Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
8. Ujian yang menyakitkan 2


__ADS_3

(Alina)


Aku mengamati kedua ranjang rumah sakit yang cukup memilukan hatiku. Mengingat akan kejadian tempo hari dimana pada saat itu, adalah hari paling buruk bagiku. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupku, kini hanya terbaring lemah. Raganya memang tengah bersamaku, tapi sukmanya? Aku tak dapat menemukan keberadaan nya. Dua tangan yang ditumpukan di atas perut, serta beberapa selang yang menempel di tangan dan hidungnya, cukup membuat hatiku semakin teriris. Mata ku berkaca-kaca, aku tak kuasa menahan tangis yang kerap kali menghampiri setiap detik waktuku.


Aku menyandarkan punggungku ke senderan kursi sambil kepalaku menengadah ke atas langit.


"Aku tidak akan membiarkan orang itu selamat!" Umpatku penuh dendam pada ketiga perampok yang sudah melukai kedua orang tua ku.


Aku beranjak dan menghampiri kedua orang tua ku di ranjang rumah sakit. Aku menggeser kursi yang terletak diantara kedua ranjang tersebut.


"Mah, Mama harus bangun," ucapku dengan tersenyum tipis sambil memegang tangannya yang putih serta tertempel sebuah selang infusan.


Aku membalikan kursi ku menjadi menghadap Ayahku, dan tentunya membelakangi Ibuku.


"Pah, Papah harus bangun. Katanya.. mau liat Alina shalat?" Aku menyeka air mata ku sejenak.


"Papah masih inget gak waktu Alina kecil, Papa sering beliin Alina mainan gelembung.


Nanti kalo Papa udah sembuh, Alina mau main gelembung lagi sama Papah.


Alina akan menepati janji Alina waktu itu."


Aku masih mengamati perutnya yang terus naik turun bergantian.


Cklak


Pintu ruangan ini terbuka, namun aku tidak menghiraukannya.


"De.. makan dulu yah," suara seorang laki-laki yang tak lain adalah Kakak ku.


Aku membalikan badanku sejenak, aku melihat di tangan kirinya terdapat sebuah kantong kresek berwarna putih.


Aku kembali mengalihkan pandanganku, dan segera membalikan badan.


Kak Fian hanya mendesah berat, ia kemudian berjalan menuju sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang rumah sakit.


Ia menaruh kantong kresek di samping tempat duduknya, aku bisa merasakan bahwa ia tengah mengamatiku.


Aku hanya pasrah menghampiri Kak Fian di sofa. Aku harus menghargai tindakannya, apapun itu. Lalu aku duduk di sampingnya.


"Kak? Sepertinya.. Kak Fian terlihat baik-baik saja melihat Mama dan Papa dengan kondisi sekarang?" Tanyaku tanpa menatap wajahnya.


"Kata siapa?" Tanya nya ketus


"Ya..."


"Denger ya de. Kakak kayak gini, bukan berarti Kakak gak bisa nangis kayak kamu. Kakak berusaha untuk meredam emosi Kakak. Dan itu gak mudah de. Kalo misalkan Kakak terus nangis, dan kamu juga nangis, siapa yang akan menenangkan salah satunya?"


Ucapannya memang benar, namun aku begitu bersikeras untuk mengetahui keadaan hati nya saat ini.


"Tangis seorang wanita, bukan menandakan hatinya lemah, hati nya rapuh. Namun semua itu karena hati nya memang lembut dan masih berperasaan.


Dan tegarnya seorang laki-laki, suatu saat ia pasti akan menangis. Perempuan dan laki-laki bukanlah sebuah lawan yang pantas dipertandingkan. Setiap jenis, memiliki penjiwaan yang berbeda. Kamu harus tahu itu Lin!" Sambungnya menaikan nada suaranya.


Hati ku memuji akan ketabahan hatinya menghadapai ujian yang seperti nya aku saja tidak bisa lewati. Aku cukup terkagum akan penjelasannya, namun aku pura-pura tak mengerti.


"Tidak ada kehidupan yang sempurna. Bila seseorang mengatakannya, dia sedang berada di atas kesuksesan,"


"Heh! Itu kan caption yang ada di novel aku,: protes ku kesal. Bagaimana mungkin? Kata-kata yang diucapkannya barusan, aku sudah menggunakannya di salah satu buku novel ku yang berjudul 'SUKSES'.


"Ahahhaha," ia hanya tertawa pelan melihat mimik wajah ku yang tengah kesal menatapnya.


"Udah udah, ni makan," ia mengambil sebuah kotak makanan yang ada di kantong kresek nya tadi, lalu menyodorkannya kepada ku.


Aku segera membuka kotak makanan yang tengah ku pegang. Dari aromanya saja, sudah membuat perutku semakin keroncongan.


Aku merasakan ranjang rumah sakit yang tengah ku gunakan untuk tidur, beralas tumpuan kedua tanganku tiba-tiba saja seperti tergoncang. Aku melihat Ibu ku seperti tengah merasakan sesuatu sehingga membuatnya menggerakan seluruh tubuhnya dan dengan nafas yang sangat cepat dan terdengar. Ibu ku bangun dari koma nya setelah dua hari lamanya. Namun dengan kondisi yang mengenaskan.


"Mah.. Mama kenapa? Kak Fiannnn!" Aku sangat panik sehingga tak sengaja meninggikan suaraku dan membuat Kak Fian yang tengah tertidur pulas di sofa rumah sakit, menjadi terbangun karena mendengar teriakanku.


Ia langsung menghampiriku.


Kak Fian pun sama seperti ku, dari raut wajah nya tergambar sebuah kepanikan yang luar biasa. Ibu ku seperti seseorang yang sedang sesak nafas, dada nya naik turun dengan durasi yang sangat cepat.


Kak Fian tidak tinggal lama, ia langsung keluar untuk memanggil Dokter.


Tak lama setelahnya, Kak Fian pun datang bersama seorang Dokter laki-laki yang usia nya sudah cukup senja beserta asistennya yang merupakan seorang Perawat.


Dokter itu segera memeriksa keadaan Ibu ku, lalu ia meminta aku dan Kak Fian untuk menunggu di luar.


Aku pun hanya bisa menuruti nya dan menunggu bersama Kakak ku di luar ruang rawat.


Jantung ku berdegup kencang, kedua kaki ku bergetar hebat, dan keringat dingin ku sudah mulai membasahi area wajah.


Begitu juga dengan Kak Fian, ia hanya mondar-mandir dengan nafas yang tersenggal sama sepertiku.


"Keluarga Ibu Sasmita?" Seorang perawat keluar dari ruang rawat Ayah dan Ibu ku.


"Gimana sus?" Tanya Kak Fian dengan sangat khawatir.

__ADS_1


"Ma-maaf mas, I.. Ibu.." setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya kerap kali terpotong, sehingga membuatku sangat jengkel.


"Ahhhhhh!" Kak Fian tak menghiraukan ucapan perawat tadi, ia langsung masuk ke dalam ruang rawat dan aku mengikuti nya dari belakang.


"Mamaaaaaaaaaa"


Aku segera memeluk Ibu ku yang masih dengan kondisi mengenaskan.


Ia membuka mata nya dan seperti ingin menyampaikan sesuatu.


Aku lantas menggapai tangannya dan memegangnya dengan erat.


"A..Alina, temui Mama di syurga nak," ucap nya dengan nada yang sangat lemah.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, hati ku semakin tak karuan.


"Fian,.. Mama titip Alina," ucap nya lagi sambil terbatuk-batuk menahan nafas nya yang kian memberat.


Kak Fian tak mengatakan apapun, ia hanya beberapa kali meneteskan cairan bening dari kedua pelupuk mata nya.


"Asyha-du an laa- ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," ibu ku sempat melontarkan beberapa kalimat dari mulut nya dengan suara yang terpotong dan sangat lemah. Dan dibantu juga oleh Dokter dan Kak Fian untuk mengucapkan kalimat itu. Aku tak mengerti apa yang sudah diucapkannya barusan. Aku hanya terus memegang tangannya dengan erat, mata nya kerap kali menatap dengan tatapan kosong.


Bibir nya yang sudah pucat pasi, tentu menambah kekhawatiranku padanya.


Lalu setelah Ibu ku mengucapkan kalimat itu, mata nya perlahan menutup, dan nafas nya sudah tidak terdengar lagi. Aku melihat alat pendeteksi jantung yang bernama EKG sudah rata dan tidak terlihat bergelombang lagi.


"Kak Fian? Mama gak papa kan?" Tanya ku yang sangat berharap bahwa ini hanyalah bunga tidurku.


Aku melihat Dokter, Perawat, dan Kak Fian hanya menunduk sembari mendesah pelan.


"Maaaaa bangun Ma.. Mama kenapa tinggalin Alina, Mama gak sayang sama Alina!" Tangisku pecah, aku tak dapat membendung air mata ku lagi. Beberapa kali air mata ku menetes ke atas tangan nya yang dilipatkan di atas perut Ibuku.


Kak Fian hanya memegang keningnya dan terdengar suara isak tangis keluar dari mulutnya.


"Maaf Mas, mungkin kami harus mencabut selang-selang yang menempel di tubuh Ibu Sasmita. Takutnya, akan semakin mempersulit beliau," ucap Dokter Itu dengan raut wajah yang sangat prihatin.


Aku tak memperdulikan ucapannya, aku hanya terus menangisi apa yang sekarang sedang terjadi.


Kak Fian segera mendekapku pada dada bidangnya, ia mengusap pelan rambutku dengan kedua tangannya yang kekar.


Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar


Kini orang-orang yang tengah berada di pemakaman Ibuku, sudah meninggalkannya satu persatu. Aku hanya duduk bersimpuh di samping nisan Ibu ku dengan diselimuti rasa duka yang mendalam.


Kak Fian hanya merangkul pundak ku sambil sedikit mengusap-ngusapnya.


"Pak Andi?!" Panggil ku pada seorang pria berkacamata yang tengah berdiri di samping Kak Fian.


"Ya non?"


"Saya tidak mau kejadian ini hanya sampai berakhir di sini," ucapku seraya menyeka air mata dengan kasar.


Pak Andi dan Kak Fian hanya saling menatap satu sama lain.


"Baik non,"


seorang wanita berambut pendek, memasuki ruang rawat kedua orang tua ku.


Kak Fian segera menyambutnya, lalu mengajak wanita itu duduk di sampingku.


"Lin.. " ucap nya lirih sembari memeluk ku dengan erat. Aku tak membalas pelukannya, air mata ku kembali tumpah, walaupun aku sudah berusaha untuk menahannya.


"Lin.. maafin gue yah, gue gak dateng pas pemakaman tante Sasmita,"


"Iyah,"


"Kak? Terus, kalian tidur dimana?"


"Sementara ini, aku sama Alina tidur di sini. Nemenin Papa La. Karena Polisi lagi cari barang bukti disekitar TKP," timpal Kak Fian.


Aku beranjak dari sofa.


"Sebenarnya.. barang bukti tidak perlu di cari,"


Kak Fian dan Dela hanya menatapku bingung


Tok tok tok


Pak Andi membuka pintu ruang rawat, dan berjalan dengan tergesa-gesa.


Sontak Kak Fian dan Dela langsung berdiri menyaksikan kedatangan Pak Andi.


"Den.. Polisi sudah menemukan beberapa barang bukti," ucap nya dengan nafas yang terengah-engah.


"Sebilah pisau?" Tanyaku dengan nada yang sinis. Kak Fian, Dela, dan Pak Andi sontak membalikan tubuh mereka menjadi menghadapku secara bersamaan.


"I-iya non, non sudah tahu?"


"Ck, saya fikir.. mereka terlalu bodoh,"

__ADS_1


Aku lantas meninggalkan mereka bertiga.


Aku melihat sejenak ke arah ranjang Ayahku, lalu kembali melangkahkan kakiku. Beberapa kali Dela memanggilku, namun Kak Fian berusaha mencegahnya.


Saat bersedih, biasa nya aku selalu pergi ke jembatan dekat cafe farmala. Karena di sanalah aku bisa merasakan ketenangan.


Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambut pirangku. Ada diantaranya yang mengenai wajahku yang tengah bersedih.


"Apakah bila aku melompat ke sana semua ini akan berakhir?" Gumamku sambil menatap kilauan air dibawah sana seraya menghela nafas berat.


Dinginnya udara malam ini mampu menusuk sendi-sendi tulang-berulangku. Apalagi tubuhku hanya dibalut dengan dres selutut berwarna lavender, dengan tangan panjang namun berbahan tipis, bahkan sangat tranfaran. Aku mengusap-ngusap lenganku agar sedikit bisa lebih menghangatkan tubuh.


"Alina," suara seorang laki-laki membuyarkan lamunanku. Aku segera menoleh ke belakang.


Aku melihat Pak Tio yang tengah berdiri di belakangku.


Ia menyodorkan benda pipih ke arahku, lantas aku segera menerima dan tanpa menyentuh lengannya.


"Trimakasih Pak," Ucap ku sembari menyunggingkan senyum tipis. Aku kembali berbalik memunggungi Pak Tio.


Aku selalu saja bertemu dengan Dosenku ini kala tengah bersedih. Entah apa maksudnya.


Pak Tio memakaikan jas nya yang berwarna biru navi ke tubuhku tanpa memasukan lenganku ke lengan jas nya.


Kini rambutku yang tadinya tergerai panjang, menjadi sedikit terhalang oleh jas yang diberikan Pak Tio.


"Pak, sudah lah.. jangan semakin menambah kuantitas jas Bapak di rumah saya," rutuk ku pada Pak Tio sambil memutar tubuhku menjadi menghadap ke arahnya. Pak Tio hanya terkekeh menyaksikan ekspresi muka ku yang tengah kesal dibuatnya.


"Saya juga belum mengembalikan jas bapak yang waktu itu," sambungku, lalu aku kembali meluruskan tubuhku menghadap bentang jembatan yang sedang ku tempati.


"Apakah kamu tidak merasa dingin?" Tanya nya dengan wajah yang datar dan sedikit menaikan alisnya yang tebal.


"Apa Bapak tidak rindu rumah?"


"Kamu mengusir saya?"


"Bu-bukan seperti itu Pak, tapi.."


"Bagaimana keadaan kedua orang tuamu?" Tanya nya yang mengalihkan pembicaraan.


"Ayah saya masih koma, dan Ibu saya.. sudah.. sudah meninggal," aku kembali menitikan air mata ku kala mengingat Ibu ku.


Pak Tio langsung berbalik menghadapku, ia seperti merasa bersalah karena sudah menyinggungku tadi. Padahal, niat nya hanya untuk mempertanyakan.


"Inalillahi. A-Alina.. maaf saya tidak tahu," ucap nya dengan sedikit gelagapan.


"Tapi kenapa kamu tidak menghubungi saya?" Sambung nya dengan suara yang sedikit meninggi.


Aku hanya bingung sambil menyatukan kedua alisku.


"Dengan kejadian ini, saya semakin yakin, bahwa Tuhan hanyalah sesuatu yang bersifat ilustrasi,"


"Alina, Tuhan (Allah) selalu memberikan ujian sesuai kemampuan makhluknya ka-


Tuhan selalu memberikan setitik cahaya terang kala kamu tengah berada pada kegelapan."


"Sudahlah Pak, Bapak tidak perlu menjelaskan apapun lagi kepada saya. Biarkan saya menjadi rumput liar itu sampai saya mati," ucapku dengan putus asa.


"Yasudah, tidak apa-apa," jawabnya sambil menghembuskan nafasnya.


"Lalu rumah kamu?"


"Polisi sudah menangani nya, dan.. tadi siang, polisi sudah menemukan beberapa barang bukti berupa pisau da-


Apakah dia tidak tahu, dia sudah mengambil kekuatan hidup saya? Apakah dia tidak tahu, dia sudah mengambil titik lemah saya?


Dan apakah dia tidak punya hati, sudah melukai bahkan menghilangkan nyawa Ibu saya? Apakah dia tidak merasakan rasa nya menjadi seorang anak? Ap-" belum sempat aku melanjutkan ocehanku, Pak Tio segera mendekapkan aku ke tubuh nya yang kekar dan tinggi. Aku begitu terkejut dan hanya membulatkan kedua bola mata ku. Tercium aroma wangi tubuhnya yang khas.


Ini hanya mimpi, ini mimpi! Bangunlah Alina.


Kau hanya sedang bersama bunga tidurmu, dan seseorang yang tengah memelukmu, ia hanya teman mimpiku.


Namun aku tak segera bangun, aku yakin ini bukan mimpi. Ini nyata!


Aku hanya menangis dalam pelukannya yang tulus tanpa aku membalasnya.


"Astagfirullah," seru Pak Tio dan langsung melepaskan pelukannya serta sedikit menjauh dariku. Wajahnya terlihat sedikit panik.


"Alina.. ma..mafkan saya. Saya tidak sengaja," ucapnya lalu langsung pergi meninggalkan aku tanpa memperdulikan jas nya yang tengah aku pakai. Aku hanya menatap kepergiannya. Ia berjalan dengan sangat cepat sehingga sudah lenyap dari pandanganku.


Tuhan, jangan semakin memberatkan


hatiku untuk mempercayaimu.


Aku semakin ragu akan hadirmu dalam


hidupku. Yakinkanlah aku dengan sesuatu


yang bisa membuktikan akan hadirmu

__ADS_1


dalam takdirku.


Tidak ada kehidupan yang sempurna. Bila seseorang mengatakannya, dia sedang berada di atas kesuksesan``).


__ADS_2