Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
4. Awal kegundahan Alina


__ADS_3

Hari ini, adalah jadwal kampus Prof. Wang Dhai Ning.


Dia sudah sekitar empat tahun mengajar sebagai Dosen psikologi di kampusku.


Dia berasal dari tiongkok (china), usia nya yang menginjak 30 tahun hanya terpaut 1 tahun dengan dosen bahasa inggrisku, Pak Tio.


Bahasa indonesia nya sudah yang cukup fasih, dikarenakan ia sudah lama tinggal di indonesia.


Tubuh nya yang tinggi, dan kulit putihnya yang agak berbintik, rambutnya yang berwarna hitam, serta bermata sipit dan bibir tipisnya yang membuat ia terlihat lebih muda dengan usia nya yang sudah menginjak 30 tahun.


Menurutku, cukup tampan.


Tapi tidak setampan Pak Tio.


Aku merasa beruntung dan bersyukur bisa mengambil pendidikan di universitas Pradasibya, karena di sini lah aku banyak bertemu dengan orang-orang berilmu.


Terlebih pada Pak Tio, dan juga semua dosenku di kampus.


Entah mengapa akhir-akhir ini, aku menjadi lebih mengenal Pak Tio lebih jauh.


Karena kedekatanku dengannya yang mulai membuka setiap kepribadian masing - masing.


Aku bisa belajar banyak dari nya, terutama untuk atitude dan permasalahan hidup.


Aku merasa sangat kesepian, kala Dela sedang tak ada bersamaku.


Hari ini, dia tidak masuk kampus dikarenakan ada acara keluarga di magelang untuk ikut Paman Hasyid, ayahnya Dela.


Aku sesekali melihat ke sisi kanan dan kiri ku sambil menghembuskan nafas berat.


Fikri yang tengah asik mengobrol dengan irsyad di seberang kanan ku pun, ia tak sempat menyapa ku pagi ini.


"Good morning,"


Aku tak menyadari kedatangan Prof. Wang karena fikiran ku yang sedari tadi tidak terfokus.


Dia berjalan menuju meja depan dan meletakan tas laptop serta beberapa buku dan berkasnya.


Ia terlihat begitu rapih dengan stelan kemeja putih dipadu celana hitam panjang.


Ia tersenyum ke arah aku dan teman-teman sekampusku.


Aku segera mengeluarkan buku dari dalam tas ransel ku, dan membenahkan posisi duduku dengan menggeser kursi menjadi lebih ke depan.


Aku melipatkan kedua tangan ku diatas meja dengan alas beberapa buku di bawah nya.


Prof. Wang mengambil spidol hitam dan hendak menggorekan nya pada sebuah papan tulis putih di depan.


'Who is your god?


and what moments you have spent with him!'


Ia menuliskan kalimat itu pada papan tulis.


Aku hanya mengernyitkan alis ku dan menatap nya sebal.


Aku sudah mengerti arti dari kalimat itu.


"Sebelum ke materi, saya akan perintahkan kalian untuk menulis serta mengisi pertanyaan itu," ujar nya sambil menunjuk ke arah papan tulis.


Aku yang tidak bertuhan dan tidak tahu menahu tentangnya, bila di perintahkan untuk mengisi pertanyaan bodoh seperti itu, tentu saja sangat menyinggung perasaanku, terutama kepribadianku.


Aku sedikit memukul kan kepalan tangan ku pada meja kampus, namun dengan volume yang rendah.sehingga tidak menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Aku benar-benar di buat bingung oleh nya, aku tidak tahu harus mengisi pertanyaan itu dengan kalimat apa!.


Takdir telah menjebaku, dan seolah menghalangi jalan ku untuk tetap hidup tenang tanpa beban.


Aku terpaksa menulis pertanyaan yang diperintahkan oleh Prof. Wang di atas selembar kertas putih tanpa menjawabnya.


"Perlu kalian ketahui, tuhan adalah zat terpenting dalam sebuah drama kehidupan," jelasnya


'Zat terpenting?' Batinku


"Yang dimaksud tuhan zat terpenting adalah, dia lah titik pusat kehidupan di alam semesta ini.


Dia lah pencipta segalanya, dia yang mengatur setiap nasib manusia mulai dari lahir sampai mati.


Dia penentu takdir alur kehidupan semua manusia,"


"Maaf Prof, zin bertanya.


Bila tuhan adalah seperti yang profesor tadi katakan.


lalu, dimana keberadaannya?


Apakah itu tidak mengurangi rasa percaya seseorang terhadapnya?" Tanyaku antusias.


Semua mata tertuju kepadaku yang tengah berdiri dan mengajukan pertanyaan pada Profesor. Wang, termasuk fikri dan Irsyad.


Profesor. Wang pun segera menoleh kepaku.


Aku tak memperdulikan beberapa mata yang terus menatapku, aku hanya berharap Prof. Wang bungkam dan tak bisa menjawab pertanyaanku tadi.


Prof. Wang hanya tersenyum, kemudian menjawab pertanyaan ku dengan tenang.


"Semua benda di dunia ini tercipta karena ada tangan seseorang yang membuatnya.


Sama hal nya dengan kehidupan.


Dan untuk wujudnya,


Mengapa tuhan tidak bisa di lihat dengan mata telanjang?


Itu adalah salah satu cara tuhan menguji iman seseorang untuk bisa mempercayai keberadaan tuhannya." Frofesor wang menjelaskan dengan tenang dan sangat mudah di mengerti.


"Tapi Prof, banyak orang di luar sana yang tidak bertuhan.


Itu dikarenakan, ia tidak memiliki kepercayaan khusus yang bisa membuatnya yakin, bahwa tuhan itu nyata bukan?" Aku kembali menanyakan rasa keingin tahuan ku terhadap tuhan.


"Betul.


Tapi keyakinan saya mengatakan. Mereka yang tidak bertuhan, bisa jadi ada dua faktor yang menyebabkannya.


Diantaranya, memang dia tidak punya keyakinan satu persen pun terhadap keberadaan tuhan.


Dan mungkin, rasa sakit hati melalui kejadian masa lalunya, menjadi acuan utama yang menyebabkan seseorang itu enggan mempercayai tuhannya," jelasnya lagi


Bagaimana mungkin dia bisa menebak perasaan ku selama ini?


Pernyataan yang dilontarkannya sesuai dengan perasaan hati ku saat ini.


"Baik Prof, saya mengerti.


Trimakasih."


Aku kembali duduk dengan perasaan malu, dan tentu nya ada sedikit rasa kesal di dalam benak ku.


'Ah sial!' Rutuk ku dalam hati.


Aku baru saja melontarkan pertanyaan bodoh terhadap Prof. Wang.


Aku tidak memikirkan efek yang ditimbulkan setelah aku melontarkan pernyataan itu, dan yang pastinya..


Banyak orang yang curiga akan pertanyaan ku tadi.


Ahhh sungguh bodoh!


Waktu mengajar Prof. Wang telah usai.


Aku sudah tak mendapati diri nya di dalam ruanganku.


Itu artinya, dia telah kembali ke ruangan khusus Dosen.


Setidaknya, aku sedikit lebih lega dengan kepergian Prof. Wang.


Aku menjatuhkan kepala ku di atas meja dengan bantalan kedua tanganku sebagai alas.


Rambut pirangku yang berserakan di atas meja hampir menutupi kepala ku.


"Alina?" Suara seorang laki-laki yang memanggil nama ku dari arah samping kanan.


Aku segera menoleh pada sumber suara itu dan tak lupa aku juga merapihkan rambutku yang cukup berantakan.


Yang menghampiri ku ternyata adalah Irsyad, ia duduk di kursi yang biasa dela tempati yang terletak di samping kanan ku.


"Kenapa?" Tanyaku pada Irsyad


"Alina kamu...."


"Ahh..pertanyaan ku tadi pada Prof. Wang hanya sebagai pelengkap materi hari ini saja.


Tidak ada maksud lain. Dan... aku fikir, itu adalah cara ku menghargai atas materi yang disampaikan beliau," ujar ku pada Irsyad yang mencoba untuk meyakinkan nya.


Aku berharap Irsyad tidak menanyakan lebih jauh karena pertanyaanku tadi.


Irsyad hanya mengernyitkan alisnya serta mengangguk sembari tersenyum paksa.

__ADS_1


"Alina? itu... kamu di suruh ke ruangan Prof. Wang sekarang!" Seorang perempuan teman kuliahku bernama Rania, memberitahuku bahwa aku dipanggil untuk segera menemui Profesor wang sekarang.


'Mampus!


Apa aku dipanggil karena tadi sudah menyangkal ucapan Prof. Wang?


Tapi aku rasa... itu hanya sebuah pertanyaan yang memang lazim untuk diucapkan?' Batinku.


"Oh ya makasih Ran, aku... pergi dulu," aku segera meninggalkan Irsyad dan Rania di dalam ruangan kelasku.


Aku segera mencari ruangan Prof. Wang dengan melewati beberapa bangunan di universitas pradasibya.


Aku sudah sampai di ambang pintu depan ruangan Prof. Wang.


Aku melihat ia tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Pintu kaca transparan yang membuat aku bisa melihat aktivitas yang tengah dilakukan Prof. Wang.


Aku tidak langsung memasuki ruangannya, melainkan aku berfikir sebentar terlebih dahulu.


Tok tok tok


Aku mengetuk pintu ruangan Prof. Wang dan meminta izin untuk memasuki ruangannya.


Beliau mempersilahkan aku untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja kerja nya.


Ruangan nya yang cukup modern, dengan AC yang tengah menyala dan terlihat beberapa buku yang tertata rapih di lemari khususnya, cukup membuatku tertegun sejenak.


"Maaf Prof.


Ada apa Profesor memanggil saya kesini?"


Tanya ku yang membuka pembicaraan dengan Prof. Wang.


Prof. Wang hanya menatap ku seperti tengah menebak sesuatu.


Ia sedikit memiringkan kepalanya.


Aku hanya dibuat tegang olehnya, sesekali aku menelan ludah ku.


Prof. Wang mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci meja nya.


Ia lantas menyerahkan lembar kertas itu kepadaku.


Aku menerima sodoran kertas yang diberikan Prof. Wang kepadaku.


Aku memeriksa kertas yang tengah ku pegang.


dan ternyata..


"Tugas yang saya berikan, masih kosong? apa ada masalah?" Tanya Prof. Wang sambil sambil agak sedikit memiringkan kepala nya.


Aku hanya tertunduk sambil berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk nya.


Aku tak bergeming, otaku benar - benar kosong kala tengah berbicara dengan nya.


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Lalu masuklah pak tio ke dalan ruangan dimana aku dan Prof. Wang tengah berada.


Ia membawa sebuah berkas lantas meletakannya di meja Prof. Wang.


Ia sempat berbincang dengannya,namun hanya sebentar.


'Pak Tio, tolong aku..


Bawa lah aku keluar, aku tidak sanggup menahan situasi seperti ini' batinku


"Mari Prof," ucap Pak TIo.


Ia melihat aku dan Prof. Wang secara bergantian, lalu kembali keluar ruangan setelah meletakan berkas itu.


Prof. Wang kembali menatap ku dengan harapan aku bisa segera menjawab pertanyaan nya.


"Sa..saya sengaja tidak mengisi nya Prof," ucapku dengan gugup.


"Tulis saja seadanya!


Jangan dikosongkan seperti ini. Ini adalah gambaran kamu yang selalu meninggalkan masalah ketika berada dalam kesulitan. Jangan biarkan hal itu menguasai dirimu," balasnya.


Apa mungkin Prof. Wang telah mengetahui sesuatu tentang ku?


Aku hanya mengangguk lalu meminta izin untuk meminjam bolpoin miliknya.


Walaupun aku tahu, pertanyaan dan jawaban ku sangat tidak sesuai dan tidak beraturan.


Aku sudah menyerahkan kembali lembar kertas itu pada Prof. Wang.


Ia tak terlihat terkejut dengan apa yang baru saja aku tulis.


"Oh ya,


Mengapa kamu menanyakan hal itu pada saat saya mengajar tadi?" Benar saja, Prof. Wang tiba-tiba menanyakan hal tadi.


Aku Fikir ia sudah melupakannya.


"Apa ada yang salah Prof?


Bukan kah itu adalah pertanyaan yang wajar?"


"Memang, tapi setidaknya..


Kamu tidak menanyakan hal itu di depan semua orang.


Itu sama saja, kamu membuka celah untuk semua orang mengetahui kebenaran tentang mu"


Hah? jadi Prof. Wang benar-benar mengetahui sesuatu tentang ku?


Tapi... darimana ia tahu? sedangkan aku belum pernah menceritakannya sama sekali.


"Tapi maaf Prof.


Saya tidak bermaksud menyangkal pernyataan Profesor tadi.


Sejujurnya, saya sangat tidak suka bila seseorang menyampaikan kebenaran tentang tuhan,"


"Tapi..


Bagaimana bisa Profesor mengetahui bila saya adalah seorang atheis?"


"Sebenarnya..


Pertanyaan kamu tadi, cukup membuat saya berfikir.


Namun saya berusaha mengabaikannya.


Setelah itu..saya melihat kertas biodata kamu ada yang tidak terisi pada meja kerja Pak Tio.


Rasa penasaran saya kembali bangkit, dan pada saat saya melihat dengan seksama..akhirnya dugaan saya memang adalah sebuah fakta,"


"Tapi... mengapa Profesor tidak terkejut?".


"Saya sudah pernah menangani kasus ini"


Aku membenahkan posisi duduku dan semakin tertarik dengan cerita Prof. Wang.


"Dia adalah mahasiswa saya.


Dia begitu dekat dengan saya, sampai akhirnya... dia menceritakan masa lalu nya kepada saya.


Yang menyebabkan dia menjadi seorang atheis, dia tidak pernah mendapat pendidikan yang tepat dari kedua orang tuanya.


Orang tuanya seorang penggila harta.


Sehingga, ia harus menjadi korban atas keserakahan kedua orang tua nya.


Ia tidak pernah diperkenalkan dengan tuhan, sampai dewasa pun...


Ia sama sekali tak mempercayai akan keberadaan tuhan.


Hidupnya begitu tidak terarah, selalu mengikuti angin yang berhembus tak beraturan."


Aku menutup mulut dengan kedua tanganku, pertanda aku sangat tertarik dengan cerita Prof. Wang.


"Mualaf?


Mualaf itu..."


"Orang yang baru masuk islam," Frof. Wang menyela ucapanku.


"Dari peristiwa itu, saya banyak belajar tentang kehidupan yang sebenarnya.


Bahwa seburuk-buruk nya hidup, adalah ketika seseorang itu sama sekali tidak mempercayai tuhannya sedikitpun"


Degg

__ADS_1


Bagai dihantam gada raksasa, jantung ku berdegup kencang.


Seolah-olah kalimat yang baru saja Prof. Wang ucapkan, seperti cara takdir yang terus mengingatkan ku pada tuhan.


"Apakah dia masih kuliah disini Prof?


Lalu dimana dia sekarang?


Apa kedua orang tua nya tidak mencari keberadaannya?" Aku terus menghujami pertanyaan demi pertanyaan pada prof. Wang.


"Dia masih kuliah disini.


Untuk tempat tinggal, dia menyewa kos agar bisa tetap kuliah di universitas pradasibya untuk bisa mencapai cita - cita nya.


Saya... kurang mengetahui informasi tentang keberadaan orang tua nya sekarang,"


"Ohhh..


Lalu, dia sendiri yang meminta untuk menjadi bagian dari islam kah?"


"Betul.


Dia yang sukarela meminta saya untuk membimbing nya masuk islam.


Dan saya pun dengan senang hati membimbingnya.


Islam tidak pernah mengajarkan tentang keterpaksaan. Maka dari itu, saya tidak pernah memaksa mahasiswa saya untuk ikut bersama saya menjadi seorang muslim.


Saya hanya bisa berharap, suatu saat dengan cara saya memberikan materi mendasar tentang islam terlebih dahulu padanya, ia bisa tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh.


Apalagi... bisa menjadi seorang muslim.


Lalu, pada hari jum'at itu..


Saya mengajak dia ke Mesjid baithul an' am yang ada di dekat perusahaan WESTERLY GROUP, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,"


"Sebentar Prof, dua kalimat syahadat?"


"Ya!


Syarat paling utama untuk bisa menjadi bagian dari agama islam adalah, ketika seseorang itu telah mengucapkan dua kalimat syahadat.


Dan sejak itu pula... dia menjadi seorang muslim sampai sekarang.


Saya rasa..dia menjadi seorang muslim yang taat.


Dan alhamdulilah, sampai sekarang dia selalu istiqomah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim."


Aku cukup tertegun dengan penjelasan Prof. Wang yang menceritakan kisah hidup mahasiswanya sebagai seorang atheis sama sepertiku.


'Apa benar tuhan itu memang ada?' Batinku


Lalu aku meminta izin untuk meninggalkan ruangannya dan tak lupa, aku mengucapkan trimakasih atas penjelasannya yang cukup membuatku semakin penasaran dengan islam.


'Oh ****!


Aku lupa... mengapa aku tidak menanyakan siapa nama mahasiswa itu' Aku menepuk kening ku dengan telapak tangan.


Bagaimana aku bisa lupa menanyakan siapa namanya? tapi yang jelas...


Dia masih kuliah disini.


Aku berniat untuk mencarinya.


Aku berfikir apakah akan menemui lagi Prof. Wang hanya demi menanyakan siapa nama mahasiswa itu?


Ahh sudahlah


Aku mengurungkan niatku untuk itu, bisa lain kali aku tanyakan saja.


Aku berjalan dan hendak menuju kantin untuk memesan makanan.


Karena dari tadi, perutku sudah mengkode untuk segera diisi.


Tiba-tiba, aku melihat Irsyad dan Fikri tengah berjalan ke arahku.


Mereka mengajaku untuk makan siang dikantin. Dan aku pun hanya bisa menerima tawaran mereka dengan senang hati.


Makanan dan minuman pun kini telah tiba di meja kami.


Aku memesan bakso dengan minuman lemon tea dingin kesukaanku.


"Lin? kamu darimana tadi?


Aku cariin di ruangan gak ada," ucap Irsyad yang menanyakan tentang keberadaan ku tadi yang tak sempat bersama mereka.


"Tadi aku ke ruangan Prof. Wang," balas ku pada Irsyad.


Uhuk uhuk


Fikri yang tengah meminum jus jeruk, tiba-tiba saja tersedak dan segera meletakan kembali gelas yang berisi jus jeruk itu ke meja.


"Gak papa kan Fik?" Tanyaku yang sedikit khawatir pada Fikri.


Fikri hanya mengisyaratkan 'O' jari tangannya.


Pertanda ia baik-baik saja.


"Lagian sih minum nya gak santai banget!" Ledek Irsyad pada Fikri.


"Yeuhhh, tenggorokan gua gak muat buat minum Syad," jawab Fikri


"La terus? lu biasa minum air lewat apa?"


Aku hanya tertawa melihat perdebatan antara Irsyad dan Fikri yang menurutku, cukup lucu.


Tapi aku kembali teringat siapa nama mahasiswa itu.


aku tadi nya ingin menceritakan ini pada mereka berdua.


Namun, aku tidak jadi mengatakannya.


Hati kecilku berkata, sebaiknya aku tidak perlu menceritakan ini pada saat kami tengah bergurau.


Aku tidak mau merusak suasana.makadari itu, aku hanya lebih memilih untuk diam.


Aku kembali termenung di ruangan kelasku.


Mengingat akan kisah mahasiswa yang diceritakan oleh Prof. Wang tadi.


Aku benar benar bodoh! mengapa aku bisa lupa untuk menanyakan siapa nama nya?


Aku menahan dagu dengan telapak tanganku sambil pandanganku mengarah keluar.


Tiba-tiba saja, aku melihat seseorang yang melintas melewati luar pintu dan itu adalah Pak Tio.


Dia hanya sedikit melirik ke arahku, dan aku pun hanya pura - pura tidak melihatnya.


Aku memalingkan wajah ku dan..


"Heh?" Suara Fikri yang cukup mengejutkan ku, aku hanya mengusap dada ku sambil menatap sebal ke arahnya.


"Bengong aja,"


Fikri tiba-tiba duduk di depan kursi ku.


"Apaan sih Fikri ngagetin aja!" Ketus ku.


"Ehehe... sory.


Btw pas kamu sama pak tio di cafe farmala, lagi pada ngapain sih?" Tanya Fikri dengan penasaran.


"Ahh... ohhh i... tu aku gak sengaja aja ketemu Pak Tio," Balas ku dengan gugup.


Fikri hanya menatap ku seperti tengah menyelidiki sesuatu.


"Mm Fik?


Kamu udah berapa hari kerja di perusahaan Papaku?"


"Hah? berapa hari?


Udah lama kali Lin.sekitar..dua tahunan lah"


"Du..dua tahun?"


"Fik, di panggil tuh sama Pak Ferdian!" Teriak seseorang yang tengah berada di ambang pintu kampus dan memberitahukan bahwa Fikri dipanggil oleh Pak Ferdian untuk segera menemuinya.


"Oh oke," teriak Fikri sambil mengangkat tangannya ke arah laki-laki yang tak lain adalah teman kuliah nya.


Aku tak begitu mengenali wajah laki-laki itu, karena tidak seruangan dengan ku.


"Bentar ya Lin," ucap nya sambil beranjak dan pergi meninggalkan aku seorang diri.


Tuhan yang tidak berwujud namun nyata adanya, adalah salah satu cara ia menguji kekuatan iman para hamba nya.


Yakinkanlah bahwa tuhan adalah guru terbaik untuk sebuah kehidupan yang layak``)

__ADS_1


__ADS_2