Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
11. Hari Terakhir


__ADS_3

“Meski begitu, aku tetap ingin berterima kasih padamu, Aria. Setelah bertahun-tahun menunggu, bulan lalu aku mendengar kembali suaranya yang memanggil namaku. Bahkan aku sampai menangis dibuatnya. Entah


kapan terakhir kalinya dia mau meneleponku. Selama ini dia hanya menghubungiku melalui chat saja. Selalu menolak untuk bicara. Tapi saat itu justru dia sendiri yang lebih dulu menelepon. Dia bercerita banyak sekali soal sekolah barunya, dan seorang kakak kelas bernama Aria. Sejak saat itu hampir tiap minggu dia meneleponku. Dan di dalam ceritanya selalu ada namamu. Makanya hari ini aku memutuskan untuk menemuimu. Mungkin hal sepele bagi orang lain, tapi bagiku sendiri, kamu sudah menjadi orang yang sangat berjasa. Kuyakin Aira pun berpikir seperti itu. Terima kasih, Aria...”


Kata-kata Kak Dewa masih terus terngiang dalam kepala. Sampai membuatku tak bisa tidur semalaman. Aku terus memikirkan apakah Aira memang benar-benar bersyukur akan kehadiranku, atau justru sekarang dia tengah menyesal?


Kak Dewa sempat memintaku untuk datang ke rumah dan menengok Aira yang masih enggan untuk masuk sekolah. Tapi aku masih belum berani dan langsung menolak. Keberanianku masih belum muncul sama sekali. Entah sejak kapan aku jadi pengecut seperti ini.


Hari Minggu kulewati dengan mengurung diri di dalam kamar seharian. Bahkan ibu sedikit keheranan melihatku yang biasanya selalu tidak bisa tinggal lama-lama di dalam rumah. Tapi aku masih malas melakukan apa pun, malas bertemu dengan orang lain, bahkan malas meski hanya sekedar untuk melangkahkan kaki ke warung


seberang rumah.


“Ya, ibu masuk ya.”


Kudengar suara ibu setelah sebelumnya terdapat suara ketukan pada pintu. Aku tidak menjawab apa pun, tapi kepala ibu sudah langsung menyembul dari balik pintu. Dia tersenyum saat melihatku yang terbaring tidak berdaya di atas kasur.


“Kamu sakit?” tanyanya sambil memegang dahiku. Tapi tentu saja dia tidak merasakan apa pun. “Ibu khawatir lihat kamu belakangan ini mendadak lesu kayak gini. Ada yang gak kamu ceritakan sama ibu?”


“Aku bingung, Bu.”


“Kenapa?”


“Aku gak habis pikir kenapa ada orang tua yang setega itu sampai membuat anaknya membuang mimpinya. Gimana dia mau sukses kalau orang tuanya aja gak ngedukung?”


“Memangnya menurutmu kesuksesan itu ada hubungannya sama dukungan orang tua?”

__ADS_1


“Ada lah, Bu. Buktinya, aku aja bisa jadi percaya diri karena ayah dan ibu yang selalu support dalam keadaan apa pun.”


Kurasakan tangan ibu membelai kepalaku lembut. “Iya, memang ada anak beruntung yang bisa merasakan kasih sayang orang tua. Ada juga yang kurang beruntung dan gak bisa merasakan semua itu. Tapi bukan berarti anak kurang beruntung itu gak bisa sukses meraih mimpinya. Karena masih banyak hal yang bisa memberikan dukungan dan semangat, gak selalu harus orang tua.”


“Hmm...” responsku singkat. Aku tahu ibu hanya berusaha menyemangatiku.


“Kamu pasti tidak tahu ya kalau ayahmu dulu ditentang habis-habisan oleh orang tuanya sewaktu bilang ingin jadi pilot?”


Kali ini ibu berhasil mencuri perhatianku. Aku langsung duduk dan menatapnya lekat. Penasaran dengan kelanjutan cerita yang sama sekali belum pernah aku dengar.


“Dulu dia dipaksa jadi PNS dan selalu dibilang kalau pilot itu bukan pekerjaan yang baik, karena sering pergi jauh dan meninggalkan keluarga. Ibu tahu mungkin itu salah satu bentuk kekhawatiran orang tua, tapi ayahmu waktu itu pasti gak berpikir sampai sana.”


“Terus, ayah ngapain habis itu?”


“Apa, Bu?”


“Jadi atlet basket.”


“Hah, gimana bisa?”


“Bisa, dong. Buktinya, sampai sekarang dia berhasil jadi atlet difabel yang sudah sering tanding ke luar negeri. Dari sana ayahmu mulai dapat keberanian untuk menunjukkan kalau dia akan sukses dengan jadi seorang pilot. Kamu tahu kan gimana hasilnya?”


Aku spontan memandang ke arah dinding. Di mana ada fotoku, ibu dan ayah dengan seragam pilotnya. Kami berfoto di bandara sebelum ayah berangkat untuk bekerja. Foto yang diambil beberapa bulan sebelum ayah meninggalkan kami untuk selamanya.


“Kayaknya ayah cinta banget sama langit ya, Bu?”

__ADS_1


“Ibu sampai gak percaya pernah dibuat cemburu sama langit. Sampai-sampai namamu aja dia buat jadi kayak gitu.”


“Tapi, sekarang pasti ayah bahagia. Bisa terus ada di atas sana.”


Ibu tersenyum mendengar perkataanku yang terucap spontan dan kembali mengusap-usap kepalaku hingga rambutku berantakan.


“Udah, kamu jangan murung lagi ya! Ibu yakin temanmu gak selemah itu. Mungkin dia cuma butuh dukungan dan dorongan dari seseorang.”


“Iya… makasih ya, Bu.”


Berbicara dengan ibu memang selalu berhasil membuat perasaanku menjadi lega. Meski aku sering bertengkar dengannya hanya karena hal sepele. Tapi aku tahu ibu selalu menyayangi dan menjagaku setiap saat. Aku kagum padanya.


Kelegaan pun membuatku akhirnya bisa tidur dengan tenang. Tapi aku lagi-lagi harus dikejutkan dengan telepon masuk di pagi buta.


“Halo, Aria. Ini Dewa.”


“Iya… Ada apa, Kak?”


“Maaf mengganggu pagi-pagi. Aku tahu kamu masih tidak enak untuk bertemu dengan Aira. Tapi aku cuma


ingin bilang kalau Aira sudah tidak akan kembali ke sekolah. Ayah memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah lain di luar kota. Entah kenapa aku merasa hal itu tidak akan memperbaiki keadaan.”


“Kapan Aira pergi, Kak?”


“Siang ini.”

__ADS_1


__ADS_2