran sambil memandangi kolam, menerka-nerka posisi Satya di hati Vita.
"Munafik kalau aku bilang enggak. Karena sampe sekarang, aku masih benci diriku sendiri."
Azka tertegun melihat setitik airmata tiba-tiba menetes dari pelupuk Vita, sedikit tidak menyangka gadis itu menunjukkan airmatanya. Airmata yang mengandung kesedihan. Selama ini dia menutup rapat-rapat rasa pedihnya, menyembunyikan kerapuhan dari banyak orang, menganggap rasa sakit sebagai teman walau selalu diserbu dengan ganasnya luka.
Azka tidak tahu cara Satya memperlakukannya, tapi ketika melihat kejadian di taman tadi, dia jadi mengerti penderitaan Vita. Dia jadi mengerti beban yang ditanggung Vita. Tapi Vita, tidak membenci Satya sama sekali.
"Nggak ada alasan khusus buat lo nyalahin diri sendiri. Lo cuma kurang memahami rasa sakit lo."
"Permasalahan dalam hidup bukan datang karena orang lain. Semua kesalahan, itu karena aku. Salahku sendiri, aku bahkan nggak pantes hidup lagi." Dia sesenggukan, sekelabat bayangan muncul dalam benaknya. Menjadikan Azka bingung harus apa.
"Pahami diri lo sendiri, Vit. Pahami isi hati lo. Mungkin bukan penyesalan jawabannya tapi pelajaran." Tidak ada yang bisa Azka lakukan selain berkata-kata, dirinya tidak bisa memberi sebuah pelukan atau tepukan di bahu sebagai tindak penenang. Yang bisa ia lakukan, cuma menemani Vita selama menangis.
...๐๐๐...
"Woi! Dari mana aja lo?" Reyhan di kursinya sedang bermain game, melirik ke arah pintu, tepatnya pada Azka yang baru tiba di kelas padahal sudah limabelas menit jam istirahat telah berlalu. Dia duduk di kursinyaโsebelah Reyhanโdengan pandangan kosong.
"Tebak siapa yang jadi lawan main gue di pensi nanti?" Gadis di belakangnya berceletuk sambil tersenyum lebar.
"Siapa?" sahut Reyhan ogah-ogahan, tetap fokus bermain.
"Azka!"
"Lah? Si bangsat?"
"Jadi Papa gue, muehehehe."
Yang diomongi langsung muncul dari balik pintu, berjalan menuju kursinya di sebelah Meisya. Ketika melewati Azka, dia memicingkan mata tak bersahabat, dibalas Azka dengan tatapan yang sama. Seperti ada kilatan petir dan gemuruh, nuansa seketika berubah mencekam.
"Lo ngapa sih belakangan ini cemberut pas bareng kita?" Reyhan menyenggol siku Azka, tak digubris, malah cowok bersurau hitam itu sibuk membuka ransel mengambil buku.
"Lo udah tau, kan?" Tiba-tiba Satya bertanya lantang. Entah pada siapa. Menimbulkan tanda tanya bagi Reyhan dan Meisya.
"Kalau gue tau kenapa?" Kini Azka yang mengeluarkan suara dengan lantang dari kursinya tanpa berbalik. "Takut?"
Tawa remeh dikeluarkan. "Ternyata lo segampang itu dibodohin cewek."
"Dibodohin?" Tangan Azka terkepal erat. Tidak tahu penderitaan Vita, tidak tahu beban yang dipikul Vita, tapi berani berujar begitu, padahal penyebab dari semua itu adalah dia sendiri.
"Lo pikir gue semurah itu? Dia sendiri yang ngerelain diri karna terlalu cinta sama gue."
Suara gemelatuk gigi terdengar jelas, berasal dari Azka, wajahnya sampai memerah menahan amarah. Ingin rasanya memberi bogeman pada Satya, tapi dia sadar tidak memiliki hak atas Vita.
"Kalian bicarain apa?" Obrolan yang asing. Tak dimengerti Meisya.
"Nggak bicarain apa-apa, sayang. Cuma cewek genit di dekat rumah, sering godain aku sama Azka. Begonya, si Azka terpengaruh."
"Oh, si Siti dekat rumah lo itu, ya?" Reyhan menyahut, meletakkan ponselnya. "Gue juga pernah dikedip sekali, sih."
"Jahat banget jadi cewek. Tau aja Azka lemah digoda. Yang mana orangnya? Kasih tau gue, biar gue kasi pelajaran."
Mereka terus berbincang, tidak menyadari Azka sudah termakan emosi, apalagi mengingat bagaimana cara Vita menangis, dan si pelaku tidak mau mengakui kesalahannya, malah mengelak. Bila Vita mendengarnya, mungkin saja perasaannya akan hancur saat itu juga. Tidak bisa menahan emosi lagi, terpaksa Azka beranjak keluar dari kelas, melengos pergi saat Bu Maira akan masuk mengajar.
...๐๐๐...
__ADS_1
Vote juseyo~