Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
5. Mimpi dan Harapan


__ADS_3

Entah sejak kapan hari Senin menjadi begitu kutunggu. Bukan karena aku anak yang secinta itu dengan pelajaran, tapi aku merasa ada hal yang membuat hariku jadi tidak biasa. Sudah tentu penyebabnya adalah Aira.


Saat bel istirahat siang berbunyi, kakiku melangkah dengan cepat menuju ke perpustakaan. “Belajar buat beasiswa lagi, lo?” tanya Bimo tak kalah cepat.


“Iya, sorry, Bro gak bisa makan bareng lagi!” sahutku sambil berjalan ke luar kelas. Aku khawatir Bimo mulai curiga


dan justru mengikutiku. Sebelum itu terjadi, aku melesat secepat mungkin dari dalam kelas.


Akan tetapi, aku sedikit kecewa karena orang yang kucari tidak ada di markasnya seperti biasa. Membuatku mengurungkan diri untuk diam di perpustakaan yang mendadak menjadi semembosankan dulu. Tapi aku yakin Aira masuk sekolah hari ini, karena sempat melihatnya sewaktu baru saja berjalan masuk melewati gerbang sekolah tadi pagi.


Aku ingin bertanya pada teman sekelasnya, tapi pasti akan mencuri perhatian banyak orang. Jadi, kucoba untuk menerka-nerka, di mana kira-kira teman baruku itu berada saat ini.


Rasa penasaran membuatku melangkah menuju kantin hanya untuk mencari seseorang yang juga tidak ada di sana. Sampai entah kenapa kakiku terus melangkah ke bagian samping sekolah, yang sebenarnya jarang sekali ada orang datang ke sana. Karena memang tidak ada apa-apa, selain taman kecil yang digunakan club biologi menanam tumbuhan.


“Ah!” seruku spontan saat melihat sebuah sosok di kejauhan.


Siapa yang menyangka kalau ada orang tengah duduk pada bangku di bawah pohon yang ada di sana? Dan siapa yang menyangka kalau sosok tersebut adalah orang yang sedari tadi kucari? Tanpa sadar bibirku tersenyum senang.


Aku berjalan mendekat dengan pelan sekali. Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat sosok Aira yang tengah fokus dengan buku gambar dan pensilnya. Tapi aku masih belum bisa menangkap, apa yang sedang dia gambar saat ini. Hingga akhirnya aku sampai di belakang bangku tempatnya duduk, masih dengan kehadiran yang tidak disadari.


Bisa kulihat lukisan seekor burung yang tengah terbang di langit luas. Tak kusangka ternyata Aira memiliki bakat sekeren itu. Bahkan sedari tadi dia terus tersenyum sambil tak henti menggoreskan pensil dengan terampil. Seakan sangat menikmati kegiatan yang sedang dilakukan, sampai-sampai tenggelam dalam dunianya seperti itu.


“Ingin bisa terbang bebas… begitu maksudnya?”

__ADS_1


Aira yang tampak sangat terkejut langsung berdiri hingga menjatuhkan buku gambarnya ke atas tanah. Aku ingin sekali meminta maaf sekaligus tertawa melihat ekspresi itu. “Sorry, tiba-tiba muncul,” komentarku sembari nyengir dan memungut bukunya.


Sementara Aira mengembuskan napas penuh kelegaan sambil mengelus dada.


“Kamu kagetnya udah kayak lihat hantu.” Akhirnya aku tidak tahan untuk tidak tertawa. “Suka banget deh aku sama gambarnya.”


Mendengar komentarku itu, Aira langsung tampak panik. Dia bergegas merebut buku dari tanganku dan mendekapnya erat. Seakan tidak ingin membiarkan aku melihatnya—entah karena apa. Dia pun menggeleng, pertanda tidak setuju dengan pendapatku barusan.


“Kenapa? Aku suka banget, lho. Kamu kayaknya berbakat jadi pelukis,” tambahku lagi sembari duduk pada bangku panjang yang ada. “Ah! Apa jangan-jangan itu cita-citamu?”


Aira yang masih berdiri hanya terdiam sebelum akhirnya duduk di sampingku. Dia membuka halaman paling belakang dari buku gambarnya dan menuliskan sesuatu.


‘Apa jadi pelukis itu cita-cita yang aneh?’


Dia mengangkat bukunya hingga hampir menutupi wajah. Hanya matanya yang masih bisa kulihat di balik buku. Menyorotiku dengan tatapan penuh harap mendapat jawaban dari pertanyaannya barusan.


Aira mengangguk-angguk pelan seraya setuju. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tidak percaya diri dengan mimpinya itu.


“Jadi itu mimpimu? Kalau ngeliat bakatmu kayak gini sih udah pasti bisa kewujud, kok!”


Ternyata berbicara dengan orang yang tidak bisa menanggapi adalah satu hal yang cukup sulit. Kita jadi tidak bisa menangkap langsung apa yang lawan bicara kita pikirkan tentang ucapan kita. Tapi, di satu sisi aku bisa lebih memahami kalau pikiran seseorang ternyata bisa juga tampak jelas pada wajahnya. Seperti kini, aku tengah menangkap raut wajah seseorang yang sedang bimbang memikirkan mimpinya yang sepertinya terhalang oleh sesuatu.


“Apa maksudnya burung dalam gambar itu kamu?” ucapku spontan. Aira langsung menoleh cepat ke arahku. Kuyakin kata-kataku tadi memang tepat. “Ada suatu hal yang membuat kamu terkekang, dan berharap bisa terbang bebas seperti burung itu? Hmm… ya, ya,” aku mengangguk-angguk. “Keren kan kata-kataku?”

__ADS_1


Kutolehkan kepala ke arah gadis di sampingku sambil nyengir seperti biasa.


Kali ini giliran aku yang dibuat terkejut karena melihat air mata melintas pada pipi Aira. “Eh, kamu kenapa?” tanyaku dengan panik. “Aku salah ngomong?”


Aira pun menunduk sembari menggeleng-geleng cepat.


‘Aku senang ada yang mengerti.’


Syukurlah air mata itu bukan akibat kesedihan, ternyata hanya bentuk dari rasa senang—yang membuatku benar-benar lega. Kini kubersandar pada punggung kursi, sembari memandang ke arah langit yang sangat cerah. Beruntung sebuah pohon rindang memayungi kami hingga tak perlu terbakar sinar mentari yang terik.


“Jangan kecil hati dengan mimpimu, Ra. Aku selalu kagum sama orang yang punya mimpi. Yang selalu punya harapan dan cita-cita. Aku juga kadang takut, kok. Gak berani ngomongin soal mimpi ke siapa pun. Soalnya aku takut orang lain ketawa kalau tau mimpiku terdengar terlalu muluk. Tapi, justru itu kan tujuan dari sebuah mimpi. Membungkam mulut orang-orang yang menyepelekan dengan cara mewujudkan mimpi itu.”


Tak kusangka aku sudah bicara dengan panjang lebar. Terakhir kali aku mencoba mengungkapkan pikiran seperti ini adalah pada saat masih berpacaran dengan Mira. Tapi semua itu harus berhenti di pertengahan karena tampaknya Mira tidak suka dengan orang yang terlalu sering berkhayal sepertiku. Dia hanya suka pada orang yang memiliki masa depan yang jelas. Semua itu memang cukup membuatku tidak pernah bisa menjadi diri sendiri saat bersamanya.


“Kamu tau, Ra? Aku punya mimpi dari kecil. Suatu saat nanti aku ingin jadi astronot. Aku juga ingin terbang melewati langit, bahkan jauh lebih tinggi hingga bisa melihat bumi dari luar angkasa. Aku ingin mendarat di bulan, bahkan di planet pluto!”


Kulihat Aira tertawa mendengar ceritaku.


“Kok, kamu ketawain mimpi aku?” godaku, langsung membuatnya berhenti tertawa dan meminta maaf. Kali ini aku yang justru tertawa. Kutepuk-tepuk pelan kepalanya yang terus menunduk itu. “Bercanda.”


‘Keren! Kamu pasti bisa jadi astronot!’ tulisnya dengan cepat. Dia mengacungkan jempol kanannya sambil tersenyum lebar.


“Kamu takut ketinggiaan gak, Ra?”

__ADS_1


Aira menggeleng lalu memiringkan kepalanya seraya bertanya.


“Nanti aku ajak kamu ke luar angkasa, biar kamu bisa melukis bulan dari dekat.”


__ADS_2