Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
7. Hadiah


__ADS_3

“Sudah selesai, Aria?”


“Sudah, Bu. Apa lagi ya yang harus saya siapkan?”


“Sepertinya cukup. Berkas lainnya tinggal surat pengantar dari sekolah saja. Besok akan ibu kirimkan berkasnya.”


“Terima kasih, Bu.”


“Semoga beruntung ya, Aria.”


Hari ini baru saja aku melewati hari yang mendebarkan. Sebenarnya aku hanya baru selesai mengurus berkas yang


dibutuhkan untuk apply beasiswa. Hanya begitu saja sudah membuatku berdebar sejak pagi. Tapi aku cukup percaya diri setelah mendapatkan bantuan dari Aira untuk menyelesaikan essay dalam Bahasa Inggris. Karena aku kurang percaya diri pada bagian itu.


Di tempat biasa, Aira menyambut kedatanganku dengan cerita seperti biasa. Kulihat rambut panjangnya yang lembut tersibak angin hingga menutupi wajah. Tangannya langsung sibuk membenarkan rambut.


‘Gimana, udah beres semua?’


“Iya, tinggal berdoa aja supaya bisa lolos seleksi.”


‘Pengumumannya kapan?’


“Hmm… mungkin dua bulan lagi. Gak tau deh, aku gak mau mikirin itu.”


‘Aku suka essay-nya.’


“Bagus, kan?” Aira mengangguk. “Jelas dong! Awas aja ya kalau kamu salah nerjemahin sampe bikin aku gak lolos!” candaku.


‘Toefl-ku 500.’


“Udah deh gak usah sombong!”


Sejak masuk ke sekolah ini, aku sudah mengincar beasiswa sekolah gratis di Jepang yang memang selalu ada tiap tahunnya. Tapi jarang sekali ada siswa sekolahku yang lulus seleksi. Hal itu sempat membuat semangatku memudar dan tidak percaya diri.

__ADS_1


Beruntungnya, aku bertemu dengan Aira yang membuatku kembali semangat untuk mengejar mimpi. Di saat aku merasa tidak punya teman yang memiliki semangat untuk itu, akhirnya aku bertemu dengannya. Setidaknya, membuatku ingin berusaha, tak peduli seperti apa hasil yang kudapatkan nanti.


“Ra, makasih ya udah bantuin. Aku mau kasih kamu sesuatu. Tutup mata!”


Aira hanya menuruti perintahku tanpa banyak bicara. Ya… memang dia tidak pernah bicara. Maksudnya, dia tidak menolak sama sekali.


Aku pun mendekat ke arah Aira yang tengah menutup kedua matanya. Semakin didekati, wajahnya memang tampak sangat cantik. Sepertinya dia punya darah campuran. Tapi karena rambutnya selalu diurai, banyak yang tidak menyadari hal itu.


“Diem, ya!” Kukeluarkan sepasang jepit berwarna biru muda dan memasangkan pada rambutnya. Membuat wajahnya kini jadi tampak lebih jelas.


Aira membuka mata dan meraba kepalanya dengan kedua tangan. Langsung bercermin menggunakan layar handphone. Wajahnya tampak senang sekali, meski yang kuberikan hanya jepit murah dari abang-abang yang lewat di depan sekolah. Bahkan dia bisa saja membeli beberapa ratus pasang jika ingin.


“Biru. Seperti langit. Supaya tiap kali dilihat, bisa bikin kamu inget sama langit yang masih belum kamu jelajahi.”


Aku senang sekali menangkap ekspresi penuh kebahagiaan dari wajahnya itu. Benar-benar sebuah ekspresi tulus yang tidak dibuat-buat. Sampai aku yakin benar kalau dia memang menyukai benda pemberianku itu.


Aku jadi ingat sewaktu memberikan ikat rambut pada Mira yang langsung disimpan begitu saja dan tidak pernah


‘Aku punya sesuatu juga buat kamu.’


“Lho, kok aku jadi dapat hadiah juga?”


‘Tutup mata!’


“Oke, oke.”


Aku mengikuti perintah Aira dan membuka mata setelah menghitung sampai sepuluh. Kudapatkan sebuah kertas gambar yang disodorkan ke depan mukaku. Di dalamnya terdapat sebuah lukisan seseorang dengan baju astronot yang sedang melayang di luar angkasa. Di sekitarnya terdapat berbagai planet berbeda ukuran. Meski gambarnya hanya dibuat menggunakan spidol hitam, tapi hasilnya indah sekali. Aku hingga tak mengedip untuk beberapa saat.


“Sumpah, ini keren!” komentarku. “Makasih ya. Bakal aku jaga baik-baik.”


‘Jangan dijadiin bungkus gorengan!’


“Kalau kepaksa sih… bisa jadi, haha. Eh, tuh kan jadi pengen makan gorengan. Kita ke kantin yuk!”

__ADS_1


Ini pertama kali aku mengajak Aira ke tempat yang sudah pasti terdapat banyak sekali orang. Selama ini aku tidak pernah berani untuk mengajaknya, karena Aira terlihat lebih nyaman berada di tempat yang sepi.


Aku menangkap eskpresi ragu pada wajahnya. Apa mungkin dia masih tidak suka kalau dibicarakan orang-orang?


“Kalau gak mau, gak apa sih. Aku beli dulu nanti makan di sini.”


Aira justru berubah pikiran dan menggeleng-geleng sambil tersenyum. Hingga kami pun pergi ke kantin yang selalu ramai seperti biasa.


“Woy, Ya! Sini gabung!” Bimo berteriak dari pojok kantin. Seperti biasa, Raka ada bersamanya juga.


 Aku hanya melambaikan tangan dari dekat meja kasir. “Kalau makan di sini aja gimana, Ra? Hmm… tapi rame sih…”


Padahal aku yakin benar kalau Aira akan langsung menolak, tapi ternyata kali ini dia langsung mengiyakan. Membuatku senang sekaligus agak khawatir karena mungkin Aira sedang memaksakan diri.


“Cie yang udah berani makan ke kantin, cie…” goda Bimo. Aira hanya tertunduk malu.


“Jangan gitu dong, Bro,” protesku langsung. “Rak, lain kali ajakin cewek lo. Biar Aira ada temen.”


“Eh jangan, dong! Masa gue jadi obat nyamuk sendirian!” Bimo langsung menyahut tidak setuju.


“Ya emang gue sengaja.”


“Bener-bener nih orang cari ribut.”


Akhirnya aku, Bimo dan Raka bercanda seperti biasa. Ada perasaan khawatir Aira akan merasa terabaikan. Tapi saat melirik ke arahnya, dia justru tampak menikmati candaan kami bertiga. Wajahnya tak henti tersenyum sejak tadi.


“Ya ampun… ini anak-anak cowok emang heboh banget ya kalau udah rumpi,” komentar Mira yang baru saja datang mendekat. Mungkin dia terganggu akibat kami terlalu berisik. Aku berusaha untuk tidak meresponsnya.


“Duh, sorry ya, Kak. Kita kalau udah ngobrol emang gak tau tempat,” jawab Raka. Dia memang paling mengerti kalau aku tidak mau banyak bicara dengan Mira.


“Iya, keliatan sih emang. Kamu yang sabar ya, Aira,” ucapnya sebelum pergi. Meninggalkan sebuah pertanyaan dalam benakku.


Kulihat Aira hanya terdiam sembari sedikit menunduk. Apa mereka berdua sudah saling kenal? Apa Mira tahu soal Aira karena mendengar dari gosip yang ada? Sepertinya aku yang berpikir terlalu berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2