
Alina dan Dela tengah berjalan menuju parkiran kampus untuk menunggu Pak Gusdur datang menjemput Alina.
"Alina?" Suara seorang laki - laki dari arah samping kanan, menghentikan langkah Alina dan Dela.
Mereka segera menoleh ke arah suara itu.
Tio yang tengah berdiri di samping mereka sambil membawa beberapa buku dan berkas di kedua tangannya.
"Ahh..apa ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Alina pada Dosen nya.
"Oh ternyata kalian sudah mau pulang, yasudah," ucap Tio dengan pasrah.
Dela yang tiba - tiba mendapat panggilan telfon dari Mama nya.
"Alina? aku pulang duluan gak papa?
Mama ku udah telfon soalnya," ucap Dela dengan membalikan badan nya menjadi menghadap ke arah Alina setelah ia mendapat panggilan telfon dari Orang Tua nya.
"Oh yaudah duluan aja gak papa"
"Mari Pak," ucap Dela pada Tio.
Tio yang memberi tahukan bahwa ia butuh bantuan Alina untuk bisa menyelesaikan sedikit pekerjaan nya, dikarenakan ada sedikit kendala sehingga ia melibatkan mahasiswi nya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Dosen.
Alina dengan senang hati bisa membantu Dosennya kala tengah memerlukan bantuan.
Alina menelfon Supirnya terlebih dahulu untuk memberitahukan bahwa ia akan pulang terlambat.
Mereka pun berjalan menuju ruangan yang dimana biasa Tio tempati.
(Alina)
Aku sedikit gugup kala bertemu dengan Pak Tio.
Aku meminta izin untuk meletakan ransel ku yang lumayan menurutku cukup berat di atas kursi depan meja kerja Pak Tio.
Pak Tio segera mempersilahkan aku untuk duduk sambil menawarkan minuman kepadaku.
Aku hanya bisa menerimanya, bilamana aku menolak tawarannya, menurutku..itu cukup tak sopan.
Aku merapikan rambut dan baju ku sejenak, lalu pandangan ku melihat sekeliling ruangan kerja Pak Tio yang cukup luas dan bersih.
Selang beberapa menit, datang lah Pak Tio dengan membawa baki yang berisi kopi dan teh.
Ia meletakannya di atas meja sambil memintaku agar segera meminumnya.
Aku segera mendekatkan bibir gelas ke bibirku lantas meneguknya perlahan.
Pak Tio duduk di kursi depan layar komputer nya.
"Ini, kamu bisa mengerjakannya bukan?" Tanya Pak Tio sambil memperlihatkan proposal meeting para Dosen.
"Oh bisa Pak, tapi..kenapa Bapak menyuruh saya untuk mengerjakan ini?"
"saya lupa belum melaksanakan shalat dzuhur, dan ini sudah pukul 01.23. Sedangkan, data itu harus dikumpulkan jam 01.50 pada Prof. Wang untuk nanti diserahkan pada Rektor kampus.
Jadi saya harap, kamu bisa membantu saya."
"Oh iya pak, ini bukan masalah"
"Baiklah, saya mau shalat dzuhur dulu sebentar, tidak akan lama"
Aku hanya mengangguk, dan Pak Tio pun segera berlalu dari hadapanku untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Aku duduk di kursi yang dimana biasa Pak Tio tempati.
Aku menyalin tulisan yang ada di proposal yang tadi Pak Tio tunjukan kepadaku.
Tulisannya masih berupa tulisan yang ditulis dengan tangan. Makadari itu, Pak Tio menyuruhku untuk menuliskan ulang di komputer miliknya.
Kini aku telah selesai menyalin tulisan yang ada di proposal itu pada komputer.
Aku membunyikan jari ku yang terasa pegal, lalu beranjak untuk sekedar melihat suasana kampus dari dalam ruangan Pak Tio.
Aku mendekati jendela ruangan. Tapi sebelum itu, mata ku tertuju pada seseorang yang tengah duduk dengan beralaskan seperti kain di samping kanan ku, hanya terhalang oleh rak buku dan beberapa kertas yang ditempel pada rak buku itu.
Jadi, aku agak bisa melihatnya.
Aku semakin mendekati rak buku itu dengan tujuan, agar aku bisa melihat apa yang Pak Tio lakukan lebih jelas.
Aku pura - pura sedang melilah buku padahal, mata ku sesekali melihat ke arah Pak Tio.
Aku yang melihat Pak Tio dengan posisi duduk dan kaki terlipat sambil menghadap ke arah barat hanya berfikir, bahwa Pak Tio terasa seperti berbeda ketika itu.
Ia tampak begitu fresh dengan air yang masih mengendap di beberapa bagian wajahnya.
Terutama pada bagian dahi.
Wajah nya yang putih mulus tanpa ada bulu - bulu yang tumbuh di sana, seperti putih bercahaya.
Mata ku seperti tersihir untuk terus menatapnya lebih dalam, entah mengapa rasanya tatapanku saat itu sangat susah dialihkan.
Aku melihatnya berbeda kala itu
Aura wajah nya yang cukup memikat
hatiku.
Menetapkan pandanganku padanya
'Ahhh
Kenapa aku seperti ini?'. Batin ku
Aku segera kembali ke kursi tempat duduk Pak Tio.
Mata ku sedikit melirik pada segelas minuman di depanku.
Aku melihat Pak Tio yang telah selesai dengan kegiatannya, ia lantas segera menghampiri mejaku.
Aku segera kembali menempati kursi yang diatas nya masih terdapat ransel ku.
Aku meminta izin untuk minuman itu bisa segera mengalir di tenggorokanku yang sedari tadi sudah sangat kering. Apalagi di ruangan ber AC seperti ini.
Aku fikir itu hanya es teh biasa tapi ternyata?
Minuman yang ku minum adalah es teh lemon kesukaan ku.
Walaupun aku bisa menebaknya ini adalah minuman instan serbuk. Namun aku rasa, cita rasa minuman ini tetap mendominasi teh dan lemon.
"Minuman itu, apa kamu suka?" Tanya Pak Tio sambil berjalan ke arah ku lalu duduk di kursi depan komputer.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum ke aranya.
"Tapi..kenapa bapak menyajikan minuman ini untuk saya?"
"Saya tahu, kamu suka dengan minuman itu.
Minuman favorite mu bukan?" Tanya nya sambil mengangkat sebelah alis nya yang tidak terlalu tebal.
Bagaimana dia bisa tahu itu adalah minuman favorote ku? aku tidak pernah memberitahunya.
"Sudah selesai kah?" Tanya nya sambil mengusap beberapa endapan air di dahi, pelipis dan dagunya.
Lalu mengecek komputer yang ada di depannya.
"Sudah Pak, tapi mohon maaf kalo ada typo.
Tapi, saya sudah memeriksa nya ulang," balasku sambil sedikit agak membungkukan badan agak ke depan.
"Nggak ada, ini udah betul semua.
Sebentar," Pak tio kembali mengotak - atik komputer nya. Entah apa yang ia lakukan, aku hanya menunggui nya sambil jari telunjuk ku sedikit mengetuk - ngetuk meja.
"Alhamdulilah ya allah," Pak Tio menyandarkan punggung nya pada kursi sambil menghela nafas lega.
"Alina..
Trimakasih banyak kamu sudah berkenan membantu saya.
Tadinya saya ingin mengajak kamu dengan Fikri, namun saya sudah tidak melihat Fikri di kampus.
Saya rasa..kamu dan Fikri cukup aktif"
"Oh Fikri tadi sudah pulang pak sebelum saya keluar.
Iya pak sama - sama, saya juga senang bisa membantu Bapak," balasku sambil menyunggingkan senyum pada Pak Tio.
"Masyaallah," lirihnya Pak Tio sambil menatapku kosong.
Pak tio mengusap wajah nya lalu turun mengusap dada nya.
"Astagfirullah"
Aku hanya mengerutkan keningku sambil menatapnya bingung.
"Kenapa Pak?"
"Ahh tidak apa - apa," aku melihat nya sedikit gelagapan ketika aku mempertanyakannya pada Pak Tio.
Aku sangat bahagia hari ini, bisa mempunyai waktu khusus dengan Pak Tio.
Tidak masalah bagiku bila aku selalu pulang terlambat karena ini, setidaknya aku merasa nyaman bila ada di dekat Pak Tio.
'Ahhh kenapa aku?..' Batinku
Aku segera menepiskan fikiranku yang mulai kacau.
(Tio)
Entah mengapa bila aku berada di samping mahasiswi ku ini, hati ku terasa damai.
__ADS_1
Padahal, aku tidak begitu mengenali nya.
'Ya allah, apa yang sedang aku fikirkan.
Astagfirullah'
Aku melihat ia tengah sibuk dengan ponsel nya, rambutnya yang tergerai rapih menambah karisma yang terukir di wajah nya.
Aku yang sedang berada di depan komputer, sesekali mencuri pandang kepadanya.
Tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Aku segera mempersilahkannya masuk.
"Maaf Pak, ini tolong diselesaikan sampai jam tiga nanti.
Karena sesudah itu, laporan akan segera di serahkan pada Pak Ferdian.
Saya menyelesaikan beberapa berkas yang masih harus di revisi ulang," ucap Prof. Wang dengan meletakan beberapa berkas ke atas meja ku.
Alina yang tengah sibuk dengan ponsel nya pun, hanya menoleh ke arah prof.wang dan aku yang tengah berbincang.
"Ahh iya.
Baik Prof, trimakasih," balasku
Prof. Wang hanya melihat aku dan Alina secara bergantian.
Lalu meminta izin untuk keluar ruangan ku yang hanya tinggal menyisakan aku dan Alina setelah meletakan beberapa berkas yang harus aku lengkapi hari ini.
"Barangkali ada yang bisa saya bantu Pak". Tanya Alina dengan meletakan ponsel nya sambil menatapku.
"Ahh sudah, saya tidak enak sudah merepotkan kamu. Kamu sudah boleh pu.." belum sempat aku menjawab, namun sudah duluan menyela ucapan ku.
"Tidak Pak, Bapak salah.
Saya sebagai seorang mahasiswi sangat merasa senang bila kinerja saya bisa sedikit membantu Dosennya"
"Ahahaha
Yasudah bila kamu berfikir seperti itu.
Ini saja, kamu tolong salin ulang data Dosen di kampus ini," ucapku sambil menyerahkan satu berkas yang tadi prof. Wang berikan kepadaku.
"Tapi pak..
Saya memakai komputer bapak? atau gimana?"
"Kamu ada bawa laptop gak?
Nanti flashdisk saya sambungin ke laptop kamu"
Alina hanya mengangguk lalu memutarkan badannya untuk mengambil laptop dari dalam tas ransel yang disandarkan pada kursi.
Aku memberikan flashdisk biru ku padanya, lalu ia segera menyambungkan pada laptop miliknya.
"Maaf Pak, ini file nya yang mana yah?" Tanya nya sambil memutar laptop nya menjadi mengarah kepadaku.
"Yang data Dosen," balas ku singkat.
Lalu aku meng klik file tersebut dan kembali menyerahkan laptopnya kembali.
Aku dan mahasiswi ku sudah seperti pekerja kantoran saja, dengan kesibukan kami pada sebuah layar komputer.
Dia terlihat sangat serius dengan laptopnya.
"Apa orang tua kamu nanti tidak marah kamu pulang terlambat?" Tanya ku yang memecahkan keheningan.
"Saya sudah memberitahunya Pak," jawab nya tanpa menatap ku yang terus sibuk dengan laptop nya.
(Alina)
Aku istirahat sebentar dari pekerjaan ku sambil menyeruput minuman lemon tea yang isinya sudah tinggal seperempat.
Aku masih melihat Pak Tio yang sedang sibuk dengan komputer nya.
"Astagfirullah," seru Pak Tio ketika salah satu bolpoin nya terjatuh ke lantai.
Ia segera memungut lantas meletakan nya kembali pada meja kerja nya.
"Ehemmm.
Maaf Pak, kalimat yang bapak ucapkan barusan, itu kalimat apa yah?
Sepertinya..bapak sering mengucapkan itu," tanya ku pada Pak Tio.
Ia menghentikan sejenak pekerjaan nya, lalu menoleh ke arah ku.
"Dalam islam, kalimat itu adalah yang bila mana kita terkejut, dianjurkan untuk mengucapnya"
"Lalu, untuk ibadah dalam agama islam?"
"Seperti yang tadi saya lakukan.
Waktu pagi, siang, sore, menjelang malam, dan malam.
Dan sebelum melaksanakan shalat, seorang muslim dan muslimah diwajibkan untuk membersihkan diri dari hadast terlebih dahulu. Atau yang dinamakan dengan 'BERWUDHU"
"Ya ampun..
Pasti..saya tidak akan sanggup melakukannya"
"Kata siapa?
Sesuatu yang dijalankan secara rutin. Walaupun terpaksa, pasti nanti bisa terbiasa. Saya melakukan kewajiban saya sebagai seorang muslim, itu karena saya sudah mendapatkan pendidikan khusus tentang agama dari saya kecil.
Saya diharuskan melakukan ini ketika waktu belia, sehingga..sekarang saya sudah terbiasa dan dengan sukarela melakukannya"
"Karena islam tidak pernah mengajarkan keterpaksaan?"
"Betul, darimana kamu tahu?"
"Prof. Wang yang memberitahu saya.
Sebentar, itu artinya..bapak mengetahui bahwa saya.."
"Seorang atheis!" Ucap nya sambil tersenyum.
Bagaimana dia bisa tahu? sedangkan aku tak pernah memberitahunya sama sekali.
Apalagi privasi ku yang seperti ini.
Lantas aku segera menanyakan rasa penasaran ku padanya.
"Waktu itu..
Saya tak sengaja melihat biodatamu saat bersama Prof. Wang.
Awal mula nya, saya cukup tidak menyangka.
Tapi..sudah lah mungkin itu sudah menjadi bagian dari hidup kamu"
Aku hanya mengangguk dan sedikit was - was. Aku takut hal ini akan diketahui banyak orang. Dimana harga diriku nanti?
Aku meminta Pak Tio untuk merahasiakan hal ini dari semua orang, dan dia pun menyetujuinya.
"Oh iya..
Bapak sudah berapa tahun menjadi Dosen?" Tanyaku
Entah mengapa aku yang selalu ingin tahu tentang latar belakang nya.
Menurutku, Pak Tio seorang yang murah hati, selalu menjawab pertanyaan apapun yang aku lontarkan, bahkan hanya untuk pertanyaan- pertanyaan yang menurutku sepele.
"Mungkin..sudah sekitar empat tahunan"
Aku sampai lupa dengan pekerjaan ku karena perbincangan kami yang cukup serius, aku segera menyelesaikannya dan mengembalikan flashdisck biru pada sang pemiliknya.
Pak Tio mengucapkan trimakasih sampai berulang kali karena aku telah bersedia membantunya.
Aku pun hanya bisa mengucapkan kalimat yang tepat untuk melengkapi pertanyaan nya.
Allahuakbar allahuakbar
Terdengarlah suara yang cukup keras dari luar ruangan Pak Tio.
Aku memang sering mendengar suara itu. Namun, aku tidak mengetahui apa artinya.
Pak Tio segera mengangkat kepala nya, lantas mengucapkan sesuatu.
"Alhamdulillah," ucapnya sambil mengusapkan kedua telapak tangan pada wajah nya.
Lalu aku melihat nya tertunduk dengan mata yang terpejam.
Aku hanya menatapnya bingung dengan apa yang ia lakukan, yang menurutku cukup aneh.
"Pak
Bapak kenapa?
Bapak sakit yah?" Ucap ku yang merasa khawatir dengan kondisi nya yang tidak bergeming sama sekali.
Ia tak menjawab pertanyaan ku, melainkan hanya diam sembari tertunduk dengan mata terpejam.
Suara itu masih terus terdengar.
Sampai beberapa saat kemudian, suara yang cukup aneh menurutku itu, telah berhenti.
Pak Tio kembali membukakan mata nya dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf Alina.
__ADS_1
Saya tidak bermaksud pura - pura tidak mendengar ucapan kamu tadi, hanya saja..
Seorang muslim diberhentikan berbicara sejenak ketika mendengar suara azan," jelas nya.
"Azan?"
"azan itu merupakan panggilan ibadah bagi umat islam untuk menunaikan shalat fardu lima waktu yang saya jelaskan tadi.
Azan dikumandangkan oleh muadzin," jelasnya
Entah mengapa aku yang tadi nya sama sekali tidak ingin mencari tahu informasi tentang islam, kini informasi tersebut seperti berusaha untuk membuat aku mencari tahu nya lagi lebih jauh.
Semenjak pertemuan ku dengan pak tio, aku menjadi sedikit lebih tahu tentang islam.
Hati ku tak menolak, jika dibandingkan dengan Ibuku yang selalu memperingatkan ku pada tuhan, tapi ini lain hal nya ketika pada Dosen ku.
Sebenarnya, aku ingin mempertanyakan apa itu muadzin.
Namun aku mengurungkan niatku.
Aku rasa, itu tidak penting.
Hanya membuang - buang waktu saja.
"Saya akan pergi ke masjid dulu sebentar, untuk melaksanakan shalat." Ucap nya sambil beranjak dari kursi lalu berjalan ke tempat dimana ia shalat tadi.
Ia lantas mengambil sebuah seperti tutup kepala berwarna hitam.
Tapi, itu bisa terlipat.
Jadi Pak Tio hanya menggengam nya tanpa harus terlebih dahulu memakainya.
"Saya ikut Pak," ucapan ku tiba - tiba menghentikan langkah Pak Tio, ia segera menoleh ku dan hanya mengangguk sembari tersenyum.
Aku pun segera mengikuti langkah nya keluar tanpa membawa tas ransel ku dan handphone.
"Pak, kok gak bawa mobil?" Tanya ku dari arah belakang Pak Tio yang berjalan memunggungiku.
"Tempatnya dekat, ngapain harus bawa mobil?
Buang - buang bensin saja," balas nya sambil terkekeh.
Aku yang mendengar jawabannya barusan, hanya tertawa kecil dan berfikir, Pak Tio orang nya hemat juga.
Kini aku dan Pak Tio telah sampai di sebuah tempat dimana tempat itu, banyak sekali orang - orang yang hendak melaksanakan kegiatan seperti Pak Tio tadi.
Bangunan nya tidak terlalu luas, tapi terlihat sangat bersih dan rapi dengan cat berwarna putih kombinasi emas.
Apalagi, aku melihat di atas atap nya terdapat sebuah nama singkat dengan tulisan bahasa arab.
Di dinding bangunan itu pun, terdapat sebuah tulisan menggunakan bahasa arab yang berjejer rapih di bagian agak atas dindingnya.
Aku cukup mengagumi nya dan melihat sekeliling bangunan itu yang menurutku, cukup indah.
Tak lupa halaman bangunan itu terdapat sebuah air mancur di depannya, dan di sekeliling nya berdiri sebuah pagar yang setiap permeter nya dihiasi lampu putih yang belum menyala terletak di atas pagar besi itu.
Aku hanya melihat Pak Tio yang tengah melepaskan sepatu dan kaus kaki nya sambil terduduk.
Aku juga banyak melihat orang - orang yang memasuki bangunan itu tanpa mengenakan alas kaki.
Lalu datanglah seseorang yang hendak menghampiri Pak Tio.
"Asalamualaikum," ucap seseorang itu yang berdiri di belakang Pak Tio.
"Waalaikumsalam.
Eh ustadz." Balas Pak Tio dan hendak menyalami seseorang itu.
Wajah nya begitu bersih walaupun dengan warna kulitnya yang sawo matang dengan sedikit garis - garis diwajahnya. Namun seperti terlihat bercahaya sama seperti aku melihat Pak Tio pada saat melaksanakan shalat.
Walaupun usia nya yang ku taksir sudah melebihi usia Pak Tio, namun keriput di wajah nya hanya terlihat sedikit.
Ia mengenakan baju putih dengan pelat biru tua serta tutup kepala yang sama persis seperti tadi Pak Tio bawa.
Dibahunya tersampai kain yang terlipat dan tangan nya memegang seperti sebuah gelang namun beruntui beberapa butir mute.
Entahlah, aku tak tahu itu namanya apa.
"Loh, yo? Ini siapa?" Tanya seseorang itu sambil melihat ke arah ku.
"Oh, ini mahasiswi saya ustadz," balas Pak Tio.
"Sa..saya Alina," ucap ku sambil menyodorkan tangan pada orang itu.
Namun, dia hanya menempelkan telapak tangan kanan dan kirinya lalu meletakan di depan dadanya sambil tersenyum dan sedikit membungkukan kepala nya kepadaku.
Aku lantas menarik kembali tanganku.
"Maaf,
Saya Ali Syidiq Ibrahim," balasnya sambil tersenyum.
Senyum nya yang begitu tulus dan menyejukan hati.
"Ohhh," ucap ku sambil mengangguk dan membalas senyuman nya.
"Antum tidak masuk?" Tanya ustadz Ali.
"Sa.." belum sempat aku menjawab, tiba - tiba Pak Tio dengan cepat menyela ucapan ku.
"Alina sedang tidak shalat ustadz," sela pak tio
Ustadz ali hanya mengangguk lantas izin pamit untuk memasuki tempat itu duluan.
Aku dan Pak Tio hanya mengangguk
"Pak, kenapa Bapak?" Tanya ku dengan kalimat yang terpotong.
"Kamu tunggu disini sebentar sampai saya selesai, setelah itu.
Saya akan mengajak kamu untuk makan," ucap nya sambil meninggalkan ku seorang diri.
Aku hanya menatap punggungnya yang telah berlalu dari hadapanku, lalu aku duduk di lantai sambil menunggu Pak Tio selesai.
Aku hanya menunggu Pak Tio yang tengah melaksanakan shalat, aku menunggunya di teras luar bangunan itu.
Sudah beberapa menit aku menunggu, namun Pak Tio belum kunjung usai dengan kegiatannya.
Aku melihat banyak orang yang berlalu lalang. Mungkin, mereka juga akan melaksanakan shalat seperti Pak Tio.
"Pake kain panjang gitu emang gak panas apa?" Gumam ku ketika aku melihat banyak sekali perempuan- perempuan yang mengenakan kain panjang yang menutupi kepalanya sampai ke pinggang, bahkan ada juga yang sampai ke paha.
Mereka yang aku lihat, selalu berjabat tangan ketika berpapasan dengan orang yang mungkin mereka kenal.
Senyum ramah nya selalu terpancar dari wajah mereka kala tengah berjabat tangan.
'Apakah memang islam sedamai itu?' Batinku.
"Alina, kamu sedang apa disini?"
Tiba-tiba suara seorang laki-laki menyapa ku ketika aku sedang sibuk memperhatikan banyak orang yang berlalu lalang.
Laki-laki itu mengenakan kacamata minus sambil berdiri di dekatku.
Aku segera menoleh dan berdiri di hadapannya.
"Ahh.. Prof, aku sedang menunggu Pak Tio shalat," balas ku yang sedikit canggung.
"Ohhh yasudah, saya.. masuk duluan," ucap Prof. Wang lalu berjalan memasuki bangunan itu.
Aku masih berdiri sambil melipatkan kedua tanganku di depan dada.
Panas matahari begitu terik hari ini, bulir keringat yang ada di pelipis ku masih berjatuhan secara bergantian.
"Ehemm"
"Pak Tio?" Ucapku dengan agak sedikit terkejut ketika Pak Tio sudah berdiri tepat di belakangku.
Pak Tio mengajak ku untuk menemaninya makan siang.
Karena sedari tadi, ia belum mengisi perutnya dikarenakan ada tugas khusus yang mengharuskan ia menunda makan siang nya.
Aku dan Pak Tio berjalan beriringan kembali menuju ke kampus.
"Kamu.. kenal betul dengan Prof. Wang?" Tanyanya yang tanpa menoleh ke arahku.
"Ohh
Enggak si pak, cuma baru kenal akhir-akhir ini aja"
Pak tio hanya mengangguk.
"Pak, memangnya kenapa kalo seorang muslim tidak melaksanakan shalat seperti yang tadi bapak lakukan?"
"Ya berdosa"
"Berdosa?"
"Seperti yang dijelaskan dalam HR. Muslim no. 257
(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim no. 257)
Ya contoh kecil nya seperti ini.
Kamu mengambil pendidikan di kampus Pradasibya, pasti didalamnya terdapat aturan tersendiri bukan?
Nah, kalo kamu melanggar, pastinya kamu kena teguran bahkan, bisa saja kamu di drop out"
"Ada penjelasannya juga?
Oh iya juga sih Pak," balas ku sambil menyibakan rambut ku yang terkena hembusan angin yang cukup kuat.
__ADS_1
Sesuatu yang dijalankan secara terpaksa, lama kelamaan pasti akan terbiasa.
Dan akan menjadi sukarela untuk melakukannya``).