
“Kak! Kak Ari! Kak!”
Aku dikejutkan dengan kemunculan dua anak perempuan kelas sepuluh yang tiba-tiba menghadangku di tengah perjalanan saat pulang sekolah. Mereka berlari sembari meneriakkan namaku. Tentu saja aku langsung berhenti dan merasa sangat bingung.
Kedua gadis tersebut berdiri di hadapanku dengan napas tersenggal-senggal. “Ada apa?” tanyaku.
Dari raut wajah keduanya aku bisa menangkap bahwa sesuatu yang gawat tengah terjadi.
“Kak, tolong! Aira, Kak!”
“Aira kenapa?”
“Dia diseret sama kakak kelas ke gudang sekolah. Ka-kami bingung harus apa. Jadi kami nyusulin Kakak.”
Mendengar hal itu membuat kakiku langsung melesat kembali ke sekolah. Bahkan tanpa memberikan komentar apa-apa setelah mendengar cerita dari dua anak kelas sepuluh tadi.
Saat ini sekolah pasti sudah mulai sepi, karena memang waktu pulang sekolah sudah lewat beberapa jam. Aku tahu hari ini Aira memang ada ekskul kesenian. Tapi aku jadi menyesal tidak menunggunya dan pulang bersama. Padahal aku pun belum lama selesai latihan basket.
Di belakang sekolah—dekat lapangan olah raga—terdapat sebuah gudang kecil tempat menyimpan peralatan olah raga. Sudah pasti tempat itu yang dimaksud anak kelas sepuluh tadi. Tanpa mengulur waktu lagi, aku bergegas menuju tempat tersebut yang pintunya terlihat sedikit terbuka.
Sebelum masuk, aku memperhatikan keadaan sesaat. Dari luar dapat kutangkap suara beberapa orang yang tengah bicara di dalam sana.
__ADS_1
“Udah bagus lo gak pernah keliatan di kantin. Sekarang berani nongol di depan mata gue bareng Aria! Gak tahu diri!” Aku yakin itu suara Mira. “Ini udah peringatan ketiga kalinya ya! Dan lo bener-bener keras kepala! Jadi jangan nyesel kalau hari ini lo gak akan bisa pulang!”
Ketiga kali?
Aku sudah tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, dan langsung menerobos masuk. “Cukup, Mir!”
Di dalam gudang yang cukup gelap, aku bisa menangkap kehadiran Mira bersama dua temannya, serta Aira yang terduduk tak berdaya dengan kepala tertunduk. Kepala hingga tubuhnya tampak basah kuyup. Bahkan banyak sampah berserakan di sekitarnya.
“A-aria?” Mira tampak sangat terkejut saat melihatku tiba-tiba muncul.
“Bukannya tadi dia udah balik?”
Kedua teman Mira saling berbisik sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Meninggalkan kami bertiga di dalam gudang.
“Kamu udah keterlaluan, Mir. Buat apa kamu ngelakuin ini semua?” Masih kutahan perasaan ingin marah sekuat mungkin. Untung saja dia perempuan, karena kalau tidak, mungkin aku sudah menghajarnya hingga babak belur.
“A-aku gak bermaksud ngelakuin semua ini, Ya…”
“Tapi nyatanya udah, kan?”
“Semua ini gara-gara kamu gak pernah mau dengerin gimana perasaan aku ke kamu, Ya! Aku udah minta maaf. Dan aku cuma pengen kita kayak dulu lagi!”
__ADS_1
“Aku udah pernah bilang kalau gak bisa balikan sama kamu.”
“Tapi aku masih sayang sama kamu.”
“Gak mungkin. Satu-satunya yang kamu sayang cuma diri kamu sendiri. Kamu gak pernah mau nerima aku apa adanya. Kamu cuma memaksakan supaya aku bisa jadi orang yang sesuai dengan harapan kamu.”
“Karena itu… kasih aku kesempatan sekali lagi, Ya. Aku bener-bener nyesel gak pernah bisa ngerti kamu.” Mira berjalan mendekat ke arahku. Dia mencengkram bajuku sembari memasang wajah memelas yang membuatku muak.
“Udah lah, Mir. Aku gak mau nyakitin kamu dengan berpura-pura sayang sama kamu.”
‘Plak!’ Mira menampar wajahku dengan sangat keras. Kulihat dia menangis sembari pergi menjauh. Entah kenapa aku sedikit tidak terima, karena seharusnya dia yang mendapatkan tamparan itu.
Kini perhatianku teralihkan pada sosok Aira yang masih terdiam pada tempatnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.
Aku berjongkok agar bisa memandang wajah Aira yang tampak memaksakan untuk tersenyum saat menatapku. Bisa kulihat memar kebiruan di pojokan bibirnya. Dahinya sedikit mengerut, menggambarkan bahwa dia sedang menahan tangis.
Hal yang dapat kulakukan hanya memeluk Aira. Aku sudah tak sanggup mengatakan apa pun lagi dan bahkan ingin menangis sejadi-jadinya. Rasanya hatiku mendadak sakit sekali saat ini. “Maaf, Ra…” ucapku pelan.
Kurasakan Aira memelukku balik. Dia pun akhirnya menangis menggantikanku. Kami hanya saling diam untuk beberapa saat, hingga keadaan sudah sedikit membaik.
Kupikir ini adalah waktu terburuk yang pernah kulalui. Tapi ternyata, saat ini kejutan lain yang lebih menyakitkan masih menungguku.
__ADS_1