
“Bu, maaf ya aku bolos sekolah hari ini!” sahutku sebelum melesat pergi dari rumah. Kupikir ibu akan marah dan mengejarku, ternyata tidak.
Kabar dari Kak Dewa tadi membuatku tidak bisa tinggal diam sementara Aira akan pergi ke tempat jauh yang mungkin membuatku tidak akan bisa menemuinya lagi.
Sebelum ini aku sama sekali belum pernah main ke rumah Aira. Bahkan hari itu di mana aku harus mengantarnya pulang, justru dihadang oleh gerombolan Rio. Tapi, tadi aku sudah mendapatkan alamatnya dari Kak Dewa.
Di sebuah komplek perumahan elit aku sampai. Sedikit berjalan kaki setelah turun dari angkot, hingga menemukan sebuah rumah dengan pagar cokelat tua. Di mataku bangunan itu tampak seperti sebuah istana. Namun terasa sangat dingin karena tampak sepi.
Seorang satpam menemui dan mengantarku hingga masuk ke ruang tamu. Aku menunggu beberapa saat hingga terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku spontan berdiri dari duduk dan memasang wajah senang karena kupikir sosok yang muncul adalah Aira. Ternyata aku justru bertemu dengan ayahnya, Pak Pramoedya yang namanya sering terdengar dalam berita.
“Kamu yang mengantar Aira ke rumah sakit waktu itu ya?”
“Iya, Pak. Airanya ada?”
“Ada perlu apa? Sekarang Aira sedang bersiap-siap. Kamu belum tahu kalau Aira akan pindah sekolah?”
“Saya tahu, Pak. Karena itu juga saya datang ke sini. Saya ingin meminta tolong supaya Bapak tidak memindahkan Aira dari sekolah kami,” ucapku dengan mantap.
__ADS_1
Kulihat Pak Pramoedya menatapku sambil terdiam. Sejak tadi aku melihat wajahnya sangat dingin. Kelihatannya, sekarang kesanku di matanya jadi kurang baik. “Kamu bolos sekolah hanya untuk bicara seperti itu?”
Kuanggukkan kepala sekali. “Yang dibutuhkan Aira itu bukan tempat baru, Pak. Tapi dia hanya ingin ada orang yang mendengarkan dan menyemangatinya. Dia juga butuh perhatian dari Bapak!” Aku seperti kesetanan tiba-tiba bicara seperti itu kepada orang yang baru kutemui.
“Tahu apa kamu soal Aira? Aku ayahnya. Aku yang tahu apa yang terbaik untuknya!”
“Tapi Bapak tidak tahu apa-apa soal perasaannya! Selama ini dia berjuang sendirian dan berusaha tegar meski ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan dia menyerah untuk menggapai mimpinya karena merasa tidak mendapatkan dukungan dari Bapak. Padahal dia hanya butuh Bapak memujinya sesekali. Menyemangati saat dia sedang merasa jatuh. Hanya sesimpel itu, Pak!”
Pak Pramoedya tampak mulai marah. Matanya terbelalak seakan hendak melompat keluar. Tentu saja dia tidak terima diceramahi seperti tadi oleh seorang anak yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
“Lebih baik kamu pulang sekarang!”
“Siapa kamu sampai berani menyuruhku? Cepat pergi dari rumahku!”
Suara Pak Pramoedya seakan menggelegar di seluruh penjuru rumah. Ini jauh lebih menyeramkan dibandingkan harus berhadapan dengan beberapa orang dari genk motor. Tapi aku masih ingin tetap berjuang. Entah kenapa aku merasa Aira pasti tidak ingin pergi dari sini. Meski aku tidak benar-benar mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
“Kamu keras kepala sekali!” Pak Pramoedya yang kesal akhirnya berjalan mendekat dan mendorong bahuku. Dia memaksaku supaya keluar dari ruang tamu.
__ADS_1
“Ayah!” Aku bisa mendengar suara seorang perempuan yang entah siapa. Sampai akhirnya aku sadar saat Aira berlari mendekat. “Yah, jangan,” ucapnya dengan lirih.
Kulihat Kak Dewa pun baru saja menampakkan diri.
“Yah, Kak Aria benar. Aku gak mau pindah sekolah. Aku mau tetap tinggal di sini, Yah...” tambah Aira sembari menangis. Suara yang indah meski menyedihkan. “Sekarang aku sudah gak ngerasa takut karena ada Kak Aria. Kalau aku pindah, aku bakal sendirian lagi. Aku gak mau, Yah... Aku mohon…”
Untuk beberapa saat, aku tidak melihat reaksi apa pun dari Pak Pramoedya. Bahkan keadaan sempat hening, hanya terdengar isak tangis dari Aira yang berhadapan dengan sang ayah.Sudah pasti butuh keberanian yang besar hingga bisa bicara seperti itu.
“Aira...” Pak Pramoedya justru memeluk sang anak sembari mulai meneteskan air mata. Bahkan aku tidak menyangka kalau dia akan merespons seperti itu. “Ayah rindu mendengar suaramu… Akhirnya kamu mau bicara lagi. Maaf... maafkan Ayah...”
Mungkin di balik sosok kerasnya, sebenarnya Pak Pramoedya hanyalah seorang manusia yang renta. Dia pasti berusaha sekuat tenaga berjuang seorang diri sambil mencoba untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Tapi setiap orang tentu saja akan mengalami masa-masa di mana dia merasa sudah tidak bisa sanggup melewati semua. Dan ketidakhadiran sosok sang isteri membuat semua itu menjadi semakin sulit, hingga tak sadar Aira-lah yang menjadi tempat pelampiasannya.
“Aku gak mau pindah, Yah...”
“Iya... Ayah gak akan bawa kamu ke mana-mana. Ayah senang kamu sudah mau bicara lagi sama ayah.”
Kulihat sepasang ayah dan anak itu terus berpelukan untuk beberapa saat. Membuatku tak sadar sudah tersenyum sedari tadi. Aku melirik ke arah Kak Dewa yang turut tersenyum dan menganggukan kepala. ‘Terima kasih’ ucapnya dari kejauhan.
__ADS_1
Waktu membolosku hari ini sudah kugunakan dengan sangat baik. Mungkin aku akan menyesal kalau saja hari ini mengabaikan telepon dari Kak Dewa, dan justru pergi ke sekolah seperti biasa. Tapi aku bersyukur sudah mengambil pilihan yang tepat. Kuyakin ibu akan senang jika mendengar ceritaku.