
“Mulai hari ini semua udah berakhir!”
“Mir, denger penjelasanku dulu!”
“Gak perlu, Ya! Udah gak ada yang perlu dijelasin lagi.”
Masih ada kata-kata yang tertahan di mulutku. Tapi yang kulakukan hanyalah diam, sambil melihat perempuan yang baru saja mengakhiri hubungan kami, berjalan semakin menjauh. Aku bukannya tidak mau berusaha, tapi hanya tidak ingin membuang tenaga hanya untuk hal yang sia-sia.
Setelah cintaku kandas setengah tahun lalu, kupikir keputusan untuk menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih tua menjadi pilihan yang tepat. Kupikir juga semakin tua seorang perempuan, akan semakin dewasa dalam bersikap. Tapi ternyata, semua sama saja. Hanya ingin dimengerti dan dituruti semua keegoisannya. Ingin didengar, tanpa mau meluangkan waktu untuk mendengarkan. Dan aku, sudah tidak sanggup menjalin hubungan dengan orang seperti itu.
***
“Ya! Woy, Aria!!” teriakan Bimo berhasil membuyarkan lamunanku, sekaligus membuat telingaku sedikit berdenging.
“Harus ya, teriak gitu?” Aku mendecak cukup keras.
“Ye… lo sendiri yang susah dipanggil daritadi. Nape lo, baru putus cinta?” Bimo tertawa tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.
“Iya, baru putus gue sama Mira," ucapku dengan wajah datar.
Seketika Bimo dan Raka yang berisik sedari tadi langsung terdiam. Mereka bertatapan sejenak sebelum fokus menatapku dengan tampang penuh penasaran. Kuyakin mereka terkejut karena memang aku sama sekali belum menceritakan soal hubunganku dan Mira yang baru saja kandas.
“Lo putus sama Kak Mira? Gak salah lo, Ya? Bim, cek, Bim! Lagi sakit kali dia.”
Bimo menempelkan telapak tangannya di dahiku—yang langsung kutepis.
“Apaan sih kalian ini. Gue serius.”
“Ya, lo kan tau, bisa dapetin Kak Mira tuh sebuah pencapaian yang luar biasa. Apalagi bisa ngalahin Kak Rio yang dari lama ngincer dia. Sekarang lo maen pisah gitu aja. Kecewa kita!”
“Bodo, ah.” Aku hanya berkomentar singkat sebelum akhirnya memilih untuk diam. Malas melanjutkan topik pembicaraan yang ada.
Hari ini merupakan hari pertama anak-anak baru datang untuk orientasi. Sekaligus hari pertamaku berada di kelas dua SMA—yang sudah langsung diwarnai dengan cerita cinta yang baru saja kandas.
Semua orang pasti berpikir aku bodoh karena tidak berusaha untuk mempertahankan Mira. Dilihat dari sisi manapun, Mira memang sempurna. Dia cantik, pintar, pandai bergaul, ceria. Banyak yang merasa iri karena aku bisa mendapatkan wanita seperti itu. Sampai-sampai, aku jadi musuh para kakak kelas yang sudah lama mengincar Mira.
Kalau diingat-ingat lagi, banyak hal terjadi yang belum bisa aku lupakan. Tentu banyak juga kenangan manis yang sudah kulalui bersama Mira. DIa memang benar-benar baik kepadaku.
Tapi, sayangnya mereka belum tahu seperti apa sifat asli Mira. Atau mungkin karena sifatku terlalu bertolak belakang dengannya, sampai merasa tidak yakin bisa tahan menghadapi orang seperti Mira.
__ADS_1
Meski memang menyakitkan dan beberapa kali membuatku tidak hati tiap kali berpapasan dengan Mira, tapi aku merasa tidak akan menyesal sudah melepasnya.
***
Sejak tadi, Bimo dan Raka mengajakku diam di luar kelas hanya untuk melihat anak-anak baru. Kebetulan kelas kami ada di lantai dua, jadi bisa terlihat jelas semua orang yang sedang berbaris di tengah lapang. Mereka berdua semangat sekali, karena katanya resolusi di kelas dua ini adalah mendapatkan pacar yang cantik.
“Eh, anak-anak baru datang tuh. Banyak yang cakep katanya tahun ini. Gak kayak tahun kita.”
“Mantap, Ka. Tahun ini harus dapet pacar nih gue. Capek jomblo melulu.”
“Iya, Bim. Masa udah kelas dua masih belum punya cerita. Pokoknya sebelum lulus, kita harus ngerasain pacaran dulu minimal sekali.”
“Setuju!”
“Ya elah, gayanya udah kayak yang lagi ngincer beasiswa!” komentarku.
“Lo mah enak, Ya. Gak nyari juga pasti ada aja yang ngedeketin. Bagi-bagi dong gantengnya!” canda Bimo sembari menempelkan pipinya pada bahuku.
“Jangan deket-deket, ah! Jijik gue!”
“Biar nular dikit aja gitu.”
“Cep, Cep, Cep, Cep. Sini dulu, Brother!” Bimo menarik tangan Cepi yang kebetulan lewat. “Lo kan anak OSIS nih, punya info yang kita mau dong harusnya.”
“Tau aja, Bim. Tapi lo utang gorengan ya ke gue.”
“Gampang!! Jadi, ada rekomendasi nama-nama dedek lucu tahun ini?”
Cepi berdiri di sampingku yang masih terdiam memperhatikan kegiatan mereka bertiga tanpa tertarik sedikit pun. Dia memicingkan mata untuk mencari seseorang. “Itu, yang pakai bando warna merah namanya Naira. Jeblosan SMP swasta yang terkenal marching band-nya itu, lho. Terus itu di barisan paling depan kanan, Leony. Anggota girlband angkatan baru.”
“Seriusan, Leony yang itu?”
“Iye, bener, Rak! Gak nyangka kan, lo?”
“Terus, terus?”
“Di belakang Leony juga boleh tuh, namanya Sarah. Anggun, muslimah, jebolan pesantren.
“Masyaallah, ukhti cantik,” sahut Bimo lagi dengan cepat.
__ADS_1
“Sama ada satu lagi, yang rambut panjang itu. Aira, anak yang punya penerbitan Pramoedya.”
“Waw, anak orang kaya, dong? Boleh juga tuh, manis,” komentar Bimo dengan semangat. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Mereka berdua sudah terlihat seperti ibu-ibu tukang gosip.
“Iya sih, gue awalnya tertarik sama itu anak. Tapi sayang... dia gak bisa ngomong.”
“Hah, gimana maksudnya?”
“Bisu, men!”
“Padahal cantik ya. Agak mirip Kak Mira tuh dikit.”
“Wah hati-hati lo, Bim. Aria kesinggung tuh entar.”
“Gak akan. Wong, dia udah putus sama Kak Mira.”
“Hah, serius, Ya? Sayang ya, padahal Kak Mira tuh perfect banget. Susah didapetin.”
“Iya, bego kan temen gue itu.”
“Ah, kalian yang gak tau apa-apa. Mending gue pacaran sama anak bisu itu aja sekalian dibanding Mira,” sahutku spontan.
“Eh bener lho, ya. Gue doain beneran lo!” sahut Raka.
“Jangan sembarangan kalo ngomong, Ya. Kalau beneran kepincut, rasain lo nanti,” sambung Bimo semakin mengompori.
“Tapi lucu ya nama dia Aira, kalau dibalik jadi Aria. Wah, kayaknya bukan kebetulan.” Kata-kata Cepi membuat Raka dan Bimo tertawa. Sementara aku hanya bisa menghela napas panjang dan kembali diam.
Lama-lama candaan mereka justru membuatku stres. Mungkin karena perasaanku belum pulih benar. Bagaimana pun yang namanya putus cinta memang menyesakkan.
“Udah ah, gue mau masuk ke kelas,” ucapku sembari melengos. Bimo masih memanggilku sembari bercanda, tapi
tak kugubris perkataannya.
Padahal ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Tapi mood-ku sedikit kacau akibat perempuan yang akhir-akhir ini tidak membiarkanku menikmati waktu luang. Sebenarnya terasa lega karena akhirnya dia mau mengakhiri semua sebelum aku yang terlanjur mengatakannya lebih dahulu. Meski tidak ada penyesalan, tapi aku hanya kecewa karena hingga saat ini masih belum menemukan sosok yang berhasil membuatku bisa menjadi diri sendiri di sampingnya.
Apakah semester ini akan jadi waktu yang baik untukku?
Semoga.
__ADS_1