Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
10. Keterungkapan sebuah kebenaran


__ADS_3

Mahasiswa dan mahasiswi tengah berhamburan meninggalkan kampus tercintanya. Sementara di kursi parkiran, terdapat seorang gadis cantik yang tengah menunggu jemputannya untuk pulang. Ia sesekali melihat jam tangan yang melekat di tangan kiri nya dengan sempurna. Ia mengibas-ngibaskan tangannya dan menyebabkan beberapa helai rambutnya terbawa angin.


Dddrrrrtttt


Ponselnya bergetar, ia segera mengambil nya lalu melihat siapa yang menelfonnya.


'De? Kamu masih di parkiran kampus kan?'


'I- iyah kenapa?'


'Tunggu disana, jangan kemana-mana. Aku sekarang jemput kamu'


'Kak Fi--'


Alina tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Fian sudah menutup panggilannya terlebih dahulu.


Ponsel yang dulu sempat aku tinggalkan di meja Cafe bersama Pak Tio, kini sudah ada di tangan ku kembali berkat kebaikan hati Pak Tio yang sudah mengembalikannya tadi waktu pagi di kampus.


Laki-laki itu tengah berjalan santai menuju parkiran sambil terdapat beberapa berkas di tangan kanan nya. Ia sesekali mendongkak ke atas menyaksikan cuaca yang begitu panas.


Langkah nya sempat terhenti ketika kedua mata nya tak sengaja menangkap sesosok gadis cantik yang tak lain adalah mahasiswi nya sendiri. Ia tiba-tiba teringat kejadian kemarin malam yang dimana, ia tak sengaja memeluk tubuh gadis itu dengan reflex.


"Ya Allah, maafkan saya ya Allah, saya tidak bermaksud. Saya hanya terbawa susasana ya Allah. Aku yakin engkau maha mengerti". Gumam nya sambil tangan kirinya memegang dada. Ia kemudian mengusap wajahnya lalu berbalik arah meninggalkan parkiran. Ia kembali berjalan, namun kali ini dengan sedikit terburu-buru.


"Tidak! Saya tidak boleh lari dari masalah. Harus saya hadapi, apapun yang nantinya akan terjadi". Ucap nya dengan mantap. Ia pun kembali berbalik arah dan hendak menghampiri seorang gadis yang tengah terduduk di kursi dekat parkiran.


Gadis itu tak menyadari kedatangan Tio, ia hanya sibuk dengan ponselnya sambil menumpangkan kaki kanan nya ke atas kaki kiri.


"Ehhemm,"


Gadis itu segera mencari sumber suara, ia menutup ponsel nya sejenak. Ia terkejut kala melihat siapa yang ada di belakangnya, lalu ia segera berdiri di hadapan laki-laki itu.


"Alina?"


"Pak Tio? Ada apa ya Pak?"


"Ini.. sa.. saya mau minta maaf soal kejadian kemarin. Tapi Alina percayalah, saya tidak sengaja, benar-benar tidak sengaja. Saya tidak ada maksud apapun terhadap kamu. Sa-" belum sempat Tio menjelaskan, Alina sudah menyela ucapan dosennya.


"Ia Pak, saya maafkan. Awalnya, saya juga sedikit merasa agak gimana. Tapi setelah Bapak minta maaf, saya jadi merasa lega," ucap nya dengan santai dan senyum manis selalu terukir di wajahnya.


"Ahh..baiklah kalau begitu. Trimakasih, saya permisi dulu," ucap nya dengan sedikit terbata-bata.


Alina hanya mengangguk. Tio segera berlalu dari hadapan Alina, sementara Alina, ia hanya menyaksikan kepergian Dosennya. Lalu ia sedikit tersenyum tipis.


Toooooootttttt


Klakson mobil yang terdengar nyaring, cukup mengejutkan Alina. Ia pun berbalik arah dan sudah tak asing lagi dengan mobil berwarna biru yang ada di hadapannya.


"De.. naik cepet," ucap laki-laki yang tak lain adalah Fian. Ia mengelurkan kepala nya dari jendela mobil untuk memerintahkan Alina agar segera memasuki mobil nya.


"I-iya," Alina segera masuk kedalam mobil Fian dengan sedikit terburu-buru, dan duduk di kursi sebelahnya. Ia pun memasang dengan segera sabuk pengamannya.


Tanpa ba bi bu, Fian langsung tancap gas, sementara Alina, ia hanya bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Ia sesekali melihat ke samping kanan nya dengan heran. Ingin rasa nya hati bertanya, namun otak berusaha mencegah.


"Kak? Ini ada apa sih? Jangan buat aku panik gak karuan lah!" Ucap Alina sambil memutar tubuh nya menghadap Fian yang tengah terfokus memegang setir mobil.


"Kita ke kantor Polisi sekarang," jawab Fian singkat.


"Ka- kantor polisi?" Semakin terkejutlah Alina dengan apa yang baru saja Fian ucapkan.


Ia menghembuskan nafasnya sejenak dan menyenderkan punggung nya ke belakang kursi mobil.


"Perasaanku sedikit tidak enak," batin Alina.


"Kak? Kak? Ini bisa pelan - pelan gak? Alina mau muntah!" Ucap Alina pada Fian yang tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga harus membuat tangan Alina menggenggam erat pada sabuk dan pegangan jendela mobil.


Fian tak menghiraukan ucapan demi ucapan yang Alina utarakan. Ia hanya asik membanting setir ke kanan dan kiri secara bergantian.


Blluuuggggghhhh


Pintu mobil tertutup dengan sangat kencang, Alina hanya mengedipkan mata nya berulang kali sambil nafas nya sedikit tidak teratur. Alina kemudian keluar mengikuti Fian, namun Fian berjalan dengan cepat sehingga membuat Alina sedikit lelah untuk mengejarnya. Tas ransel ia tinggalkan di dalam mobil, hanya membawa benda pipih yang di genggam erat di tangan kanan nya.


Alina melihat tiga orang laki-laki mengenakan baju serupa berwarna orange, dengan masker yang tertempel di wajah nya.


Alina memperhatikan setiap delik mata tiga orang laki-laki itu, ia seperti tidak asing. Lalu Fian menggeser kursi dan mempersilahkan Alina untuk duduk tepat di hadapan ketiga orang laki-laki itu.


"Kak? Ini siapa?" Tanya Alina dengan herannya.


"Baik De, ketiga orang ini nanti akan menjelaskan sesuatu. Mohon untuk tetap bersikap tenang," ucap salah seorang Polisi yang tengah berdiri di samping Alina.


"Jadi, untuk sodara Fian Ardiyansyah Putra Hartawan, dan Alina Azalea Qiandra Hartawan. Ketiga orang ini adalah pelaku perampokan di rumah keluarga Hartawan."


"Haa?" Alina tampak menutup mulutnya tanda tak percaya akan sesuatu yang telah diucapkan pria berseragam polisi itu.


Deru nafas Alina terdengar kuat setelah mendapat penjelasan singkat dari Polisi bahwa ketiga orang ini adalah dalang dibalik kericuhan dan kehancuran keluarganya.


Ia kembali teringat dengan kematian Ibunda tercintanya. Namun Alina berusaha untuk lebih kuat dan tabah. Alina menaruh ponsel nya di meja dan dan kedua tangannya ia tumpukan di atasnya.

__ADS_1


Fian sama sekali tak terkejut karena sudah menduga akan hal ini. Ia melihat Adik nya yang sudah mulai hilang kendali. Fian merangkul bahu Alina guna menenangkannya.


"Baik, mohon di lepas dulu maskernya,"


Alina sangat menanti-nanti akan hal ini, ia ingin segera mengetahui siapa sebenarnya ketiga orang ini. Minimal ia bisa mengenal salah satunya.


Ketiga tersangka tersebut bergerak untuk melepaskan masker yang menutupi setengah dari wajah nya.


"Irsyad?" Alina menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Kamu kenal De?" Tanya Fian.


Alina tak menghiraukan pertanyaan Fian.


"Pak? Pak? Ini apa maksudnya? Kenapa teman saya terlibat?!" Alina mendesak Polisi untuk segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"I-iya, Dek tenang dulu sebentar. Mereka yang akan menjelaskan secara langsung. Mohon untuk didengarkan dengan seksama," jawab Polisi yang berusaha menenangkan Alina.


"Maafin aku Lin, a... aku..." Irsyad mencoba membuka kata demi kata. Ia gemetar hebat dan sesekali meremas kedua tangan nya yang di borgol.


"Ini apa maksudnya Syad?" Desak Alina sambil sedikit mencondongkan badan nya ke depan. Alina sudah tak sabar mendengar penjelasan lebih lanjut dari Irsyad.


"Sebenarnya.. aku terpaksa melakukan ini. Perekonomian yang membuat aku harus mendapatkan uang dengan instan. Aku dibayar mereka berdua sebesar 500 juta bilamana misi kami berhasil. Dan entah kenapa.. aku tertarik dengan tawaran mereka,"


"Bukankah kalian berhasil? Lalu benar kamu dibayar?" Ketus Fian sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ti- tidak Kak," ucap Irsyad dengan gugup.


"Lalu katakan, siapa yang sudah menusuk Ibu saya sampai meninggal?" Tanya Alina dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang memerah. Juga hampir mengeluarkan cairan bening dari kedua pelupuk matanya.


Ketiga tahanan itu hanya saling menatap satu sama lain tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alina.


"Jawab!" Teriak Alina sambil berdiri dan menggebrak meja dengan emosi yang memburu di dada nya.


"Mohon tenang," ucap Polisi yang berdiri di samping Alina. Alina menepiskan tangan Polisi yang sudah menyentuhnya.


"Tenang De," ucap Fian sambil memegang tangan Alina. Namun segera ia tepiskan dengan kasar.


"A- aku Lin," ucap Irsyad dengan sangat terpaksa.


Deggggggg


Bagai dihantam petir di siang bolong, Alina kembali duduk lunglai dengan jawaban Irsyad.


Alina begitu tak menyangka, bahwa seseorang yang sering bersama nya kini telah membuat hidupnya hancur. Beberapa bulir bening keluar dari kedua pelupuk mata Alina secara bergantian.


"Jangan sentuh Adik saya. Pembunuh!" Seru Fian. Fian kemudian mendekapkan Alina ke pelukannya. Tampak kemeja cream yang tengah Fian kenakan sedikit basah karena air mata Alina.


Hati Irsyad terasa sangat sakit kala Fian mengatakan bahwa Irsyad adalah seorang pembunuh. Tapi yang dikatakannya adalah fakta, bagaimana pun itu, ia telah melenyapkan nyawa seseorang.


Irsyad sudah tak tahan dengan semua ini, ia menangis penuh penyesalan. Ia tak menyangka bahwa akhirnya akan sepahit ini. Terlintas di otak nya Kampus, Keluarga, dan rencana kehidupan nya yang akan di jalani nanti. Namun semua nya harus kandas hari ini, dan secepat ini.


"Lalu yang menusuk Ayah saya?" Tanya Fian yang mulai geram dan sepertinya sudah siap menerkam mereka bertiga layaknya Harimau yang kehilangan anak nya.


"Sa- saya.." ucap Irsyad untuk kedua kali nya.


"Bajingan!". Ketus Fian dengan urat yang sudah terlihat dari tangan kekarnya.


"Alina, Kak, maafkan saya. Maafkan saya. Saya terpaksa," ucap Irsyad sambil terus menangis dengan beribu penyesalan.


"Apakah harus dengan cara ini? Kamu tau Syad? Mungkin ketika kamu hanya merampas sejumlah uang itu, aku tidak akan sebenci ini sama kamu Syad. Namun kenyataan berkata lain, Kamu sudah melenyapkan kebahagiaan aku. Kamu tak akan tahu rasa nya kehilangan kekuatan hidup. Kamu tak akan tahu rasa nya melayang di atas kehampaan," ucap Alina dengan nada yang lemah dan air mata terus mengalir di kedua pipi nya yang putih bersih.


"Namun aku percaya Syad, bahwa hukum alam pasti bekerja. Segala sesuatu yang terjadi, akan ada sebab akibatnya. Jangan salahkan aku jika keluargamu menderita Syad," sambung Alina dengan tatapan sayu dan senyum mengerikan tersungging di bibirnya.


Irsyad tak menyangka bahwa kejadian ini ia fikir hanya akan berdampak pada dirinya, namun ternyata tidak. Keluarganya juga ikut terlibat. Apakah mungkin Alina dan Fian akan merencanakan sesuatu terhadap keluarganya?


"Lin? Alina aku mohon Lin. Kamu boleh hukum aku seberat-beratnya. Tapi jangan keluargaku Lin, mereka gak salah," ucap Irsyad dengan nada ketakutan.


"Gak bersalah? Lalu kamu membunuh Ibu ku yang tidak bersalah itu apa namanya Syad. Aku tidak bisa memastikan keluargamu akan hidup tenang, karma ini entah akan berlaku pada kamu, ataupun keluargamu. Tapi aku harap Syad, ini akan berlaku pada keduanya!" Ucap Alina sambil tersenyum kecut.


Alina menghapus air mata nya yang sudah sedikit mengering di kedua pipi nya dengan kasar. Ia meninggalkan kantor Polisi tanpa menghiraukan Fian.


Ia beranjak dan mendorong kursi dengan kasar, lalu pergi begitu saja.


Ketiga tahanan itu menyaksikan kepergian Alina. Terutama Irsyad, ia sangat merasakan rasa nya kehilangan kekuatan yang dirampasnya begitu saja. Irsyad memukul-mukul kepala nya sendiri. Rasa bersalah tentu saja bersemayam di lubuk hati nya. Apalagi orang yang ia bunuh adalah Ibu dari teman kuliah nya.


"Tidak ada gunanya sekalipun kamu menangis darah!!!" Hardik Fian pada Irsyad yang tengah tertunduk. Irsyad semakin ketir oleh beberapa ancaman dari putra putri keluarga hartawan.


Fian meninggalkan kantor polisi begitu saja. Ia berniat menyusul Alina yang berlari entah kemana.


"Maaf Pak, handphone Adik Bapak tertinggal," ucap salah seorang Polisi sambil memberikan benda pipih ke tangan Fian.


"Ohh, trimakasih Pak, saya mohon pamit," ucap Fian singkat.


"Ya Allah, apa yang telah saya perbuat. Saya telah menghilangkan nyawa seseorang. Maafkan kan saya Ya Allah, maafkan saya. Saya benar-benar menyesal. Bila dipenjara seumur hidupun, saya ikhlas ketika itu bisa menghapus dosa saya ini Ya Allah," rintih Irsyad sembari menahan tangis. Ia melipatkan kedua kaki yang di tahan tangannya. Penjara begitu menyiksa batinnya, baru satu hari saja ia ditahan, ia sudah merasakan betapa terpuruknya ia di dalam sel.


__ADS_1


Semilir angin menghiasi langit yang hitam pekat. Kilauan cahaya terpantul dari arus air yang terletak di bawah jembatan. Bulan tak begitu menampakan sinarnya yang membawa kehangatan, melainkan terhalang awan hitam yang menandakan malam ini akan turun hujan.


Hati nya hancur berkeping-keping kala ia mengetahui siapa dalang di balik kejadian yang menimpanya. Rasa amarah, sedih, bercampur menjadi satu. Beberapa helai rambut nya yang pirang, terkena terpaan angin. Ia menyampaikan kedua tangan putihnya di atas besi jembatan. Nampak lesu terukir di wajah manisnya, mata nya yang kerap mengeluarkan cairan bening, kini sudah habis terkuras.


Kepala nya menengadah ke atas langit. Hati nya mengadukan takdir nya yang kian berantakan.


(Alina)


Satu bulan telah berlalu, aku berusaha mengikhlaskan kepergian orang yang aku sayangi ke pelukan sang pencipta. Karena percuma saja, bila aku menangispun, semuanya tidak akan berubah.


"Tunggu? Sang pencipta? Mengapa aku mengatakan itu?" Aku tidak sadar apa yang baru saja aku ucapkan. Namun, sudahlah..


Mungkin hanya tidak sengaja.


Hari ini, tidak ada jadwal ku di kampus, aku ingin menghabiskan hari ku dengan segala rutinitas yang cukup aku senangi. Mulai dari bermain gelembung, membuat karangan puisi, menulis novel ataupun yang lainnya.


Aku menyibakan gorden kamar nya yang berwarna gold mengkilap, cahaya matahari langsung masuk menyeruak ke dalam kamarku, memberikan sensasi hangat sehingga mata ku dengan reflex terpejam dengan sangat lembut. Nafasku begitu teratur kala melihat keindahan langit yang tampak membiru, dihiasi kapas-kapas putih yang menjadi teman langit siang ini. Aku segera melipat selimut bad cover ku yang bermotif bendera inggris, merapikan setiap lipatan sprai yang terlipak karena ulahku semalam.


Baru saja aku akan keluar, tiba-tiba dari ponsel ku terdengar notif whatsapp menandakan ada chat masuk. Aku segera mengambil dan melihat siapa yang baru saja mengirimkanku pesan.


"Pak Tio?" Ucapku dalam hati seraya bersiap untuk duduk di kursi tempat aku biasa belajar.


Aku semakin mengamati ponsel ku.


Isi pesan :


'Selamat pagi'


Bibirku dengan tiba-tiba menyunggingkan senyum takala melihat isi pesan dari Dosen ku. Sapaan pesan hangat di pagi hari sangat membuat hatiku menghangat. Setelah senyumku selesai, aku langsung membalas pesan dari nya.


'Ya, Pak selamat pagi juga' Balas ku


Aku menunggu sejenak balasan pesan dari Pak Tio karena sudah terlihat centang dua abu. Aku menatap langit-langit kamarku dan senyum-seyum sendiri. Sungguh memalukan.


Tinggggg


'Apa hari ini kamu ada waktu?'


Aku mengernyitkan alisku dan berfikir sejenak.


'Ada Pak, tapi ini ada apa yah?'


'Saya berniat menemui kamu hari ini. Saya bertanya dulu tadi kamu ada waktu atau tidak. Takutnya sibuk😁(emot senyum gigi)'


'Oh baiklah kalau begitu, saya siap siap dulu'


'Kita ketemu di Farmala Cafe saja sekitar jam setengah 9nan.


See you'


Ahhhhh, aku semakin berfikir tak karuan. Ada angin apa pagi-pagi begini Pak Tio mengajak ku untuk bertemu. Apakah aku belum menyelesaikan tugasku? Kurasa sudah. Skripsi? Belum waktunya.


Kini aku tengah terduduk di meja Cafe Farmala no. 04. Tubuhku hanya dibalut dengan kaos pendek putih bertulisan SARANGHEYO dan celana jeans panjang. Fi meja Cafe ku taruh tas selempang hitam yang biasa aku bawa beserta ponsel. Aku melihat jam tangan ku sudah pukul 08. 27, namun Pak Tio tak kunjung datang. Aku menunggu seraya merapikan rambut pirangku dengan tangan di layar handphone.


"Ehheeemmm," suara orang berdehem yang terdengar jelas di sampingku belakangku. Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Aku membalikan badanku dan mendapati Pak Tio yang tengah berdiri di belakangku. Aku pun segera berdiri.


Dosenku terlihat lebih muda dengan outfit nya hari ini, ia hanya mengenakan kaos hitam pendek dan celana kantor berwarna cream. Aroma tubuhnya yang khas, tercium sangat pekat di hidung mancungku. Rambutnya yang masih sedikit basah, tersisir rapih ke arah kanan. Ia tersenyum ke arahku, mata kami saling beradu pandang satu sama lain.


"Duduk," titah nya singkat.


Aku hanya mengangguk dan menggeser kursi ku lalu duduk di kursi depan Pak Tio.


"Ahh Alina, gimana kabar kamu?" Tanya nya yang mengawali perbincangan kami.


"Baik Pak, lalu Bapak?" Tanya ku balik


"Yaaa seperti ini," ia tersenyum menampakan deretan gigi nya yang rapi. "Maaf saya mengajak kamu kesini pagi pagi". Sambungnya.


"Ahh tidak masalah Pak, saya juga hari ini tidak ada jadwal kampus," aku membalas senyumannya.


Pak Tio hanya mengangguk sembari membuang nafas nya perlahan.


"Saya.. hanya ingin tahu kondisi kamu seperti apa. Karena Akhir Akhir ini.. saya jarang liat kamu di kampus,"


"Ahh itu.. ehhh enggak Pak, saya juga sekarang kalo pulang dari kampus langsung pulang."


"Ohh begitu. Semoga..kamu bisa menjadi lebih baik Alina,"


"Iya Pak, saya juga berharap seperti itu. Saya rasa.. saya sudah bisa mengikhlaskannya sekarang. Ditambah.. Ayah saya sudah sehat dan bekerja kembali,"


"Jadikan setiap kenangan menjadi pelajaran. Karena guru terbaik dari sebuah kehidupan, adalah pengalaman," ucap nya yang penuh makna. Singkat, namun sangat berarti. Aku semakin tertarik mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.


"Oh iya, apa gak mau pesan minum dulu?" Sambungnya sembari terkekeh.


"Ah iya, saya lupa!" Balasku dengan sedikit menahan tawa.


Aku semakin mengenal siapa Pak Tio sebenarnya. Ia seorang yang sangat lembut dalam bertutur kata. Rapih dalam penampilan, dan selalu menjaga tatakrama di manapun ia berada. Ia memang orang baik. Terlebih, ia taat akan agamanya.

__ADS_1


Jadikan setiap kenangan menjadi pelajaran, karena guru terbaik dari sebuah kehidupan, adalah pengalaman\`\`).


__ADS_2