
Selama enam hari dalam seminggu, aku jadi semakin sering ke perpustakaan untuk tujuan yang sama. Tapi selama itu juga Bimo dan Raka tidak pernah tahu meski beberapa kali bertanya sembari keheranan. Aku selalu berhasil menghindar dari interogasi dengan kata-kata ‘mau fokus belajar buat beasiswa’. Karena memang tahun ini aku sedang mengincar beasiswa study di luar negeri.
Selama enam hari pun aku selalu bertemu dengan Aira dan menghabiskan waktu bersamanya meski hanya untuk membaca buku. Tapi tentu saja aku tidak benar-benar serajin itu, karena sebenarnya hanya tertarik untuk mengganggu Aira yang langsung menunjukkan ekspresi marah yang lucu.
“Kamu suka Bahasa Inggris, Ra?”
Aira mengangguk mantap.
"Wah,keren. Aku gak terlalu suka sih, tapi wajib bisa kalau mau sekolah di luar negeri.”
Gadis itu menatapku dengan wajah sedikit takjub. Dia pasti tidak menyangka kalau aku punya mimpi seperti itu. “Iya, aku pengen banget cari beasiswa. Sekarang juga lagi on progress, sih. Kata guru kalau misalnya nilaiku bagus, nanti bisa dapat rekomendasi.”
Kali ini Aira bertepuk tangan dengan cepat namun tanpa suara. Apa memang orang bisu bahkan tidak mengeluarkan bunyi sewaktu bertepuk tangan?
“Kamu cita-citanya apa, Ra? Mimpi atau apa gitu pasti punya,kan?”
Lawan bicaraku itu langsung menggeleng sebelum kembali menunduk untuk melihat ke arah buku. Tapi aku justru menangkap kalau dia merasa tidak nyaman membahas hal ini. Apa mungkin aku sudah menyinggung hal yang sensitif baginya? Aku agak merasa bersalah.
“Eh, selain Bahasa Inggris, kamu bisa bahasa asing lain gak?” tanyaku untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Aira mengangguk pelan. “Bahasa apa?”
‘Jerman’, tulisnya.
"Oh… ich liebe dich, ya?”
Kulihat gadis di hadapanku itu tertawa sambil mengangguk-angguk. Entah kenapa rasanya dia mudah sekali dibuat cemberut dan kembali tertawa. Meski tidak bisa mengungkapkannya dalam kata, tapi ekspresi pada wajahnya seakan bisa mewakili apa yang ingin dia sampaikan. Semua itu tanpa sadar membuatku semakin tertarik padanya. Mungkin karena ini pertama kalinya aku berhubungan dengan orang yang tidak bisa bicara. Ternyata tidak semembosankan yang kupikirkan.
Kalau diperhatikan dari dekat, Aira seakan memancarkan aura yang membuatnya tampak menarik. Sayangnya, poniknya yang tampak terlalu panjang menutupi wajah manisnya. Apa dia terlalu malas untuk pergi ke salon?
Aku pun jadi sering memperhatikan Aira dari kejauhan. Entah kenapa dia tampak murung dan memberikan jarak dengan orang lain. Padahal banyak yang bisa dibanggakan dari dirinya. Tapi dia seakan memilih untuk menutupi itu semua dari orang lain. Apa memang dia orang yang terlalu minder hingga tidak menyadari kemampuannya sendiri?
Entah kenapa semakin aku mengenal Aira, semakin banyak pertanyaan yang beterbangan di dalam kepala. Sayangnya aku butuh waktu agak lama untuk mendapat jawaban dari semua itu. Karena aku hanya bisa berkomunikasi lewat gesture atau tulisan. Kalau aku sedikit saja salah bicara, Aira bisa bungkam dan membiarkanku hidup dalam rasa penasaran selamanya. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
***
Hari Minggu bukan waktu yang terlalu kusuka. Di saat anak lain antusias karena bisa bermalas-malasan di rumah seharian, aku justru cepat bosan.
Hal yang bisa kukerjakan hanyalah membantu ibu untuk menyiapkan makanan yang akan dijual di pasar. Setelah ayah meninggal, ibu berjuang seorang diri untuk membiayai sekolahku. Padahal aku sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan bekerja, agar beban ibu berkurang. Tapi ibu bilang hal itu hanya akan membuatnya sedih dan merasa bersalah. Jadi, dia memintaku untuk sekolah dan meraih mimpiku.
Hari ini pun aku bermaksud membantu ibu di dapur. Tapi, dia malah mengusirku dan berkata supaya tidak menyia-nyiakan hari yang cerah. Aku jadi bingung, padahal banyak orang yang justru dimarahi karena terlalu sering main di luar. Tapi ibuku malah mengusirku supaya tidak terlalu sering ada di dalam rumah.
Jadi, aku memutuskan untuk bermain skate board dengan Raka dan Bimo. Meski Bimo hanya duduk di pinggir jalan sembari terus memainkan game pada ponselnya.
“Bim, lo ngapain ikut sih kalau cuma mau maen game doang?” protesku.
"Eh, jangan salah! Sekarang game itu disebutnya e-sport. Tetep ada ‘olah raga’-nya kan?” sahut teman kriboku itu masih sambil fokus menatap ke layar ponsel.
“Yang ada jari lo doang tuh yang berotot.”
"Eh, Ya, Ya, Ya!”
Raka tiba-tiba menepuk-nepuk bahuku dengan cepat.
“Itu, ada Kak Mira!” bisik Raka. Membuatku spontan berbalik arah.
Kulihat sosok Mira yang sedang berjalan mendekat bersama tiga orang temannya. Bisa kulihat juga mereka berbisik-bisik seru entah membicarakan apa.
Padahal ingin sekali aku kabur dari tempat ini agar tidak perlu berpapasan dengan Mira. Sayangnya, dia dan ketiga temannya sudah terlanjur menyadari keberadaanku. Sepertinya aku sedang sial.
“Aria, kebetulan banget sih ketemu di sini!” sapa Mira. Wajahnya tampak menyiratkan rasa senang, meski berusaha ditahan. Kenapa dia sesenang itu saat bertemu dengan mantan yang sudah dia campakkan?
"Hai, Mir. Eh, Kak Mira,” balasku. Membuat empat perempuan di hadapanku tertawa.
“Kamu ini lucu,deh. Gak usah jadi kaku begitu kali.”
Aku hanya tersenyum dengan sedikit terpaksa. Berusaha mencari cara untuk bisa lepas dari percakapan yang membuatku malas. Padahal aku bukannya kaku, hanya merasa tidak nyaman ada di dekatnya.
__ADS_1
“Eh, temenin aku makan yuk!”
“Lho, kan kamu lagi sama temen-temen.”
“Kita udah mau pulang nih, Ya. Temenin Mira,ya! Kasian dia ngidam bakso tuh dari kemaren,” sahut seorang perempuan berkuncir kuda.
“Tapi aku lagi maen sama-”
“Gue mules nih, Ya. Kayaknya kudu balik sekarang deh,” potong Bimo. Padahal sedari tadi anak itu asik main. Tapi dia tiba-tiba berdiri sembari memegangi perut. “Gue sama Raka balik duluan ya.”
“Lha, ngapain ajak-ajak Raka? Kan elo yang sakit perut!”
Tiba-tiba semua orang seakan memiliki keperluan masing-masing. Padahal aku tahu mereka hanya ingin meninggalkanku berdua dengan Mira. Dan akhirnya hal itu pun berhasil. Membuatku terjebak di tengah kedai bakso bersama orang yang padahal tidak pernah terpikir akan kutemui lagi.
“Tadi aku lagi maen tiba-tiba pengen ke sini. Gak tau kenapa kok ngerasa bakal ketemu kamu, eh ternyata bener aja. Jangan-jangan kita...”
“Temen kamu bohongnya gak jago banget sih tadi. Bukannya kamu gak terlalu suka ya makan bakso?”
“Ah kamu, Ya. Kayak gak tau mereka aja. Gak usah sewot segitunya kali...”
Aku menyeruput teh manis dari dalam gelas. “Kenapa?”
“Apanya?”
“Kamu pasti pengen ngomong sesuatu,kan?”
“Kamu ngerti banget, sih...” Mira tersenyum lebar sebelum akhirnya berwajah agak serius. “Ya, aku mau minta maaf.”
“Buat apa?”
“Waktu itu aku kayaknya lagi jelek aja mood-nya, sampai minta putus. Padahal aku gak sampai hati mau pisah sama kamu. Kamu mau maafin aku, kan?”
“Kalau itu sih tanpa kamu minta juga udah aku maafin, kok.”
__ADS_1
“Makasih, Ya,” Mira tersenyum padaku. “Sebenernya… sampai sekarang aku masih-”
“Tapi,” potongku dengan cepat. “Bukan berarti kita bisa balikan lagi,ya.”