Air Mata Pernikahan Siri

Air Mata Pernikahan Siri
BAB 4. Perjanjian Nikah


__ADS_3

"Masuk saja ke jurusan apapun yang kamu mau," jawab Arga datar kembali menikmati menu makan malamnya.


Sunyi dan sepi, tak ada yang bersuara, Arga dan Alexa hanya diam menikmati makanan mereka masing-masing.


"Aku ingin bicara sama kamu," ucap Arga datar setelah meminum setengah air yang ada di gelasnya, memandang Alexa yang sedang menikmati makanan di depannya.


Alexa mengangkat kepala hingga membuat pandangan mereka saling beradu.


"Bicara saja Tuan." jawab Alexa mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan Arga.


"Aku akan membicarakan masalah pernikahan kita, apa kamu bisa menatapku?" ucap Arga tegas membuat Alexa kembali menatapnya.


"Aku sangat mencintai istriku, Kira! kalau bukan Kira yang memaksa, aku nggak akan pernah menikah lagi dan menjadikanmu istri kedua."


"Langsung saja ke intinya Tuan," jawab Alexa.


"Kita hanya menikah atas dasar anak untuk generasi penerusku, jadi aku akan menceraikanmu sesaat setelah kamu hamil dan melahirkan anakku," lanjut Arga membuat jantung Alexa berdetak dengan sangat cepat.


"Dan setelah kamu melahirkan nanti, anak kita akan menjadi anakku dan Kira, aku akan mengkonpensasi kamu dengan sejumlah uang yang sangat besar, untuk bekal hidupmu setelah bercerai." Tambah Arga lagi membuat tubuh Alexa terasa lemas.


"Kemana oksigen di rumah yang sangat luas ini? kenapa rasanya sesak sekali?" batin Alexa sedih menghela nafasnya pelan, mengalihkan pandangannya ke samping, untuk mengambil gelas air yang ada di sebelahnya, kemudian meneguknya habis dalam sekali minum.


"Aku tahu bahwa akhir kisahku akan berakhir seperti itu, tapi kenapa rasanya sesak sekali Ya Allah..." Batin Alexa lagi berusaha menahan bulir air matanya agar tak sampai jatuh.


Bukan karena Arga yang tak akan pernah bisa mencintainya, tapi karena calon anak yang tak akan mengenalnya, darah dagingnya sendiri yang tak bisa mencintainya, layaknya cinta seorang anak kepada ibu kandung yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan, dengan penuh perjuangan dan kesakitan.


"Aku balik ke kamar dulu," ucap Arga datar setelah menghabiskan sisa air yang ada di gelasnya.


Alexa hanya diam, tak menatap Arga yang sudah berdiri dari duduknya.


Mata indahnya berair, menerobos dinding pertahanannya karena rasa sakit di hatinya yang seakan menari bersama luka yang baru saja tercipta, terus terbayang rangkaian kata Arga yang mengoyakkan jiwa dan perasaanya.


"Bi tolong temani Alexa ya? mungkin dia butuh sesuatu," ucap Arga kepada Bi Sari yang sedang melangkahkan kaki mendekati meja makan.


"Baik Tuan," jawab Bi Sari sopan melihat Tuannya melangkah masuk ke dalam kamar.


"Apa Nona butuh sesuatu?" tanya Bi Sari setelah berdiri di dekat Alexa.


Alexa hanya menggelengkan kepalanya, menyeka air matanya yang hampir menetes dengan kasar sebelum berdiri dari duduknya.


"Aku ke kamar dulu Bi, Terimaksih," ucap Alexa melangkahkan kakinya gontai masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.


Nggak ada yang bisa Alexa lakukan selain menangis, membenamkan wajah ayunya di atas bantal dengan tangisannya yang terisak, tangisan pilu penuh luka yang terdengar menyesakkan bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Ya Allah....Apa aku bisa melewati ujian ini dengan baik? bagaimana bisa aku menjual darah dagingku sendiri demi uang dan masa depanku? "ucap Alexa lirih semakin terisak.


"Masa depan?" ucap Alexa lagi dengan senyum pilunya, seakan mengejek kalimatnya sendiri.


"Masa depan apa Alexa? masa depan yang akan menjadikanmu seorang janda? bagaimana bisa aku mengorbankan darah dagingku untuk masa depan yang seperti itu?"

__ADS_1


"Aaaahhhh," teriak Alexa memukul bantal yang menjadi tumpuan wajahnya, berusaha keras mengurai rasa sesak yang sudah membuatnya sulit untuk bernafas.


Sementara itu di kamar lainnya Arga duduk bersandar di atas ranjang, dengan kakinya yang berselonjor di kedepan, menunggu panggilan teleponnya tersambung dengan Kira, istri yang sudah sangat dirindukannya.


"Halo Mas," jawab Kira dari dalam ponsel Arga.


"Jadwal penerbangan kamu besok jam berapa? aku akan menjemputmu, aku kangen sekali sama kamu Ki?" jawab Arga.


"Apa kamu sudah membawa Alexa ke rumah?" tanya Kira tak menjawab pertanyaan suaminya.


"Sudah, seperti keinginanmu,"


"Aku ingin menginap disini lagi Mas, hanya untuk beberapa hari," jawab Kira membuat Arga tersentak dan menegakkan duduknya.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Kamu harus melakukannya dengan Alexa Mas, aku nggak mungkin berada di sana saat kamu melakukannya, hatiku belum sekuat itu"


"Kenapa kamu menyuruhku menikahinya kalau hatimu sendiri nggak kuat menerima pernikahan ini?" protes Arga kesal sedikit meninggikan suaranya.


"Untuk kamu, orang tua kamu, dan generasi penerus Syahreza Group," jawab Kira lirih dengan suaranya yang terdengar parau.


"Maaf Ki, aku nggak bermaksud membentakmu." jawab Arga menurunkan kembali nada bicaranya.


"Aku hanya ingin melihat orang tua kamu bahagia Mas, mereka sangat mendambakan seorang cucu yang nggak mungkin bisa aku berikan," ucap Kira lagi dengan suaranya yang semakin parau.


"Kamu harus bisa melakukannya Mas, demi aku! aku juga ingin menggendong darah dagingmu meskipun itu bukan dari rahimku."


"Aku belum bisa! kasih aku waktu," jawab Arga.


"Kamu harus tetap pulang besok, atau aku yang akan menyusulmu kesana!" ucap Arga lagi menggertak istrinya.


"Aku pulang besok Mas," jawab Kira melegakan hati suaminya.


***


Mentari pagi kembali bersinar, menerangi halaman rumah Arga yang terlihat luas dengan hiasan bermacam bunga dan tanaman lainnya yang tertata dengan sangat rapi.


Mobil Hams baru memasuki pagar tinggi rumah Tuannya, memarkirkan mobilnya dengan baik sebelum turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Pagi Mas," sapa Bi Sari kepada Hams.


"Pagi Bi," jawab Hams tetap setia dengan wajah datarnya.


"Tuan Arga ada di ruang kerjanya Mas," ucap Bi Sari yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Hams.


Hasm mengetuk pintu ruangan Arga, dan segera masuk ke dalamnya setelah mendengar suara "Masuk," dari dalam ruangan.


"Alexa ingin kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas C, bantu dia mendaftar di sana," ucap Arga menatap Hams yang sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Baik Tuan, bukankah hari ini jadwal kepulangannya Nyonya Kira Tuan? kita akan menjemput Nyonya Kira jam berapa?" tanya Hams.


"Jam 11, Biar aku saja yang menjemputnya, kamu bisa menemani Alexa ke Mall untuk membeli segala kebutuhannya." Jawab Arga membuat Sekretarisnya tersentak, hingga menggerutkan dahi menatapnya.


"Kenapa? apa kamu keberatan?"


"Tidak Tuan," jawab Arga cepat, mendatarkan kembali raut wajahnya, membuat Arga mennganggukkan Kepala menatapnya.


"Ambil berkas ini, kita kerjakan semuanya di sini saja, karena kita harus menyelesaikannya sebelum kepulangan Kira." Ucap Arga dengan gerakan kepalanya menunjuk tumpukan berkas yang ada di atas meja.


Hams hanya menganggukkan kepala sebelum mengambil dan memindahkan berkas yang dimaksud Tuannya ke atas meja sofa yang ada di ruang kerja Arga.


Satu jam berlalu, Jam dinding ruang kerja Arga sudah menunjuk ke angka sembilan.


Sunyi dan sepi, Tak ada suara kecuali suara detik jam yang terdengar di dalam ruangan, karena dua orang yang ada di dalamnya terlihat sangat sibuk dengan layar laptop mereka masing-masing.


Trrrttt trrrtttt suara ponsel Hams di atas meja membuyarkan konsentrasinya.


"Nyonya Kira Tuan," ucap Hams menunjukkan layar ponselnya kepada Arga.


"Jawab saja, loudspeaker!" titah Arga menatap Hams yang sedang bersiap mengangkat panggilan teleponnya.


"Iya Nyonya," ucap Hams setelah meloudspeaker panggilannya.


"Apa kamu sedang bersama Mas Arga Hams?"


"Iya Nyonya," jawab Hams.


"Apa ponsel Mas Arga mati? kenapa nggak bisa aku hubungi?" tanya Kira membuat Hams mengalihkan pandangan ke arah Tuannya yang sedang mengecek kondisi ponsel.


"Iya Nyonya," jawab Hams setelah melihat anggukan kepala Arga.


"Hanya mengingatkan saja sih, jangan lupa menjemputku Jam sebelas nanti,"


"Iya Nyonya, Tuan Arga sendiri yang akan menjemput anda, karena saya harus menemani Nona Alexa belanja ke Mall,"


"Berikan ponselnya ke Mas Arga ya Hams,"


"Baik Nyonya," jawab Hams segera berdiri dan melangkahkan kaki menghampiri Tuannya.


"Ini aku Ki, ada apa? aku nggak tahu kalau ponselku mati," jawab Arga setelah mematikan loudspeaker dan meletakkan ponsel Hams di telinganya.


"Biar aku nanti yang di jemput Hams Mas, kamu bisa mengantarkan Alexa belanja ke Mall," ucap Kira membuat suaminya terkejut.


BERSAMBUNG.


__________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2