
"Papa akan menikahkan kamu." Ucap Papa Bram kepada Alexa, membuat wanita berparas cantik itu mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Papa bercanda kan?" tanya Alexa yang sedang duduk di sofa ruang keluarga seberang Papanya.
"Kamu lihat wajah Papa ini? apa kamu bisa melihat ekspresi bercanda disini?" jawab Papa Bram datar menunjuk wajahnya sendiri.
Alexa menggelengkan kepalanya pelan.
"Ma.." panggil Alexa lirih mengalihkan pandangan ke arah Mamanya yang sedang duduk di sebelah Papa Bram, berharap mendapat pembelaan dari wanita yang sudah melahirkannya.
Naas, hanya sikap ketidak pedulian Mama Leta yang dia dapatkan, Mama yang seharusnya membelanya demi kebahagiaannya, kini hanya membisu seakan menikmati setiap gores luka yang tergambar di wajahnya.
"Apa Papa sama Mama sangat membenciku? hingga kalian ingin melepas tanggung jawab kalian dan melemparkanku kepada orang lain?" tanya Alexa dengan suaranya yang tercekat.
"Kami nggak benar-benar membencimu, kalau kami membencimu, kami nggak akan sudi merawatmu sampai sebesar ini." Jawab Papa Bram membuat mata perempuan yang terlihat sendu itu terlihat semakin pilu.
"Ya Allah....sakit sekali rasanya...," Batin Alexa membiarkan air matanya mengalir.
"Perusahan Papa butuh suntikan dana, dan kebetulan ada Pengusaha kaya yang mau berinvestasi di perusahaan Papa, dengan syarat bisa menikah siri denganmu, hanya untuk memberikannya keturunan, karena istrinya mengalami masalah di rahimnya, yang membuatnya mandul dan tidak bisa memberikannya anak."
Alexa memejamkan matanya sesaat, hatinya semakin hancur berkeping-keping hingga dia sendiri tak tahu cara untuk menyatukannya kembali, "Jadi kalian akan menjualku sekarang? apa Papa sama Mama sadar kalau ini sangat menyakiti perasaanku Pa? Ma?" ucap Alexa menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Aku bukan pabrik anak Pa....Aku bukan pabrik anak...," tambah Alexa mulai menangis, berusaha mengurai rasa sesak yang mencengkeram perasaannya, menahan rasa sakit yang teramat menyiksanya, yang diberikan oleh orang tuanya sendiri.
Orang tua yang seharusnya menyayangi dan mencintainya, menjaganya dari kejamnya dunia, kini dengan sengaja melemparnya ke dalam dunia yang penuh dengan nestapa.
"Anggap saja ini waktu kamu untuk membalas budi kepada kami, karena kebaikan kami yang sudah membesarkanmu selama ini." Ucap Mama Leta tiba-tiba, melulu lantahkan hati anaknya yang sudah rapuh.
"Sebegitu bencinya kalian sama Aku? aku juga anak Kalian, aku memang bukan anak kandung Papa Bram, tapi aku anak Kandung Mama, darah daging Mama." teriak Alexa semakin tak mampu membendung aliran air matanya.
"Jangan berani kamu teriak-teriak ke Mama," Sentak Mama Leta balik berteriak, menujukkan satu jarinya ke depan Alexa.
"Kami tidak membesarkanmu hanya untuk melawan kami, apa kamu tidak bisa mengingatnya? hanya karena kebaikan kami yang bisa membuatmu tumbuh besar hingga sampai sekarang ini!" Ucap Mama Leta dengan kilatan mata penuh rasa gusar.
"Apa Mama melahirkanku hanya untuk ini? untuk menikahkanku secara sirih dan menjadikanku pabrik anak untuk orang lain?" tanya Alexa lirih dengan suara paraunya yang terdengar memilukan.
Mama Leta membuang muka, tak bersuara, walaupun hanya sekedar menjawabnya dengan satu kata "ya" atau "tidak".
"Kamu kembali ke kamar kamu sekarang, persiapkan dirimu untuk pertemuan dengan calon suami kamu nanti malam. Dan ingat jangan coba-coba drama sedih seperti ini didepannya." Ucap Pak Bram menggerakkan kepalanya untuk mengkode Alexa agar secepatnya pergi dari hadapannya.
Alexa memandang orang tuanya bergantian dengan tatapannya yang begitu memilukan, memejamkan matanya sesaat, untuk membiarkan air matanya terjatuh bebas membasahi baju yang di pakainya.
Berusaha berdiri tegak dengan kakinya yang gemetar, sebelum berjalan gontai untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
__ADS_1
Namanya Alexa Salsabila Putri, baru berusia dua puluh tahun, semua orang bilang kalau dia ini cantik, kulitnya yang putih, hidung mancungnya yang terlihat proporsional jika dipadukan dengan bibirnya yang tipis dan terlihat ranum.
Sayang, kecantikan di wajahnya tak membuat kehidupanya beruntung, dia di besarkan oleh Mama kandung yang membencinya, yang menganggapnya anak haram, karena dia lahir dari buah keb*ngsatan laki-laki yang dengan tega dan buasnya memperkosa Mama Leta yang masih gadis.
Mama Leta menikah sama Papa Bram disaat usianya enam tahun, laki-laki yang mau menerima masa kelam Mama Leta.
Alexa sangat berharap di pernikahan mamanya ini, Mama Leta bisa berubah, bisa melupakan masa lalu tragis itu agar bisa sedikit mencintainya.
Ironis, itu hanya harapan seorang anak kecil yang masih polos, yang nggak akan pernah bisa kesampaian, karena Mama Leta nggak pernah mengurangi sedikitpun kebencian untuknya.
Sedangkan Papa Bram hanya mencintai istrinya, dia hanya menganggap Alexa sebagai beban yang harus diurus di kehidupan Barunya.
Penderitaannya semakin memuncak saat usianya menginjak angka delapan, saat lahir seorang anak laki-laki dari rahim Mama Leta, anak kandung dari Papa Bram, dia semakin tidak di anggap oleh mereka, ibarat debu, Alexa hanya di anggapnya seperti itu.
Alexa menjatuhkan tubuh langsingnya di atas ranjang, tengkurap, untuk membenamkan wajah cantiknya di atas bantal.
Menangis tergugu mengingat nasib buruk yang akan segera dia lalui, menjadi madu dari seorang istri, menjadi istri kedua dari seorang suami, dan menjadi pabrik anak untuk pasangan yang nggak bisa memiliki anak.
Alexa semakin meraung, memukul-mukul dadanya pelan, dengan harapan bisa mengurai rasa sesak yang mencengkeram perasaannya.
Malam harinya di saat jarum jam dinding rumah menunjuk ke angka tujuh, terdengar suara ketukan dari pintu kamar Alexa, membuat Alexa yang sedang duduk di depan meja riasnya sambil menatap kosong dirinya sendiri dari pantulan cermin menoleh ke arah sumber suara.
"Ingat kata Papa Al, kamu nggak boleh menangis," gumam Alexa pelan menyeka sisa air matanya sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar.
"Maaf Non, tamunya sudah datang, Non Al ditunggu Tuan dan Nyonya di bawah." Ucap Bi Lasmi berdiri di balik pintu dengan wajah sendunya menatap anak perempuan yang selama ini di sayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
"Sabar ya Non, Bibi yakin Non Al kuat, Non Al pasti bisa melalui ujian ini dengan mudah." ucap Bi Lasmi membelai lembut punggung Alexa.
"Bibi tahu masalah ini?" tanya Alexa melepaskan pelukannya.
"Bibi tahu," jawab Bi Lasmi menganggukkan kepalanya pelan sebelum menyeka air mata Alexa.
"Bibi tadi nggak sengaja mendengar obrolan Non Al dengan Tuan dan Nyonya."
"Aku hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan Bi, apa keinginanku itu terlalu besar hingga Allah nggak bisa mengabulkannya?" Ucap Alexa memecah tangisannya.
"Allah menyayangi Non Alexa, makanya Allah memberikan ujian seperti ini, agar Non Alexa bisa tumbuh jadi peribadi yang lebih kuat dan kuat lagi." Ucap Bi Lasmi.
"Aku nggak kuat Bi...aku sudah nggak mampu untuk berdiri tegak di dalam takdir kehidupanku, jiwaku rapuh, terkikis oleh rasa sakit yang selama ini menyerang kehidupanku." Ucap Alexa membuat Bi Lasmi menitikan air mata.
"Allah bilang nggak akan pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hambanya, ini sudah melebihi batas kemampuanku Bi...., ini sudah melewati batas....," Ucap Alexa lagi berhambur memeluk Bi Lasmi.
"Ditambahi lagi sabarnya ya Non, Bibi akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Non Alexa." jawab Bi Lasmi menepuk lembut punggung gadis yang terlihat semakin rapuh.
__ADS_1
"Ngapain kalian tangis-tangisan disini?" Sentak Mama Leta membuat Alexa dan Bi Lasmi terkejut, dengan cepat melepaskan pelukanya sebelum menghapus sisa air mata yang ada di pipi mereka.
"Maaf Nyonya.." Ucap Bi Lasmi menundukkan badannya tak berani menatap majikannya.
"Balik sana ke dapur, siapkan makanan buat tamu saya," Ucap Mama Leta kesal kepada Bi Lasmi.
"Permisi Nyonya," Ucap Bi Lasmi sebelum melangkah menuruni anak tangga, membalikkan badannya sesaat untuk menatap Alexa yang sedang menatapnya.
"Segera rapikan riasanmu! dan cepat turun ke bawah, calon suamimu sudah menunggu di bawah." Ucap Mama Leta kepada Alexa.
"Iya Ma," jawab Alexa lirih menyeka sisa air matanya, melihat kepergian Mama Leta yang akan menuruni anak tangga.
Alexa segera berbalik, kembali masuk ke dalam kamar, untuk melangkahkan kakinya kembali duduk di kursi meja riasnya,
Memoleskan kembali bedak ke wajah mulusnya, untuk menutupi bekas aliran air mata yang sudah sedikit merusak riasannya.
Memoleskan sedikit lipstik ke bibir ranumnya sebelum menyisir kembali rambut sebahunya yang tergerai agar terlihat lebih rapi.
Alexa memejamkan matanya sesaat, menarik nafasnya dalam-dalam untuk membuangnya perlahan, berusaha menetralkan perasaan sesaknya, untuk menghentikan air matanya agar tidak kembali keluar.
"Kuatkan aku Ya Allah...bantu aku tetap berdiri tegak di dalam lembah nestapa ini," gumam Alexa pelan sebelum berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang tamu tempat Papa dan Mamanya menunggu.
"Ayo duduk sini Al," ucap Papa Bram ramah saat mengetahui keberadaan Alexa, hingga membuat dua Laki-laki yang ada di depannya menoleh ke arahnya.
Satu laki-laki yang tengah duduk manis di atas sofa, bersebelahan dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya, layaknya penjaga yang menjaga tuannya.
Mama Leta segera berdiri menghampiri anaknya, menggandeng tangganya untuk kembali melangkah mendekati laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.
"Ini anak saya Alexa," Ucap Mama Leta berdiri di depan tamunya untuk memperkenalkan putrinya.
Sebuah senyum canggung yang di sertai anggukan kepala pelan dari laki-laki yang sedang duduk di depannya, laki-laki dewasa dengan kumis tipisnya hingga semakin membuat dirinya terlihat jauh lebih tua dari Alexa.
Sedangkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya hanya diam, memandangnya sekilas sebelum mengalihkan pandangannya lurus kedepan, menciptakan aura dingin di wajah tampannya yang terlihat lebih muda umurnya dari laki-laki yang sedang duduk di dekatnya.
"Ini Tuan Arga calon suami kamu Al, dan yang di sebelahnya ini Hams, Sekretaris Tuan Arga." Ucap Papa Bram memperkenalkan.
Alexa hanya menganggukkan kepala pelan sebagai bentuk sapaannya.
"Ayo duduk Al," ucap Mama Leta mengarahkan Alexa untuk duduk di sebelah suaminya, berhadapan dengan laki-laki yang masih duduk di seberangnya.
"Tuan Arga akan menikahimu Minggu depan." Ucap Papa Bram dengan binar bahagianya, membuat Alexa terkejut menoleh ke arahnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
__________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up