
“Mahasiswa baru cepat kumpul di aula!” Seorang senior dengan jas almamaternya berteriak-teriak melalui pengeras
suara. Dia sedikit kewalahan mengumpulkan para mahasiswa baru yang tampak sangat antusias memasuki kampusnya. Sampai-sampai banyak yang sulit diatur karena terlalu asik memperhatikan lingkungan baru mereka. Begitu pula dengan aku.
“Kamu, hey, kamu! Sini!” Entah kenapa hari ini aku sial sekali harus berhadapan dengan senior galak itu.
“Iya, Kak?”
“Kamu gak denger dari tadi saya suruh pergi ke aula?”
“Saya dengar, Kak. Tapi saya bingung arahnya ke mana.”
“Tinggal lihat aja, itu orang-orang banyak kan yang ke sana? Gitu aja masih harus diajarin. Udah siap jadi
mahasiswa belum?”
“Iya, siap, Kak.”
“Kurang keras! Yang tegas kalau jawab!”
“Iya, siap, Kak!”
“Siapa nama kamu? Dari jurusan mana?”
“Aria Putra Angkasa, jurusan astronomi.”
“Jangan sampai nama kamu saya tulis dua kali ya!”
“Siap, Kak!” Aku langsung lari sekencang-kencangnya mengikuti rombongan orang yang sepertinya para mahasiswa baru. Bukan karena takut tertinggal, hanya ingin cepat menghindari kakak senior galak yang barusan menyapa.
Aku merasa semangat sekali, karena hari ini merupakan hari perdana aku menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas ternama di Bandung. Rasanya aku baru saja bermimpi, karena tak berapa lama setelah lulus sekolah di Jepang, aku mendapatkan surat penerimaan dari kampus incaranku. Saking senangnya, sampai-sampai ibu sengaja membuat nasi kuning hanya untuk dibagikan ke tetangga. Sementara aku sendiri tak bisa berhenti bersyukur karena bisa maju beberapa langkah menuju mimpiku.
__ADS_1
Di dalam sebuah aula yang sangat besar, semua anak baru berkumpul. Aku agak bingung karena bangku di jajaran depan sudah terisi semua. Jadi, aku asal memilih bangku yang ada di tengah. Setidaknya aku bisa melihat panggung dengan jelas dari sini.
Segera saja aku mengambil tempat duduk sebelum terlanjur ditempati orang lain. Dan lanjut melihat-lihat booklet yang dibagikan di gerbang tadi sambil menunggu acara pembukaan di mulai.
‘Dug.’
Aku sedikit tersentak saat seseorang yang baru saja melintas, menyenggol kepalaku. “Aduh, maaf,” ucapnya.
Belum sempat melihat siapa orang itu, aku mendapati ada sesuatu yang orang barusan jatuhkan tepat di hadapanku. Sebuah kertas yang dilipat hingga kecil. Tanganku spontan mengambil benda tersebut untuk dikembalikan. Tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan benda tersebut. Meski agak tidak sopan, akhirnya aku melebarkan kertas terlipat itu dan mendapati sebuah gambar yang kukenali.
‘Tiket pesawat pulang-pergi bumi-bulan’
Melihat hal itu membuatku langsung menoleh ke arah perempuan yang ternyata sedari tadi menatapku sembari tersenyum. Rambut panjang dan senyuman itu masih aku kenali benar. Tidak ada yang memiliki wajah seperti itu selain seseorang yang selalu ada dalam pikiranku.
“Maaf, Kak. Dari seribu kali, kesempatan maafku masih tersisa banyak kan ya?” tanya perempuan tersebut.
Sepertinya dia memang sengaja menyenggol dan menjatuhkan kertas ini untuk mencuri perhatianku. Dan dia benar-benar berhasil.
“Aira?!” seruku tidak percaya. Bahkan dia masih memakai jepit pemberianku yang kini tampak terlalu kekanak-kanakan.
“Hah? Dari kapan?”
“Dari sebelum kakak dimarahin senior di depan gedung.”
“Aduh!” aku menepuk dahi. Tak menyangka harus mengalami kejadian memalukan di hari pertama. Dan parahnya lagi, Aira menyaksikan semua itu.
Aira duduk di sampingku. Entah kenapa aku merasa dia sudah jauh berubah dari sejak kita bertemu beberapa tahun lalu. Dia terlihat tampil lebih percaya diri dan semakin menawan. Hanya satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu perasaanku padanya selama ini.
“Astaga, jadi ini alasannya kenapa kamu gak mau ngasih tahu aku keterima kuliah di mana?” Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Aira di tempat ini. Selama ini kami masih saling bertukar cerita, tapi jadi semakin jarang karena kami berdua sedang fokus untuk seleksi masuk ke universitas. Saat mendapatkan kabar penerimaan, tentu saja aku langsung memberi tahu Aira. Tapi tidak begitu dengannya. Dia justru merahasiakan itu, dan berkata akan memberi tahu langsung saat bertemu.
“Kan aku bilang bakal kasih tahu kalau kita ketemu. Tapi sekarang udah gak perlu kan ya?”
__ADS_1
Aku sedikit tertawa. “Kamu di fakultas apa?”
“Tebak!”
“Hmm… Bahasa Arab?”
“Bukan, lah!” Aira menepuk lenganku sambil tertawa. “Aku mahasiswa FSRD sekarang, Kak!”
“Waw, keren! Akhirnya ya, kamu bisa masuk ke jurusan yang kamu mau.”
“Iya dong, dulu kan aku bilang ke Kak Aria. Kalau aku juga bakal sungguh-sungguh ngejar mimpi aku. Meski gak ada Kak Aria sekali pun.”
Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang masih saja sama seperti dulu. “Ini apaan sih, jepit begini masih dipake!” Aku mencoba untuk melepas jepit dari rambut Aira, namun dia langsung menepis tanganku.
“Jangan! Ini jimat!”
“Hah? Jimat apaan?” Aku tidak bisa menahan tawa sewaktu mendengar jawaban sepontan Aira.
“Jimat yang bikin aku semangat terus,” jelasnya.
“By the way, kita seangkatan sekarang. Panggilnya gak usah pakai ‘Kakak’.”
“Eh? Gak mungkin deh kayaknya. Aku udah kebiasaan.”
“Ya udah, gak usah ngomong sama aku lagi ya,” balasku sembari mengembalikan pandangan ke arah depan.
Bisa kudengar Aira mendengus. Pasti dia sedang cemberut seperti biasa sekarang. Aku mencoba untuk tidak tertawa karena membayangkannya. “Oke, oke!” ucapnya. “Aku gak akan manggil kakak lagi mulai dari sekarang. Aria, Putra, Angkasa.”
Mendengar namaku disebut membuatku tak bisa menahan tawa. Perasaan senang dan malu bercampur aduk di dalam dada. “Tuh, kan malah ngetawain!” protesnya langsung.
“Iya, maaf, maaf.” Aku pun menarik napas dan berhenti tertawa. Kutengokan kepala kembali ke arah perempuan di sampingku. Memandangi wajahnya yang merona, seperti langit sore hari yang cantik. “Senang bisa ketemu sama kamu lagi. Aira, Nandya, Pramoedya.”
__ADS_1
Seperti seekor burung yang terbang di langit luas. Terhitung sejak hari ini, ceritaku dan Aira pun sudah kembali bersiap untuk mulai mengudara. Membentangkan sayap bersama, saling mendukung dan menyemangati, bersama menjelajahi langit tanpa batas.
Saling melindungi kala mendung, dan berdampingan di kala cerah. Merangkai cerita indah sebelum batas langit menghentikan perjalananan kami berdua.