Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
10. Sebuah Kenyatan


__ADS_3

Aku menceritakan semua yang terjadi kepada ayah Aira dan guru BK di sekolah. Sempat kulihat Rio dipanggil pihak sekolah dan diberikan hukuman meski tidak sampai di-drop out. Sementara Mira masih kuampuni dengan tidak membicarakan apa-apa soal pem-bully-an hari itu. Tapi aku biarkan dia menjalani hukuman oleh perasaan menyesal dan rasa takut yang sudah pasti datang.


Sebenarnya kabar soal Aira yang di-bully sudah mulai tersebar di sekolah. Hal itu pun membuatku tidak bisa tenang karena banyak yang membicarakanku di belakang. Bahkan Bimo dan Raka yang berusaha menghibur pun sama sekali tidak pernah berhasil.


Satu hal yang paling membuatku sakit adalah saat mendengar orang-orang bilang bahwa apa yang terjadi pada Aira adalah kesalahanku. Aku tidak marah pada mereka, karena memang benar seperti itu adanya.


Sudah lima hari berlalu sejak Aira masuk rumah sakit. Tapi aku sama sekali belum berani menengoknya sama sekali. Aku justru tenggelam dalam pikiranku sendiri. Dalam penyesalan karena sudah membuat Aira tersiksa seperti sekarang. Aku sudah tidak punya muka untuk bertemu dengannya lagi.


“Bro, udah lama gak nongkrong nih. Kita ke kafe depan yok!” ajak Bimo. Dia masih belum menyerah untuk membuatku kembali normal. Tapi, aku masih merasa belum baik-baik saja saat ini.


“Sorry, Bim. Gue mau pulang cepet hari ini,” jawabku sambil berlalu.


Kepalaku masih saja sering mengawang-awang. Aku tidak fokus ketika belajar di kelas. Bahkan sering kali bengong sampai membuat ibu marah-marah karena aku tidak menyahut setiap dipanggil. Sebenarnya aku tidak ingin jadi seperti ini, kalau saja semua yang terjadi tidak ada sangkutpautnya denganku.


“Hei!” Betapa terkejutnya aku saat ada seorang lelaki yang tiba-tiba mencengkeram bahuku dari belakang. Kubalikkan badan dengan segera hingga bisa melihat lelaki bertopi yang tampak seperti anak kuliahan itu. “Kamu Aria, kan?”


“Iya. Maaf, siapa ya?”


“Aku Dewa. Kakaknya Aira,” jawab lelaki tersebut, membuatku mulai merasa takut. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Tanpa bisa menolak, aku pun mengikuti Kak Dewa menuju ke kafe depan sekolah. Tempat yang seharusnya kukunjungi bersama Bimo dan Raka. Hingga sampai di tempat itu, aku sama sekali tidak bicara apa pun. Bahkan


menatap wajah Kak Dewa saja aku tidak berani.Rasanya kakiku ingin berlari sekencang mungkin untuk menghindar.


“Diminum dulu, Ari,” ucap Kak Dewa padaku yang terus menunduk.

__ADS_1


Semakin lama berada bersamanya, semakin membuatku ingin cepat kabur. “Maaf, Kak!” Hanya itu yang terucap dari mulutku. Membuat Kak Dewa justru terheran-heran dan malah tertawa.


“Tenang saja. Aku bukan mau melabrakmu, kok.”


“Gak mungkin. Kakak pasti ingin memarahiku karena sudah membuat Aira terluka, kan?” jawabku dengan penuh keyakinan.


“Hmm... iya, sih.Ingin kutonjok kalau bisa. Tapi terlalu banyak saksi mata.”


Aku agak kesulitan menelan ludah mendengarnya.


“Tapi bukan itu maksudku menemuimu sekarang. Aku ingin menceritakan sesuatu yang sepertinya belum kamu tahu soal Aira,” sambung Kak Dewa lagi.


“Soal apa, Kak?”


“Kamu tahu Aira tidak bisa bicara?”


Kak Dewa sedikit membenarkan posisi duduknya, lalu menaruh kedua lengan di atas meja. “Sebenarnya ya, Ari. Kamu harus tahu kalau Aira itu tidak benar-benar bisu.”


“Maksudnya?” Kini perasaan takutku justru berganti dengan perasaan penuh tanya.


“Dia bukannya tidak bisa bicara, hanya tidak ingin melakukannya.” Kak Dewa menyeruput teh manis dari dalam gelasnya. “Dia anak yang bermasalah sedari kecil. Sebenarnya bukan begitu sih, lebih tepatnya,dia selalu saja terkena masalah. Kamu tahu kan Aira terlihat seperti bukan orang Indonesia asli?”


“Iya, Kak.”


“Kami memang berdarah campuran. Ibu kami orang Jerman. Mungkin bagi sebagian orang itu merupakan suatu kelebihan, tapi tidak bagi Aira. Semua itu justru menjadi sesuatu yang membuatnya di-bully sejak SD.”

__ADS_1


Entah kenapa penjelasan Kak Dewa langsung membuatku mengerti kenapa Aira menjadi orang yang tidak menyukai keramaian. Bahkan sejak hari pertama kami bertemu, dia selalu berada di tempat yang sepi. Tapi aku memilih untuk tidak membahas hal itu. Kini aku tahu alasannya.


“Ternyata semua itu tidak berhenti dan justru bertambah parah saat dia masuk ke SMP. Di sana teman-temannya jauh lebih kejam. Sering kali aku melihatnya menangis dan pulang dengan kondisi terluka atau basah kuyup. Aku sampai tidak habis pikir kenapa anak-anak itu bisa berlaku seperti itu. Sampai aku dibuat bingung karena harus meninggalkannya untuk study di luar negeri. Dia sempat pindah dua kali, tapi keadaan tidak pernah membaik. Dia jadi semakin takut untuk berteman, dan memilih untuk mengasingkan diri.”


“Aku baru dengar semua ini sekarang, Kak. Sebenarnya aku sudah merasakan ada sesuatu yang membuat Aira selalu sendirian. Tapi aku tidak pernah berani membahasnya.”


“Dan dia pasti tidak mau bilang juga. Tapi ya… Aria, yang paling parah justru bukan karena pem-bully-an itu.”


“Hm?” Aku semakin bertambah penasaran. Entah kenapa kisah hidup Aira ternyata jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan.


“Permasalahan sebenarnya ada pada ayah kami. Dia orang yang sangat sibuk dan jarang di rumah. Sementara ibu kami sudah lama meninggal. Aira bukan anak manja yang suka mengadu. Tapi dia pun tidak sekuat itu untuk


menghadapi semua sendirian. Hingga akhirnya dia mencoba untuk bicara dengan ayah tentang pem-bully-an yang terjadi. Ayah hanya merespons dengan berkata akan melaporkan anak-anak pem-bully ke sekolah. Saat itu Aira justru memohon agar ayah tidak melakukannya, karena yang dia inginkan hanyalah sekedar didengarkan. Karena


selama ini dia selalu merasa ayah tidak pernah peduli padanya. Saat itu ayah bilang kalau memang Aira tidak setuju dengan kata-katanya, akan lebih baik kalau dia tidak perlu menceritakan masalahnya sama sekali. Malam hari setelah pertengkaran hebat itu, Aira meneleponku sembari menangis. Dan aku ingat benar kalau hari itu menjadi hari di mana terakhir kalinya aku bisa mendengar suara Aira.”


Tidak bisa kubayangkan sesulit apa yang telah Aira lewati selama ini. Aku pun hanya tinggal dengan ibu di rumah, karena ayahku telah tiada. Tapi aku tidak pernah kekurangan perhatian dari ibu yang selalu ada di saat apa pun. Sementara Aira, dia seakan tidak memiliki siapa-siapa di sisinya.


“Aku dengar dia ingin jadi seorang pelukis, Kak. Tapi kelihatannya ada sesuatu yang terjadi sampai dia sempat membuang mimpinya itu.”


Kulihat Kak Dewa tersenyum pahit. “Iya. Dia mencintai lukisan lebih dari apa pun. Bakatnya menurun dari ibu yang memperkenalkannya dengan seni lukis. Bahkan ibu kami sempat beberapa kali mengadakan pameran. Tapi sejak kepergian ibu, justru semua itu menjadi hal yang ayah benci. Akhirnya, Aira-lah yang menjadi korban. Tiap kali dia memperlihatkan karyanya, ayah sama sekali tidak memuji, bahkan sekedar melihat pun enggan. Lambat laun hal itu membuat Aira kehilangan semangat hingga membuang jauh mimpinya.”


Tanpa sadar air mataku terjatuh. Entah kenapa dadaku terasa sesak sekali. Aku malu harus menangis di hadapan Kak Dewa seperti ini. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaan diri sendiri. Aku tidak bisa membayangkan


seperti apa sakitnya saat orang tua kita sendiri tidak mendukung terhadap mimpi yang kita punya. Padahal seharusnya mereka menjadi orang pertama yang membuat kita bangkit saat mulai kehilangan harapan untuk menggapainya.

__ADS_1


“Maaf, Kak,” ucapku pelan, masih sambil menunduk. “Aku sudah menambah beban Aira...”


__ADS_2