Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
3. Dear Kakak Senior


__ADS_3

Untuk kakak senior yang selalu kutabrak.


Perkenalkan namaku Aira.


Maaf Kak, aku agak ceroboh belakangan ini. Dan entah kenapa selalu saja Kakak yang aku tabrak. Aku benar-benar tidak sengaja. Dan maaf juga karena tidak bisa memperkenalkan diri dengan baik, bahkan aku belum sempat menanyakan nama Kakak. Jadi sekali lagi maaf ya, Kak.


Sepertinya ini jadi bukan surat cinta karena terlalu banyak kata maafnya. Tapi aku masih ingin bilang maaf seribu kali, karena mungkin aku akan kembali menabrak Kakak. Kalau itu terjadi lagi, tolong beritahu nama Kakak ya, biar kuingat. Terima kasih.


***


“Maaf seribu kali katanya?”


Aku tidak bisa berhenti tertawa setelah membaca surat Aira. Bahkan hingga sekarang pun aku merebahkan diri di atas kasur sambil membuka kembali surat biru muda yang kudapatkan tadi siang.


Aku sudah selesai membaca surat lainnya. Isinya hanya kata-kata yang ditulis terpaksa karena tuntutan orientasi saja. Sepertinya yang menjadi perhatianku hanyalah surat dari anak baru bernama Leony. Pasti Bimo merasa kesal jika kupamerkan surat itu padanya.


Ngomong-ngomong, aku jadi kepikiran sesuatu. Selama ini aku belum pernah berteman dengan orang bisu. Tidak pernah terbayang bagaimana caranya kami berkomunikasi. Aku bahkan tidak mengerti bahasa isyarat sama sekali. Satu-satunya cara yang paling mungkin hanyalah berkomunikasi dengan menggunakan aplikasi chat. Tapi memikirkannya saja sudah membuatku merasa bosan. Mungkin aku tidak akan bisa cocok dengan orang seperti itu.


Meski begitu, aku merasa aneh karena entah kenapa aku berpikir seakan pasti bertemu lagi dengan Aira. Maksudku… bertemu sudah pasti, tapi apa kami bisa jadi teman selayaknya orang normal? Atau justru sebaiknya kami tidak perlu memulai pertemanan sama sekali? Karena mungkin Bimo dan Raka pasti akan mengejeknya.


Aku tidak bermaksud memikirkan semua itu. Tapi entah kenapa aku jadi merasa semakin penasaran dengan anak perempuan yang kemudian muncul di dalam mimpiku malam ini. Apa sebenarnya jauh di dalam hati, tanpa sadar aku sudah memikirkannya?


***


“Iri sumpah gue sama lo, Ya!! Padahal kita sama-sama gak masuk OSIS, tapi kenapa cuma lo doang yang beken? Anak-anak baru itu kenal lo dari mana, sih?” Bimo merengek setelah aku memamerkan surat dari Leony yang dia kagumi sejak hari pertama.


“Gue gak masuk OSIS tapi tetap aktif club. Gak kayak lo pengangguran sejati. Kerjaannya maen game melulu. Kapan mau dikenal anak kelas satu?!”


“Kenapa lo gak ngajak gue gabung club juga, sih?!”


“Eh, kribo! Perlu gue tunjukin chat pas kita kelas satu? Waktu gue ngajak lo ikut club basket tapi lo bilang 'lelaki sejati itu gak pamer'?”

__ADS_1


“Iye iye, gue yang salah.” Akhirnya Bimo mengaku kalah.


“Eh, si Raka mana? Tumben gak keliatan. Biasanya kalau istirahat langsung ke sini.”


“Kayak yang gak tau dia aja. Dia langsung pedekate sama anak kelas satu yang kasih dia surat. Gila gak tuh?”


“Gercep banget dia, haha.” Bimo tertawa lumayan keras. “Lo sendiri dari sekian banyak yang kasih surat belum ada yang tertarik?”


“Emmmm....” kujeda kata-kataku karena sempat teralihkan oleh seseorang yang sedang berjalan tak jauh dari sana. Aira dengan rambut panjangnya yang selalu terurai, berjalan sendirian ke arah perpustakaan. “Belum ada.”


“Gak mau buru-buru, sih. Gue selama ini terlalu cepat menilai orang. Jadi selalu dapet yang aneh,” tambahku lagi.


“Ah, lo nya aja kali yang aneh. Cewek kan semua begitu. Lo kudu ngertiin mereka.”


“Justru itu, mereka banyak maunya. Kadang minta dimengerti tapi gak masuk akal. Capek gue, Bim. Gak ada gitu cewe yang kalau ada maunya langsung bilang. Klo gak ada apa-apa diem aja, gak usah mengada-ada.”


“Banyak maunya lo, Ya! Untung ganteng.”


Aku berjalan cepat menuju tempat yang sebenarnya jarang sekali kukunjungi. Mungkin baru tiga kali selama setahun. Itu pun karena guru meminta tolong untuk mengambilkan beberapa buku. Dan kali ini pun tujuanku bukan untuk buku, melainkan menemui orang yang mungkin sedang membaca di dalam sana.


Rasanya aneh…


Padahal banyak adik kelas yang jauh lebih manis dan cantik daripada Aira. Tapi entah kenapa aku merasa sangat tertarik kepada gadis itu. Entah karena aku hanya merasa penasaran dengan ‘keunikan’ dari Aira? Mungkin aku akan lebih paham jika sudah mengobrol banyak dengannya.


Perpustakaan sekolahku cukup luas, tapi selalu tampak sepi. Jadi tidak sulit untukku menemukan orang yang kucari. Kulihat dia sedang memilih-milih buku pada rak. Aku sengaja berjalan menyamping dari arah yang berlawanan dengannya. Berlagak seakan sedang melakukan kegiatan yang sama.


Keberadaan kami berdua sudah sangat dekat. Hingga akhirnya lengan kami bertabrakan. Aira tampak sangat terkejut. Sepertinya dia sedang fokus sekali mencari sesuatu.


“Eh, kamu lagi,” ucapku berbasa-basi.


Kembali reaksi yang sama kudapatkan. Dia menunduk-nunduk dengan cepat.

__ADS_1


“Gak perlu minta maaf. Kamu udah bilang seribu kali, jadi masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan.”


Gadis itu tertawa. Agak aneh karena dia tidak bersuara sama sekali. Kupikir orang bisu masih bisa mengeluarkan suara hanya untuk sekedar tertawa.


“Kamu suka baca buku ya?”


Si gadis mengangguk.


“Waw, keren. Aku kalau baca buku, baru beberapa halaman langsung ketiduran,” sambungku sembari nyengir. Kulihat Aira kembali tertawa mendengar perkataanku. “Ya udah, kalau begitu silahkan dilanjutkan. Takutnya aku ngeganggu.”


Baru saja aku hendak pergi, kurasakan kemeja bajuku tertarik ke belakang. Ternyata Aira menariknya. Lebih tepatnya dia sedang mencoba menahanku agar tidak pergi.


“Eng, kenapa?”


Dia menunjuk ke arahku, lalu menunjuk ke lantai dan menaruh telapak tangan sejajar dengan telinga—sembari memasang wajah bertanya. Entah bagaimana bisa aku langsung sadar bahwa dia bertanya 'kamu sedang apa di sini?'. Sepertinya dia bingung karena ceritaku tadi menjelaskan kalau aku tidak suka baca, tapi sekarang justru berada di perpustakaan.


“Aduh, ketahuan ya? Aku emang sengaja ke sini gara-gara ngeliat kamu.”


Mulut Aira membulat seakan membuatku mendengar dia sedang berkata 'ohhh' dengan sangat panjang. Tak lama kemudian, dia terlihat sedang mengingat sesuatu. Dia menunjuk bagian depan seragamku di mana ada namaku terjahit di sana. Seketika aku pun teringat masih memiliki utang padanya.


“Oiya, hampir aku lupa. Namaku Aria. Aria Putra Angkasa.”


Raut wajah Aira memancarkan sedikit keterkejutan.


“Keren ya, nama kita sama kalau di balik.”


Aira pun mengangguk. Kali ini dia memperlihatkan namanya yang terjahit pada baju seragam. Meski sebenarnya tidak perlu karena aku sudah tahu siapa namanya.


Aira Nanda Pramoedya.


Sebuah nama indah yang akan menghiasi lembaran baru di kehidupan SMA-ku.

__ADS_1


“Salam kenal ya, Aira.”


__ADS_2