Air Mata Harapan

Air Mata Harapan
Delapan


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah, terik matahari menyinari sebagian isi bumi salah satunya SMA Perkasa yang lapangannya kini diisi oleh ratusan siswa-siswi, suara ricuh terus ditimbulkan, keluh gelisah akibat panas tidak pernah berhenti disenandungkan setiap murid.


"Perhatian! Perhatian! Harap diam sejenak biar saya mulai!" Mikrofon berbunyi nyaring di sepenjuru sekolah.


Sorakan menjadi bentuk ketidakpedulian para murid atas ucapan Pak Kepala Sekolah, mereka bersikap acuh dengan berjongkok di tengah barisan, tetap berbincang bersama teman, atau bahkan ada yang berjalan kesana kemari dan akhirnya kabur ke kantin.


"Harap semuanya!" decitan mikrofon membuat suasana lebih ricuh. Pak Kepala Sekolah berusaha bersabar menghadapi anak didiknya.


Karena keras kepala dan susah diatur, para guru bk mulai berpatroli, tanpa tanggung menjewer anak murid yang tidak berbaris rapi.


Hampir lima belas menit kini setiap barisan sudah rapi, tidak ada lagi yang berani membuka mulut meski hanya sedetik. Pada saat itu Pak Kepala Sekolah menghela napas gusar.


"Kalian sudah besar tapi kelakuan masih persis seperti anak sekolah dasar? Dimana tata krama kalian?" Suara berasal dari mikrofon tersebut melengking di setiap speaker, menyebabkan bunyi 'nyiiiit' yang sangat panjang, Pak Kepala Sekolah tidak peduli, terus melanjutkan amanat.


"Saya hanya mengambil waktu selama lima belas menit! Tapi apa yang kalian lakukan? Baris-berbaris saja sudah memakan waktu lima belas menit?!"


"Ah, ini akan membuang waktu lebih lama. Kali ini saya memaafkan kalian karena waktunya sudah tidak banyak lagi. Saya akan masuk ke dalam topik pembicaraan. Vita, kemari nak."


Seluruh perhatian tertuju ke depan lapangan saat seorang gadis putih kurus berjalan keluar dari barisan, menghampiri sang Kepala Sekolah dengan kepala merunduk.


"Eh eh eh eh, seorang putri kepalanya nggak boleh nunduk." Semuanya bisa mendengar, wajah gadis itu memerah karena malu. Vita dipersilakan naik ke atas podium, tepatnya bersebelahan dengan sang Kepala Sekolah.


Jari Vita bersemayan memilin seragam, berusaha meredam kegugupan yang terus menerjang.


"Ayo perkenalkan diri kamu," bisik Pak Kepala Sekolah tanpa menggunakan mikrofon.


Menghela napas, dia mulai berbicara menggunakan mikrofon kepada ratusan murid di tengah lapangan. "Saya Vita Erlis Pryanka dari kelas 11 IPA 1."


"Ya, dengar semuanya anak-anak! Dua bulan lagi Nak Vita ini akan mewakili sekolah kita di olimpiade fisika semanca provinsi! Kalian tentu sudah kenal Nak Vita, setiap olimpiade dia selalu menjadi juara. Saya sebagai Kepala Sekolah merasa bangga padanya, saya menyesal kenapa tidak menyombongkannya sejak dulu kepada kalian, dia siswi yang sangat cerdas, kalian juga harus menjadi seperti Nak Vita."


Wajah Vita semakin memerah, matanya memanas dan pandangannya memburam karena air mata mulai menghalangi retina.


"Belajar yang rajin ya Nak, saya yakin orangtua kamu sangat bangga pada kamu." Vita diberikan sebuah penghargaan dan medali yang sangat indah, tepuk tangan terdengar, entah mengapa sesak malah mendatangi Vita.


Seusai berdoa bersama, Vita turun dari podium ingin kembali ke barisan kelasnya, tetapi suara bariton dari ketiga cowok yang menurut Vita tidak asing membuat langkahnya terhenti.


"Salah paham Bu! Saya nggak bohong!" tukas salah satu di antaranya, memohon pada dua guru BK yang menyeret mereka ke depan lapangan.


"Akh akh akh! Sakit Bu! Kalau telinga saya putus emang Ibu mau ganti?!"


"Bu, saya nggak tau apa-apa! Saya cuma korban!"


"Banyak sekali alasan kaliaan! Cepetan jalan ke tengah lapangan!" Ketiganya meringis kesakitan sambil mengikuti arah jeweran, tepat saat melewati Vita, dua di antaranya melirik Vita, tapi kemudian satunya langsung mengalihkan pandangan, sementara yang satunya lagi malah berteriak.


"Vit! Ini bukan seperti yang lo liat! Ini salah paham!"


Merasa malu, Vita buru-buru kembali ke barisan sembari menyembunyikan wajah menggunakan telapak tangan. Setiba di barisan, Kayla memeluknya bangga.


"Lo nggak pernah bilang bakal ikut olim tingkat provinsi!"


"Aku juga baru dikasih tau semalem, Kay."


"Serius?" Mata Kayla membulat. "Mendadak banget? Tapi lo mau ikutan project---"


Ucapannya terpotong saat suara berdecit dari mikrofon kembali melengking kala salah seorang guru bk mengambil.


"Mereka bertiga sudah melakukan tindakan tidak senonoh!"


Ucapan tegas nas lantang itu membuat suasana mendadak ricuh, para murid mulai berbisik-bisik membicarakan ketiganya.


"Kak Satya? Ngelakuin hal nggak senonoh? Aaakh, nggak mungkin."


"Kalau Azka ya gue nggak heran, tapi Satya?"


"Kak Reyhan ganteng banget plis."


Sekurang-kurangnya seperti itulah bisik-bisik yang ada di sekitar. Vita meluruskan pandangan ke depan, memperhatikan ketiga siswa di depan sana, ralat, hanya satu, dan sudah jelas siapa yang ia perhatikan.


Pak Kepala Sekolah memijit pelipis, dari wajahnya tersirat bahwa dia sudah sangat lelah menghadapi ketiganya.


"Sekarang kenakalan seperti apa lagi yang mereka lakukan, Bu Maira?"


"Saya dan Bu Zia memergoki ketiganya tengah menonton video tak pantas di lab biologi, Pak."


"Ibu salah paham!" teriak Azka tidak rela.


"Salah paham bagaimana?! Saya dan Bu Zia bahkan melihat secara langsung! Masih bisa ngelak kamu?!"


"Ibu salah paham, yang tadi itu bukan suara desah, tapi suara rintik hujan."


Ledakan tawa dari ratusan siswa-siswi memenuhi seluruh lapangan, ramai-ramai mereka menyoraki nama Azka.


"Azka Putra Radena, kamu sangat-sangat keterlaluan!" Bu Maira menarik jambang Azka yang berwarna merah kehitaman. "Liat! Lagi-lagi kamu ngewarnain rambut!"


"Itu ulah adek saya Bu! Adek saya ngecat dinding kamar malah kena rambut saya!"


"AZKAAAAA!"


"AAAKH SAKIT BUU!"


"Liat kan Bu! Kita berdua cuma korban! Udah jelas di sini Azka pelakunya! Dia itu kelewat nakal sampe libatin gue sama Satya yang nggak berdosa." tukas Reyhan.


"Korban? Korban kamu bilang? Saya liat kamu yang paling semangat natap ke ponsel, Reyhan!" Bu Zia mengencangkan jewerannya di telinga Reyhan dan si empu telinga berteriak persis seperti Azka.


"Saya sudah tidak tahan lagi dengan tingkah kalian, saya benar-benar akan menghukum kalian bertiga! Cepat kebruangan saya sekarang!" Pak Kepala Sekolah turun dari podium, melangkah menuju ruangannya dengan raut masam, padahal baru beberapa menit lalu ia tersenyum menawan bak seorang Ayah yang bangga pada anaknya, kini air mukanya berubah drastis.

__ADS_1


Ketiga siswa yang tadi dijewer mengikuti sang Kepala Sekolah dengan saling menyalahkan satu sama lain.


"Gegara lo, tayi!"


"Kok gue? Jelas-jelas lo bambang!"


"Bego banget sih, nonton Toy Story malah masuk BK. Lo sih! Milih lokasi bolos di tempat gelap, tolol anying!"


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Kamu masuk ekskul Pak Lolo, kamu Pak Keni, kamu Pak Melki."


"PAK!" Reyhan langsung berteriak saat dirinya ditunjuk masuk ekskul Pak Melki. Demi apapun dia rela memberikan segalanya agar tidak dijadikan anak didik Pak Melki si super garang itu.


"Kamu nggak berhak protes, Reyhan!"


"Harusnya Azka dong Pak yang dapet posisi itu! Dia yang selalu buat ulah! Saya salah apa? Jangan kayak gini dong Pak!"


Reyhan terus memohon, sementara Azka menyengir lebar karena tidak diberi posisi sulit, Pak Lolo adalah guru yang teramat baik hati, pasti tugasnya juga begitu mudah.


"Kalian boleh kembali ke kelas, pelajaran sudah dimulaiβ€”"


"PAK!"


"JANGAN MEMBANTAH SAYA!"


Reyhan tersentak menerima bentakan tiba-tiba, bahkan air liur Pak Kepala Sekolah sedikit muncrat ke wajahnya.


"Kembali ke kelas kalian! SE-KA-RANG!"


Reyhan ingin memprotes lagi tapi segera ditarik Satya, ketiga cowok itu beranjak meninggalkan ruang kepsek dengan sorot masam, ralat, hanya Satya dan Reyhan, sedangkan Azka rautnya masih biasa-biasa saja.


"Semua salah lo!" Reyhan menarik kerah seragam Azka.


"Salah gue? Yang ngajak bolos tadi pagi siapa?"


"KALAU AJA LOβ€”"


"Bukannya lo yang ngajak bolos? Iya nggak, sih?"


Reyhan hampir melayangkan satu bogeman mentah pada Azka tapi Satya segera melerai.


"Bocah banget sih lo berdua!"


"Lo enak ngomong gitu karena bareng Pak Keni! Lo pikir nasib gue gimana sama Pak Melki?!"


"Tanya nyokap lo kenapa punya nasib buruk."


Sangat malas, Satya melangkah menuju kelas. Setiba di sana, ia tidak langsung mengeluarkan buku, melainkan menelungkupkan wajah ke meja sambil memejamkan mata, menggenggam lengan Meisya erat.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


"Lo gimana, Vit?" Kayla di hadapan Vita tengah membenarkan letak ransel di pundak.


"Gimana apanya?"


Teman satu yang super bawel itu mengambil pulpen barbie milik Vita dan memasukkan ke kantong rok tanpa ijin. "Olimpiade lo dua bulan lagi, lo beneran mau ikut partisipasi video promosi?"


"Video promosi bentar kok masa-nya, cuma dua minggu."


"Cuma?" Kayla menghentikan pergerakan Vita mengemas barang. "Selama dua minggu lo bisa belajar apa aja!"


Vita terkekeh pelan. "Kamu khawatir soal pelajaran? Tumben."


"Gue khawatir sama lo! Gue nggak mau lo kalah, kalau kalah bisa-bisa lo makin murung. Gue nggak suka ngeliat orang sedih, letih, lesu yang nggak punya semangat hidup. Lo harus belajar giat biar menang!"


Memang, Kayla itu terlalu absurd, entah bagaimana pola pikirnya, Vita tidak pernah tau.


"Nggak papa, aku seneng ngelakuin ini." Tidak ingin membuang waktu lagi, Vita menenteng ranselnya. "Jangan lupa belajar, besok ada ulangan fisika."


"Lo kan ada." Kayla menyeringai lebar, melambaikan tangan lalu berlari keluar dari kelas karena Mamanya sudah lama menunggu di gerbang.


Vita sendiri melangkah menuju ruang humas seperti yang diperintahkan Hera semalam, berkumpul di sana untuk membicarakan sesuatu. Tidak memakan banyak waktu karena ruang humas tidak jauh dari kelasnya, hanya berbeda dua lobi.


Vita menarik napas lalu menghembuskan berfungsi menenangkan diri, begitu berulangkali hingga selang dua menit. Kemudian ia memegang knop dan memutuskan untuk membukanya, tetapi tiba-tiba dari sebelah kiri sebuah permen kapas menempel di rambutnya. Vita memekik, menjauh dan memegang rambutnya yang menjadi lengket karena permen manis berwarna merah muda.


"Eh? Ada orang? Sori, gue nggak sadar." Dia tersenyum. "Abisnya nggak keliatan, mungil banget."


"Kamu!" Raut Vita berubah frustasi, rambutnya yang panjang sekarang sangat lengket bahkan permennya banyak menempel di sana.


"Iya ini gue!"


Vita sangat tidak habis pikir. Mengapa cowok ini selalu mengikutinya? Bahkan di saat pulang begini?


"Kenapa kamu suka banget gangguin aku?"


"Ganggu?" Cowok itu mengernyitkan dahi lalu menggedikkan bahu. "Enggak tuh." Dia menikmati permen kapasnya dengan santai.


"Kamu sering teriaki nama aku. Dan sekarang? Buktinya kamu lagi ngikutin aku."


"Ngikutin?" Kini dia mengecap bibirnya yang tertempel permen. "Gue ngikutin lo? Masa sih?"


Jawaban yang membuat geraman Vita keluar. "Jadi sekarang apa? Kamu ada di sini. Kamu ngikutin aku, kan?"


"Adik-adik kok di luar aja? Kenapa nggak masuk?"

__ADS_1


Vita menegakkan tubuhnya saat Pak Lolo baru datang.


"Saya baru aja mau masuk, Pak," jawab Vita ramah seraya tersenyum tipis.


"Saya juga," timpal Azka sambil mengemut permen kapas, membuat Vita terkejut dalam hati.


"Kalau begitu langsung saja masuk adik-adik."


"Jadi dia anggota humas juga?" batin Vita.


"Tidak perlu membuang waktu lagi, ayo kita masuk." Pak Lolo membuka knop, masuk lebih dulu, Vita termenung menyadari kelakuan konyolnya.


Cowok bernametag Azka itu mengembangkan senyum. "Jangan bengong, ayo masuk." Dia masuk ke ruangan lebih dulu, kemudian Vita tersadar dan menyusul.


Ruang sekbid ternyata sudah ramai oleh para anggota, dengan malu-malu Vita melangkah menuju kursi kosong di belakang, tepatnya di sebelah cowok aneh tadi.


Terasa canggung, Vita mengabaikan cowok di sebelahnya yang sibuk menghabiskan permen, jangan khawatir soal kontak fisik karena Vita memakai setelan yang sama seperti kemarin, hoodie dan stoking, jadi aman. Dia memilih fokus mendengar pembahasan di depan sana.


Lima menit setelahnya---


"Vit, ada minum nggak?" tanyanya pada Vita. Benar-benar aneh, kan?


"Nggak ada."


Dia beralih bertanya ke depan, kiri, belakang dan semuanya! Mengesalkan memang.


Kenapa juga dia makan permen? Batin Vita.


Cowok itu menyandarkan punggung ke kursi saat semua orang tidak memiliki minuman yang ia cari.


"Kita kedatangan tamu, mereka bakal bantu project promosi kita," ucap Pak Lolo setelah mengatakan banyak hal.


Tepuk tangan terdengar, seluruh pusat perhatian tertuju pada Vita dan Azka.


"Silakan perkenalkan diri kalian."


Vita bangkit berdiri, tersenyum kaku. "Saya Vita Erlis Pryanka dari kelas 11 IPA 1, saya akan berusaha memberikan pendapat terbaik yang saya punya."


Azka ikut bangkit berdiri. "Azka Putra Radena, 12 IPA 4, gue bakal bantuin cewek di sebelah gue, jadi kalau butuh bantuan hubungi gue, jangan dia. Karena apa? Karena gue nggak mau dia kecapean."


Ngawur, Vita tertawa renyah, melirik Azka dengan sengit, betapa malunya Vita sekarang. Gadis itu kembali duduk, berusaha meredam rasa malu walau kedua telinganya sudah sangat merah.


"Vita punya karya yaitu sajak puisi, dia juga bisa membuat sebuah cerpen, saya sudah baca forum kepunyaannya dan saya sangat takjub," jelas Pak Lolo.


"Dia bisa membuat video promosi kita lebih menarik, blablabla...."


Sedang asyiknya menikmati kata-kata Pak Lolo, Azka mencolek lengannya menggunakan bolpoin berulang kali.


"Vit," panggilnya, berbisik.


"Apa?" Berusaha sabar, Vita menahan napas.


"Hadap gue deh."


"...."


"Penting! Hadap gue bentar aja."


Vita langsung menghadapkan wajahnya ke Azka dengan kesal, tapi dia tetap sabar. "Kenapa?"


Respon Azka hanya, mengulum senyum. Vita ingin marah namun tidak bisa, alhasil ia kembali menghadapkan wajah ke depan, mencerna baik-baik setiap perkataan Pak Lolo. Baru beberapa detik, lengannya kembali dicolek oleh bolpoin.


"Kali ini penting."


Diam kamu!


Ingin rasanya berteriak begitu, tapi jelas itu tidak mungkin, selain Azka adalah senior, di sana juga ada Pak Lolo dan anggota humas lainnya. Vita tidak bisa melakukannya.


"Hadap gue, Vit!"


Karena tidak punya pilihan dengan sangat terpaksa ia menoleh. "Kenapa?"


Cowok di hadapannya itu menunjukkan sebuah kertas di atas meja, ia meliriknya.


Permen adalah masa kecil, momen terbaik dan tercerah yang pengen gue pertahani selamanya.


Vita tercenung.


"Pasti lo bingung kenapa gue makan permen, itu alesannya."


Entah mengapa Vita teringat suatu momennya bersama Satya dulu.


"Satya, kenapa kamu suka banget permen?"


"Permen itu manis, kayak masa kecil gue bareng Mama, gue pengin masa kecil yang gue rasain itu bertahan selamanya."


"Jangan bengong." Dia meremat kertas itu menjadi bentuk gumpalan, melemparnya ke dalam laci meja. "Gue cuma kasih jawaban dari pertanyaan dalem hati lo."


"Kenapa kamu tau?"


"Keliatan, ekspresinya lucu sih."


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Vote juseyo~

__ADS_1


__ADS_2