Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
9. Jalan Pulang


__ADS_3

Aku memutuskan untuk mengantar Aira pulang hari ini. Kami berjalan kaki meski jarak yang harus ditempuh cukup jauh. Aira menolak naik kendaraan umum saat kuajak. Mungkin dia tidak ingin dibicarakan orang lain yang bertanya-tanya kenapa dia pulang dengan pakaian basah kuyup. Tapi tak kusangka, hal tersebut merupakan sebuah pilihan yang salah.


Aku meminjamkan jaketku untuk mengganti jaket Aira yang basah. Cukup terkejut aku dibuatnya saat melihat beberapa memar tampak jelas pada lengan Aira yang putih. Ternyata alasan dia memakai jaket adalah untuk menutupi hal tersebut. Itu berarti, dia tidak hanya sekali mendapatkan perlakuan seperti itu. Bahkan aku baru mengerti kata-kata Mira yang bilang bahwa ini sudah ketiga kalinya. Dan semuanya terjadi karena aku…


“Ra… maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi begini. Aku gak pernah maksud bikin kamu sampai babak belur kayak gini.”


Aku bahkan tak sanggup untuk sekedar menatap wajah Aira yang jalan di sampingku. Tapi dia justru menggenggam tanganku. Kulihat dengan jelas bibirnya tersenyum. Seakan yang baru saja tersakiti adalah aku, dan dia ada di sini untuk menenangkan.


“Huh,” aku mendengus. “Kamu ini benar-benar ya. Aku jadi malu ngeliat kamu bisa kuat banget kayak gini. Dulu aku kira kamu pasti cuma anak manja yang cengeng.”


Langit sudah mulai menguning dan terasa dingin. Aira merapatkan jaket karena pasti mulai merasa kedinginan. Jadi aku memutuskan untuk berjalan lebih cepat supaya bisa lekas sampai di rumahnya.


Akan tetapi, lagi-lagi aku belum diperbolehkan untuk merasa tenang. Lima buah motor dengan suara kenalpotnya yang nyaring, melesat dengan cepat dan berhenti di hadapanku. Aku kenal benar salah seorang dari pengendara yang ada. Sementara empat lainnya tidak pernah kulihat sama sekali.

__ADS_1


“Wah, wah, padahal besok masih sekolah, tapi jam segini masih pacaran,” ucap Rio dengan nada menyebalkan.


Aku berjalan ke hadapan Aira. Bermaksud menyembunyikannya di belakang tubuhku. “Jangan cari gara-gara, Yo.”


“Hah? Jangan cari gara-gara katamu? Ngomong tuh sama diri sendiri!”


“Gue gak pernah ngerasa punya masalah sama lo.”


Rio turun dari motornya dan berjalan mendekat. Bisa kurasakan tangan Aira yang mencengkeram bagian samping bajuku. Tapi aku tidak boleh terlihat takut meski sudah kalah jumlah sekali pun. Aku memang pernah dengar gosip kalau Rio bergabung dengan genk motor yang berbahaya. Tapi tak pernah terpikirkan akan bertemu dengan mereka di saat seperti ini.


Aku mendengus. “Maksudnya, gara-gara gue lo dikeluarin dari club basket dan gara-gara gue juga Mira jadi ngejauhin lo?”


“Pinter juga, lo, bangsat!”

__ADS_1


“Itu sih, gue gak ada juga bakal tetap kayak gitu.”


‘Duak!’ Kepalan tangan Rio mendarat pada wajahku hingga membuat tubuhku terjatuh ke atas tanah. Mataku sedikit menyipit menahan sakit. Rasanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan dibanding terkena hantaman bola basket.


Rio kembali mendekat. Dia menjenggut kerah bajuku dan kembali melayangkan tinjunya yang sudah pasti terasa sakit. Aku bahkan tidak bisa melihat seperti apa reaksi Aira saat ini.


“Mati aja lo sekalian!” ucap Rio. Dia menangkap sebuah lempengan besi yang baru saja dilemparkan oleh salah seorang temannya. Entah kenapa aku tidak memiliki keinginan untuk melawan dan hanya terdiam menanti rasa sakit yang akan kembali datang.


Namun saat itu, aku bisa melihat Aira justru mendekat dan berusaha menarik lengan Rio yang masih menggenggam besi. Rio mendorong Aira yang dengan mudahnya terhuyung. Tapi dia tak menyerah, bahkan lanjut mengganggu Rio yang semakin bertambah marah.


Rio melepas cengkeramannya pada kerahku, lalu menendang perutku dengan keras. Membuat rasa mual tak membiarkanku bangkit untuk melindungi Aira.


Satu hal yang paling menyakitkan dari semua pukulan yang kudapat adalah tidak bisa berbuat apa-apa saat Rio justru berbalik badan dan memukulkan lempengan besi ke arah kepala Aira. Aku mendengar dengan jelas seperti apa benda tersebut menghantam Aira yang kini ambruk ke atas tanah. “Ra!” panggilku dengan segenap tenaga. Tapi tidak ada jawaban apa pun yang kudengar. Hanya darah merah yang mulai mengalir dari kepala gadis di hadapanku itu.

__ADS_1


Tampaknya Rio dan temanya yang lain mulai panik. Mereka pun memilih untuk pergi, meninggalkanku yang masih tidak percaya terhadap apa yang baru saja terjadi. Aku ingin sekali mengejar dan menghajar mereka, tapi aku tidak bisa meninggalkan Aira. Jadi, aku hanya bisa duduk bersimpuh karena kakinya mulai terasa lemas, sembari memandangi Aira yang terkulai tak berdaya, dengan darah merahnya yang membasahi tanganku.


“Airaaa!!”


__ADS_2