Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
6. Sebuah Janji


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu sejak pertama kali aku mengenal Aira. Kami jadi lebih sering menghabiskan waktu di taman samping sekolah. Bahkan semakin sering bertukar cerita melalui chat sepulang sekolah.


Selalu saja ada pembicaraan menarik tiap aku mengobrol dengannya. Mungkin terdengar aneh, bahkan pada saat bertemu dan mengobrol pun menjadi saat-saat yang seru. Meski sebenarnya aku yang lebih banyak bicara. Lebih tepatnya, hanya aku yang bicara. Tapi Aira selalu ada untuk mendengarkan dengan seksama, sembari memperlihatkan ekspresi lucu pada wajahnya. Selama apa pun aku bicara, tidak pernah tampak sedikit pun raut wajah penuh kebosanan. Hingga tanpa sadar, aku menjadi lebih cerewet daripada biasanya.


Sebenarnya aku orang yang senang bercerita. Hanya saja tidak banyak orang yang bisa membuatku nyaman, hingga bisa mengeluarkan semua pikiran yang ada di dalam kepala. Mungkin Aira jadi teman perempuan pertama yang membuatku bisa menjadi diri sendiri saat bersamanya.


“Bro, lo gitu ya sekarang. Udah gak pernah cerita ke kita berdua,” Bimo tiba-tiba duduk di kursi depanku sambil menghadap ke arahku. Sementara Raka yang memang sebangku denganku turut memandang dengan aneh.


“Cerita apaan, sih?”


“Lo lagi deket sama cewek, kan?”


“Ya elah. Kirain apaan.”


“Jadi bener, Ya?”


“Deket doang emang gak boleh? Kok lo jadi rempong gini?”


“Masalahnya nih ya… Gue denger gosip kalau lo deketnya sama Aira yang bisu itu!” Bimo bicara dengan sedikit berbisik.


“Terus kenapa, Bro?”


“Ya… kok bisa, sih? Wah, jangan-jangan lo sengaja ya? Soalnya tau kalau dia anak orang kaya.”


“Eh! Sembarangan, lo!” Aku menggeplak kepala Bimo dengan buku tulis. Tapi temanku itu hanya tertawa karena selalu senang menggodaku. Meski kata-katanya agak keterlaluan, tapi aku tahu dia tidak mengatakannya dengan serius.


Sepertinya orang-orang mulai bergosip karena mungkin ada yang melihat saat aku sering berada bersama Aira. Tapi itu bukan masalah untukku, meski aku tidak tahu bagaimana reaksi Aira jika mendengar hal itu.


Kupikir semua akan tetap sama seperti biasanya. Tapi, sejak hari itu aku justru menangkap sebuah keanehan


dari Aira. Dia masih tetap sering menghabiskan waktu di taman atau perpustakaan. Biasanya dia selalu menyambut kedatanganku dengan senyuman manisnya. Tapi, pertama kalinya aku menangkap raut wajah penuh ketidaknyamanan saat berada bersamaku. Bahkan hal itu terus aku rasakan di hari-hari berikutnya.


Sampai akhirnya aku sudah tidak bisa menemukan keberadaan Aira di tempat biasa. Ternyata dia jadi lebih sering


menghabiskan waktu di dalam kelas. Tentu saja aku tidak bisa tiba-tiba masuk dan terlihat sok akrab dengannya. Apa mungkin dia tidak nyaman jadi bahan pembicaraan orang-orang?


Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu dan memberikan Aira waktu untuk sendiri. Mungkin dia memang


tidak suka menjadi bahan gosip. Tapi, tiba-tiba aku jadi teringat kata-kata Bimo. Aku tahu dia bercanda, tapi apa mungkin Aira mendengar gosip kalau aku mendekatinya hanya karena tahu kalau dia orang kaya? Kalau memang seperti itu, berarti aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak ingin Aira terus salah paham dan menjauhiku.


Hari ini aku berencana untuk mengajak Aira mengobrol. Tapi tak kusangka mencari waktu untuk bisa menyeretnya

__ADS_1


ke tempat sepi ternyata cukup sulit. Entah kenapa kini Aira tampak sering bergabung dengan gerombolan anak perempuan di kelasnya. Tapi di mataku dia hanya tampak seakan sedang bersembunyi.


‘Bugh!’


Mataku yang sedari tadi tidak fokus membuat orang lain harus jadi korban. “Duh, sorry.”


“Ya ampun, Ya. kalau jalan hati-hati, dong.” Ternyata Mira yang baru saja kutabrak. “Kamu liatin apa sih sampe gak fokus gitu?” tanyanya penasaran.


“Hm? Enggak.”


Kulihat Mira melirik ke satu titik yang sebelumnya kulihat. Entah dia menyadari apa yang sedang kuperhatikan sedari tadi atau tidak.


“Oh… lagi liatin anak kelas sepuluh, toh. Sampe segitunya,” komentarnya sembari pergi meninggalkanku dengan raut wajah yang sedikit kesal.


Aku pun menyerah karena tidak menemukan cara untuk mengajak Aira bicara. Baru pertama kalinya aku merasa


segundah ini hanya karena seseorang yang bahkan bukan pacarku. Padahal saat pacaran dengan Mira saja aku selalu bisa santai karena dia pasti akan meminta maaf lebih dulu saat marah. Tapi kali ini aku benar-benar merasa takut akan kehilangan seorang teman. Mungkin, karena dia bukan sekedar teman biasa.


“Lo napa sih, Bro? Daritadi lemes gitu.”


“Rak, lo kalau ngadepin cewek marah gimana, sih?”


“Hmm…” sahutku dengan malas.


“Kenapa sih emangnya? Lo lagi marahan sama Aira?”


“Gak ngerti gue. Dia tiba-tiba ngehindar. Gak tahu gue salah apaan.”


“Gue baru pertama deh liat lo begini.”


“Emang biasanya gue gimana?”


“Lo tuh kalau mau sesuatu bakal langsung ngejar. Gak peduliin apa-apa, yang penting lo dapetin apa yang lo pengen. Sekarang lo cuma ngejar cewek ngambek aja gak bisa? Gak inget lo pernah naklukin Kak Mira, cewek tercantik di sekolah ini?”


Mendengar kata-kata Raka yang mungkin berlebihan membuatku sadar. Kalau ternyata aku hanya kurang usaha. “Thanks banget, Bro,” balasku sembari menepuk pundak Raka. “Lo emang motivator terbaik!”


Aku langsung bangkit, padahal saat ini masih berada di tengah pelajaran. “Eh, lo mau ke mana gila!” tanya Raka


dengan nada pelan.


“Gue mau usaha,” jawabku sebelum meminta izin untuk ke toilet pada guru yang sedang sibuk menulis di papan tulis.

__ADS_1


Aku berlari dengan cepat melewati koridor hingga sampai di depan kelas Aira. Memang ini agak gila, tapi setidaknya aku ingin menghilangkan beban pikiran yang membuatku tidak bisa fokus menangkap pelajaran.


Aku pun mengetuk pintu kelas dan membukanya. Semua mata menatapku dengan pandangan aneh, begitu pula dengan Pak Wanto yang sedang duduk pada kursinya. “Ada apa, Aria?”


“Maaf, Pak. Saya diminta Bu Aneu buat panggil Aira sebentar.”


Kali ini orang yang dituju tidak bisa menghindar sama sekali. Dia keluar kelas dan mengekor di belakangku.


Dengan cepat kutarik lengannya sambil berlari menuju ke taman samping.


Kami berdua terdiam sembari mengatur napas untuk beberapa saat. Lalu aku melihat Aira mulai memasang wajah kesal. Dahinya mengerut dan bibirnya cemberut. Mukanya yang putih tampak sedikit memerah karena lelah. Tangan kirinya mengusap-usap pergelangan tangan kanan yang tadi sempat kutarik. Saat itu baru kusadari, entah kenapa dia memakai jaket sejak berada di dalam kelas.


“Kamu lagi sakit, Ra?”


Aira menggeleng. Dia kini berdiri menyamping, tampak tak ingin memandangku sama sekali.


“Aku salah apa sih sama kamu, Ra? Kenapa kamu ngehindar dari aku terus?”


Orang yang kutanya tidak merespons apa pun. Dia justru mulai berjalan menjauhiku. Aku paling tidak suka jika diabaikan saat sedang berbicara. Tanpa sadar kutarik bagian belakang jaketnya, dan membuat Aira kini berada dalam dekapanku. Dia mulai berontak, tapi aku mendekapnya erat dari belakang.


“Aku gak akan lepasin sampai kamu janji gak ngehindar lagi.”


Beberapa detik setelahnya, perempuan dalam pelukanku itu sudah mulai menyerah dan diam. Akhirnya kulepaskan pelukanku setelah melihat Aira mengangguk. Dia masih belum merespons apa pun terhadap pertanyaanku tadi, dan justru berjongkok sembari meneggelamkan kepala di antara kedua lengannya. Sepertinya dia menangis.


Aku pun turut berjongkok di hadapan Aira. Mengelus kepalanya dengan pelan. “Maaf ya, Ra. Aku bener-bener bingung kenapa kamu berubah. Aku takut punya salah dan bikin kamu gak nyaman lagi temenan sama aku. Padahal aku selalu senang karena sekarang punya teman berbagi. Aku senang ngobrol sama kamu, ngehabisin banyak waktu cuma buat ngebicarain soal mimpi sambil duduk di sini. Apa mungkin kamu justru terganggu?


Kalau emang iya, gak apa, kok.  Tapi seenggaknya kamu kasih tau aku. Kamu mau kita gak perlu temenan aja?”


Aira mengangkat wajahnya yang berlinang air mata dan menggeleng. Bahkan dia mencengkram lenganku dengan sedikit keras. Aku bisa menangkap kalau sebenarnya dia pun tidak ingin kehilangan semua itu.


“Kenapa kamu ngejauhin aku, Ra?”


Gadis yang masih menangis itu tampak berat sekali menjawab, dan aku tidak ingin memaksanya. “Tapi, kamu masih mau temenan sama aku, kan?”


Aira mengangguk.


“Jangan tiba-tiba hilang lagi ya. Janji?”


Aira kembali mengangguk. Membuatku bisa tersenyum cukup lega meski telah membuatnya menangis.


Hari ini, kegelisahan yang sempat menggangguku pun hilang. Mungkin akan menjadi sebuah cerita yang selalu kuingat. Karena ini pertama kalinya aku mengalahkan ego, dan melakukan semua itu hanya untuk membujuk seseorang agar tidak lagi marah padaku. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kulakukan sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2