
"Tapi Pa....," protes Alexa membuat mata Papanya mendelik ke arahnya.
Alexa kembali menurunkan pandangannya, menunduk kembali, mencubiti jari yang ada dipangkuannya, sambil menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tangis yang sedang mendobrak dinding pertahannya.
"Apa kamu keberatan?" tanya Laki-laki dewasa yang ada didepannya.
Arga Syahreza, Pria beristri, yang sudah berusia 35 tahun, seorang Pengusaha kaya, sang pemilik Syahreza Group, salah satu Perusahaan terbesar yang ada di kotanya.
Dengan kulitnya yang putih bersih, hidung mancung yang di hiasi dengan kumis tipis di bawahnya menambah kesan wibawanya sebagai seorang laki-laki dewasa dengan harta yang berlimpah.
Alexa menegakkan kepala menatapnya.
"Aku keberatan," jawabnya tegas membuat orang tuanya tersentak menoleh ke arahnya.
"Kamu hanya perlu menjadi istri siriku dan memberikan ku seorang anak dari rahimmu!"
"Apa karena Tuan orang kaya jadi bisa menganggapku murah? membeli Seorang anak dari orang tuanya dan menjadikannya pabrik anak untuk generasi penerus Tuan?"
"Alexa...jaga ucapan kamu," ucap Papa Bram lirih penuh penekanan di telinga anak tirinya, sebelum tersenyum kikuk ke arah Arga.
Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan balik menatap Papa Bram, sebagai kode Nggak papa, biarin saja.
Alexa hanya memandang Papa Bram sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kembali menatap Arga.
"Aku hanya berusaha mempertahankan harga diriku yang nggak bisa di pertahankan oleh kedua orang tuaku." Ucap Alexa pilu.
"Aku nggak pernah menganggap seorang wanita itu murah, aku akan menghormatimu layaknya aku menghormati istriku! anggap saja kamu sedang menolong pasangan suami istri yang sedang nggak beruntung karena nggak bisa mendapat kepercayaan Tuhan untuk menitipkan anak di rahim istriku." Jawab Arga datar untuk menurunkan sedikit ego Alexa, berusaha menaikkan harga diri wanita yang terlihat terluka.
"Kamu masih kuliah?" tanya Arga.
Alexa menggelengkan kepalanya pelan, "Aku hanya lulusan SMA." Jawab Alexa membuat Arga tersentak.
"Ayahnya pemilik perusahaan, bagaimana bisa dia tidak kuliah?" Batin Arga memandang tiga orang yang ada di depannya bergantian.
"Apa kamu ingin kuliah?" tanya Arga membuat Alexa mengernyitkan dahinya binggung.
"Kamu bisa kuliah, aku akan menanggung kehidupanmu, termasuk biaya pendidikanmu, apa kamu mau?" ucap Arga lagi berusaha meyakinkan wanita yang ada didepannya.
Alexa terdiam berfikir sejenak, "Apa aku bisa menerimanya? setidaknya aku bisa sedikit menata masa depanku dengan bekal pendidikan yang akan diberikan Tuan Arga, meskipun itu harus menjadikanku istri kedua."
Alexa menghela nafas, memejamkan matanya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya lemah.
__ADS_1
***
Satu Minggu kemudian, hari pernikahan Alexa dan Arga pun tiba, tepat di saat jarum jam tangan Arga menunjuk ke angka sembilan pagi.....
"Sah....," suara kedua orang tua beserta beberapa saksi menggema kompak di dalam ruang tamu di kediaman Papa Bram.
Tubuh wanita yang baru saja menyandang status istri siri itu gemetar, tak membiarkan air matanya terjatuh membasahi pipi yang sudah di riasnya dengan sangat ayu.
Sebuah pernikahan yang seharusnya membuat mempelai perempuan bahagia karena berhasil bersanding dengan laki-laki yang di cintainya.
Tapi tidak dengan Alexa, kata sah semakin membuatnya pilu, karena kata Sah sudah mengantarkannya kepada status madu untuk seorang istri yang di cintai suami sirinya.
Bibirnya bergetar menahan tangis, hingga membuat tubuhnya terasa lemas karena dipaksa untuk menahan cengkraman takdir yang meremukkan hatinya.
"Ya Allah... aku ingin sekali menangis, meraung sekeras kerasnya hingga membuatku tergugu, bukan karena aku lemah, tapi karena telah berhasil bertahan hidup untuk waktu yang lama." Batin Alexa pilu memandang senyum bahagia yang tersungging di bibir orang tuanya.
"Sampai kapan aku harus bertahan hidup dari takdir yang tak pernah memelukku? hanya melempariku dengan batu, hingga membuatku jatuh tersungkur di dalam lembah kepiluan ini," Batin Alexa lagi menyeka air matanya yang hampir menetes.
Selepas akad nikah, Arga langsung memboyong Alexa ke rumahnya, menaiki mobil sedan mewah hitam yang di kemudikan Hams, dia duduk di belakang bersama suami sirinya.
Sunyi sepi tak ada suara, semuanya terdiam, bahkan suara dari radio pun tak ada.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Arga membuat Alexa mengalihkan pandangan menatapnya.
"Hentikan mobilnya di restoran terdekat ya Hams," Titah Arga kepada Hams.
"Baik Tuan." Jawab Hams datar.
Mobil tetap melaju menembus jalanan kota yang tampak lenggang, berjalan dengan kecepatan sedang sebelum berbelok kiri masuk ke dalam halaman parkir sebuah restoran seafood yang terlihat ramai.
Hams segera turun, seperti biasa akan setengah berlari untuk membukakan pintu untuk Tuannya.
"Bukakan pintu untuk Alexa Hams," ucap Arga kepada Hams yang hendak membuka pintunya.
Membuat Alexa tersentak menatap suami barunya.
"Baik Tuan," jawab Hams segera turun, melangkahkan kakinya mendekati pintu penumpang tempat Alexa duduk.
"Silahkan Nyonya," ucap Hams datar tanpa ekspresi setelah membuka lebar pintu mobil, membuat Alexa bersikap kikuk karena baru pertama kalinya diperlakukan seperti ini.
"Terimakasih," ucap Alexa menatap laki-laki yang hanya menatapnya sekilas, hanya untuk menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Arga dan Alexa segera masuk ke dalam restoran di ikuti dengan Arga yang berjalan di belakang mereka.
Sepuluh menit kemudian, makanan yang mereka pesan sudah datang, Arga duduk bersebelahan dengan Sekretarisnya sedangkan Alexa duduk di seberangnya, di sebuah meja dengan empat kursi yang berada di pertengahan ruang restoran.
"Maaf ..apa boleh saya menanyakan sesuatu?" tanya Alexa hati-hati menatap Arga yang tengah menikmati makanannya.
"Tanyakan saja," jawab Arga.
"Kenapa Istri Tuan nggak ikut menghadiri pernikahan kita? apa istri Tuan menyetujui pernikahan ini?"
Arga melanjutkan kunyahannya menatap Alexa.
"Amelia Kirania, itu nama istriku, kamu bisa memanggilnya Kira, dia sendiri yang menyuruhku menikah siri karena aku anak tunggal yang harus mempunyai keturunan untuk generasi penerusku." Jawab Arga setelah meminum minumannya.
"Dia lagi berada di Singapura untuk membantu keluarganya mempersiapkan pernikahan sepupunya. Besok pagi baru pulang." tambah Arga.
Alexa hanya menganggukkan kepala tanda mengerti sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya..
"Apa Nyonya Kira...." kalimat Alexa terpotong, seakan ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tenang saja, istriku orang yang sangat baik, dia akan menerima kehadiranmu, dan memperlakukanmu dengan baik," jawab Arga seakan tahu isi kepala Alexa.
Alexa kembali menikmati makanannya, jawaban Arga sedikit bisa melegakan hatinya, meskipun dia belum bisa memastikan kebenarannya.
"Apa benar istrinya akan menerimanya? bukankah tidak ada satupun istri di dunia ini yang rela melihat suaminya menikah lagi? meskipun takdir yang menuntutnya seperti itu." Batin Alexa menikmati makanannya.
***
Mobil sedan Mewah Arga masuk melewati gerbang salah satu perumahan elit yang ada di kotanya, berjalan lurus hingga beberapa ratus meter sebelum berhenti di sebuah rumah dengan gerbang putih yang sangat besar dan tinggi.
Hams membunyikan klakson mobilnya dua kali untuk memberikan kode bahwa Tuan Besarnya sudah datang.
Pintu pagar terbuka, menampakkan laki-laki paruh baya berseragam security.
Hams segera melajukan kembali mobilnya, memasuki gerbang menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah yang kebesarannya dua kali lipat dari rumah orang tua Alexa.
"Ayo masuk," ucap Arga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, di ikuti dengan Alexa dan Hams di belakangnya.
BERSAMBUNG.
__________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up