Air Mata Pernikahan Siri

Air Mata Pernikahan Siri
BAB 14. Di Kantor Arga


__ADS_3


Alexa


Alexa duduk di dalam mobil di kursi penumpang bersebelahan dengan Arga, terdiam tak bersuara membelakangi suami sirinya itu terus menatap ke arah jalan raya yang terlihat dari balik kaca pintu mobil.


Arga pun begitu, duduk manis sambil memainkan ponselnya, sibuk berkirim pesan dengan istrinya kira sambil beberapa kali melirik ke arah Alexa tapi enggan untuk bersuara.


Mobil terus melaju, melesat dengan kecepatan yang sedang menembus jalanan kota yang terlihat lenggang.


Tiga puluh menit berlalu, Honda Civic Arga yang di kendarai supirnya berhenti tepat di depan gedung tinggi berlantai Banyak dengan tulisan Syahreza Group diatasnya.


"Bukakan pintu untuk Alexa Pak," Ucap Arga yang hendak membuka pintu mobil.


"Tidak perlu Pak, saya bisa buka sendiri, terimakasih!" ucap Alexa segera membuka pintu mobil mengalihkan pandangan Arga menatapnya.


Arga menghela nafasnya sebelum turun dari mobil, menahan rasa kesal yang bersarang di dirinya saat melihat tingkah Alexa yang seolah ingin mengibarkan bendera perang dengannya



Arga


Arga segera turun dan berjalan memutari mobil untuk melangkahkan kakinya menuju loby, di ikuti dengan Alexa yang berjalan di belakangnya berjalan terus memasuki area loby yang terlihat luas dengan ornament menarik di dalamnya.


Sebuah Loby yang memiliki furniture berwarna cerah yang di selingi dengan meja panjang reseptionis berwarna putih, hingga membuat tampilannya menjadi lebih rapi dan modern.


Arga menganggukkan kepalanya pelan kepada semua karyawan yang menyapanya dengan sopan.


"Selamat pagi Tuan," Sapa Hams di antara sapaan karyawannya yang lain menyambut kedatangan Tuannya, tetap dengan ekspresi datarnya mengalihkan pandangannya ke arah Alexa yang berdiri di belakang Arga.



Hams


"Bawa dia main Hams," Ucap Arga menahan rasa kesalnya menunjuk Alexa dengan gerakan kepalanya.


"Tidak perlu Sekretaris Hams," Ucap Alexa menatap Hams, mambuat Arga berbalik badan menatapnya.


"Terimakasih atas tumpangannya Tuan, saya permisi," Ucap Alexa segera menbalikkan badannya untuk melangkah keluar dari loby.


"Berhenti," Ucap Arga menghentikan langkah Alexa, sebelum melangkah dan berdiri tepat di hadapan wanita yang selalu menguji kesabarannya.


"Masih jam delapan, apa kamu ingin jadi tukang parkir disana?" ucap Arga menunjuk jam dinding yang menggantung di dinding loby, membuat Alexa ikut mengalihkan pandangan ke arah pandangannya.


"Saya bisa menunggu di dalam kafe Tuan." Ucap Alexa sebelum mengambil ponselnya yang bergetar di dalam tas.


Sebuah pesan dari Gendis yang memberitahukan kalau pertemuannya di undur satu jam karena ada keperluan yang mendadak.

__ADS_1


Arga menyunggingkan senyum sinisnya saat tak sengaja ikut membaca pesan dari Gendis.


"Terserah kamu sekarang, kamu mau ikut aku masuk ke dalam atau mau menunggu temanmu itu sampai jamuran di dalam kafe." Ucap Arga segera berlalu pergi meninggalkan Alexa.


Alexa terdiam menatap kepergian Arga sebelum mengalihkan pandangan ke arah Hams yang sedang menatapnya, tatapan yang tetap sama, datar tanpa ekpresi.


Hams melangkah mengikuti Tuannya, membuat Alexa mengedarkan pandangannya ke tempat asing yang baru saja dia masuki sebelum memutuskan untuk berjalan mengikuti langkah Arga dan Hams yang sudah sedikit jauh di depannya.


Setengah berlari Alexa mengikuti langkah Arga dan Hams yang hendak memasuki lift.


Arga kembali menyunggingkan senyum sinisnya, seolah mengejek keputusan Alexa yang akhirnya ikut bersamanya.


"Bodoh, bodoh, kenapa aku mengikutinya sih? di ejek kan sekarang...!" umpat Alexa dalam hati, berusaha bersikap biasa dengan pandangan lurus kedepan seolah tak pernah melihat senyum ejek suami sirinya.


Tring... pintu lift terbuka, Arga segera melangkahkan kakinya keluar dari lift diikuti dengan Hams dan Alexa yang berjalan beriringan di belakangnya.


Dua laki-laki dengan langkah mereka yang lebar, membuat Alexa beberapa kali berlari kecil untuk mengimbangi langkah mereka.


Berjalan menyusuri lorong dengan beberapa ruangan di sebelah kanan dan kirinya untuk melangkah mendekati ruangan yang paling besar dari semua ruangan yang ada di sekitarnya.


Arga melangkah memasuki ruangan, sedangkan Hams berhenti tepat di depan sekretaris yang ada di depan ruangan Tuannya.


"Mana laporan yang saya minta tadi?" ucap Secretaris Hams sebelum menerima sebuah berkas dari Sekretaris perempuan yang terlihat cantik dengan blouse putih yang di pakainya.


Hams mengalihkan pandangan ke arah Alexa yang masih berdiri di sampingnya.


"Aku harus kemana?" tanya Alexa melirik sekilas Sekretaris wanita yang masih berdiri menatapnya.


"Anda bisa masuk ke dalam ruangan Tuan Arga."


"Aku nggak mau, mending aku sama kamu sekretaris Hams," bisik Alexa mendekatkan bibirnya ke telinga Hams sebelum tersenyum kikuk menatap Sekretaris wanita yang sedang tersenyum menatapnya.


"Silahkan masuk," Ucap Hams datar tanpa ekpresi melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Arga, memaksa Alexa ikut melangkahkan kaki di belakangnya.


"Anda bisa duduk di atas sofa, "ucap Hams menunjuk sofa panjang berwarna cerah yang ada di dalam ruangan Arga.


Alexa melangkahkan kaki untuk duduk di atas sofa, berbarengan dengan Hams yang melangkahkan kaki mendekati Arga yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Ini laporannya Tuan," ucap Hams memberikan berkas yang dia bawa kepada Arga.


Arga mengambil alih berkas dari tangan Hams sebelum membuka dan membacanya.


"Bawa dia kemari," Ucap Arga dengan ekpresi gusarnya, menutup kembali berkas yang ada di tangannya.


"Baik Tuan," jawab Hams menganggukkan kepalanya pelan sebelum berbalik dan melangkah untuk membuka pintu ruangan.


Satu orang laki-laki dengan kemeja biru muda berjalan menunduk masuk ke dalam ruangan, dengan di ikuti dua orang berseragam hitam di belakangnya, menciptakan berbagai pertanyaan di fikiran Alexa.

__ADS_1


Arga segera berdiri, melepas jas kerja yang di pakainya untuk diberikan kepada Hams sebelum melipat kedua lengan kemeja nya hingga ke siku dan memperlihatkan kedua tangan Arga yang putih mulus tanpa noda.


BUG sebuah pukulan keras Arga melayang ke arah pipi laki-laki berkemeja biru, membuat Alexa terkejut hingga membekap mulutnya yang menganga.


"Saya minta maaf Pak Arga, saya khilaf, saya...." ucap laki-laki berkemeja biru terpotong sebelum...


BUG sebuah pukulan kembali melayang ke pipinya, hingga membuat dua laki-laki yang berseragam hitam mundur selangkah untuk menghindarinya yang jatuh tersungkur di atas lantai.


Arga mengatur ritme detak jantungnya yang memburu, "Bawa dia ke kantor polisi," ucap Arga menatap dua orang berseragam hitam yang masih berdiri di dekatnya.


"Jangan Pak... saya mohon jangan bawa saya ke kantor polisi, saya masih punya anak yang masih kecil-kecil Pak...saya mohon..." Ucap laki-laki itu menangis memohon dengan kedua tangan yang di tautkan di depan dadanya menatap Arga.


"Bunuh saja dia," Ucap Arga lagi semakin gusar, membuat laki-laki yang memohon semakin histeris.


"Jangan Pak Arga...jangan... saya mohon...ampuni saya..." Ucap laki-laki itu semakin memohon membuat Arga semakin risih.


"Bawa dia keluar," Ucap Arga kembali menurunkan lengan kemejanya.


"Suruh dia memilih, ingin di bunuh apa masuk penjara," tambah Arga lagi menggerakkan kepalanya sebagai kode agar keluar dari ruangannya.


"Baik Tuan," ucap dua orang berseragam hitam kompak sebelum menarik paksa laki-laki yang terlihat tak berdaya itu untuk berdiri dan keluar dari ruangan bos besarnya.


Hams memberikan kembali jas kerja Tuannya.


"Ambilkan minum untuk Alexa Hams," ucap Arga memakai kembali jas kerjanya sambil menatap Alexa yang terlihat shock dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Baik Tuan," jawab Hams menganggukkan kepalanya pelan sebelum melangkah mendekati kulkas mini yang ada di dekat meja kerja Arga.


Sedangkan Arga melangkahkan kakinya untuk duduk kembali di atas kursi kebesarannya.


"Bunuh saja dia, bunuh saja dia, bunuh saja dia,"


Kalimat Arga terngiang di kepala Alexa, mendistract fikirannya hingga membuat tubuhnya gemetar.


"Laki-laki seperti apa dia sebenarnya? seolah menganggap manusia sebagai tikus yang bisa dia bunuh kapanpun dia mau..." Batin Alexa menatap lekat Arga yang sudah sibuk dengan layar laptopnya.


"Apa mungkin dia juga pernah berfikir untuk membunuhku?" Batin Alexa lagi memejamkan matanya sambil menyentuh lengan kanannya yang merinding.


"Tuan Arga nggak akan pernah berfikir untuk membunuh Anda," Ucap Hams tiba-tiba mengulurkan sebotol air dingin ke depan Alexa, membuat Alexa tersentak menatapnya.


BERSAMBUNG.


__________________


**NOVEL INI, (AIR MATA PERNIKAHAN SIRI SUDAH PINDAH KE LAPAK SEBELAH YANG BERINISIA J.


JIKA INGIN TAHU KELANJUTAN CERITANYA, BISA KLIK LINK YANG ADA DI FB MENOOK BUNDA NADHIFFA. TERIMAKASIH**.

__ADS_1


__ADS_2