Aira Dan Aria

Aira Dan Aria
2. Awal Jumpa


__ADS_3

Hari ini menjadi salah satu hari yang paling membosankan bagiku sepanjang SMA. Tapi bagi sebagian besar murid, menjadi sangat menyenangkan karena tidak ada guru yang masuk kelas. Seperti biasa, hari pertama semester baru pasti selalu seperti ini. Kadang aku sendiri bingung untuk apa kita dikurung di dalam sekolah jika dibiarkan tidak belajar.


Bel istirahat berbunyi. Tapi aku sudah lebih dulu ada di kantin. Agak mencuri waktu sebelum tempat ini dijejali anak-anak lain yang sekarang baru saja berdatangan. Aku bahkan bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang datang mendekat. Sebelum aku merasa tidak nyaman, jadi kubawa beberapa gorengan yang belum sempat kuhabiskan dan berjalan menjauh dari kantin.


Air mataku menggenang di pojokan mata saat menguap. Rasanya ingin sekali hari ini cepat berakhir.


‘Bugh.’


Seseorang menabrakku yang sedang tidak memperhatikan jalan. “Maaf,” ucapku spontan, sembari melihat ke arah orang tersebut.


Seorang perempuan berambut panjang dengan seragam SMA-nya yang masih tampak baru ada di sana. Dia tidak berkata apa pun, hanya sedikit menunduk sebelum lanjut berjalan cepat ke arah kantin. Sedikit membuatku kesal.


Baru saja aku kembali melangkah beberapa kali, seseorang menghalangi jalanku secara tiba-tiba. Entah kenapa tidak ada satu pun yang mengerti kalau aku butuh ketenangan untuk hari ini saja.


“Denger-denger lo putus sama Mira?” Wajah menyebalkan Rio berada sangat dekat dengan wajahku. Ingin sekali kusundul mukanya itu.


“Iya,” responsku singkat.


“Bagus. Akhirnya dia sadar juga udah pacaran sama orang yang salah.” Dia sedikit tertawa sembari melirik kedua teman yang ada di belakangnya. Atau lebih tepat jika disebut ‘anak buah’.


“Iya, syukurlah ya.” Aku bermaksud mengabaikan Rio dan kembali berjalan. Tapi orang itu tampaknya masih belum puas mengganggu. Tangannya dengan cepat menjambak bagian depan kemejaku. Tidak peduli ada beberapa orang yang mulai melihat ke arah kami sambil berbisik-bisik.


“Lo mau ke mana, hah?”


“Kalau mau kencing, kakak mau ikut?”


Kedua anak buah Rio spontan tertawa. Namun langsung kembali diam saat mendapat tatapan tajam dari sang bos.


“Denger, ya! Sekarang lo dan Mira udah gak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan coba-coba ganggu gue lagi!”


Kali ini tubuhku sedikit dihempas. Untung saja aku tidak terjatuh dan mencuri perhatian lebih banyak orang. Rio dan dua temannya sudah pergi, dan aku lanjut berjalan dengan santai sambil menahan emosi yang untung saja masih bisa dikendalikan sedari tadi.


Ya, masih bisa kutahan. Hingga seseorang kembali menabrakku dari belakang. Aku membalikkan badan dengan cepat sembari membentak. “Lo punya mata gak, sih?!”


Tapi siapa kira yang ada di belakangku adalah orang yang sama dengan yang tadi sempat bertabrakan denganku juga. Aku tidak pernah berniat buruk dengan adik kelas. Tapi kali ini emosiku sedang tidak stabil, dan anak itu harus jadi korban dari luapan amarahku.

__ADS_1


“Ini udah yang kedua kalinya ya. Aku gak peduli kamu sedang buru-buru atau kenapa. Tapi hati-hati dong kalau jalan!”


Lagi-lagi anak perempuan itu hanya menunduk-nunduk sembari memberikan ekspresi penuh rasa bersalah.


“Aku gak suka ya. Kamu masih baru aja udah kayak gini. Gak bilang maaf pula. Mana sopan santunnya?”


Kali ini dia merapatkan kedua telapak tangan. Aku mengerti dia sedang meminta maaf, tapi entah kenapa semakin lama makin tampak aneh. Dia masih tidak mengatakan apa pun, tapi gelagatnya tampak panik sekali.


“Hah...” kuembuskan napas panjang. Berusaha membuang semua emosi yang terlanjur membeludak. “Siapa namamu?”


Si anak perempuan berambut panjang memperlihatkan name tag yang tergantung di depan dada. 'AIRA' itulah nama yang tertulis di sana. Seketika aku teringat cerita Cepi tadi, tentang anak perempuan yang tidak bisa bicara. Siapa sangka dia menjadi anak kelas satu yang paling pertama kuajak bicara. Dan siapa sangka pula pembicaraan ini akan terus berlanjut, hingga ke tahap yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


***


Lima hari pertama semester ini sudah berlalu. Hari ini adalah hari keenam, sekaligus hari terakhir orientasi untuk


anak-anak baru. Mulai lusa, mereka sudah tidak perlu lagi mengalungkan karton jelek di depan dada, dan tidak perlu lagi memakai topi konyol sambil menyanyi di tengah lapang.


Hari terakhir orientasi biasanya ditunggu-tunggu oleh para senior. Karena di hari ini anak baru diminta untuk menuliskan surat cinta untuk senior yang mereka sukai. Tidak hanya ke pengurus OSIS, melainkan ke siapa pun yang mereka kagumi. Sekali pun orang tersebut tidak mereka ketahui namanya.


Sejak saat itu aku dikenal oleh semua orang. Dan mulai dibenci oleh Rio, orang yang sudah lama mengincar Mira. Siapa sangka juga Mira terpikat denganku dan tiba-tiba menghubungi lebih dulu. Tapi aku tidak menyesal, justru asik karena bisa dapat banyak teman dari kalangan senior. Mereka bahkan mulai mengajakku untuk bergabung dengan club masing-masing. Rasanya saat itu aku langsung jadi selebritis.


“Kak, anu… maaf.” Seorang perempuan berambut pendek menyapaku, berdua dengan temannya yang juga tampak malu-malu.


“Ya, ada apa?”


“Ini, maaf. Terima ya, Kak!”


Keduanya memberikan surat padaku dan langsung kabur seakan baru saja mencuri sesuatu. Sudah pasti memberikan surat cinta bukan pekerjaan mudah, apalagi bagi perempuan.


“Ya, dapet surat, lo? Mantep dah!” sahut seorang teman dari kejauhan. Aku hanya mengangkat kedua alis sembari


tersenyum. Sedikit menyombongkan surat yang baru saja kudapat.


Kuberjalan menuju kelas, bermaksud membaca surat yang kudapat di sana. Isinya cukup membuatku penasaran. Tapi, perjalananku harus terhenti karena kedatangan Bimo. Dia tampak buru-buru sekali, seakan ada hal gawat yang baru saja terjadi.

__ADS_1


“Ya, lihat, Ya!” Bimo mengacungkan lima surat yang kuyakin baru saja diterimanya dari anak kelas satu.


“Wah… dapet banyak lo, Bim!”


“Kesel sumpah gue tuh!”


“Kenapa lagi, sih? Udah dapet surat cinta juga.”


“Iya, sih. Tapi lo tau enggak? Ini semua surat buat lo! Tadi anak-anak kelas satu nyariin ke kelas tapi lonya gak ada. Jadi disuruh titipin ke gue. Resek banget sih lo!” jelasnya sambil melemparkan dengan kesal beberapa surat ke atas tanganku.


Mendadak aku tertawa mendengar penjelasan Bimo. Bahkan tidak ada rasa iba sama sekali melihat wajah penuh


kekesalannya. Dia pasti kecewa karena sudah berharap bisa mendapatkan surat di hari ini. Tapi sekalinya dapat, justru surat untukku. “Puas lo ngetawain gue?” ucapnya ketus.


“Sorry, Bro. Gue juga mana tau bakal dapet surat. Udah jangan sedih, hari ini masih panjang, siapa tau entar lo dapet juga.”


“Bahkan Raka aja dapet satu!”


“Haha ya udah... Nih, lo mending beli minum biar dingin tuh kepala.” Kuberikan uang lima ribuan kepada Bimo yang


mulai berjalan sembari terus menggerutu. Sementara aku masih tidak bisa berhenti tertawa.


'Bugh.'


Aku menabrak seseorang saat baru saja mulai berjalan. “Aduh, maaf.”


Saat kulihat, lagi-lagi bukan orang asing yang ada di sana. Orang itu kembali membungkukkan badan untuk meminta maaf. Aku hanya menghela napas dan tentu saja tidak marah. Karena kini aku tahu kenapa aku bisa menabraknya. Sedari tadi dia ada di belakangku tanpa bisa mengatakan apa pun, sehingga aku tidak bisa menyadari keberadaannya di sana.


“Kamu lagi ya, Aira.”


Gadis yang kusebut namanya sedikit terkejut sebelum tersenyum manis. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku bisa tahu namanya. Sepertinya kali ini bukan tidak sengaja kami bertemu. Kulihat dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kertas berwarna biru muda. Benda tersebut dia sodorkan ke arahku.


“Buatku?”


Aira mengangguk dua kali. Karena aku tidak lekas mengambilnya, dia langsung memaksakan surat itu supaya ada di dalam genggamanku. Lalu melesat pergi sambil berjalan cepat. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


'Untuk kakak senior yang sering aku tabrak.' Tertulis di depan kertas biru muda yang terlipat rapi. Membuatku ingin lekas membuka dan membaca isinya paling pertama.


__ADS_2