Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
16. Akhir yang bahagia


__ADS_3

Pov Alina


Aku kembali masuk setelah menyaksikan kepulangan Dosenku, Pak Tio. Sambil mengulum senyum, aku tetap berjalan sampai tak terasa tubuhku menabrak tiang besar di rumahku.


"Arrgghhhh!!!" Aku memegang keningku yang terasa sakit.


"Lin ya ampun, kamu kenapa sih?" Tanya Bunda yang membuatku semakin salah tingkah.


"Eh bunda. Eng-enggak gak papa. Alina masuk dulu," ucapku dengan terburu-buru.


"Yaudah. Eh tapi bentar... Itu dari nak Tio gak mau dibuka dulu Lin?"


Haishhh! Aku sampai lupa.


"Oh iya," aku dan Bunda pun langsung menuju ke arah sofa tivi. Lalu membuka satu persatu bingkisan dari Pak Tio.


"Seblak?!" Aku tersentak dikala mengetahui bahwa terdapat dua porsi seblak yang biasa aku beli sewaktu awal-awal kuliah dulu bersama Dela. Dan sudah lama juga, aku tidak memakannya.


"Bunda, ini..." Tanyaku.


"Iya Lin. Dulu, nak Tio ketemu Bunda sama Ayah kamu di kantor. Terus iseng nanyain makanan kesukaan kamu. Dan, Ayah kamu kebetulan tahu," ungkapnya.


Omg! Apa sampai segitunya Pak Tio?


"Ya ampun. Yaudah Bund, kita makan yuk," ajak ku.


"Eh tapi Papah?"


"Papah mu masih di kantor. Ntar malem katanya baru pulang,"


Aku dan Bunda langsung saja menyantap makanan dari Pak Tio tadi. Yang isinya ada seblak, martabak, pizza, ahh rasanya Pak Tio tahu kalau aku suka ngemil.


Setelah selesai, aku langsung menuju ke kamarku untuk beristirahat.


Tingg


Suara pesan whatsapp masuk.


[Sudah tidur?]


Aku kembali mengulum senyum saat mengetahui bahwa pengirim pesan tersebut adalah Pak Tio.


[Belum]


[Cepatlah tidur. Ini sudah malam]


[Iya sebentar lagi Pak. Oh iya terima kasih untuk makanannya Pak, kok Bapak bisa tahu makanan kesukaan aku?]


[Tidurlah]


Huh! Aku mendengus sebal. Saat virtual Pak Tio masih tetap sama. Cuek, dingin. Tapi kalau secara langsung, ya... Biasa saja.


Pov Author


Waktu kian berjalan, tahun, bulan, minggu, bahkan hari pun mulai berganti. Setelah sekian lamanya, hari ini, Alina telah diwisuda dan dinyatakan lulus S1. Semua orang kini telah berbahagia, senyum dan tawa terdengar dimana-mana. Tampak serumpunan manusia tengah bertebaran menghiasi hari yang bahagia ini.


Alina begitu cantik dengan kebaya berwarna lavender yang melekat di tubuh rampingnya. Riasan wajahnya yang tipis, namun berhasil membuat wajahnya tampak lebih anggun dan manis. Dengan warna bibir yang nampak kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih bersih. Kelopak mata ganda beserta hidung yang mancung nyaris membuatnya mendapat julukan gadis yang sempurna di kalangan para laki-laki. Tak lupa rambut pirangnya disanggul rapi dengan menyisakan helaian di antara pelipisnya. Juga terdapat beberapa manik-manik untuk menghiasi rambut indahnya.


Namun, gadis itu tampak merautkan kekecewaan di wajahnya. Yang dimana hari ini merupakan hari penting baginya, namun seseorang yang telah mengisi hatinya belum juga berjumpa dengannya. Sepi di dalam keramaian. Hatinya gundah, entah harus menangis bahagia, atau menangis kecewa. Gadis itu sedikit mengedarkan pandangannya sambil meremas topi wisuda yang ia pegang.

__ADS_1


"Aaaaa Linnn." Seorang gadis berambut pendek berlari menghampiri Alina lantas memeluknya. Sehingga membuat Alina terlonjak kaget.


"Dela?!"


"Kenapa si kesini gak ajak-ajak gue!" Ketus Della sambil mengerucutkan bibirnya.


"Eh iya. Gue cuma pengen sendiri aja La," jawab Alina dengan senyum terpaksa. Ia tak mau menampakan kesedihan di depan sahabatnya.


"Oh iya, mama papa gue udah pada pulang?" Tanya Alina mengalihkan topik.


"Mmm gak tahu. Kayaknya enggak deh, soalnya tadi masih sama nyokap bokap gue kumpul-kumpul gitu." Alina hanya membalas dengan anggukan.


"Btw, dari tadi gue gak liat Pak Tio deh. Tumben di acara penting kek gini dia gak hadir," celetuk Della sehingga membuat Alina kembali merasa gundah.


"Pak Tio lagi di luar kota. Katanya, seminggu baru pulang," jawab Alina santai.


"Yahhh sayang banget kali, acara langka kayak gini. Apalagi gak nyaksiin calon istrinya di wisuda upss," Della membekap mulutnya dengan telapak tangan.


"Apaan sih lu?!"


Sontak mereka berdua pun tertawa. Lagi dan lagi, Della selalu bisa dan berhasil menghibur sahabatnya dikala ia bersedih. Dan begitupun sebaliknya. Keduanya pandai mencairkan suasana.


"Lin?" Suara seorang laki-laki berhasil mengejutkan mereka berdua. Sontak membuat keduanya menoleh bersamaan. Dua orang laki-laki kini sudah berdiri tepat di hadapan Alina dan Dela.


"Fikri? Ir...?" Alina tak melanjutkan kalimatnya sesaat mengetahui siapa laki-laki yang datang kepadanya. Seseorang yang telah berhasil menghancurkan hidupnya beberapa tahun yang lalu.


"Wahh selamat wisuda sister, fartner ter thebest," ungkap Fikri pada Alina. Tak lupa juga ia mengucapkannya kepada Della.


"Selamat wisuda juga brother," balas Alina.


"Hai Lin," ungkap Irsyad dengan ragu-ragu.


Sementara Alina hanya menatap Fikri dan Della bergantian.


"InsyaAllah Syad. Aku udah ikhlas, aku memaafkanmu. Aku juga sudah menemukan kebahagiaan baru. Jadi rasa sakit ku juga sudah sedikit hilang. Namun aku berpesan sekali lagi kepadamu, jangan sampai mengulangi perbuatan yang sama Syad. Mungkin itu menguntungkan mu, namun di sisi lain akan merugikan orang lain. Mulailah lembaran baru dan jadilah dirimu sendiri." Ungkap Alina panjang lebar. Dan berhasil membuat Irsyad semakin membeku setelah mendengar penuturan gadis itu yang sangat bijaksana.


"Pasti Lin. Aku sudah berjanji, ini yang pertama dan terakhir kali nya aku membuat kesalahan yang fatal. Aku selalu memikirkan mu di penjara, aku merasa begitu gagal menjadi manusia. Sekali lagi aku minta maaf. Dan tadi, aku sudah menemui kedua orang tuamu. Tadinya, aku sudah siap jika dicaci dan dimaki. Namun dugaan ku salah. Kamu memiliki orang tua yang amat bijaksana dan pemaaf."


"Benarkah? syukurlah. Sudahlah Syad. Aku benar-benar memaafkan mu." Alina mengembangkan senyumnya yang membuat Irsyad begitu merasa lega bisa mendapatkan maaf dari seseorang yang telah ia renggut kebahagiaanya.


"Yasudah, aku pulang dulu. Hari ini aku meminta polisi untuk memberikanku waktu agar bisa datang kepadamu," ungkap Irsyad yang membuat hati Alina teriris dengan ucapannya.


"YaAllah," lirih Alina dan Della.


"Lin, La, ntar kalo kalian udah sukses jangan lupain aku ya," ungkap Fikri yang mengalihkan pembicaraan.


"Fikri ih. Nggak lah," balas Alina sambil menahan air matanya yang hampir terjatuh.


"Eh kita foto dulu yuk," ajak Alina. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menghampiri seseorang untuk diminta bantuannya agar memfotokan mereka berempat.


"Satu... Dua... Ti..."


Kini Fikri dan Irsyad sudah kembali meninggalkan Alina dan Della. Hanya tinggal mereka berdua yang kini tengah bercanda ria.


"Ehemm," suara seorang laki-laki berhasil menghentikan tawa Alina dan Della.


"Pak?!" Jerit Della sembari menutup mulutnya.


"Pa-Pak Tio!!!" Alina tak kalah terkejut dengan kedatangan seseorang. Seorang pria berbadan tegap tersebut menghampiri kedua gadis yang tengah dibuatnya terkejut.

__ADS_1


Sama hal nya dengan Tio. Ia tampak tegas dan berwibawa saat mengenakan stelan jas berwarna hitam dipadu kemeja berwarna maroon. Rambutnya tampak berkilau dan disisir rapih ke arah samping kanan. Wajahnya yang tegas, namun tatapan matanya yang lembut, berhasil membuat Alina nyaris tak mengedipkan matanya.


"Ahh Alina, hampir saja saya tidak mengenalimu," ungkap Tio sembari tertawa renyah.


"Pak Tio? Bu-bukannya bapak pulang masih seminggu?" Alina malah membahas hal lain dengan mempertanyakan rasa penasarannya.


Sementara Tio hanya membalasnya dengan senyuman.


"Apa tidak boleh saya menyaksikan hari penting calon istri saya?" Tanya Tio.


"Mampus gue jadi nyamuk!" Gumam Della tiba-tiba, namun masih bisa terdengar oleh Tio dan Alina.


"Della? Sejak kapan kamu disini?" Tanya Tio yang tampak bingung dengan kehadiran Della.


"Kan apa gue bilang. Orang yang lagi dimabuk asmara ya gini, gue segede gaban pun dia gak liat!" Desis Della.


"Della?" Tanya Tio kembali.


"Ahh. Pak... Emm... Itu, saya. Saya pamit dulu. Mari pak, Lin," dengan terburu-buru Della meninggalkan kedua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut. Alina hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang tak berubah dari sejak mereka SMA.


"Bapak apa-apaan sih, dari tadi kan Della juga sama aku,"


"Oh begitu? Maaf maaf. Saya tidak sadar," Tio tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayok!"


"Kemana Pak?" Tanya Alina.


"Saya mau ketemu sama orang tua kamu. Eh maaf. Calon mertua," ungkapnya yang berhasil membuat lengkungan indah tergambar di sudut bibir Alina.


"Please Alina. Apa kamu tidak kasihan dengan saya?"


"Maksud bapak?"


"Jangan tersenyum, apa kamu mau saya diabetes?!" Lagi-lagi Tio berhasil membuat Alina tersipu malu. Rasa kecewa dan sedih yang sedari tadi ia rasakan, kini telah sirna setelah datang nya sang pujaan.


Mereka pun lantas berjalan beriringan menuju ke gedung tempat dimana acara wisuda di langsungkan.


***


Tak terasa hari kian berganti. Semua orang kini tampak mengenakan pakaian terbaik mereka di acara pernikahan Alina dan Tio. Ya, hari ini adalah hari dimana keduanya akan segera menjadikan pasangan yang utuh.


Bunga-bunga tampak menghiasi setiap area pelaminan dan meja-meja tamu. Semuanya sudah tersusun rapi. Hanya tinggal menunggu penghulu dan pengantin perempuan datang.


Megahnya acara pernikahan yang dilaksanakan secara outdor di area pantai. Namun tetap terkesan glamourd dan megah. Sepasang kursi pengantin sudah terpajang rapi disana. Semilir angin serta deburan ombak menjadi musik pengiring alami yang menghiasi acara sakral ini. Serta semilir angin dan awan yang berbentuk kapas juga menjadi panorama indah di acara pernikahan ini.


Semua orang sudah siap menyaksikan acara ijab qabul. Dipandu dengan MC yang terus menata setiap keberlangsungan acara.


Tak lama setelahnya, semua orang nampak tak berkedip dengan kedatangan seorang perempuan yang amat mempesona. Apalagi dengan Tio, ia nyaris tak mampu mengedipkan matanya dikala melihat Alina yang tengah berjalan anggun di tengah-tengah semua orang, dengan dibantu oleh bridesmaid nya. Yang menjadi penggiring.


Alina tampak memukau ketika mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih. Riasan make up yang berhasil membuat semua orang hampir tak bisa mengenalinya. Rambut yang disanggul rapi dengan bertenggernya mahkota indah di atas kepalanya. Membuatnya nampak seperti seorang Putri kerajaan. Namun, Alina masih belum bisa mengenakan hijab, sehingga saat ini, ia masih mengenakan pakaian pengantin tanpa hijab. Namun tidak terlalu terbuka.


Ijab qabul pun sudah dimulai. Penghulu nampak tengah mengajari Tio agar mengucapkan ijab qabul dengan lancar.


Dan akhirnya...


"Qobiltu nikaha..."


Setelah ijab qabul selesai, Alina mencium punggung tangan pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Imam nya dunia akhirat. Lalu dibalas kecupan manis oleh Tio di atas kening Alina. Dan kini, keduanya hidup berbahagia.

__ADS_1


Kebahagiaan, tidak datang karena keterpaksaan. Namun ia hadir setelah dasyatnya badai yang menerjang. Maka dari itu, tetaplah menjadi dirimu agar kebahagiaan itu tidak salah tempat dimana ia harus mendarat\`\`)


TAMAT


__ADS_2