
(Alina)
Hari ini aku berniat mencari seseorang yang menurutku bisa mengabulkan permintaanku. Ya, Ustadzah Nurul, aku harus bisa menemuinya bagaimanapun caranya.
Aku segera mengemas barang apa saja yang akan aku bawa untuk menemui Ustadzah Nurul. Aku memasukan beberapa barang yang bisa aku bawa ke dalam tas ransel yang biasa aku gunakan untuk ke kampus. Aku memasukan salah satu diantaranya kado yang pernah diberikan Ustadzah Nurul waktu itu ke dalam tas. Karena belum sempat aku membukanya, jadi nanti akan sekalian aku diskusikan dengan beliau. Aku yakin bahwa kado ini bukan sembarang kado.
Kini tubuhku hanya dibalut dengan kaos hitam lengan pendek, dipadu dengan celana jeans panjang. Tak lupa aku memakai jaket korea untuk menutupi bagian tubuhku yang sedikit terbuka.
"Sudah belum ya?". Aku bergumam sembari memiring-miringkan tubuhku menghadap cermin. Aku merapikan rambut pirang ku dengan jari. Dan tak lupa aku selalu melekatkan jam tangan berwarna silver di pergelangan tangan kananku.
Aku tak mendapati Papah dan Kak Fian ada di ruang keluarga. Hanya detak jam yang menjadi alunan sunyi.
"Ahh sudahlah, palingan juga lagi pada ke kantor," aku memperhatikan setiap sudut ruangan. Lalu segera bergegeas untuk pergi.
"Buru-buru amat, mau kemana nih?" Suara seorang laki-laki berhasil menghentikan langkahku. Aku segera memutar kepala ke belakang. Dan benar saja, Kak Fian sedang berdiri di samping tangga memperhatikanku yang tengah terburu-buru. Aku lantas menghampirinya terlebih dahulu.
"Ahh, Alina..mau pergi bentar," ucapku dengan nada yang terpotong.
"Hmmm bukannya, hari ini kamu gak ada kelas?" Ia melipatkan kedua tangan di depan dada nya seraya memiringkan kepala nya dengan tatapan menyelidik.
Aku semakin tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kakak laki-laki ku.
"Alina ada perlu bentar, dahh ya Alina pergi dulu," aku segera menghampiri pintu dengan sedikit berlari sambil merapikan baju.
Hari jum'at, pukul 13.00 adalah hari dimana aku akan melakukan sesuatu yang cukup beresiko. Namun akan membimbing jalan hidupku menjadi lebih terarah, mataku tak lepas mencari sosok keberadaan seseorang yang menurutku, bisa membantu mengubah hidupku yang terombang ambing angin. Namun sayangnya, aku tak menemukan beliau. Padahal aku sangat yakin, bahwa ia sering berada di sekitaran sini.
Tinggggggg
Satu pesan pun berhasil masuk dari aplikasi berwarna hijau dari ponselku. Aku segera mengeluarkannya dari dalam saku celana jeansku lantas mengeceknya lebih lanjut.
'Alina? Kamu sedang dimana?' Pesan itu terkirim dari nama kontak yang ku namai PAK TIO.
Sejujurnya, aku bingung harus menjawab apa, apakah aku harus jujur saja? Atau berbohong?
Keduanya sama-sama beresiko. Ahhhh
'Oh ini Pak, saya lagi di sekitaran kampus'
Omg! Pesan yang baru saja aku kirimkan, langsung bertanda centang dua biru.
'Kampus? Kalo gak salah hari ini kamu gak ada jadwal?'
Aku semakin terdesak dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
'Ahh iya, tapi saya cuma sekedar jalan-jalan aja'
Aku terpaksa berbohong, namun benar adanya. Kalau masjid ini letaknya tak jauh dari kampusku.
Ceklis dua abu, ahhhh
Aku segera mematikan ponselku.
Namun, mengapa aku begitu bodoh? Kenapa aku tak menanyakan alasan ia mencari tahu keberadaanku? Ahhh bodoh!
Aku menarik nafas perlahan, ada rasa kecewa yang terselubung di hatiku karena tokoh utama saat ini belum aku temukan. Padahal aku sangat membutuhkannya.
Aku berjalan menuju arah masjid, lalu duduk di teras tanpa beralaskan apapun.
Apakah niatku hanya sia-sia?
Ahh, tidak mungkin!
Aku tak akan menyerah!
Aku mengacak-ngacak rambutku dan menghembuskan nafasku dengan kasar.
"Ahhh!" Aku tersentak kala merasakan ada tangan yang menggapai bahuku.
"Assalamualaikum," dari suara nya aku sudah bisa menebak bahwa pemilik suara ini adalah...
"Ustadzah?" Aku beranjak senang kala orang yang saat ini aku cari, tiba-tiba saja menghampiriku.
Ia hanya menyunggingkan senyum khasnya sambil memegang sebelah pundaku.
"Ustadzah, untunglah Ustadzah datang. Saya sedang mencari ustadzah," aku mengucapkannya dengan riang.
"Oh ya? Ada apa memang?" Ucapnya yang tampak penasaran.
"A- anu.. bisa..kita bicara sebentar?" Ucapku yang mulai gugup. Dadaku tiba-tiba saja tak dapat mengatur nafas dengan sempurna.
"InsyaAllah bisa,"
Kini langkahku semakin dekat, tinggal satu langkah lagi Alina. Kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Aku mencoba meyakinkan diriku.
Kini aku dan Ustadzah Nurul tengah berbincang di atas teras masjid. Namun dibagian luar.
"Ustadzah, sebenarnya.. maksud dan tujuan saya menemui Ustadzah..
Saya..."
"Saya?..." Ia tampak memiringkan kepalanya yang dibalut dengan kain berwarna hitam.
Kenapa aku jadi gugup seperti ini, ahh sialan!
"Saya..
Saya ingin Ustadzah Nurul membimbing saya untuk menjadikan saya bagian dari Islam," ucapku dengan yakin.
"Haa?" Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, tanda tak percaya apa yang baru saja aku katakan.
"Maksudnya? Apa?..." Ucapnya dengan terpotong.
"Iya Ustadzah," aku berusaha meyakinkan beliau yang tampak ragu akan keputusanku.
"Alhamdulillah ya Rabb. Engkaulah yang maha membolak-balikan hati manusia," ia tampak meresapi perkataannya. Yang aku tebak, ia tengah memuji tuhannya.
"Tapi..ini tidak akan mudah Alina. Saya bukan bermaksud meragukan ucapanmu. Namun, keputusan ini tidak boleh sembarangan kamu melakukannya. Akan banyak tantangan yang akan kamu hadapi nantinya. Tapi, insyaAllah jika memang kamu benar-benar yakin, saya bisa membantu kamu," sambungnya.
Ucapannya begitu menyejukan hatiku, ternyata..masih ada orang di dunia ini yang peduli tethadap nasibku.
"Ustadzah, saya tidak bermain-main dengan ucapan saya barusan. Saya..selama ini sudah lelah, hidup hanya dilandasi kebodohan, dan diperdaya oleh keadaan. Sa.." Aku tak dapat lagi melanjutkan ucapanku, bahkan membendung air mataku saja aku hampir tidak mampu. Lalu aku menumpahkannya begitu saja.
"Saya ingin hidup dengan memegang tujuan yang pasti. Tujuan yang mana mengapa saya dilahirkan untuk menapaki dunia. Saya tidak punya tempat dan seseorang yang mendengar keluh kesah saya Ustadzah..
Apakah saya salah, telah menganggap bahwa Tuhan itu memang tak pernah hadir dalam kehidupan manusia.
Tolong saya Ustadzah, saya.." aku benar-benar tak habis fikir mengapa aku bisa begitu tak berdaya kala mengatakan ini.
"Sudah sudah, seperti yang tadi saya katakan, saya bisa membantu kamu. Semoga saja Allah mempermudah niat kamu untuk bisa lebih dekat dengannya.
Namun, ada satu hal yang membuat saya penasaran," ucapnya yang tampak ragu.
"Apa itu Ustadzah?"
"Kenapa tiba-tiba kamu berniat masuk islam?" Boleh saya tahu alasannya?"
Aku lantas menceritakan mimpiku malam itu, yang menurutku, itu bukan sekedar mimpi, melainkan petunjuk.
Ustadzah Nurul yang tampak memahami alasanku untuk menjadi bagian dari islam, ia segera mengajaku untuk masuk ke dalam masjid. Entah aku akan diapakan, yang jelas, sekarang aku sudah benar-benar siap untuk menjadi seorang muslim.
"Kita masuk ke dalam saja. Saya rasa..ini sangat penting. Ayo!" Ajak nya sembari beranjak, kemudian berjalan mendahuluiku. Namun kemudian kembali menoleh ke arahku yang tampak gugup tak jelas.
"Baik Ustadzah," ucapku yang mulai mencoba mengendalikan diri. Kemudian aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Sungguh suasana yang amat menenangkan. Angin semilir yang berhasil melewati pintu masjid ini sungguh amat menyejukan hati. Ditambah suasana di tempat ini sangat damai sekali. Tak nampak kegaduhan satu pun. Itupun merupakan alasanku mengapa aku berubah fikiran dan berniat menjadi bagian dari islam. Karena islam, adalah agama yang sangat damai dan tentram, saling menyayangi satu sama lain, juga ajaran didalamnya amat mudah dikenali akal dan logika.
"Alina, perkenalkan, ini Ustadz Afwan. Beliau yang kerap kali membantu saya untuk mengajar ngaji anak-anak. Hanya saja, beliau mendatangi masjid ini pada hari-hari tertentu. Jadi kamu tidak bisa menemuinya setiap hari," ucapnya yang mencoba memperkenalkanku pada seorang laki-laki yang aku taksir, usia nya sama dengan Pak Tio. Jujur, aku merasa sangat terkesima dengan penampilannya yang amat rapih mengenakan kemeja putih, dan bawahan seperti rok, namun aku yakin itu bukan rok. Juga diatas kepala nya terpampang benda hitam yang sedikit menutupi rambutnya.
Ya ampun, aku begitu awam, sampai sampai hal seperti itu saja aku amat tak tahu.
"Asalamualaikum. Perkenalkan, saya Afwan," ucapnya sembari menempelkan kedua telapak tangannya yang ditaruh di depan dada. Senyumnya nampak begitu menenangkan hati, terlihat sekali kemurahan hati yang tampak diwajahnya.
Entah perasaanku, atau memang benar. Aku melihat cahaya indah disekeliling wajah Ustadz Afwan saat pertama kali melihatnya. Bahkan sama sewaktu aku pertama kali berteku Ustadzah Nurul.
"Ahh iya, perkenalkan juga saya Alina Ustadz," jawabku sembari menyunggingkan senyum pada Ustadz Afwan.
"Wah Ustadzah dan Alina tampak sedikit mirip yah," ungkap Ustadz Afwan sambil memandangi aku dan Ustadzah Nurul secara bergantian. Aku hanya mengerutkan dahi lalu aku dan Ustadzah Nurul hanya saling memandang.
"Ahh maaf, Ustadzah, apakah akan dimulai sekarang?" Sambung Ustadz Afwan dengan sopan dan hati-hati.
__ADS_1
Aku tak tahu seberapa hormatnya Ustadz Afwan kepada Ustadzah Nurul.
"Bedanya Alina masih muda, sedangkan saya sudah tua," jawab Ustadzah Nurul sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum tipis ke arah keduanya.
"InsyaAllah, semoga lancar," ucapnya sembari menyunggingkan senyum.
"Tapi sebelum itu.." ustadzah Nurul tampak mengedarkan pandangannya dan terllihat tengah mencari sesuatu.
"Ehmm, maaf Ustadzah, kalo boleh..biar saya yang mengambilnya," ustadz Afwan tampak menawarkan dirinya membantu Ustadzah Nurul untuk mengambilkan sesuatu. Seperti ada ikatan batin saja. Fikirku.
"Tidak apa, biar saya saja," jawabnya dengan lembut.
Sungguh, aku tak lagi menyimpan rasa ragu pada islam. Agama yang betul-betul sempurna. Langkahku semakin mantap.
Lalu Ustadzah Nurul pun beranjak ke lemari yang terletak agak jauh di samping kanan pojok. Aku terus memperhatikan beliau, tapi mengapa hatiku semakin dak dik duk. Tak percaya rasa nya hari ini aku akan menjadi...
Tak lama setelah itu, Ustadzah Nurul pun datang dan kembali duduk diantara aku dan Ustadz Afwan dengan membawa sesuatu di tangannya. Seperti kado.
"Ini, kamu coba pakai ini terlebih dahulu," ucapnya sembari menyerahkan kado itu ke arahku. Aku lantas langsung menerimanya begitu saja tanpa menanyakannya dari siapa.
"Saya hanya menjalankan amanah, ini adalah pemberian seseorang khusus untuk kamu. Dan sekarang waktunya sudah tepat, kamu bisa memilikinya," jelasnya.
Lantas aku hanya mengerutkan dahi, seseorang? Waktunya sudah tepat? Maksudnya?
Beberapa pertanyaan terlintas di otak ku.
"Maksudnya Ustadzah?" Tanyaku sembari sedikit memiringkan kepala.
Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Sungguh anehh.
Ustadzah Nurul menatap aku dan Ustadz Afwan secara bergantian, lalu sedikit mengangguk kearahku.
Aku tak mengerti apa maksudnya!
Aku kemudian dengan cepat membuka kado itu.
Ustadzah Nurul dan Ustadz Afwan hanya saling menatap dan tersenyum ke arahku.
"Ustadzah?" Tanyaku sambil memegang kain seperti jilbab, namun dengan ukuran yang tampak lebih besar. Aku terus mengamatinya, jika difikir-fikir.. jilbab ini begitu cantik.
Berwarna putih polos, dengan sedikit motif brukat yang menjadi bagian terindahnya.
"Sekarang, coba kamu pakai dua-dua nya," titah Ustadzah Nurul.
Aku hanya menuruti perintah Ustadzah Nurul. Aku meminta izin terlebih dahulu untuk berdiri dan memakai sepotong dari jilbab besar itu ke bagian pinggang. Lalu duduk kembali dan mencoba mencari fungsi dari jilbab yang tengah aku genggam.
"Biar saya bantu," ucapnya yang langsung memakaikan jilbab besar itu ke kepalaku dengan sangat hati-hati.
"MasyaAllah," lirih Ustadz Afwan yang melihatku pertama kalinya mengenakan jilbab. Ia tampak menelan saliva nya dalam-dalam.
"Dijaga yah pandangannya Ustadz Afwan," ujar Ustadzah Nurul sambil sedikit terkekeh.
"I- iya maaf Ustadzah," jawabnya dengan malu-malu.
Aku sedikit menahan tawa melihat tingkah Ustadz Afwan yang terlihat kikuk.
Ustadzah Nurul hanya tersenyum memandangku.
"Kamu jauh lebih cantik dengan pakaian tertutup Alina," ucapnya.
Benarkah? Apa aku secantik itu kala tubuhku tertutup. Sampai-sampai Ustadz Afwan saja terpesona melihatku tadi.
"Tapi Ustadzah, siapa yang memberikan saya ini?"
"Ada, seseorang itu melarang saya memberitahu namanya pada kamu. Nanti juga tahu sendiri, tenang saja,"
Ahhh, aku begitu tak puas dengan jawabannya. Namun aku tak banyak bertanya lagi, aku hanya mengangguk tanda memahami ucapnnya.
"Tapi.. kita masih membutuhkan satu orang saksi lagi," ungkap Ustadzah nurul yang tampak yakin.
'Saksi?' Tanya ku dalam hati.
Bukankah Ustadz Afwan saja sudah cukup? Apa memang ini persyaratan awal menjadi seorang mualaf?
"Maaf Ustadzah?" Tanyaku..
"Ahh sebentar," jawabnya yang tampak tengah memikirkan sesuatu.
"Saya siap jadi saksi kedua," tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki yang cukup keras serta lantang. Kami bertiga sontak mengedarkan pandangan mencari arah sumber suara tersebut.
Lalu aku menemukan laki-laki yang tengah berdiri tegap diambang pintu. Ia tersenyum manis kearahku.
"Pak Tio?" Bagaimana mungkin ia bisa mengetahui keberadaanku?
Tak lama setelahnya, Pak Tio tampak berjalan ke arahku, lalu duduk di dekat Ustadz Afwan.
"Maaf Ustadzah, izinkan saya menyaksikan Mahasiswi saya menjadi seorang mualaf," ucapnya dengan yakin kepada Ustadzah Nurul yang masih tampak kebingungan atas kedatangan Dosenku.
"Alhamdulillah, akhirnya..
Boleh, bahkan saya sangat memerlukan satu orang saksi lagi," jawabnya yang tampak memberikan kepuasan pada Dosenku.
Pak Tio hanya mengangguk sembari tersenyum.
Aku melihat.. Pak Tio terus saja memperhatikan jilbab besar yang tengah aku kenakan. Apa mungkin jilbab ini...
(Pov author)
Takdir semakin mendekat, dan syahadat semakin di depan mata. Gadis itu, Alina, ia tampak semakin risau, entah apa yang terlintas dibenaknya. Tangan dan dahi nya kerap kali mengeluarkan cairan bening namun ia berusaha mengendalikan fikirannya.
Ia sejenak memandang ke arah Ustadzah Nurul yang kemudian dibalas dengan anggukan tanda meyakinkan bahwa Alina melangkag ke jalan yang tepat.
Lalu Alina kembali memandang laki-laki yang tak lain adalah Dosennya sendiri, Pak Tio. Kemudian laki-laki itu tersenyum sembari mengangguk. Alina pun kembali menunduk.
"Baiklah Alina? Apa kamu sudah siap?" Tanya Ustadzah Nurul memastikan.
"Saya siap Ustadzah," jawabnya sembari menghembuskan nafas.
"Baiklah, saya akan segera memulai. Dan untuk Ustadz Afwan serta Pak Tio, mohon do'a agar diberi kelancaran yah,"
"InsyaAllah Ustadzah," jawab keduanya dengan kompak.
"Jika kamu benar-benar sudah siap, nanti ikuti kalimat yang saya ucapkan," ucap Ustadzah Nurul membenahkan posisi duduk nya menjadi sedikit lebih dekat dengan Alina.
Alina mencoba mengatur nafas nya.
"Bismillahirrahmaanirrahim.
Mulai, ikuti saya
Ashadu,"
"As- ashadu," Alina tampak mengikuti kalimat yang dilontarkan Ustadzah Nurul walaupun terlihat ia sedikit kesusahan mengucapkannya.
"Anlaaillaha,"
"Anlaa aliha,"
"Anlaaillaha," ulang Ustadzah Nurul
"Anlaaillaha,"
"Illallah,"
"Illallah,"
Keringat dingin mulai lagi membasahi sekujur tubuh Alina. Ia tampak sangat terpengaruh dengan kalimat yang tengah ia pelajari sekarang.
"Waashadu,"
"Waasdahu,"
"Waashadu,"
"Waashadu,"
"Anna muhammadan,"
__ADS_1
"Anna muhammadan,"
"Rasulullah,"
"Rasul..rasull," kali ini Alina tampak sangat kesusahan dengan kata terakhirnya. Namun ia terus berusaha.
"Rasulullah,"
"Saya bersaksi,"
"Saya bersaksi,"
"Tiada tuhan selain Allah,"
"Tiada tuhan selain Allah,"
"Dan saya bersaksi,"
"Dan saya bersaksi,"
"Nabi Muhammad utusan Allah,"
"Nabi Muhammad utusan Allah,"
"Alhamdulillah," ungkap Ustadzah Nurul sambil bergegas untuk memeluk Alina.
"Alhamdulillah," ucap Ustadz Afwan dan Pak Tio sambil mengusapkan telapak tangan ke wajahnya masing-masing.
"Ustadzah, apakah saya sekarang sudah punya tuhan?" Ucap Alina sambil terisak di dalam dekapan Ustadzah Nurul. Entah mengapa ketika aku melihat mereka berdua berpelukan seperti itu, aku rasa.. mereka seperti ibu dan anak saja. Ah tidak tidak, aku ngaco! Mereka kan baru saja kenal.
"Tentu saja cantik. Dan..." ustadzah Nurul melepaskan pelukannya sejenak. Lalu memegang kedua bahu Alina.
"Kamu sudah resmi menjadi seorang Mualaf.
Apa sekarang kamu percaya bahwa tuhan itu hanya satu?"
"Saya percaya Ustadzah, Yakni Allah"
"MasyaAllah, dan untuk nabi Muhammad, kamu percaya bahwa beliau adalah utusan Allah?"
"Saya percaya Ustadzah," ucapnya dengan mantap sambil menyeka cairan beming di sudut mata nya.
"Dan nanti..untuk tatacara beribadahnya..
Ehmm, apa sudah buka kado itu?" Tanya nya
"Belum Ustadzah, tapi saya bawa kok,"
Alina kemudian bergegas untuk mengambil kado pemberian Ustadzah Nurul di tas ransel yang terletak agak jauh darinya. Ia tampak sedikit kesusahan dengan jilbab besar (mukena) yang tengah ia gunakan sekarang.
Alina kemudian kembali duduk sambil membawa kado merah. Kemudian ia disuruh Ustadzah Nurul untuk segera membuka nya.
"Islam," gumam Alina sambil membaca cover buku dari isi kado tersebut.
"Ya, saya sengaja memberikan kado itu jauh jauh hari sebelum kesempatan ini datang.
Dan sekarang, semua tentang islam ada disitu, lengkap. Mulai dari tata cara shalat, membaca al-qur'an, dan masih banyak yang harus kamu pelajari.
Semoga kamu bisa menjadi muslimah yang baik, dan selalu istiqomah di jalan kamu yang sekarang," jelasnya panjang lebar.
"Ustadzah," Alina kembali memeluk Ustadzah Nurul sambil berderai air mata. Ia begitu tak menyangka, pertemuan dengan beliau ini adalah perantara yang tuhan titipkan di sela-sela takdirnya.
"Ustadzah, terimakasih sudah membimbing saya, memperkenalkan saya pada islam.
Saya sangat bersyukur bisa bertemu Ustadzah juga buku ini," sambungnya.
"Saya hanya perantara yang Allah titipkan.
Mungkin ini jalan kamu nak," jawabnya sambil mengusap belakang kepala Alina layaknya kasih sayang seorang Ibu pada anaknya.
"Dan..Pak Tio, Ustadz, saya mengucapkan beribu trimakasih karena sudah menjadi saksi atas kejadian sekarang,"
"Sama-sama, Semoga selalu istiqomah ya," jawab Ustadz Afwan dengan ramahnya.
"Sama-sama, harapan saya sama seperti Ustadzah Nurul dan Ustadz Afwan," jawabnya.
Semua tampak bahagia karena islam hari ini ada pendatang baru, yakni seorang gadis yang sudah lelah mencari tuhannya dan sekarang, ia menemukannya.
"Oh iya, Pak Tio, apa saya beritahu saja?" Tanya Ustadzah Nurul pada Pak Tio.
"Ohh, boleh Ustadzah,"
"Kamu tahu ini namanya apa?" Tanya Ustadzah Nurul sambil memegang jilbab besar yang tengah dikenakan Alina.
Alina hanya menggeleng.
"Ini namanya MUKENA yang biasa dipakai seorang muslim wanita untuk melaksanakan shalat. Dan orang yang mengamanahkan mukena ini untuk kamu, adalah Dosen bahasa Inggris kamu," jawabnya panjang lebar.
"Pak Tio?" Alina tampak membulatkan kedua bola mata nya ke arah Pak Tio.
Ustadzah Nurul hanya mengangguk.
"Sa- saya..
Terimakasih Pak untuk mukena nya, saya akan gunakan dengan sebaik-baiknya. Juga..saya sangat menyukai designnya," aku mengatakan hal oni pada Pak Tio dengan sedikit rasa canggung dan malu-malu.
"Sama-sama, itu sudah menjadi rezeku kamu,"
Kini Alina tengah menuju perjalanan untuk pulang, hatinya begitu bahagia tak terkira. Ia tak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan semegah ini, seindah ini. Lagi-lagi, air matanya kembali jatuh sambil menatap kaca jendela taxi.
"Ya Allah, trimakasih atas takdir yang engkau titipkan untuku. Setelah ini, aku akan berusaha untuk lebih dekat denganmu. Bimbinglah aku, wahai tuhanku," lirih Alina.
"Dan Mama, lihatlah..
Putrimu sudah menemukan tuhannya. Andai Allah tak membawamu terlebih dahulu, mungkin keluarga kita akan merasakan nikmat ini bersamaaan. Semoga mamah selalu tenang di sisi Allah.
Ya Allah, dan jagalah selalu ibuku, dia permata hatiku jangan biarkan tubuhnya tergores sedikitpun," batinnya.
Ia melirik sejenak paperbag yang isinya hadiah pemberian Ustadzah Nurul dan Dosennya, Pak Tio. Yang ia anggap sebagai hadiah teristimewa dalam hidupnya.
Tuk tuk tuk..
"Asalamualaikum..
Pah? Kak Fian?" Alina pun masuk. Ia berencana memberitahu kejadiab ini ketika kumpul-kumpul nanti.
"Waalaikumsa-..." Belum sempat seorang laki-laki yang sudah menginjak usia hampir setengah abad itu menjawab, ia dengan cepat menoleh ke arah putrinya, dan refleks, langsung menjatuhkan majalah yang tadinya tengah ia baca.
"Nak?" Ucapnya dengan terkejut sambil berjalan ke arah Alina.
"Pahh," lirihnya. Ia kemudian memeluk ayahnya. Namun ayahnya masih tak faham akan kejadian ini.
"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Ayahnya Alina, Irawan.
"Apa kamu?.." irawan kemudian dengan cepat memegang kedua pipi putrinya.
"Iya pah, Alina sudah menjadi seorang mualaf," jawabnya yang berusaha meyakinkan.
"Hah? Dek?" Tiba-tiba saja suara seorang laki-laki terdengar sangat keras sehingga membuat Alina jadi terkejut.
Laki-laki itu kemudian berlari ke arah Alina.
Alina mulai menjelaskan kejadian tadi siang secara detail kepada Ayah dan Kakak laki-lakinya.
Kemudian ketiga menangis haru, sungguh keajaaiban. Yang tadinya Alina sangat membenci tuhan, sekarang ia malah ingin mengenalnya.
"Non?" Suara itu berhasil mengalihkan pandangan ketiganya.
"Bibii..." ucap Alina sambil berlari dan hendak memeluk wanita yang sudah seperti ibunya, merawatnya dari kecil.
"Bibi seneng non udah seperti ini," ia menangis dalam dekapan Putri majikannya.
Yang dahulu Alina seorang gadis keras kepala, ia sekarang menjadi begitu lemah lembut, sama seperti almarhumah ibundanya.
"Iya bi, do'ain Alina supaya jadi lebih baik,"
Irawan kemudian berjalan, dan kembali memeluk putrinya juga dilanjut dengan Fian. Ia sempat mengatakan akan memberikan hadiah pada Adiknya untuk ini.
Sejauh apapun tuhan di hidupmu, tentu kamu akan merindukan kehadirannya. Hanya saja, nuranimu sempat tertutup ego untuk itu``).
__ADS_1