
Tibalah hari dimana hari ini adalah pertunangan Alina dengan pria yang telah di tetapkan Irawan. Semua orang sudah siap menyaksikan, bahkan Ustadzah Nurul pun turut hadir atas perjodohan putrinya. Hanya satu orang yang tengah bersedih, ya, Alina. Ia hanya menatap sendu dirinya di depan cermin. Ia benar-benar belum siap dengan apa yang akan terjadi sekarang.
"Maafkan aku Pak Tio," lirihnya sembari membendung air matanya yang hendak keluar. Kenangan-kenangan indah bersama Dosennya hari ini harus lenyap begitu saja. Membiarkan angin membawa nya dalam takdir.
Beberapa saat kemudian, Alina pun keluar dengan penampilan yang sangat memukau. Dan tentunya menjadi pusat perhatian semua orang. Alina yang berbalut dress putih selutut yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih, serta rambut yang di sanggul rapi, tak lupa manik-manik terpampang jelas di berbagai helaian rambutnya, menjadikan semua orang tak mampu berkedip saat melihatnya. Semua orang bahagia menyaksikannya, terutama Irawan dan Ustadzah Nurul, namun tidak dengan Alina. Alina pun kemudian duduk di kursi yang telah di hias semewah mungkin dan tentunya, Ustadzah Nurul Yang kini sudah resmi kembali menjadi Ibunya karena sudah mengikrarkan kembali janji suci beberapa minggu yang lalu dengan Irawan, selalu mendampingi Alina yang kian terlihat gelisah.
"Kamu pasti bisa nak," bisik Ustadzah Nurul sambil menggenggam erat jemari putri nya.
Alina hanya mengangguk lesu sambil tersenyum paksa.
"Alina, kamu bersiap-siap, sebentar lagi mempelai pria akan datang. Jangan terus bersedih nak," tutur Irawan yang melihat ukiran kesedihan putrinya. Sementara Alina kini hanya bisa pasrah dan menerima atas takdir yang tengah berjalan. Tak mungkin ia menolak, apalagi membantah. Alina hanya tertunduk hingga beberapa saat kemudian tibalah rombongan keluarga calon mempelai pria.
Semua orang sibuk bersalaman, lain hal nya dengan Alina yang hanya tertunduk sehingga membuatnya tidak bisa melihat aktivitas apa yang tengah semua orang lakukan kali ini.
"Oh baik-baik Pak, terima kasih," suara seorang laki-laki yang tak asing bagi Alina membuat ia kembali teringat akan seseorang yang telah mengubah hidupnya.
Alina memberanikan dirinya untuk menatap semua orang, namun naas tak didapatinya laki-laki yang akan menjadi calon suaminya nanti.
Acara akan segera dimulai, semua orang sudah tak sabar untuk menyaksikannya. Alina tak mendapati seorang laki-laki yang akan menjadi calon suaminya nanti.
"Pah, Alina ke toilet sebentar," ungkap Alina sambil hendak berlalu.
"Baiklah, jangan lama-lama nak,"
Beberapa menit kemudian, Alina terpaksa harus kembali ke ruangan dimana tempat ia akan melaksanakan acara pertunangan. Namun saat ia baru saja memasuki ruangan tersebut..
"Alina?!" Pekik seseorang yang Alina kenali.
"Pak..Pak Tio?" Alina juga tak kalah terkejutnya dengan seseorang yang sudah menghilang cukup lama dalam hidupnya. Laki-laki itu kini tengah mengenakan pakaian batik dengan terusan celana hitam yang terlihat sangat pas dengan tubuhnya yang atletis dan juga tinggi.
"Lho? Kalian saling kenal?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di samping Pak Tio.
"Di..dia, mahasiswi Tio mah, yang sering Tio ceritain waktu itu,"
"Oh yang ini?" Perempuan yang tak lain adalah Ibu kandung Tio tersebut segera menghampiri Alina, melihat Alina dari atas sampai ke bawah.
Tampak di sisi lain, Tio menelan saliva nya dalam-dalam.
"MasyaAllah, cantiknya.. duduk sayang," perempuan tersebut memapah Alina untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Semua orang hanya terlihat bingung dengan apa yang mereka saksikan saat ini.
"Nak, jadi kamu sudah mengenalnya?" Tanya Ustadzah Nurul yang sekarang sudah resmi kembali menjadi orang tua Alina.
"Iya bunda," hanya itu yang Alina ucapkan.
"Baiklah, karena kalian sudah saling mengenal, kita tidak perlu repot-repot untuk saling mengenalkan kalian. Acaranya dimulai saja Pak?" Tanya Irawan kepada seorang laki-laki yang tengah bersanding di samping calon menantunya.
"Silahkan pak, silahkan. Itu lebih baik,"
'Apakah yang dikatakan pak Tio beberapa waktu lalu bahwa ia akan dijodohkan, ini maksudnya?' batin Alina.
Acara lamaran kini sudah selesai, calon mempelai pria beserta keluarga besarnya sudah kembali ke kediamannya masing-masing, Alina tak henti-hentinya tersenyum mengingat siapa calon suaminya nanti. Sungguh takdir yang tak terduga.
Tingg
Suara notifikasi chat masuk ke ponsel Alina. Alina pun segera membukanya.
'Assalamu'alaikum.
Alina kamu sudah tidur?'
Senyum merekah di bibir Alina tatkala siapa yang mengirimkan pesan tersebut adalah calon suaminya, Tio.
'Wa'alaikumussalam. Belum Pak.
Bapak sendiri?'
'Owh baguslah.
belum, saya juga masih belum tidur. Masih terfikirkan yang tadi😁'
'Ohh iya Pak..
Mmmm saya juga☺️'
__ADS_1
'Besok kamu ada waktu? Saya ingin kita bertemu di cafe biasa'
'InsyaAllah pak'
UNIVERSITAS PRADASIBYA
"Ciaahhh udah ada yang mau nikah aja ni," ketus Della sembari menyikut tangan Alina.
"Apaan si Della, ahh nggak juga," Alina hanya tersipu malu.
"Btw gue gak nyangka sih, yang tadinya kalian udah mau ya.. putus kontak, sekarang dipertemukan lagi lewat takdir," ujar Della sembari mendongkak ke atas langit. Ya, Alina sudah menceritakan semua yang terjadi kemarin kepada sahabat terbaiknya, Della.
"Ya.. gimana ya La, gue juga gak nyangka aja sih," tutur Alina.
Tingg
'Alina kamu dimana?'
"Ya ampun! Gue lupa, gue ada janji, gue cabut ya. Daaahhhh," Alina dengan terburu-buru meninggalkan Della seorang diri tatkala mengingat hari ini ia ada pertemuan dengan Tio.
Alina kini tengah berjalan menuju ke Cafe Farmala. Ia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Tio.
"Alina!" Teriak seseorang dari arah belakang Alina. Alina hanya mengangguk lalu menghampiri meja seseorang tersebut.
"Alina apa kabar?" Tio kemudian mencoba membuka keheningan.
"Baik, bapak sendiri?"
"Ya.. Alhamdulillah," Alina hanya mengangguk.
"Saya minta maaf,"
"Untuk apa?" Tanya Alina sembari mengernyitkan dahinya.
"Saya tidak berterus terang sama kamu soal perjodohan. Saya sengaja menghilang dari kamu, tadinya.. saya ingin kamu melupakan saya, dan kembali seperti semula. Namun kenyataannya, takdir memang tak salah memilih, sejauh apapun kita, ketika Allah sudah mengatakan kita harus bersama, kita bisa apa," tutur Tio panjang lebar. Alina kemudian hanya menarik napas nya dalam-dalam.
"Sejujurnya.. waktu itu saya sempat kecewa dengan Bapak. Mengapa tidak bisa meneguhkan pendirian Bapak. Ahh mungkin saya juga yang terlalu berekspetasi," Alina hanya tersenyum paksa.
"Maafkan saya Alina. Ini memang salah saya. Tapi apa kamu tahu, saya tidak bisa membantah keinginan orang tua saya. Ya meskipun saya sudah tetap dengan pendirian saya. Alina.. jika kali ini kamu memang benar-benar takdir saya, saya akan berusaha memperjuangkan kamu, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Akan saya buktikan beberapa hari lagi,"
"Mah, Tio disini," ujar Tio yang tengah melambai-lambaikan tangannya ke arah belakang Alina. Sementara Alina hanya terlihat bingung dan memutarkan badannya untuk mencari seseorang.
Tak lama kemudian, seorang wanita yang diperkirakan sudah menginjak kepala empat tersebut duduk di samping Tio.
"Assalamu'alaikum cantik." Sapa perempuan tersebut dengan ramahnya.
"Wa'alaikumussalam tante," Alina pun kemudian menyalami tangan perempuan tersebut dengan sopan.
Alina melihat ke arah Tio dan bermaksud mempertanyakan siapa perempuan yang tengah bersamanya saat ini.
"Ahh iya, Alina.. perkenalkan ini Mama saya." Tio yang sudah mengerti akan kebingungan Alina segera saja ia memperkenalkan seseorang yang tengah berada di sampingnya.
Ya, perempuan tersebut adalah Fatma, Ibu kandung Tio.
"Wahh Tio, awas lho yah kalo sampai disakitin calon menantunya Mama. Apalagi cantik begini, sopan lagi," pujian demi pujian berhasil membuat wajah Alina seperti udang rebus.
"Nggak lah Ma, orang Tio dapetnya juga susah," jawab Tio sembari membekap mulutnya.
"Ahh tante, Alina jadi malu,"
"Panggil nya jangan tante dong sayang, Mama aja. Kan bentar lagi kalian sah," rayu Fatma kepada Alina.
"I-iya Ma," ucap Alina dengan ragu-ragu. Tio dan Fatma pun saling menatap lalu tersenyum.
Suasana kini semakin hangat dengan adanya canda tawa. Beruntung juga, Alina adalah orang yang mudah beradaptasi dengan orang baru. Tak lain juga Tio yang punya cara tersendiri untuk lebih mendekatkan Alina dengan Ibunya.
"Yasudah, Mama pamit pulang dulu ya sayang, nanti kita ketemu lagi. Oh ya, Tio, kamu anterin calon istri kamu sampe depan rumahnya, kalo bisa sampe dalem rumahnya. Mama gak mau menantu Mama kenapa-napa," titah Fatma yang membuat Alina menahan tawanya.
"Iya-iya Mah, yaudah Tio pami pulang dulu. Mama udah ada yang jemput?"
"Udah, tuh mang Udin udah di depan. Yaudah kalian hati-hati. Mama pamit ya, Assalamu'alaikum,"
"Ayo Alina, ini sudah hampir mau sore." Tio kemudian bermaksud untuk mengantar Alina pulang. Kemudian Tio membukakan pintu mobilnya untuk Alina.
__ADS_1
"Terima kasih pak," ungkap Alina.
Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sesekali tersenyum melihat Alina yang tengah tertidur. Wajah ayu nya begitu menyejukan hati Tio.
Pov Tio
Sungguh hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupku. Mengingat aku akan segera mencapai keinginanku, memiliki seorang gadis yang sangat aku dambakan, Alina, Mahasiswiku.
"Pak," panggil Alina dengan wajah lesu yang sudah bangun dari tidurnya.
"Kenapa?"
"Mmm saya ketiduran ya pak?" Tanyanya dengan raut wajah yang merasa bersalah. Memang aku tidak salah memilih, Alina adalah seseorang dengan kepribadian yang baik. Hanya saja dulu ketika ia meninggalkan takdirnya, aku bisa faham bahwa ia mempunyai trauma di masa lalu. Ahh, kenapa jadi kefikiran ini. Aku menginjak rem perlahan untuk menghentikan laju mobilku.
"Nggak papa, mungkin kamu cape, kamu lanjutin aja tidurnya. Saya turun dulu, beli sesuatu. Kamu jangan kemana-mana ya sebelum saya kembali." Alina hanya mengangguk dengan mata sayu mendengar perintahku.
Aku pun bergegas turun dan bermaksud untuk membeli sesuatu.
Aku pun kembali menaiki mobil setelah membeli sesuatu untuk dibawa pulang. Namun aku masih menyaksikan Alina semakin terlelap dalam tidurnya. Ahhh manis sekali dia.
"Eh astagfirullah,"
Aku kembali melajukan mobilku dengan kecepatan normal bermaksud mengantarkan Alina pulang.
"Calon istriku.. bangun sebentar. Ini sudah sampai," ucapku lembut sambil menatap Alina yang masih terlelap bersandarkan sandaran mobil.
"Ahh... mmm oh iya," ucapnya lesu sembari mengucek matanya dengan satu tangan.
"Mmm pak? Kok kayak bau kencur ya?" Tanyanya sembari mengendus sekelilingnya.
"Mungkin hanya perasaanmu saja," aku sedikit terkekeh mendengar penuturannya.
"Ayo!" Ajaku.
Akupun langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Alina.
"Terima kasih pak," ungkapnya yang sudah nampak segar. Aku pun hanya mengangguk sembari tersenyum.
***
Mereka pun berjalan menuju rumah Alina. Tak lupa Tio membawa jinjingan yang tadi ia beli.
"Assalamu'alaikum Bunda,"
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam nak. Ehh ada nak Tio, masuk-masuk," jawab Ustadzah Nurul dengan ramahnya ketika melihat putrinya sudah pulang.
"Ahh iya Bu," timpal Tio. Lalu mereka pun duduk di sofa.
"Lin, kok pulang nya telat sayang?" Tanya Ustadzah Nurul.
"Maaf Bu, tadi Alina saya ajak dulu makan siang, jadi agak telat," ungkap Tio yang berusaha menjelaskan kepada calon mertuanya.
"Oh iya nggak papa kalo sama nak Tio. InsyaAllah lah bunda rasa, aman," tutur Ustadzah Nurul membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa serentak. Tanpa fikir panjang, Tio pun meletakan jinjingan kresek tadi di atas meja.
"Bu, kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Saya cuma mastiin aja Alina aman sampai rumah."
"Ahhh baiklah. Padahal disini dulu sebentar nak Tio. Tapi nggak papa, hati-hati yah di jalannya," ujar Ustadzah Nurul.
"Iya Bu, maaf ya bu saya nggak bisa lama-lama." Alina pun mengantarkan Tio sampai depan rumahnya ketika Tio hendak pulang.
"Oh iya, tadi itu apa ya pak?" Tanya Alina sebelum Tio benar-benar pergi.
"Hmm nanti kamu juga tahu sendiri."
"Makasih ya Pak," tutur Alina yang hanya dibalas anggukan oleh Tio.
"Yasudah, saya pamit pulang dulu,"
"Ahh iya. Hati-hati ya Pak,"
Alina hanya tersenyum kala mobil Tio perlahan menghilang.
__ADS_1
"Apakah ini rasa nya ketika seorang istri hendak menyaksikan suaminya berangkat bekerja?" Celetuk Alina yang membuat ia salah tingkah sendiri. Ia pun lalu masuk ke dalam rumahnya.
Hidup, memang berjalan sesuai dengan takdir yang terencana. Sejauh apapun kamu dengan keinginan, ketika itu sudah milikmu, maka akan kamu dapatkan, namun entah dalam waktu yang cepat, atau waktu yang tepat\`\`)