Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
3. Caffe Farmala


__ADS_3

Kelas ku kini telah selesai, aku menelfon Pak Gusdur agar tidak menjemput ku.


Aku sengaja menunggu seseorang yang ingin ku temui di parkiran kampus.


Aku celingak-celinguk tak jelas, panas matahari mampu membuat rambut pirang ku menjadi lepek dan terasa agak panas.


Samar-samar dari kejauhan, aku melihat seseorang yang tak lain itu adalah Dosenku, Pak Tio.


Aku segera berlari menghampirinya serta menghentikan langkah nya.


"Ma..maaf pak, saya ingin bertemu bapak sekarang, apa bapak ada waktu?" tanya ku dengan ragu sambil memayungi kepala ku dengan buku.


Aku sedikit menengadah saat berbicara dengannya, dikarenakan tubuh nya yang tinggi dan atletis menurut ku.


"Mmm sebenarnya saya akan keluar untuk makan siang, dan setelah ini saya akan mengikuti rapat dengan Dosen yang lainnya," balas nya dengan mata menyipit karena panas mentari yang warna nya cukup kuning pekat.


"Saya ikut saja boleh kan pak?" tanyaku lagi dengan tanpa rasa malu.


"Baiklah, ayo!" balas nya singkat.


Pertama kali aku menaiki mobil pak Tio, dan duduk di samping nya.


Didalam hati, aku sangat merasa bahagia bila ada di dekat nya.


Entah mengapa, dan karena apa.


Bila didekat mu


Hatiku selalu tersenyum


Entah mengapa


Dan karena apa


aku bisa menjadi demikian.


Rasa yang timbul menyeruak dalam dada


Ingin rasa nya aku mengungkapkan yang


sebenarnya.


"Ahhh kenapa aku bisa seperti ini!" batinku kesal.


Aku berusaha menepiskan fikiran-fikiran buruku yang mulai tidak terkontrol.


Suana di dalam mobil ini begitu hening, hanya suara mesin yang terdengar.


Percakapan pun tak kunjung di mulai, ingin rasa nya aku menyapa nya.


Namun, aku takut bila ada perkataan ku yang kurang sopan terhadapnya.


Apalagi dia adalah Dosen bahasa inggrisku di kampus, dia selalu mengingatkan bahwa Atitude is nomber one pada saat setiap kali ia mengajar, ia tak pernah bosan mengingatkan hal itu pada semua mahasiswa dan mahasiswinya.


Dengan itu, aku memlilih untuk diam, dan untuk mengusir rasa bosan ku, aku mengeluarkan ponsel berlogo apel dari dalam saku blazer hitam yang aku kenakan.


"Kamu udah makan?" tanya nya.


Dengan refleks, aku langsung menoleh ke arah nya.


"Ahh sudah pak tadi waktu di kantin," balasku berbohong.


Pak Tio hanya menganggukan kepala nya dan mata nya kembali terfokus untuk menyetir mobil nya.


Grrrrllluuuukkkkk


Tiba-tiba, suara perut ku terdengar menandakan cacing-cacing di dalamnya tengah berdemo.


Aku hanya menelan ludah ku dalam-dalam.


Pak Tio menoleh ke arah ku sambil sedikit menahan tawa nya.


Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Aku sangat kesal, mulut dan perut ku sangat tidak bisa diajak berdiskusi.


Aku mencoba mengendalikan rasa amarahku.


Rasa malu tentu saja yang sedang aku rasakan saat ini karena telah berbohong pada Dosen ku sendiri.


Tapi sejujurnya, aku sedikit terpikat dengan pesona senyum nya yang terlihat dari samping.


Apalagi dengan hidung nya yang mancung, ahhh sungguh membuat hati ku resah.


Setelah beberapa menit kami berada di dalam mobil, akhirnya Pak Tio memarkirkan nya disebuah parkiran cafe.


Disana tertulis FARMALA CAFE yang tulisan nya cukup jelas tertampang di dinding atas


Bangunan cafe itu sendiri.


Aku dan Pak Tio berjalan memasuki cafe itu, Pak Tio mempersilahkan aku berjalan di depan nya. Namun aku menolak, aku merasa itu adalah hal yang kurang sopan bagi ku.


Maka dari itu, ia berjalan di depan ku, sementara aku mengikutinya dari belakang.


Cafe itu didominasi dengan cat dinding berwarna coklat muda dan cream.


Lampu-lampu terang yang menggantung dan berjejer rapih menjadi daya tarik cafe farmala.


Tak lupa juga disediakan tempat untuk spot berfoto. Yang dimana, ruang nya cukup kecil. Namun, lampu dan kursi khusus nya yang membuat ruang itu semakin terlihat cantik.


Tempat yang disediakan nya pun cukup insagrameble.


Meja dan kursi yang tertata rapih serta lantai nya yang cukup berkilau, para pelayan yang tengah sibuk mengantarkan pesanan ke setiap meja menjadi satu pemandangan di caffe itu.


Aku dan pak Tio duduk di meja no.14


Kami duduk dengan posisi saling berhadapan.


Aku cukup gugup dibuatnya, aku hanya melihat sekeliling cafe itu guna menghindari tatapan dari Pak Tio.


Ia merapihkan kerah kemeja dan membenahkan posisi duduk nya menjadi lebih nyaman.


"Silahkan Pak, buk!" ucap salah seorang pelayan di cafe itu sambil menyerahkan buku daftar menu pada Pak Tio.


Aku sontak membulatkan mata ku dan menatap tajam pelayan cafe itu dengan kesal.


Bagaimana tidak? usia ku yang cukup muda ini, masih dibilang buk?.


Oh tidak, aku kurang beruntung hari ini.


Pak Tio yang menatap ku tengah merasa kesal pada pelayan cafe itu, ia hanya tersenyum.


Ia lanjut memilih menu yang akan menjadi hidangan makan siang nya hari ini.


Ia memilih menu nasi goreng seafood dengan minuman lemon tea. Tak lupa ia menanyakan kepadaku menu apa yang akan aku pilih.


Aku hanya menunjuk ramen mashroom serta minuman nya sama dengan yang Pak Tio pesan.


"Maaf mas, saya masih muda lho.


Masa dipanggil Ibu!" protes ku pada pelayan cafe itu sambil mengerucutkan bibirku dan melipatkan tangan di depan dada.


"Oh maaf mbak, saya kira mas dan mbak nya ini suami istri," balas pelayan cafe itu dengan sopan dan terlihat agak merasa bersalah. Namun aku heran melihat wajah nya yang tampak seperti puas telah mempermalukanku. Huh!


Aku dan Pak Tio hanya saling menatap, dan


Tentu saja aku terkejut.


Aku tersenyum paksa kala mendengar jawaban si pelayan cafe itu.


Aku begitu malu dibuatnya, semakin hati ku tak karuan menampung rasa gugup ku hari ini.


"Dia mahasiswi saya.


sudah mas, mas boleh melanjutkan pekerjaannya," ujar Pak Tio dengan santai nya sambil mempersilahkan pelayan cafe itu untuk meninggalkan meja kami.


Aku sangat berharap pelayan cafe sialan itu segera enyah dari sampingku.


Aku semakin kikuk dengan suasana seperti ini, sampai hampir lupa tujuan ku untuk bertemu dengan Pak Tio.


Aku mengambil sebuah buku novel dari dalam tas ransel ku yang terletak di bawah samping kursi.


"Maaf pak.


Tujuan saya bertemu bapak, saya ingin mengembalikan buku novel Bapak yang ini,"

__ADS_1


Aku menyodorkan sebuah buku pada pak Tio, lalu Pak Tio pun mengambil nya sambil menatap ku bingung.


Ia menanyakan mengapa buku novel milik nya bisa ada padaku.


Aku hanya menjelaskan, bahwa buku novel itu terjatuh kemarin pada saat Pak Tio hendak pulang dengan terburu-buru.


Dia hanya mengangguk dan mengucapkan trimaksih padaku.


Aku pun tersenyum untuk membalas rasa terimakasih nya.


"Memang nya..


Kamu keberatan bila orang mengira saya dan kamu adalah sepasang kekasih?"


Darah ku tiba-tiba berdesir


Bagai dihantam petir di siang bolong.


Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan itu dan cukup membuat ku bingung. Aku tak tahu harus menjawa apa, aku dibuat kikuk lagi dan merasa tak berdaya oleh nya.


Aku pura-pura membenahkan posisi duduk ku yang sudah benar.


"Ma... maksud saya... "


Belum sempat aku menjawab, kembali menyela ucapanku.


"Lupakan.


Do you like the novel?" tanya nya yang mengalihkan pembicaraanku.


Aku hanya menggeleng.


Lalu dia menaikan alis sebelah kiri nya.


"Why?" tanya nya sambil menaikan sebelah alisnya yang tidak terlalu tebal, namun terlihat rapi menghiasi wajah nya.


"Pasti... isi nya tentang Tuhan,"


"Apa kamu tidak berniat untuk mencari informasi tentang itu?"


Aku sedikit bungkam dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, apa mungkin Pak Tio mengetahui bahwa aku seorang atheis? tapi bagaimana mungkin? sementara hanya keluarga ku dan Dela yang mengetahui akan hal ini tentang ku.


Aku bingung memberikan jawaban untuk melengkapi pertanyaan Pak Tio.


"Apa bapak tahu hal ini?"


"Ya,"


Aku membulatkan mata ku dengan mulut menganga.


Aku begitu terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.


"Dari mana Bapak tahu?"


"Waktu itu... saya pernah memberikan kertas biodata, pada semua mahasiswa dan mahasiswi saya bukan?"


Aku menempelkan telapak tangan di kening ku dan sesekali mengusap wajah ku pelan.


Aku menghela nafas sejenak, lalu aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya tentang diri ku.


Ibaratkan maling yang sudah terpergoki, aku hanya pasrah dan mengatakan dengan jujur padanya.


Namun anehnya, ia begitu tampak biasa saja.


Jangankan berkata 'HAH' ekspresi terkejut pun tak tampak timbul di wajah nya.


Menurutku, dia tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara. Bilamana ia berbicara, maka itu hanya seperlunya saja.


"Jadi..selama ini kamu sering mengonsumsi makanan dan minuman seperti daging babi, bir, atau yang lainnya?"


Mengapa dia menanyakan hal ini padaku?


Sungguh pertanyaan yang sangat konyol fikirku.


"Sementara waktu ini, saya tidak pernah mengonsumsi makanan yang minimal nya tidak membahayakan kesehatan tubuh saya"


"Sebentar, sementara waktu?


Itu artinya, kamu masih berharap bisa menemukan sesuatu bukan?"


Ia bukan peramal, bukan juga dukun.


Tapi mengapa ucapan nya seperti bisa memprediksi keadaan hati dan perasaanku?


Bagaimana mungkin?


Pelayan itu pun kembali mendatangi meja dengan membawa sebuah nampan berisikan menu hidangan yang tadi aku dan Pak Tio pesan.


Aku sedikit meliriknya sebal karena kejadian tadi, pelayan cafe itu cukup membuatku malu di depan Pak Tio.


Tapi..beruntungnya pelayan itu datang tepat waktu, jadi aku tak perlu menjawab pertanyaan Pak Tio tadi.


Aku menghembuskan nafasku sambil tangan ku sedikit mengusap dada.


Pak Tio mempersilahkan aku untuk segera menyantap makanan yang ada di atas meja kami.


Aku mengangguk sembari tersenyum, lalu memutar-mutar garpu ku pada mie ramen kemudian melahap kan nya ke dalam mulut ku.


Aku melihat Pak Tio tidak langsung menyantap makanannya, mata nya terpejam sambil mulut nya berkomat-kamit seperti merapalkan sesuatu.


Ia mengusapkan kedua telapak tangan pada wajah nya.


Lalu, barulah setelah itu ia menyantapnya dengan perlahan.


Aku kembali melanjutkan makan ku dan tak ingin memikirkan hal yang lebih jauh tentang nya.


"Maaf Pak saya..pernah membaca sebuah kalimat pada halaman terakhir novel itu.


'Akan sangat rugi bagi mereka diluar sana yang tak mengenal tuhannya, sungguh bagiku itu adalah kerugian terbesar dalam hidup'


Kalimat itu..maksudnya apa yah?"


Pak Tio sejenak menghentikan makan nya, ia menatap bingung ke arah ku.


Ia meletakan sendok dan garpunya pada piring yang berisikan nasi goreng seafood.


Ia menghela nafasnya sejenak, dan menyandarkan punggung nya pada kursi.


"seperti ini


Diibaratkan seseorang itu adalah rumput liar yang tertanam di tanah.


Tanpa ada yang merawatnya, maka ia akan tumbuh disembarang tempat. Dan tanpa dirawat dengan layak, ia akan mati begitu saja,"


Aku sangat merasa tertampar dengan jawaban Dosen ku yang cukup mendalam makna nya.


Memang hanya digambarkan dengan sebuah pengibaratan, namun aku cukup memahami nya dan tak perlu memintanya untuk menjelaskan lebih jauh.


Perasaan ku menjadi gundah. Dan terkadang, rasa sesal pun selalu menjadi yang utama hinggap di hati ku.


Aku terkadang selalu memikirkan alur hidup ku yang begitu tak beraturan.


Masalah yang kian tak berujung, dan bahagia yang tak cepat-cepat datang menyapa.


"Seseorang yang jauh dari tuhan nya, ia akan selalu mendapat kesialan hidup. Apalagi yang tak mempercayainya sama sekali,"


Tak terasa jam tanganku sudah menunjukan pukul 02.37.


Pak Tio telah pamit kembali ke kampus untuk melaksanakan rapat nya dengan dosen yang lain.


Sementara disini, aku begitu kesepian.


'Apakah ini yang dinamakan hidup?


Pahit manis selalu menjadi bumbu utamanya.


Alur cerita yang kian rumit menjadi sebuah pelajaran untuk kita bisa hidup lebih baik lagi'


"Lin?"


Suara seorang laki-laki yang cukup membuyarkan lamunanku.


Aku segera menoleh ke belakang dan mendapati Fikri yang tengah berdiri di belakangku.


Ia mengenakan hodie hitam bertupluk dengan celana panjang berwarna cream.

__ADS_1


Tubuh nya yang melebihi tinggi badan ku, dan kulit nya yang berwarna kuning langsat dengan rambut rapih yang tersisir ke arah kiri.


Bibir nya yang sensual dan hidung nya yang mancung juga alis nya yang sedikit tipis, menjadi pusat keindahan laki-laki itu.


Ia kemudian duduk di kursi yang tadi Pak Tio tempati. Ia hanya memesan secangkir ice cofe tanpa memesan menu makanan yang lain nya.


Ia juga sempat menawariku, namun aku menolak nya dengan sopan.


"Eh lin, udah kumpulin tugas dari Pak Ferdian belum?" tanyanya yang membuka pembicaraan.


"Ehh...eee udah, kamu?" tanya ku kembali


Fikri hanya menggelengkan kepala nya sambil terlihat sedikit lesu.


Ia hanya menjelaskan bahwa tugas yang diberikan oleh Pak Ferdian, cukup menguras otaknya, ia lebih memilih untuk tidak segera mengerjakannya.


Aku hanya terkekeh mendengar mendengar setiap cerita-cerita nya yang menurut ku itu cukup lucu.


"Mmm Fik, sebenarnya..


Seberapa berharga Tuhan di mata kamu?"


Pertanyaan ku cukup membuat Fikri yang tengah meminum kopi nya menjadi tersedak.


Aku mengambilkan tisu untuknya.


Sejujurnya, menanyakan hal ini pada fikri adalah kunci membuka kepribadian ku sebenarnya.


Namun aku hanya berharap, aku bisa mendapat jawaban yang tepat dari nya.


"Buat aku..


Tuhan adalah segala nya.


Dia adalah titik pusat tujuan hidupku selama ini. Dia satu-satu nya seseorang yang tidak pernah meninggalkan ku dalam keadaan terpuruk sekalipun.


Aku bebas meminta apapun darinya, menangis dalam sujudku untuk menyampaikan keinginanku.


Dia adalah skenario yang mengatur tata alur kehidupanku.


Yah malah curhat kan?


Emang nya kenapa sih?"


"Ahh enggak, ini mau dijadiin ide buat novel yang mau aku terbitin bulan depan,"


"Ohh gitu.


Wahh hebat lin


Boleh dong nanti novel nya satu,"


Untungnya, jawaban ku mampu mengalihkan fikiran Fikri dan sama sekali tidak mencurigaiku.


"Oke siap, nanti kalo udah terbit aku kasih kamu satu,"


"Yesss,"


Perbincangan ku dengan Fikri, teman kuliah ku cukup mengasyikkan ternyata.


Ia laki-laki yang menurutku...


Sederhana, namun setiap kata yang diucapkan mulutnya, mampu menyihir si pendengarnya.


Aku semakin bersemangat saat ia bercerita tentang masalah hidup nya dan kondisi yang ia alami sekarang.


"Intinya, jangan pernah mencari sesuatu yang belum begitu kamu niatkan.


Cari keinginanmu terlebih dahulu, lalu sampaikan pada sang pembuat kehidupan.


Minta izin kamu untuk bisa merasakan suasana yang kamu harapkan itu,"


Setelah cukup lama kami bercerita, dia menawarkan diri untuk menghantarkanku pulang.


Aku kemudian menyetujuinya dan tak lupa mengucapkan trimakasih pada nya.


"Aku sempat melihat mu dengan Pak Tio di cafe tadi?"


Aku segera menoleh pada Fikri.


Aku hanya menjawab jujur dan mengatakan bahwa aku hanya kebetulan bertemu dengan nya.


Fikri pun menerima jawaban ku dan tak tampak begitu mencurigaiku.


Ia kembali fokus dengan setir nya.


Tak lama setelah itu, sampailah kami di halaman depan rumah ku yang bertingkat dan begitu megah bernuansa putih.


Rumah itu di design khusus arsitekur belanda yang bernama Mr. Lee, teman SMA ayah ku dulu uang berprofesi sebagai Arsitek.


Taman kecil namun sangat rapi yang terletak di bagian samping depan rumah ku, dengan di dalam nya terdapat bunga dan tanaman yang didominasi hijau.


Rumput hijau yang terhampar rapi bagai permadani yang menghiasi taman itu.


Serta kolam untuk ikan koi yang terletak di sebelah kanan depan rumahku.


Mulai dari penataannya, semua itu di atur oleh Mr. Lee.


Dulu... ia sering mengunjungi rumah ku.


Namun, setelah beberapa tahun terakhir ini, ia sangat jarang bertemu dengan ayahku.


Bahkan, kedatangannya ke rumahku bisa dihitung oleh jari.


Fikri pun sempat tertegun dengan kondisi halaman dan rumah ku yang cukup megah dan mewah.


Dari pintu utama, Kak Fian mengamati aku dan Fikri dari kejauhan.


Ia kemudain menghampiri kami berdua.


"Fikri?"


Kak Fian ternyata mengenali Fikri, ia mengajak berbicara sebentar pada Fikri dan telah menyisihkan aku.


Aku kemudian berpamit pada mereka berdua untuk duluan memasuki rumah.


Sementara mereka, hanya terlihat sibuk dengan obrolan nya yang tampak begitu mengasyikkan.


Aku menghentakan kaki ku dan langsung masuk ke dalam rumah dengan sedikit membantingkan pintu.


Aku berdecak kesal, tapi untunglah


Kak Fian tidak memarahiku yang telah pulang terlambat.


Aku sudah mengganti baju ku hanya dengan kaos putih pendek bertuliskan UNDERSTAND dan celana jeans pendek se lutut.


Aku menikmati secangkir lemon tea dan kue nastar di atas meja depan sambil menonton kartun favorite ku di saluran tivi.


Kak Fian kini kembali, nampaknya...


Dia sudah selesai berbincang dengan Fikri, teman kuliahku di kampus.


Ia duduk di samping ku sambil menyeruput kopi nya yang telah dingin.


"Kak Fian kenal sama Fikri?" tanya ku tanpa menatap wajah kak Fian.


Rupanya, Fikri Indra Gunawan adalah karyawan perusahaan WESTERLY GROUP milik Ayahku.


Dia bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan hidup nya selama ia tinggal di jakarta untuk menempuh pendidikan.


Aku membenahkan posisi duduku menjadi menghadap padanya, aku merasa tertarik dengan cerita kakak ku tentang Fikri.


Menurut kakak ku, dia adalah seorang karyawan yang cukup gigih serta efisien dalam bekerja.


Terkadang, ia selalu pulang malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaan nya sebagai seorang karyawan perusahaan.


Aku semakin tertarik mendengar ceritanya. Namun yang anehnya, Fikri tidak menceritakan hal ini pada saat kami bertemu tadi siang di cafe.


Jujur, aku merasa malu dengan keprihatinan Fikri sebagai seorang mahasiswa yang rela kuliah sambil bekerja.


Sementara aku? hanya tinggal kuliah tanpa memikirkan biaya untuk aku hidup.


Seseorang yang tidak mengenal tuhan, ia di ibaratkan seperti rumput liar yang tumbuh di sembarang tempat.


Bila tidak ada yang merawat, maka ia akan mati begitu saja``).

__ADS_1


__ADS_2