
(Pov Alina)
Kini aku, Papa, dan Kak Fian tengah berada di dalam mobil untuk menuju ke Masjid yang menjadi tempat di mana pertama aku mengucap dua kalimah syahadat. Dengan tujuan untuk bertemu Ustadzah Nurul. Suasana begitu hening, tak ada percakapan di antara kami. Hanya suara dering notif yang berasal dari ponsel Kak Fian. Sedangkan Papa ia masih sibuk dengan laptop di pangkuannya. Aku merasa jenuh bila harus berada di tengah-tengah kesibukan mereka. Ahhh mengapa tiba-tiba aku tetingat Pak Tio? Apalagi dengan sangat tiba-tiba nama itu terlintas sejenak di fikiran ku.
Tinggg
Suara notif ponsel ku terdengar nyaring hingga membuat Papa dan Kak Fian langsung menoleh ke arah ku. Aku hanya tersenyum miris lalu kembali melanjutkan kesibukan ku.
Aku segera membuka pesan whatsapp yang masuk. Tumben sekali.
Hah?!!!
'Assalamu'alaikum wr. Wb.
Alina, apa sekarang kamu ada waktu?'
Pak Tio? Demi apa ya Allah, baru saja fikiran ku mengingat Pak Tio, dan sekarang ia dengan kebetulan mengirimkan ku pesan whatsapp?
Aku pun segera membalasnya, namun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Bukan senang, melainkan hanya terkejut dan heran. Kenapa tiba-tiba ia mengirimkan ku pesan seperti itu?
'Wa'alaikumsalam wr. Wb
Ada apa Pak?'
Centang biru!
'emmm ada yang mau saya bicarakan mengenai kejadian kemarin-kemarin'
Kamu ada waktu?'
'InsyaAllah setelah saya pulang dari kantor Papa' jawab ku berbohong.
'baiklah, nanti saya chat kembali. Maaf sudah mengganggu waktu nya'
Setelah membacanya, aku pun langsung mematikan data dan menaruh ponsel ke dalam tas selempang ku. Agar tak ada lagi pesan yang mengganggu.
Aku pun memarkirkan mobil di area parkiran masjid yang lumayan cukup luas. Aku, Papa, dan Kak Fian pun segera menuruni mobil untuk mencari keberadaan Ustadzah Nurul.
"Biasanya dia dimana Lin?" Tanya Papa sambil celingukan.
"Gak tahu Pah, yang Alina tahu, Ustadzah Nurul tuh biasanya suka disini. Ngisi pengajian pengajian gitu. Lagian ngapain si Papa antusias banget nyariin Ustadzah Nurul?" Tanya ku yang semakin bingung dengan sikap Papa.
Namun Papa tak menghiraukan pertanyaan ku sama sekali. Ia malah terlihat tengah mencari seseorang.
Tak sengaja mata ku melihat seseorang yang tengah aku cari. Dia...
Tanpa basa-basi aku pun langsung berlari menghampirinya. Papa dan Kak Fian hanya menatap ku bingung. Lalu mereka membuntuti ku walaupun langkah nya tampak tertinggal karena saking buru-buru nya aku.
"Ustadzah," panggil ku sedikit berteriak. Namun orang yang ku kira Ustadzah Nurul itu tak kunjung menoleh. Melainkan hanya sibuk dengan ponsel nya.
"Ustadzah?" Tanya ku pada orang itu yang memang benar adalah Ustadzah Nurul. Kali ini ia tampak anggun dengan balutan gamis berwarna biru navy dengan jilbab yang senada.
"Assalamu'alaikum. Alina apa kabar cantik?" Tanya nya yang tak percaya dengan kedatangan ku. Karena sudah sekian lama aku tak bertemu dengannya.
"Alhamdulillah baik Ustadzah, Ustadzah bagaimana?" Tanya ku kembali.
"Alhamdulillah juga. Eh kamu sama siapa ke sini?"
"Jadi begini Ustadzah. Papa saya mau bertemu dengan Ustadzah," ucap ku yang terasa ragu.
"Mmm untuk apa yah?" Tanya nya yang terlihat bingung.
"Itu Papa saya Ustadzah," seru ku sambil menunjuk ke arah dua orang yang tengah berjalan ke arah kami.
"Mmm sebentar. Maaf Alina saya harus mengangkat telfon dulu sebentar," ia kemudian langsung sedikit menjauh dariku dan tampak membelakangi.
"Lin, mana?" Tanya Papa.
"Bentar Pah, tuhh lagi belfon dulu sebentar katanya,"
"Ohhhhh syukurlah kalau sudah ketemu," ujar nya yang tampak lega.
"Yang pake gamis biru itu Lin?" Tanya Kak Fian sambil mengisyaratkan dengan kepala nya.
"Suutttt!!! Nanti di denger gimana si ahh!" Tukas ku.
Kak Fian hanya cengengesan dengan tingkah nya.
__ADS_1
"Alin..." Belum sempat Ustadzah Nurul memanggil ku, ia tampak terkejut dengan sesuatu. Namun entah apa yang menjadikan ia begitu terkejut.
"Nu..Nurul?" Papa tampak tak percaya dengan seseorang yang ada di hadapannya. Apakah mereka sudah saling kenal? Tapi dari mana?
Aku dan Kak Fian hanya saling menatap bingung.
"Pahh.." ucap ku yang menyaksikan Papa tampak berjalan pelan ke arah Ustadzah Nurul. Aku dan Kak Fian pun mengikuti nya dari belakang.
"Mas Irawan?" Tanya Ustadzah Nurul yang tengah mematung menyaksikan Papa datang menghampiri nya.
"Papa.. Papa kenal sama Ustadzah Nurul?" Tanya ku yang melihat Papa dan Ustadzah Nurul secara bergantian.
"Nurullll," Papa ku tampak menitikan air mata.
Ada apa ini? Apa ini semua?!
"Nurul, apa benar ini kamu? Apa aku tidak bermimpi?" Tanya Papa yang tampak antusias.
"Mas.."
Yang kulihat Papa hanya menangis sambil menatap sendu Ustadzah Nurul. Dan begitupun dengan Ustadzah Nurul, ia menangis melihat seseorang di hadapannya menangis dengan sangat pilu.
"Mas.. apakah mereka berdua anak kita?" Tanya Ustadzah Nurul yang tampak menyeka air mata nya.
Aku semakin dibuat bingung dengan keadaan ini. Apa? Anak kita? Apa maksudnya? Apa mereka dulu pernah menjalin hubungan?
"Iya Nurul, ini Alina dan Fian," jawab Papa sambil mendekatkan aku dan Kak Fian kepada Ustadzah Nurul.
"Alina! Fian! Putra putri bunda" Ustadzah Nurul tampak mendekat ke arahku dan Kak Fian. Lalu memeluku juga Kak Fian.
Sementara di sisi lain, Papa hanya terisak melihat aku dan Ustadzah Nurul saling berpelukan.
"Alina.. Fian.. apa kalian tahu. Ini adalah bunda kalian yang dulu Papa ceritakan," ujar Papa ku
"Hah?" Aku melepaskan pelukan Ustadzah Nurul.
Bagaimana mungkin?
"Papa bohong! Aku nggak percaya!" Ucap ku seperti anak kecil.
"Nak, ini bunda sayang.. ini bunda. Maaf kan bunda dulu yang sudah menelantarkan kalian," ujar seorang wanita yang mengaku sebagai ibuku.
Drama keluarga kami mungkin saat ini menjadi tontonan orang banyak. Kami menjadi pusat perhatian banyak orang. Namun sedikitpun kami tak peduli.
"Bunda.. jadi.." Kak Fian yang tampak sudah terhasut dengan ucapan Papa dan Ustadzah Nurul, ia langsung memeluk Ustadzah Nurul.
"Dek, ini bunda dek, ini bunda. Bunda sangat mirip sama kamu," ujar Kak Fian sambil menangis lalu mengajaku untuk memeluk Ustadzah Nurul.
"Bunda.." aku pun berjalan ke arah Ustadzah Nurul. Aku pun sudah sedikit percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Papa dan Kak Fian bahwa wanita yang tengah berada di antara kami memang benar adalah ibu ku dulu yang sempat menghilang.
"Sini nak, ini bunda.." Ustadzah Nurul itu merentangkan satu tangannya dengan bermaksud agar aku segera memeluknya. Dan tangan satu nya lagi mengusap-ngusap rambut Kak Fian lalu menciumi nya. Tampak kerinduan begitu menyelimuti perasaan wanita yang ku sebut Bunda.
"Alhamdulilah ya Allah, aku tidak menyangka kita akan di pertemukan kembali," ungkap Papa yang tampak terharu dengan kedekatan kami.
Jangan dulu beropini bahwa Allah selalu memutuskan kebahagianmu. Hayatilah sampai akhir, bisa jadi apa yang tengah menimpamu, akan menjadi suatu kenangan terindah di hidupmu.
(Pov Author)
Mereka berempat pun duduk di ruang tamu rumah keluarga Hartawan yang di mana ada pendatang baru, yakni istri pertama Irawan, Nurul atau juga di sebut Ustadzah Nurul. Suasana tampak canggung, namun masing-masing setiap hati orang yang tengah berada di ruangan itu pasti merasakan bagaimana rasa nya memiliki keluarga yang seutuhnya, terutama Alina dan Fian.
"Masih tetap sama," ujar tiba-tiba Ustadzah Nurul sambil menelisik setiap sudut ruangan dengan tangan yang tak henti-henti nya terus memegang tangan Alina, putrinya.
Alina pun memeluk tubuh Bunda nya dari samping. Kini ia bisa kembali merasakan rasa nya kasih sayang seorang Ibu.
"Nurul, jadi kamu yang sudah membuat Alina masuk islam?" Tanya Irawan.
"Alhamdulillah mas, tapi ternyata.. Alina, kenapa kamu malah meninggalkan islam? Siapa yang mengajari mu nak?" Tanya Ustadzah Nurul sambil menatap Alina sendu.
"Tidak ada yang mengajari Bunda, ini memang keinginan Alina sendiri. Dan ada alasan tertentu Alina melakukannya."
"Ya sudah.. yang penting sekarang kita semua sudah se arah," ungkap Nurul sambil melihat Irawan, Fian, dan Alina secara bergantian.
"Nurul, sekarang kamu tinggal dimana? Dan mengapa?.." ujar Irawan sambil memperhatikan baju yang tengah di kenakan oleh Nurul. Yang Irawan fikirkan, Nurul sekarang sudah berubah drastis. Yang tadi nya seorang wanita malam, kini ia bisa menyandang status sebagai Ustadzah.
"Iya mas, aku belum sempat menjelaskan semua nya pada kalian. Sebenarnya.. setelah kejadian itu, jujur aku merasa malu dan enggan melihat kalian karena besar nya rasa bersalah ini. Hingga aku memutuskan untuk menemui Paman dan Bibi ku di kampung. Lalu setelah mendapatkan biaya yang cukup, aku memutuskan untuk mondok di salah satu pesantren yang berada di Tarim, Yaman. Dan alhamdulilah, setelah aku mendapat pendidikan yang layak, aku bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Dan aku pernah berjanji, akan menemui anak-anak ku kembali setelah aku berhasil menjadi manusia. Dan sekarang itu terjadi. Dan mas.. maafkan aku dulu yang sempat membekaskan luka di hatimu, membebankan fikiranmu, dan juga telah meninggalkan tanggung jawab ku sebagai seorang istri. Maafkan aku Mas," jelas Ustadzah Nurul panjang lebar. Ia sesekali terisak setelah menceritakan perjuangannnya untuk bangkit dari sebuah keterpurukan.
__ADS_1
"InsyaAllah aku sudah ikhlas, dan insyaAllah aku bisa memaafkanmu. Maaf kan aku juga yang mungkin telah gagal menjadi imam untuk mu," Ustadzah Nurul hanya menggeleng sambil tersenyum berderai air mata.
"Oh ya, dan sekarang kamu tinggal di mana?"
"Aku.. aku sekarang mengajar di Pondok Pesantren Al-Jannah, masih sekitaran sini. Dan ketika sore, aku juga sering mengadakan pengajian khusus ibu-ibu."
"MasyaAllah, aku sangat senang mendengar penuturanmu. Kesalahan telah kamu tebus dengan seribu kebaikan yang tak terhingga. Belajarlah dari kesalahan, aku yakin kamu orang yang baik,"
Tampak suasana kini terasa hangat di ruangan itu. Tangis dan gelak tawa bercampur menjadi satu. Beberapa ada diantaranya yang menceritakan perjuangan serta pengalaman hidupnya, diantaranya Ustadzah Nurul.
"Yessss, dek, sekarang kita punya Bunda. Keluarga kita lengkap lagi dek," ujar Fian yang tampak sangat senang.
Alina hanya mengangguk sembari tersenyum, kemudian memeluk Ustadzah Nurul.
"Oh ya, Nurul.. apakah kamu bersedia tinggal di sini kembali?" Tanya Irawan yang tampak khawatir di tolak permintaanya oleh Ustadzah Nurul. Ustadzah Nurul tampak memikirkannya sejenak.
"Akan aku pertimbangkan lagi Mas," jawab nya dengan suara yang sangat lembut.
Kini di meja makan tersedia beberapa hidangan yang sangat mewah. Bi Ina memasak banyak hari ini, ditambah bantuan dari Ustadzah Nurul.
"Alhamdulilah Buk, saya bisa bertemu Ibu lagi," ungkap bi Ina yang terharu dengan kedatangan majikannya.
"Iya bi, mungkin ini jalan yang terbaik dari Allah," jawab Ustadzah Nurul sambil merangkul bi Ina.
"Ehh sudah sudah buk, biar bibi aja yang bawa in makannanya," seru bi Ina yang melihat Ustadzah Nurul membawakan beberapa piring hidangan ke arah meja makan.
"Tidak apa-apa, kita sama-sama mengerjakan bi," ia kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Semua makanan sudah tersaji dan siap makan. Semua anggota keluarga Hartawan kini sudah berkumpul kembali.
"Bi Ina, sini kita makan bareng-bareng," ujar Ustadzah Nurul ketika melihat bi Ina akan berlalu dari hadapannya.
"Aduhh, bibi malu ah bu,"
"Udah bi, lagian biar tambah lengkap," sambung Irawan. Bi Ina kemudian menerima tawaran Irawan dan langsung duduk di antara tengah-tengah keluarga yang tengah berbahagia.
"Hei, berdo'a dulu dong nak," seru Ustadzah Nurul ketika melihat Fian yang hampir saja sudah memasukan satu sendok nasi ke arah mulutnya. Gelak tawa pun terjadi karena ulah Fian.
"Oh iya, lupa Bunda. Saking lapar nya karena udah syuting tadi,"
Hahahahahahh
Canda dan tawa kini memenuhi isi ruangan itu. Rumah yang dulu nya sempat akan dijual karena selalu terjadi sesuatu yang tak diinginkan, sekarang adalah satu hal yang tak mungkin terlakukan. Rumah itu adalah saksi bisu dimana keluarga ini hidup dengan perjuangannya masing-masing. Mencari letak kebahagiaan di mana mereka harus bertempat.
***
"Ya sudah, Bunda pulang dulu yah. Nanti besok Bunda ke sini lagi. Atau enggak, kalian nanti pulang ngampus ke tempat nya Bunda. Ya mas?"
"InsyaAllah yah.."
"Yahh... Bunda kok pulang?" Alina tampak bersedih ketika Ustadzah Nurul harus kembali meninggalkannya.
"Nanti Papa akan bicarakan lagi soal ini nak. Tenang saja," Irawan mengusap lembut pucuk kepala Alina.
***
(Pov Alina)
Ahhhh akhirnya aku kembali merasakan bahagia yang sesungguhnya. Terima kasih ya Allah, dan maafkan aku yang telah berburuk sangka akan takdirmu. Bibir ku dengan refleks tersenyum dengan tangan ku mengusap-ngusap sprei dalam keadaan terbaring.
Aku iseng-iseng membuka aplikasi berwarna hijau, dan?!!!
Spam chat dari Pak Tio!!! Aku segera bangkit dari tidurku.
Aku lupa bahwa akan ada pertemuan hari ini. Saking bahagianya aku sampai lupa akan hal ini.
'Alina? Apa sudah ada waktu?'
'Alina? Apa kamu masih sibuk?'
'kalau sibuk tidak apa-apa. Lain kali saja. Maafkan saya yang mungkin sudah mengganggu waktumu'
Aku pun langsung saja membalas pesannya setelah membaca isi chat yang sebelumnnya.
'ya Allah, saya lupa Pak. Tadi saya ada urusan sebentar. Maaf Pak, saya tidak bermaksud apa-apa. Sekali lagi maafkan saya Pak'
Jantungku berdegup dengan sangat kencang takut kalau Pak Tio akan kecewa dengan sikap ku. Tuhh kan, aku saja bisa memikirkan perasaan orang lain, tapi mengapa kadang seseorang sangat tak bisa menghargai perasaanku, terutama Pak Tio yang sudah menorehkan luka di hati ini. Ahhh apaansih, kok jadi dramatis gini!
__ADS_1
Della! Ya.. aku harus menceritakan hal ini pada Della.
Jangan dulu beropini bahwa Allah selalu memutuskan kebahagianmu. Hayatilah sampai akhir, bisa jadi apa yang tengah menimpamu, akan menjadi suatu kenangan terindah di hidupmu\`\`).