
Kayla bingung, melihat betapa rajinnya seorang Vita Erlis Pryanka. Semua orang di sekolah sudah tahu seberapa tinggi IQ-nya, tapi tetap saja tak membuat gadis bersurau hitam itu jengah belajar. Ketika Kayla menyuruhnya beristirahat selama seminggu hanya sekadar menghibur diri, maka dia akan berkilah 'pisau nggak akan tajam kalau nggak diasah'. Ya, benar, tapi jika diasah setiap hari, bukannya pisau itu akan berbahaya bagi semua orang?
Setiap harinya yang dilakukan Vita adalah belajar seolah kedua bola matanya tidak akan beralih dari buku. Setiap diajak ke kantin, jawabannya 'nggak enak badan'. Jelas tidak enak badan, asupannya rumus terus, pikir Kayla.
"Udah deh, kasian banget lo ditolak mulu, mending ajak gue." Nova menarik lengan Kayla keluar kelas, membawanya pergi dari hadapan Vita usai ditolak mentah-mentah ke kantin.
"Lo bakal nyesel udah nolak gue, Vit! Lo bakal nyesel!" rungut Kayla dilebay-lebaykan. Kedua sejoli itu akhirnya sudah pergi dari hadapan Vita. Dia melanjutkan kegiatan menulis yaitu membuat rumus baru mengenai materi kesetimbangan benda tegar. Sedari olimpiade kemarin, dia memiliki sebuah permasalahan, ada satu soal yang menurutnya sangat sulit, dia merasa perlu memecahkannya.
"Vit, Kak Azka nyariin lo!"
Teriakan itu berasal dari depan pintu, berhasil mengalihkan perhatian Vita. Helaan napas keluar dari bibirnya. Jika ada yang mengganggu konsentrasinya di tengah belajar, Vita jadi sangat emosional.
Kesal, ia menutup buku, menyimpannya ke dalam laci lalu berjalan menuju pintu. Tampaklah sesosok cowok berseragam rapi dengan atribut lengkap berdiri menyandar di sebelah pintu kelasnya. Ketika Vita mengeluarkan ringisan, dia menoleh sambil tersenyum lebar.
"Gimana penampilan gue?" Dia berdiri tegak.
Vita kembali memperhatikan penampilannya. Penampilan yang mencolok hingga mencuri perhatian siswa-siswi yang melewatinya dan menjadikan bahan perbincangan satu sekolah.
Kak Azka si cowok berandalan incaran Pak Kepsek udah tobat.
Kiranya seperti itu topik hangat hari ini di SMA Perkasa.
Rambut yang semula acak-acakan berwarna cokelat kemerahan kini berubah menjadi hitam pekat dan ditata rapi. Seragam yang biasanya dikeluarkan kini dimasukkan ke dalam celana dengan memakai tali pinggang. Dasi terjuntai rapi di kerah seragamnya disertai atribut lengkap berupa bendera merah putih, nametag di dada kiri serta simbol sekolah di lengan kanan. Celana abu-abu yang tadinya lusuh serta berobekan sekarang tampak baru. Sepatu branded berwarna merah maroon berubah menjadi sepatu hitam polos. Kedua lengan yang biasanya diisi gelang-gelang karet sekarang hanya tersisa jam tangan. Perubahan luar biasa yang mencengangkan seantero sekolah.
"Vit." Dia menjentikkan jari berulang-kali, menyadarkan Vita dari bengongan. "Gimana penampilan gue? Keren, nggak?"
"Hng? B-bagus." Rasanya Vita seperti bermimpi, melihat cowok super nakal macam Azka bisa berubah seratus delapan puluh derajat begini.
"Lo suka, apa nggak?"
"Iya, suka."
"Suka penampilannya apa orangnya?"
Tersadar dia tengah menggoda, Vita pun terperangah dan memalingkan wajah. "Kenapa manggil aku?"
"Eum...." Dia merogoh saku celana. "Gue... mau ngasih lo ini," sodornya.
Yoghurt?
Susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri itu dijulurkan padanya. Menciptakan kerutan di dahinya.
"Buat apa?"
"Buat lo. Mulai sekarang gue bakal kasih tiga kali sehari."
"Gunanya?"
"Berbuat baik ke adik kelas kan nggak salah. Untung-untung nambah pahala."
Entah apa tujuannya, Vita tidak tahu. Dalam pikiran gadis itu sekarang Azka benar-benar seorang penguntit gila.
"Lo berdua dipanggil Chelsea ke aula, gih!" celetuk seorang cowok bertubuh pendek yang barusan lewat.
"Ngapain, ya?" sahut Vita.
"Nggak tau. Tapi kayaknya lagi bicarain pensi, ke sana aja cek sendiri."
"Oke, makasih."
Vita membalikkan badan, berjalan meninggalkan Azka menuju aula. Harapan tidak diekori hanya menjadi angan, karena Azka kini sedang menyejajarkan langkah dengannya.
__ADS_1
"Nggak baik ninggalin teman tanpa pamit."
"Emangnya kamu temanku?" hunus Vita datar.
"Jadi bukan teman? Boyfriend?"
Vita berdoa agar ia diberi kekuatan untuk menghadapi cowok ini. Dia tidak bisa melakukan apapun selain berdiam diri diracau setiap jam. Memangnya Vita bisa apa? Dirinya tak berdaya. Kalau-pun melawan, cowok itu sangat pandai bersilat lidah. Dia akan dibungkam dengan kata-kata.
Setiba di aula, ternyata tidak hanya mereka berdua yang ada di sana, keramaian mengisi setiap sudut, murid-murid berseliweran melakukan tugas masing-masing. Menandakan pensi kali ini bukan main-main dan harus segera dipersiapkan matang-matang.
"Dateng juga tuh dua anak. Vit! Sini!"
Mengikuti sumber suara, Vita berjalan menyusuri keramaian. Tanpa ia sadari Azka berjalan di depannya memimpin langkah, mendorong siapa saja yang menghalangi jalan.
"Chel? Kenapa manggil a---" Ucapan Vita menggantung ketika menemukan Satya berdiri tepat dua meter di sebelahnya.
"Mau bicarain soal kandidat pangeran dan putri di drama."
Raut Vita berganti. "Kan udah aku bilang, aku nggak bisa!"
"Pecahin rumus bisa, ngelakuin ginian, nggak bisa?! Pokoknya jangan ngebantah!" Dia mengotak-atik ponsel, tak mengindahkan sorot tegang Vita.
"Ambil!" Suara Azka kembali memasuki gendang telinga Vita. Kepalanya terunduk menatap botol yoghurt yang lagi-lagi dijulurkan. "Buruan ambil!"
Tak memiliki pilihan, Vita menerimanya.
"Jangan diambil doang, diminum juga dong, Mbak."
Pendengaran Vita seakan tuli. Seluruh tubuhnya malah tremor akibat berada di dekat Satya di tengah keramaian, napasnya sampai tersengal-sengal, engap menjadi penghambat udara masuk ke paru-parunya. Efek yang luar biasa. Mungkin karena dirinya takut Satya ketahuan menjadi kekasihnya.
"Vit?" Banyak pasang mata meliriknya, ditambah wajahnya kian memucat. "Lo baik-baik aja?"
Sebaik mungkin ia menetralkan raut. Jangan berlebihan, jangan berlebihan, jangan sampai ketahuan. Kalimat itu saja yang terus terulang dalam benaknya. Sampai dia merasa lebih baik.
"Nggak! Aku nggak apa-apa," potong Vita sebelum Chelsea menyelesaikan ucapan.
"Oke.... Jagain cewek lo, Ka."
Azka tersenyum culas. Dirinya yang sedaritadi berdiri di sebelah kiri Vita jelas menyaksikan apa yang terjadi dan tentu ia tahu alasannya. "Yoghurtnya lo minum sendiri atau gue bantuin?"
Vita membuka tutup botol yoghurt dengan tangan bergetar kemudian meneguknya lamban.
"Oke, kita mulai ya. Calon kandidat pangeran dan putri di pensi kali ini ada tiga pasang. Dan, untuk nentuinnya kita pilih cara paling adil. Yaitu voting anonim lewat situs web sekolah."
"Loh? Nggak adil, dong!" teriak gadis mungil bercepol dengan wajah galak namun lucu, orang-orang memanggilnya Eca. "Ricky baru aja dicap cowok nggak baik! Nggak ada peluang Ricky bisa menang!"
"Ini udah keputusan paling bulet, Ca. Kalau lo nggak setuju, silakan undur diri."
"Aku nggak setuju!" Vita langsung mengangkat tangan. "Berarti boleh undur diri?"
"Kalau lo mau digimanain-pun, nggak bakal diijinin undur diri." Chelsea mengedarkan pandangan. "Voting dimulai setengah jam lagi pas istirahat pertama, ditutup sampe jam mata pelajaran terakhir. Kalian bisa kumpul di sini sepulang sekolah. Ngerti? Oke, bubar!" Para anggota kepengurusan mulai sibuk melakukan hal lain, seperti berdiskusi perihal properti yang akan mereka sewa nantinya.
Vita tidak tahu caranya merespons selain memaku di pijakan. Menurutnya ini terlalu kejam. Dia tidak ingin melakukannya namun dipaksa? Bukankah ini sebuah kejahatan? Ia bisa menuntut ke pengadilan perihal kasus pemaksaan. Di dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Pasal 369 Ayat 1, jelas tertulis di sana.
"Azka," sapa Meisya di sebelah Satya.
Yang dipanggil tidak menoleh. Karena itu Meisya beralih menatap ke gadis yang ada di sebelah Azka. Dia menghampirinya seraya memasang senyum simpul. "Vita, ya?"
"H-hm?" Kegrogian menyerang Vita dicampur ribuan pisau menusuk jantungnya. Wajah itu sangat dekat dengannya, wajah yang sudah merebut kekasihnya tanpa permisi.
"Lo beneran cewek Azka? Perasaan baru kemarin dia neriakin nama lo, sekarang udah jadian aja."
__ADS_1
"Sya, ayo pergi." Satya menggenggam lengan Meisya erat.
"Eh bentar, Sat. Kita juga harus kenal sama cewek Azka."
"Nggak penting."
Keduanya berlalu pergi, meninggalkan aula dengan langkah ringan, tak memikirkan perasaan Vita yang kian menghancur. Beban di bahu Vita terasa berat, menyebabkan kedua kakinya tidak lagi kuat menopang, tetapi dia tetap berusaha berdiri, walau kedua punggung di sana membuat hatinya retak sedikit demi sedikit.
"Sakit?" Suara itu mengalihkan tatapan Vita yang sendu. Azka tersenyum getir. "Sama."
...๐๐๐...
"Canda lo nggak seru, bambang!"
"Canda apaan? Real life ini, woi."
Bibir Reyhan terbuka lebar memandangi penampakan wujud Azka yang sudah berbeda jauh dari sebelumnya. "Kemana perginya kawan seperbangsatan gue?!"
"Tau. Jupiter kali."
Reyhan kalang-kabut, dia menghampiri Azka, mencekik lehernya sekuat tenaga.
"Woi!" tepis Azka tapi Reyhan masih melakukannya.
"Siapa yang ada di dalem? Ngaku! Balikin temen gue ke wujud aslinya! Dia nggak pantes jadi kucing, wujud aslinya itu, anjing!"
"Woi!" Azka terbatuk-batuk. Dia menendang perut Reyhan sampai tersungkur lalu kembali terbatuk-batuk. "Sialan, mau bunuh gue, lo?"
"Setan bedebah! Balik lo ke neraka jahanam! Jangan ganggu temen gue lagi!"
"Stres." Azka memilih berlari pergi sebelum Reyhan melakukan yang tidak-tidak. Sekarang dia baru sadar betapa gilanya temannya itu. Apa jangan-jangan sebelumnya ia juga begitu?
Tujuannya adalah kelas Vita. Di tengah perjalanan, tepatnya saat melewati taman terbengkalai, langkahnya terhenti.
"Buku tugas kamu."
Kedua alis Azka tertaut, mengintip dua insan yang saling berhadapan di dekat pohon mangga besar.
"Ck, lama banget! Gue suruhnya tadi pagi! Lama-lama tambah lemot lo, ya!"
"Maaf, Satya.... Tadi aku belajarโ"
"Bukan urusan gue! Makin jijik gue ngeliat tingkah lo."
"Satyaโ"
"Jangan sebut nama gue! Lo pake pelet kan ke Azka?"
"...."
"Selain pelacur, lo juga penipu. Menyedihkan."
"Akuโ"
Bruk
Satya mendorong gadis itu hingga jatuh terduduk. Vita mendongakkan kepala, menatap manik kelabu kekasihnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa? Kenapa aku dijadikan sampah dengan mudahnya?"
"Karna sampah tetap-lah sampah. Jangan pernah berharap jadi produk baru yang disukai banyak orang! Sadar diri tempat lo di limbah pembuangan. Dan inget satu hal, nggak akan ada yang mau ngutip lo." Satya berbalik pergi, menyisakan luka baru di hati Vita.
Sedangkan Azka yang sedaritadi mengintip, mengepalkan buku-buku jari. Dia menatap kepergian Satya dengan kemarahan memuncak, terlebih mendengar isak tangis dari sosok gadis rapuh di sana.
__ADS_1
...๐๐๐...
Vote juseyo~