Air Mata Pernikahan Siri

Air Mata Pernikahan Siri
BAB 3. Makan Malam


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan," sapaan dari wanita paruh baya yang baru saja membukakan pintu utama untuk Tuannya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan, tetap melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang tamu yang terlihat sangat luas, dengan desain interior yang sangat mewah nan elegan.


Hiasan lampu gantung kristal yang menggantung tepat di pertengahan ruangan, dengan pancaran sinar goldnya yang dipadukan dengan nuansa gold dari dinding dan furniture yang ada di dalamnya, sungguh memanjakan kornea mata saat memandangnya.


"Kamarmu ada di lantai dua, kamu bisa beristirahat sekarang, kalau butuh apa-apa kamu bisa memanggil Bi Sari, dia yang akan menyiapkan segala keperluanmu." Ucap Arga dengan gerakan kepalanya menunjuk Bi Sari yang sudah berdiri di dekatnya.


Alexa hanya menganggukkan kepala tanda mengerti." Apa Tuan akan tidur..." Tanya Alexa menggantung kalimatnya.


"Aku tetap tidur di kamar utama." Jawab Arga datar seakan tahu apa yang ada di fikiran istri barunya.


"Silahkan Nyonya, saya bantu tunjukkan kamar Nyonya," ucap Bi Sari sopan kepada Alexa.


"Jangan panggil aku Nyonya Bi, panggil saja Alexa, atau Al," ucap Alexa membuat Bi Sari menatap Tuannya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan balik menatap Bi Sari.


"Saya akan memanggil anda Nona, sepertinya tidak pantas kalau saya memanggil nama istri Tuan Arga dengan sebutan nama." Jawab Bi Sari.


"Ya sudah nggak papa Bi," ucap Alexa pasrah.


Bi Sari segera mengarahkan Alexa untuk menaiki anak tangga, melangkahkan kaki mereka menuju kamar yang sudah dia siapkan.


Sedangkan Arga melangkah untuk menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, melepaskan kancing atas kemejanya sebelum bersandar dan memejamkan matanya di sandaran sofa.


"Bagaimana bisa aku bercinta dengan wanita lain selain Kira Hams." ucap Arga lirih tetap memejamkan matanya.


"Anda harus melakukannya Tuan, demi generasi penerus Syahreza Group." Jawab Hams datar yang sedari tadi berdiri di dekatnya.


"Apa nggak ada cara lain selain dengan bercinta?" tanya Arga membuka matanya menatap Hams.


Hams hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari pertanyaan konyol tuannya.


Arga menghela nafas, memejamkan matanya kembali mengingat Kira, istri pertamanya yang sudah sangat dirindukannya. "Aku sangat mencintai Kira, bagaimana bisa aku menyakiti hatinya dengan bercinta dengan wanita lain di rumah ini, rumah yang menjadi tempatku memadu kasih dengannya selama hampir delapan tahun."


"Tuan nggak harus melakukannya di rumah ini," jawab Hams membuat Arga membuka mata kembali menatapnya.


"Anda bisa melakukannya di apartemen anda, atau di rumah anda yang lainnya, atau....haruskah saya reservasikan kamar hotel untuk anda?"


Arga terdiam sebelum memberikan senyum setengahnya kepada Hams, sebuah senyuman paksa disaat dirinya benar-benar tidak ingin tersenyum, "Ini bukan hanya masalah tempat Hams, tapi juga masalah hati, bagaimana bisa aku menyentuh wanita lain disaat hati dan pikiranku di penuhi dengan nama Kira?" tanya Arga menegakkan duduknya menatap Hams.


Hams hanya diam, tak mampu menjawab pertanyaan Tuannya, karena dia sendiri tahu bagaimana besarnya Rasa cinta Arga kepada istrinya.

__ADS_1


Untuk memandang wanita yang bukan istrinya saja dia nggak ada selera, bagaimana bisa dia menyentuh dan meniduri wanita selain istrinya?


"Kamu bisa pulang, aku ingin berendam untuk menenangkan pikiranku." Ucap Arga berdiri dari duduknya.


Tetap dengan ekspresi datarnya, Hams hanya menganggukkan kepala pelan memandang Arga yang sedang melangkah masuk ke dalam rumah, menuju kamar utama yang ada di lantai bawah.


***


Langit mulai gelap, sinar mentari telah bersembunyi berganti dengan sinar rembulan yang ditemani bintang.


Alexa masih duduk termenung di atas ranjangnya, menatap kosong kedepan memikirkan keputusan yang sudah dia ambil.


Trrrt trrrrt getar ponsel yang ada di atas ranjang membuyarkan lamunannya.


"Iya Ndis?" jawab Alexa lemah menerima panggilan ponselnya.


"Apa kamu masih sehat?" tanya Gendis khawatir dengan keselamatan sahabatnya.


Gendis sahabat satu-satunya Alexa dari SMA, sahabat di kala susah yang selalu meminjamkan telinganya untuk Alexa berkeluh kesah, sekedar untuk meringankan perasaan sesaknya.


"Apa keluarga itu memperlakukanmu dengan baik? atau malah lebih buruk dari orang tuamu Al?" tanya Gendis lagi, menciptakan sunggingan senyum setengah dibibir Alexa.


"Aku dilahirkan untuk selalu sehat Ndis, aku harus selalu sehat agar tetap bisa berdiri tegak saat takdir melempariku lagi dengan batu." Jawab Alexa pilu.


"Nggak, Tuan Arga sepertinya baik, dia memperlakukanku dengan baik, untuk istrinya aku nggak tahu bagaimana sikapnya nanti," jawab Alexa memainkan jari kanannya yang ada di atas pangkuan.


"Kamu belum ketemu?"


"Belum, istrinya masih di Singapura, bagaimana kalau istrinya tidak menyukaiku dan malah menyiksaku? sama seperti adegan di sinetron-sinetron yang biasanya kamu lihat itu Ndis?" tanya Alexa polos membuat sahabatnya terkekeh.


"Itu hanya sinetron Sayang.....!"


"Hidupku juga sudah seperti sinetron Ndis, penuh dengan drama dan air mata," jawab Alexa menyunggingkan senyum tipisnya, membuat sahabatnya terdiam membenarkan kalimatnya.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Gendis mengalihkan obrolannya.


"Aku nggak tau," jawab Alexa sebelum mengalihkan pandangan ke arah pintu kamarnya yang terketuk.


"Aku tutup dulu ya Ndis, ada orang datang ke kamarku." Ucap Alexa menutup panggilan teleponnya.


Alexa segera meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar.


"Iya Bi? tanya Alexa setelah membuka pintu, menatap Bi Sari yang sudah berdiri di balik pintu kamarnya.

__ADS_1


"Makan malamnya sudah siap Non, sudah ditunggu Tuan Arga di meja makan." Jawab Bi Sari membuat Alexa terercengang.


"Aku Bi?" tanya Alexa menunjuk dirinya sendiri, tak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar.


"Iya Non, silahkan," jawab Bi Sari melangkah minggir untuk memberikan Nona barunya jalan.


Dengan perasaan ragunya Alexa melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga yang ada di sisi kiri kamarnya.


"Ini pertama kalinya seseorang mengajakku makan malam bersama di meja makan," Batin Alexa dalam hati tetap melangkah mendekati Arga.


"Apa aku benar-benar bisa makan malam bersama dengan Tuan disini?" tanya Alexa menatap Arga yang sedang duduk menunggunya.


"Kenapa? kamu keberatan?" tanya Arga datar.


Alexa menggelengkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Arga.


"Ya sudah duduk," ucap Arga lagi menunjuk kursi kosong yang ada di seberangnya.


Dengan perasaannya yang masih terenyuh Alexa melangkahkan kakinya untuk duduk di atas kursi.


"Selama ini aku hanya makan sendiri di dalam kamar, disaat kedua orang tua dan adik tiri ku tertawa bersama menikmati tiap suap makanan yang di sediakan Bi Lasmi di meja makan, bukan karena aku tak menginginkannya, tapi karena Mama Melarangnya, Mama bilang makan denganku bisa menghilangkan nafsu makannya." Batin Alexa sedih saat mengingat kembali perlakuan orang tuanya.


"Kenapa diam? kamu nggak suka dengan makanannya?" tanya Arga membuyarkan lamunannya.


Alexa kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sangat menyukainya, aku sangat ingin menikmati makan bersama keluarga di meja makan," Batin Alexa lagi menyendok nasi yang ada di depannya, membuatnya menitikan air mata yang nggak seharusnya jatuh.


"Kenapa kamu?" tanya Arga bingung menatap Alexa yang menangis.


"Nggak papa Tuan," jawab Alexa menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Kamu ingin kuliah dimana? Hams bisa mendaftarkanmu besok!"


"Di universitas C," jawab Alexa, universitas tempat sahabatnya Gendis mengenyam pendidikan.


"Apa aku boleh mengambil jurusan Kedokteran?" tanya Alexa hati-hati.


"Kamu ingin jadi Dokter?" tanya Arga, membuat Alexa menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin memberikan kesempatan untuk hidupku sendiri, agar aku bisa hidup lebih baik di masa depan, aku ingin tetap berdiri tegak melawan kejamnya dunia dengan karir suksesku sebagai Dokter." Jawab Alexa menahan tangisnya, berusaha menikmati tiap suap nasi yang masuk kedalam mulutnya.


BERSAMBUNG.


__________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2