Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Sepuluh


__ADS_3

Upacara sedang berlangsung, terik matahari menyengat kulit sebagian murid, sebagiannya lagi tertutup pohon jadi tidak ikut berjemur, beruntungnya. Sedangkan yang terkena teriknya harus merelakan keringat bercucuran dari pelipis hingga leher. Harusnya kelas Vita aman dari terik matahari karena terletak di dekat pohon, namun sekarang giliran kelasnya yang menjadi paduan suara sehingga posisi mereka berbaris adalah berhadapan dengan matahari.


Usai bendera merah-putih dikibarkan, tertib selanjutnya adalah hening cipta, semua murid merunduk. Di saat begini Vita menyempatkan mengelus perut agar membujuk calon anaknya untuk lebih sinkron menyatakan rasa sakit.


"Mules, ya? Pasti belum boker."


Bola mata Vita membulat mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sebelah telinganya. Cowok iniβ€”tidak bisakah ia lebih sopan? Dia terlalu blak-blakan! Dan juga, mengapa ia bisa kesasar di barisan kelasnya?


"Ngapain kamu di sini?"


"Ngelindungi lo."


Mata Vita tertuju pada terik matahari yang memang tidak lagi menerpa dirinya karena tubuh tinggi Azka menghalangi.


"Ini barisan kelas aku, kalau guru bk tau kamu bisa kena hukum!"


"Lebih pentingan mana? Gue kena hukum atau lo pingsan?"


******* Vita terdengar.


"Kalau upacara selesai, ngaca di kamera, muka lo melebihi zombie yang nggak dikasih minum setelah nelan kepala orang bulat-bulat."


"Jangan sembarangan!"


Teman-teman sekelas langsung melirik Vita lantaran volume suaranya yang tidak biasa. Baru kali ini Vita menciptakan keributan setelah satu setengah tahun melaksanakan upacara.


"Mending kamu pergi atau aku laporin ke guru bk?"


"Lah jangan dong? Nanti lo nggak ada yang ngelindungi. Kasian, kan?"


"Satu?"


"Dua, tiga," lanjut Azka sumrigah.


Geraman Vita terdengar. Lebih baik mengabaikan daripada merespons, tidak ada gunanya juga ia memerintah cowok ini.


Selesai hening cipta, tertib selanjutnya ialah amanat, hal yang paling murid-murid tunggu. Tunggu dalam artian cepat selesai.


"Cinta itu sederhana~~" Suara nyanyian halus nan lembut memasuki gendang telinga Vita, jangan tanya berasal darimana, jelas dari cowok aneh di sebelahnya. "Yang rumit itu kamu~"


"Mencintaimu itu mudah~"


"Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku~"


"Siapa itu yang nyanyi?" Pak Kepsek menegur saat baru mengeluarkan kata pertama dari sambutan pidatonya.


Vita mati-matian menahan malu saat semua murid menunjuk Azka. Jangan sampai ia dilibatkan, jangan sampai ia dilibatkan, Vita terus merapal doa. Tapiβ€”


"Saya nyanyi buat calon pacar, Pak. Vita Erlis Pryanka."


Terlambat.


Seisi penjuru sekolah menyoraki Azka, wajah Vita sudah memerah menahan malu.


"Enak saja kamu bilang Nak Vita calon pacar kamu. Rugi sekali dia. Jangan mau ya Nak Vita, Azka sudah bodoh, tak bermoral lagi."


"Eits, jangan lupakan satu fakta kalau saya ganteng, Pak." Dia membetulkan kerah seragam dengan sangat bangga. "Gentle, tajir! Murah hati, suka menolong! Wih, banyak kelebihan saya, Pak."


"Halah bullshit!"


Semuanya tertawa mendengar suara melengking Pak Kepsek melalui speaker, guru sampai tukang sapu ikut tertawa.


"Sudah-sudah. Saya akan mulai pidatonya. Para guru yang saya hormati serta anak didik yang saya cintai, selamat pagi semua?"

__ADS_1


"Pagiii, Paaaak."


"Baik, tema amanat kita kali ini adalah blablabla...."


"Nanti kalau gue jadi Ayah, gue bakal jadi Ayah yang berwibawa, nggak banyak bacot kayak Pak Kepsek. Terus lo jadi Bundanya, Bunda yang baik hati dan pengertian."


Berusaha keras Vita menulikan kedua telinganya agar tidak mendengar celotehan tak bermanfaat dari Azka. Fokus mendengar amanat Pak Kepsek, pandangan Vita melurus ke depan. Sampai entah bagaimana, penglihatannya memburam hingga semua menjadi gelap.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Mobil, mobil apa yang punya perasaan?"


"Mobil apa, Satya?"


"Mobilang sayang tapi bukan pacar~"


"Ih, kamu mah." Vita kecil terkekeh geli, menyeruput abis es kelapa pemberian Satya.


"Kalau udah gede nanti, tunggu aku mapan ya, kamu nggak boleh jadian sama cowok lain."


"Loh, kenapa? Bukannya kamu bilang kamu suka Aresya?"


"Iya, aku suka Aresya. Tapi aku juga suka Vita."


"Kok gitu? Emang boleh menyukai dua orang sekaligus?"


"Boleh! Buktinya aku selalu bahagia punya dua orang yang aku sayangi!"


Tiba-tiba saja Vita membuka kelopak matanya usai bermimpi hal menyedihkan. Kini ia tahu sifat Satya sesungguhnya. Seharusnya ia sadar sejak dulu, Satya memang berengsek bahkan sebelum menjalin hubungan dengannya.


Tok tok


Sebuah kepala menyembul dari balik pintu, lagi-lagi cowok itu.


"Udah sadar ternyata." Ia memasuki uks sembari menenteng kresek berisi bubur ayam, diletakkan di atas nakas, ia duduk tepat di sebelah bangsal. "Kata dokter---"


Azka cengo menyaksikan kegelisahan Vita.


"Jawab! Siapa yang suruh kamu panggil dokter ha?! Aku nggak butuh dokter, aku nggak sakit." Buru-buru Vita turun dari kasur, terhenti kala Azka menyentuh pundaknya. Vita semakin histeris. Gadis itu menepis lengan Azka lalu menendang apa saja yang pantas ditendang.


"UDAH AKU BILANG JANGAN SENTUH! JANGAN SENTUH! JANGAN SENTUH!" Ia terlihat gila, menjambak rambut frustasi sambil menangis memukuli pundaknya berulangkali berusaha menghilangkan jejak.


"Lo kenapβ€”"


"KAMU NGGAK TAU APA-APA! LEBIH BAIK KAMU PERGI! JANGAN PERNAH GANGGU AKU LAGI!"


Dahi Azka bergelombang, dirinya memperhatikan Vita yang menangis histeris seperti kejadian di taman kemarin. Ia ingin menolong dan bertanya, namun sentuhan kecilnya yang menyebabkan ia menjadi seperti itu, menjadikan cowok itu bingung harus berbuat apa. Hingga seorang dokter memasuki uks dan juga melihat kegilaan Vita.


"Nak, nak, kamu kenapa?"


Ekspresi Vita bertambah panik, ia mundur perlahan menjauhi sang dokter.


"Tenang, Nak." Sang dokter menyuruh Azka keluar sejenak. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kepala Azka, meski begitu ia tetap keluar.


"Bayi dalam kandungan kamu sudah sangat kritis, kamu harus menggugurkannya."


"Nggak!" teriak Vita sambil terisak. "Saya nggak mau gugurin kandungan ini. Saya nggak mau ngorbanin anak ini! Saya sayang sama dia, walau beresiko tinggi buat saya, saya bakal tetap ngejaga dia!"


"Percuma kalau kamu pertahankan, beberapa bulan lagi dia akan mati sendiri di dalam rahim kaβ€”"


"NGGAK! JANGAN BERKATA HAL BURUK TENTANG ANAK SAYA, DOKTER!"


"Nakβ€”"

__ADS_1


"LEBIH BAIK DOKTER KELUAR! DOKTER NGGAK TAU PENDERITAAN SAYA!"


Dokter tersebut menghela napas. "Baik kalau itu pilihan kamu. Tapi ingat, jika kamu benar-benar ingin mempertahankannya, kamu juga harus tau cara menjaganya! Kamu pikir mengikuti upacara tidak berdampak buruk bagi kesehatan kandungan kamu? Jangan berdiri terlalu lama di terik matahari, jangan terlalu banyak berpikir, jangan melakukan banyak pekerjaan, jangan merasa kelelahan, makan makanan bergizi setiap jam, jaga perut kamu agar tidak terbentur ke berbagai benda walau sedikit saja, kalau tiba-tiba sakit jangan paksa untuk berjalan! Intinya, apa yang kamu rasain, kamu harus turuti semua keinginannya, jangan kamu lawan, itu bisa menciptakan komplikasi di dalam rahim kamu. Mengerti?"


Hanya dengan anggukan kecil sang dokter sudah paham, ia membantu Vita kembali berbaring lalu kembali memeriksa perutnya.


"Kamu nggak boleh terlalu banyak bergerak, kalau perlu kamu ambil cuti sekolah selama delapan bulan."


Mustahil. Itu tidak mungkin terjadi. Sekolah adalah nomer satu bagi Vita.


"Kamu makan terus istirahat, setelah itu boleh ijin pulang. Saya akan panggilkan pacar kamu ke sini---"


"Saya nggak punya pacar," ucapnya tegas. Dokter mulai mengerti lalu mengangguk.


"Saya nggak akan beberkan ini kepada siapapun, sudah banyak kasus seperti ini saya tangani. Intinya kamu harus selalu istirahat, saya pamit."


Sepergian dokter, cowok yang seragamnya dikeluarkan itu masuk kembali ke uks.


"Kalian bicarain apa kok lama banget?"


"...."


"Nggak mungkin bicarain gue. Jadi, soal apa?"


"Sekali lagi aku bilang, jangan pernah ganggu aku. Kalau kamu masih keras kepala ngeganggu, aku nggak akan segan-segan ngelaporin kamu ke pihak berwajib sebagai tindakan penguntitan."


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Kenapa muka lo ditekuk mulu?" Reyhan yang tengah mengunyah biskuit roma sambil memainkan stick ps menoleh sekilas pada Azka yang berbaring tak berdaya di atas kasur.


"Si bangsat mana?"


"Rumah cewek-nya lah."


"Huft~"


"Ngenes ya jadi jomblo? Makanya tembak salah satu korban pelecehan lo."


"Sembarangan. Gue nggak main, gue cuma jual." Azka menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Hmz, ya ya."


Lima menit, Reyhan terus meringis karena kelompoknya terus berkalahan. "Daripada bengong mending mabar, buru! Gue kalah mulu anying."


"Berani bayar berapa lo?"


"Bayar pake bibir cewek dah."


"Bibir siapa?" sulutnya.


"Bibir gue---ih amit-amit. Bibir cewek yang lo mau, pokoknya siapa aja bakal gue paksa."


Dalam pikiran Azka, sentuhan kecil saja ia sudah menggila, bagaimana bila bibir mereka bersentuhan?


"Bibir Meisya, gimana?" tawar Reyhan.


"Nggak minat," tolaknya cepat.


"Alah, mentang udah pernah rasa."


Azka tidak menjawab, karena memang benar. Ia kembali termenung memikirkan wajah gadis itu terus-menerus. Rasanya dia sudah tertempel permanen dalam otak dan hatinya. Memikirkannya saja dada Azka terus bergetar hebat.


"Buruan, bambang! Nggak usah banyak mikir. Nih!" Cowok super bomat itu melempar satu stick ps ke atas kasur, tepatnya ke sebelah Azka. Walau malas, akhirnya Azka ikut berpartisipasi dalam pertarungan melawan zombie dan kanibal, melupakan sejenak berbagai pertanyaan yang sejak kemarin terpatri dalam benaknya.

__ADS_1


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Vote juseyoo~~


__ADS_2