
“Bim? Woy, Bim! Biasa aja dong gak usah melongo gitu!”
Bimo menjadi yang paling terkejut saat mendengar Aira bicara padanya. Dia tak berhenti menatap Aira dengan mulut yang sedikit menganga. “Lo… Lo beneran Aira, kan?”
“Iya, Kak.”
“Kok, kok, kok…”
“Kak, kok, kak, kok. Kayak ayam aja lo!” Aku menggeplak kepalanya dengan buku tulis yang tergulung.
Aira pun tertawa melihatku dan Bimo yang bercanda seperti biasa. Tapi kali ini aku bisa mendengar suara tawanya dengan jelas. Wajahnya pun semakin sering dihiasi dengan senyuman. Tidak pernah lagi aku melihatnya muram seperti sebelumnya. Semua itu membuatku merasa sangat lega.
Sejak kembali ke sekolah lagi, Aira jadi semakin sering terlihat berada bersamaku, tanpa ada rasa khawatir terhadap apa pun. Tapi dia juga jadi memiliki banyak teman. Entah kenapa auranya seakan mengundang banyak orang jadi ingin datang mendekat. Tentu saja aku senang, meski kadang merasa takut posisiku tergantikan.
Semua orang, bahkan para guru sekali pun terkejut saat Aira mulai berani memperdengarkan suaranya. Hari itu, seisi sekolah digemparkan dengan satu kabar besar soal Aira. Dia sempat terlihat sedikit takut. Tapi untungnya respons semua orang justru sangat baik. Sampai banyak sekali yang mengajaknya untuk bergabung ke dalam club. Tapi Aira masih tetap fokus kepada kegiatannya di club seni.
“Kepalamu udah gak sakit?”
“Udah sembuh total, kok. Kan udah lama.”
“Masa, sih?” Aku mengusap-usap kepalanya pelan. “Beneran gak sakit?”
“Iya, Kak Aria! Gak percayaan banget, sih!”
“Ye… ngambek.”
Aira kembali fokus pada buku gambarnya dan mencoret-coret sesuatu di dalam sana. Sementara aku duduk di sampingnya sembari menikmati udara taman yang sejuk. Menatap langit yang membiru dengan indah. Hingga sebuah pesawat melintas, membuatku langsung teringat akan wajah ayah yang mungkin sedang balik menatapku dari atas sana.
“Ngegambar apa, sih?” tanyaku penasaran sembari melirik.
“Lagi bikin design buat tembok kamarku. Aku mau bikin lukisan yang besar di sana.”
Kuperhatikan gambar Aira yang tak lama lagi akan rampung itu. Di sisi kiri halaman terdapat sebatang pohon yang daunnya berguguran. Dan ada sehelai daun yang tampak seakan berubah menjadi seekor burung yang sedang membentangkan sayap.
Aku selalu mendapatkan makna yang dalam tiap kali melihat lukisan yang dibuat Aira. Seakan dia selalu ingin menyampaikan sesuatu melalui karyanya.
__ADS_1
“Eh, minta kertas selembar deh!”
“Buat apa?”
“Udah, minta aja.”
Aira menyobekkan halaman paling belakang dari buku gambarnya untuk diberikan kepadaku. Aku langsung membuat sebuah gambar di dalam sana meski tidak terlalu bagus. “Nih, buat kamu!”
“Apaan nih?” tanya Aira langsung setelah menerima pemberianku. “Tiket pesawat pulang-pergi bumi-bulan?” ejanya sambil tertawa.
“Iya. Tiket gratis buat naik pesawat luar angkasaku nanti. Jangan sampai hilang ya!”
“Oke, oke,” Aira masih tidak berhenti tertawa. Sambil menyimpan baik-baik secarik kertas yang kuberikan ke dalam saku bajunya. “Kak Aria agak mirip Kak Dewa deh.”
“Mirip apanya?”
“Dulu aku nangis waktu Kak Dewa mau pergi ke Jerman. Soalnya selain dia, aku gak punya orang yang dekat lagi. Aku sampai meluk Kak Dewa di bandara dan gak mau lepasin. Akhirnya kakak ngasih aku sobekan kertas yang dia tulis sendiri. Katanya tiket buat aku pergi ke Jerman kalau udah lulus SMA nanti. Sampai sekarang masih aku simpan tiketnya.”
“Hoo…” komentarku singkat. “Sekarang masih nangis juga?”
“Eh, Kak Dewa udah balik lagi ke Jerman kan, Ra?”
“Uhum,” jawab Aira singkat. Sambil melanjutkan kesibukannya yang sempat terpotong karenaku.
“Kakakmu kuliah jurusan apa sih di sana?”
“Robotik.”
“Waw. Aku pikir dia ambil jurusan bisnis atau apa gitu. Nanti pasti nerusin perusahaan ayahmu, kan?”
“Gak juga. Dari dulu kakak gak mau megang perusahaan ayah.”
“Terus ayahmu oke-oke aja?”
Aira menggeleng. Dia menghentikan kegiatannya lagi. “Dulu mereka bertengkar hebat sebelum akhirnya kakak kabur dari rumah.”
__ADS_1
“Hah? Kak Dewa kabur?”
“Iya. Dia pergi gak tahu ke mana, sempet setahun kuliah sambil kerja katanya. Terus tiba-tiba pulang sewaktu dapat beasiswa kuliah di Jerman. Dia minta ayah ngasih waktu ke dia sampai lulus kuliah dan nunjukin kalau dia bisa sukses di jalan yang dia pilih. Kalau ternyata nanti gagal, kakak janji bakal pulang dan nerusin perusahaan ayah.”
“Wah, aku gak nyangka. Aku pikir jadi anak orang kaya itu gampang. Bisa minta apa aja, bisa kuliah di mana aja.”
“Buat orang lain mungkin begitu. Tapi aku sama kakak kayaknya emang tipe anak yang nyusahin ayah, haha.” Aira tertawa kecil.
“Tapi syukur ya, sekarang ayahmu mendukung cita-citamu.”
“Iya, berkat Kak Aria.”
“Lha, emang aku ngapain?”
“Berkat aku ketemu sama Kak Aria yang selalu ada buat ngedukung dan nyemangatin aku. Jadinya aku gak ngerasa sendirian, soalnya ada orang yang ngerti gimana rasanya punya mimpi. Karena kakak ada terus di samping aku, jadi udah gak ada yang aku takutin lagi!”
Aku tersenyum mendengar penjelasan Aira yang penuh semangat. “Kalau aku tiba-tiba hilang, kamu sedih gak?”
“Ngomong apaan sih, Kak? Ya pasti bakal sedih dong!”
“Tapi kelihatannya kamu sekarang punya banyak teman. Jadi mau aku ada atau enggak juga, kayaknya gak masalah.”
“Iya sih… tapi tetep aja gak ada yang kayak Kak Aria.”
“Terus gimana, dong. Masa kamu bakal gak semangat lagi kalau aku gak ada?”
Aira memasang wajah penuh tanya dan menoleh ke arahku. “Kakak lagi bercanda apa serius, sih?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum sesaat sebelum memutuskan untuk memberitahu Aira suatu hal yang belum sempat tersampaikan. Padahal aku ingin memberitahunya sejak dua hari lalu. Tapi entah kenapa aku jadi tidak berani.
“Aku mau minta maaf sama kamu, Ra.”
“Buat apa, Kak?”
“Soalnya… sebentar lagi kita harus berpisah.”
__ADS_1