Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
7. Ujian yang menyakitkan


__ADS_3

(Alina)


Kelas ku kini telah selesai, banyak orang-orang yang berlalu lalang di parkiran kampus. Aku mengeluarkan ponsel ku dari dalam tas ransel dan bermaksud untuk menelfon Pak Gusdur agar tidak usah menjemputku.


'Hallo Pak, Bapak tidak usah menjemput aku hari ini'


'Oh baik non.


Tapi.. memangnya kenapa yah?'


'Gak ada apa-apa, aku cuma mau bilang itu aja. Dan tolong bilangin sama Mama kalo hari ini aku mungkin pulang agak telat Pak'


'Oh siap non'


Aku sengaja menyuruh Pak Gusdur agar tidak menjemputku hari ini. Karena hari ini, aku berniat pergi ke masjid itu lagi untuk menemui Bu Nurul.


Saat setelah aku sampai di masjid, aku tidak melihat Bu Nurul di dalam masjid maupun diluarnya setelah aku menelusuri.


Mata ku terus menelisik keberadaan beliau.


Bagaimana aku bisa menemukannya?


Sementara aku tidak sempat menanyakan kediaman Bu Nurul waktu itu.


Lalu aku berfikir untuk bertanya pada salah seorang laki-laki yang tengah sibuk mengepel lantai masjid. Ia mengenakan baju koko putih, dibalut dengan sarung berwarna coklat kotak-kotak. Di kepala nya memakai tutup kepala bulat berwarna putih yang terlihat pas untuk ukuran kepalanya.


Aku pun segera menghampiri laki-laki itu.


"Maaf Pak, saya mau bertanya," ucapku pada laki-laki itu. Ia segera menghentikan sejenak kegiatannya lalu melihat ke arahku.


"Oh silahkan dek," balas nya dengan ramah.


"Bapak tahu yang namanya Bu Nurul gak?


Biasanya sih dia suka ada di masjid ini"


"Bu Nurul?" Ia berfikir sejenak.


"Oh.. mungkin maksudnya Ustadzah Nurul ya?" Aku mengangguk


'Kenapa semua orang memanggil Ustadzah Nurul? Kenapa tidak Bu Nurul?' Batinku.


"Biasanya sih dek, kalo hari kamis dia gak datang ke sini.


Soalnya suka ngisi acara pengajian gitu"


"Oh iya iya. Yaudah kalo gitu, trimaksih Pak.


Saya izin pamit dulu."


"Sama-sama, silahkan dek,"


Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda karenaku.


Sementara aku, hari ini aku gagal menemui Bu Nurul. Tapi tak apa, lain kali aku pasti bisa bertemu lagi dengan beliau.


Cuaca hari ini begitu mendung, sepertinya akan hujan. Terasa angin yang cukup kencang berhembusan siang ini.


Aku segera membayar taksi yang sudah mengantarku pulang hari ini.


Aku berjalan menuju ke pintu gerbang rumahku yang berwarna coklat mengkilap. Namun saat pada saat itu, pintu gerbang tidak terkunci bahkan terbuka. Aku tak mendapati Mang Arman, satpam rumahku yang selalu berjaga di area gerbang.


Aku merasa ada yang aneh di sekitar halaman rumahku yang nampak sepi, ditambah cuaca hari ini cukup mendung.


Aku berusaha tak menghiraukannya dan segera melangkahkan kaki ku menuju pintu rumah.


Tok tok tok


Aku tak mendapat jawaban orang di rumah saat aku mengetuk pintu.


Aku masih berfikir mungkin mereka tidak mendengarku.


Mataku terbelalak, aku menutup mulutku dengan satu tangan kala melihat kondisi di dalam rumahku begitu berantakan.


Guci yang ada di dekat tivi pecah, barang-barang berhamburan di mana-mana.


Terlebih, aku melihat beberapa percikan darah yang ada di lantai. Aku terus mengamati satu persatu noda darah itu. Bau amis pun turut menyengat hidung. Aku mengapit hidung mancun dengan kedua jari lentik ku.


Darah siapa ini? Dimana semua orang? Kenapa batinku mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi.


Tk tk tk


Aku mendengar suara langkah kaki dari atas tangga. Aku mencoba berjalan ke arah sumber suara itu dengan sangat waspada. sialnya, kaki ku tak sengaja menendang pigura berisikan foto ku dengan Papa dan Kak Fian yang sudah pecah.


Ku hentikan langkah kaki ku.


Aku segera melihat kebawah, dan bukan hanya pigura yang aku tendang tadi, melainkan juga sebilah pisau yang sudah ternodai oleh cairan berwarna merah.


Fikiranku semakin kalut, aku terus berfikir apa yang sedang terjadi?


Lalu turunlah tiga orang berbadan cukup tinggi dan tegap serta memakai pakaian serba hitam.


Kepala nya di tutupi oleh tupluk salur hitam, dan hanya menampakan mata dan bibir nya saja.


Mereka terus mendekat ke arahku, aku pun beringsut mundur hingga sepatu ku kembali menginjak pisau tadi. Aku terus mundur hingga punggung ku sudah mencapai tembok bercat putih.


Aku menelan salivaku, jantungku berdegup kencang serta keringat ku langsung keluar membasahi kedua pelipis kanan dan kiri.


"Putri Hartawan," ucap salah seorang perampok itu dengan terus berjalan perlahan mendekat ke arahku. Ditangannya memegang sebilah pisau yang masih bersih dan belum ternodai oleh apapun. Berbeda dengan pisau yang ku temui tadi.


Aku semakin ketakutan, namun aku berusaha untuk menghadapinya. Apapun yang terjadi.


"Siapa kalian?" Tanya ku dengan suara yang sedikit bergetar. Telapak tangan ku ku tempelkan pada dinding.


Ketiga perampok itu tertawa secara bersamaan. Lalu perampok yang tengah memegang pisau tadi terus berjalan mendekat ke arahku.


"Apa nona mau orang tua nona selamat?" Tanya nya sambil meniup ujung pisau.


"Dimana orang tua ku hah? Kalian apa kan mereka?"


Perampok itu tertawa dengan sangat keras hingga menggema di dalam rumahku.


"Nona tidak buta kan?" Jari telunjuknya menunjuk pada beberapa percikan darah.


"Menurutmu.. apa yang sudah kami lakukan?"


"Sekarang, apa mau kalian hah?!"


"Mmm hanya uang sa-"


"Berapa? Berapa? katakan!" Aku terus mendesak perampok itu untuk mengatakan apa yang ia inginkan.


"Tidak banyak, hanya 1 miliar saja"


"Baik! tapi beritahu aku, dimana orang tua ku!"


"Jhon, bawa orang tua itu!" Titah ketua perampok yang tengah berbincang denganku, ia memerintahkan anak buah nya untuk membawa kedua orang tuaku yang mereka sembunyikan.


Perampok itu lari menuju gudang tempat menyimpan barang-barang yang tidak terpakai oleh keluargaku.


Sementara disisi lain, aku bingung harus mencari uang itu di mana. Tidak mungkin aku harus mengambil dari brankas Papa yang terletak di ruang kerja nya.


Beberapa menit kemudian.


"Bos .. bos gawat! Orang tua itu melarikan diri!" Seru salah satu perampok itu sambil berlari ke arahku dengan tergesa-gesa.


Ketua perampok itu langsung berbalik serta menjatuhkan pisau yang ada ditangannya ke lantai dengan kasar. Aku terperanjat, beruntung pisau itu tak mengenai kaki ku.

__ADS_1


Tubuh ku lunglai, tatapanku kosong.


Aku tak tahu harus berbuat apa, kedua orang tua ku saja aku tak tahu dimana keberadaannya.


AKU MEROGOH PONSEL DARI DALAM SAKU CELANAKU, LALU MENGIRIMKAN PESAN PADA SESEORANG.


'Tuhan, dimana engkau. Bila memang kau nyata, tunjukan keajaiban yang bisa meyakinkan ku untuk mempercaiyai keberadaanmu'


Ujian yang sungguh meruntuhkan keyakinan


Ku untuk mempercayai adanya Tuhan.


Aku berharap ini adalah mimpi, ini adalah


Bunga tidurku sementara.


Bagaimana hidupku selanjutnya, aku telah


Kehilangan berlian tanpa mengenal terlebih


Dahulu pemiliknya.


Air mataku sudah tak tertahankan, aku hanya bisa meratapi nasib ku yang malang.


'Kalian fikir aku bodoh' Ucapku dengan tersenyum sinis ketika melihat dua pisau yang tergeletak begitu saja di lantai.


"Heh lu pasti udah rencanain ini kan hah?!" Bentak ketua perampok itu sambil berbalik ke arahku lalu berjongkok dan memegang kedua pipiku dengan satu tangan kekar nya.


Aku hanya menggeleng pasrah sambil menyembunyikan ponsel ku ke belakang punggung.


Uhhhuuukk


Aku mendengar suara batuk salah seorang perampok itu. Namun ia segera membungkam mulutnya.


Aku menoleh sebentar padanya.


'Suara ini tidak asing?' Batinku sambil sesekali melihat ke arah perampok itu.


"Berikan segera uang nya!" Ucapnya dengan kasar sambil wajah nya mendekat ke wajahku.


Aku dengan segera menepiskan tangan nya yang kasar.


"Atas dasar apa kalian meminta uang kepadaku hah?! Sementara orang tua ku kalian jadikan taruhan!


Seperti inilah kiranya orang yang tak mampu menangkap ilmu kehidupan, hanya mengandalkan akal kotor untuk bertindak tanpa memikirkan sebab akibatnya!"


"Apa jika aku memberikan uang itu kalian akan menghentikan kekacauan ini?" Sambungku


"Mungkin," jawab nya sambil menaikan satu alisnya.


Aku memasukan kode rahasia brankas Papaku yang terletak di meja kerja nya.


Sementara perampok itu tengah menunggu di belakangku.


'Maafin Alina Pah, Alina terpaksa melakukan ini, ini tidak akan menurunkan martabat Papa' Ucapku dengan yakin saat memasukan kode brankas itu.


Aku mengeluarkan beberapa gepok rupiah berwarna merah dari dalam brankas.


Uang itu sudah di tata rapi Papaku yang ditotalkan senilai ada tiga miliar setengah di dalamnya.


Aku melemparkan uang senilai dua miliar ke depan para perampok itu dengan menyerakannya di lantai begitu saja.


Aku menyibakan rambutku yang cukup berantakan, dan mengusap genangan air mata yang ada di sekitaran mata ku.


Aku kembali menutup brankas itu, lalu berbalik ke arah mereka.


Aku memejamkan mataku sambil menarik nafas perlahan.


Ketiga perampok itu hanya bingung dan saling menatap satu sama lain.


"Total dua miliar. Satu miliar untuk syarat kalian jangan pernah mengganggu keluargaku. dan satu miliar nya, itu untuk biaya hidup kalian selama belum memasuki sel!" Ucapku sambil tersenyum kecut.


Ketua perampok itu hanya menatapku bingung, lalu mengisyaratkan kedua anak buah nya untuk memunguti uang yang ku berikan tadi.


Brrraakkkk


Suara pintu kamar orang tua ku didobrak secara paksa.


Lalu masuklah tiga orang yang mengenakan seragam abu dan ditangannya memegang sebuah senjata api yang hendak menodongkan ke arah tiga perampok itu.


"Angkat tangan!" Seru salah satu polisi itu.


Dua perampok yang tengah berjongkok memunguti uang, mereka segera berdiri dan mengangkat kedua tangannya masing-masing.


Ketua perampok itu mendengus kesal.


Dan hanya pasrah sambil mengangkat kedua tangan nya dengan terpaksa.


"Cerdas juga otak mu," ucap ketua perampok itu sambil tangan nya hendak di borgol oleh polisi. Lalu polisi membawa ketiga orang sialan itu pergi dari hadapanku.


Aku hanya berjalan-jalan di jembatan dekat cafe farmala. Aku tak tahu harus kemana lagi, Kak Fian tidak dapat dihubungi.


Orang tua ku? Mereka entah ada dimana sekarang.


Aku hanya mengenakan dres putih se lutut, dipadu dengan mantel angin korea berwarna cream. Sepi ku hanya ditemani lampu-lampu kota yang menghiasi malam. Bulan yang nampak terang, berbeda dengan hati ku yang begitu redup.


Aku menyampaikan tanganku pada besi jembatan berwarna merah, ku pandangi kilapan air yang terpantul dari cahaya bulan di langit malam. Sesekali air mata ku jatuh melewati kedua pipiku yang putih dan mulus.


Suara geledek yang mulai terdengar bergantian, menandakan malam ini akan turun hujan.


Harus apa aku sekarang?


Harus bagaimana aku sekarang?


Aku tak punya tempat untuk bersandar


Rintik air mulai turun sedikit demi sedikit.


Namun aku tidak memperdulikannya, aku terus meratapi nasib ku yang malang.


Aku merasa tidak ada ada rintik hujan yang membasahi kepalaku, aku melihat ke atas kepalaku. Ada jas hitam yang tengah memayungi kepalaku dari hujan. Aku segera berbalik.


"Alina, ini hujan. Kamu kenapa masih disini?" Ujar seorang laki-laki yang tengah memayungkan jas nya di atasku.


"Pak Tio?" Mata kami saling beradu pandang, aku menatap wajah nya yang terlihat khawatir.


"Ayo!"


Aku dan Pak Tio berjalan dibawah hujan yang cukup deras, dan hanya beralaskan payung jas yang kami kenakan.


Aku beberapa kali menatap wajah nya yang bersimbah air hujan.


Mengapa disaat hati ku redup, selalu


Cahaya ini yang datang?


"Mbak?" Ujar Pak Tio sambil mengangkat tangannya.


Lalu seorang pelayan perempuan menghampiri meja ku dan Pak Tio.


"Lemon tea aja 2. Ehh tapi yang hangat mbak!"


"Oh baik mas, mohon ditunggu pesanannya."


Mata ku berkali-kali melihat ke arah ponsel yang kuletakan di atas meja.


Berharap ada panggilan masuk dari Kak Fian.

__ADS_1


Aku menghembuskan nafasku perlahan.


"Maaf Alina, sebenarnya.. apa yang sedang terjadi?" Tanya Pak Tio yang membuka keheningan.


Mata ku menatap sendu ke arahnya, lalu aku menjelaskan kejadian siang tadi yang menimpaku.


"Alina," Ia menarik nafas sejenak.


"kamu tidak akan bisa menghentikan hujan. Namun kamu bisa menggunakan payung untuk berteduh,"


"Saya tidak mengerti," ucap ku tanpa menatapnya.


"Sudah tidak apa-apa. Tapi sekarang kamu faham arti hadirnya tuhan untuk kamu?" Aku mengangguk lemah dengan wajah yang lesu.


"Tapi memang pantas, banyak orang diluar sana yang tidak mengenal tuhannya karena ini,"


"Bila memang kesimpulanmu demikian, itu artinya kamu yakin bahwa tuhan memang benar adanya," ujar nya sambil sedikit mencondongkan badannya ke depan.


Ia tersenyum tipis, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Tidak ada seorangpun yang terlihat baik-baik saja tanpa Tuhan. Bagaimanapun itu akan, menjadi beban di hati nya." Sambungnya.


Aku segera menoleh ke arah Pak Tio, lagi-lagi aku terjebak dalam dialog aku kali ini dengannya. Ia hanya tersenyum ke arahku, aku segera mengalihkan pandanganku.


"Maaf Pak, Bu pesanannya sudah jadi," ialah seorang pelayan cafe meletakan minuman yang tadi Pak Tio pesan ke atas meja kami.


Aku seperti pernah mendengar suaranya, aku segera melihat siapa pelayan cafe itu.


"Sudah berapa kali saya bilang, Ibu lagi Ibu lagi!" Ucapku kesal pada pelayan cafe itu.


"Oh my god!" Ucap nya sambil celingukan dan menutup mulutnya dengan satu tangan.


Pak Tio hanya terkekeh menyaksikan kemarahanku pada pelayan cafe itu.


"Ma- maaf mbak, mas silahkan dinikmati," ucapnya dengan tersenyum sambil menampakan gigi, lalu segera meninggalkan meja ku dan Pak Tio.


Aku menopang dagu lancip ku dengan satu telapak tangan.


"Minum dulu," ujar Pak Tio sambil menggeserkan segelas minuman lemon tea hangat ke depan ku.


"I- iya makasih Pak,"


Dddrrrrtttt dddddrrrrttt


Ponsel ku bergetar, aku tak memperdulikan siapa yang menghubungiku. Aku hanya berfikir bahwa itu adalah Dela. Sehingga aku tidak menjawabnya.


"Kak Fian?" Gumam Pak Tio sambil mata nya terus mengamati ponselku.


Aku sontak membulatkan kedua bola mataku.


Aku segera melihat ke arah layar ponsel.


'Halo halo, dek? dek?' Suara seorang laki laki yang terus memanggil nama ku berulang kali.


'Akhirnya, ia kenapa kak? Kakak dimana? Mama sama Papa kak!' Jawab ku yang langsung berlinang air mata kala menjawab panggilan darinya.


'Kamu tenang dulu, kamu cepet dateng ke Rs melati sekarang'


'I- iya kak, aku kesana sekarang'


Tutt


Aku mematikan sambungan telfon ku dengan Kak Fian.


"Pak ini jas nya trimakasih dan maaf gara-gara saya jadi basah," ucapku sambil beranjak dari kursi.


"Jas nya kamu pake aja, tapi kamu mau kemana?" Tanya Pak Tio sambil memperhatikan ku memakai kembali mantel angin yang sempat basah tadi.


"Yaudah kalo gitu, nanti saya kembalikan. Sekali lagi makasih Pak," balas ku tanpa menjawab pertanyaan nya tadi.


Aku kembali mengambil jas dan segera berlari ke luar cafe farmala dengan kondisi air yang masih berjatuhan dari langit. Aku hanya mengenakan mantel anginku tadi. Lalu jas Pak Tio, aku jadikan sebagai payung.


Aku terus berjalan dibawah deras nya hujan guna mencari taksi untuk aku tumpangi menuju Rs melati.


Trimakasih, kamu sudah mempersilahkan


Bahu mu untuk ku sandari.



Aku telah sampai di Rs melati, namun aku bingung harus mencari Kak Fian dimana.


Sementara aku lupa menanyakannya tadi.


Tangan ku menyusuri saku jaketku, namun aku tak menemukan benda pesagi itu didalamnya.


"Sial!" Rutuk ku yang menyadari ponsel ku tertinggal di meja cafe tadi.


"Maaf mbak, fasien atas nama Irawan Faras Hartawan atau Sasmita Lia Hartawan rungannya di sebelah mana yah?" Tanya ku pada salah seorang resepsionis rumah sakit.


"Oh sebentar mbak saya cek dulun" Balas nya sambil menatap ku aneh dengan kondisi ku yang basah kuyup.


"Fasien atas nama Bapak Irawan Faras Hartawan, dan Ibu Sasmita Lia Hartawan, Kini masih berada di ruang ICU." Ucap nya dengan sangat sopan dan ramah.


"Oh iya, letak ruangannya di mana yah?" Tanya ku yang terus mendesak resepsionis itu agar cepat menjawabnya.


"Silahkan mbak berjalan terus kedepan lorong itu," ucap nya sambil menunjuk ke arah lorong beberapa bangsal rumah sakit.


"Lalu belok kanan, dan tidak jauh dari situ ada ruangan yang bertulisan ruang ICU," sambungnya.


"Oh baik, trimakasih mbak," jawab ku dengan terburu-buru. Lalu aku berlari dengan tergesa-gesa untuk segera menemukan ruangannya sesuai dengan petunjuk resepsionis tadi.


"Kak Fian!" Aku berteriak memanggil nama Kakak ku yang tengah terduduk di kursi tunggu rumah sakit bersama seorang pria yang berdiri di sampingnya.


Kak Fian segera menoleh, lalu ia berlari ke arahku dan mendekap tubuh ku yang masih dalam keadaan basah kuyup.


"Kak Fian, kenapa Kak Fian gak kasih tau aku?!" Ucapku sambil menangis dengan memukul-mukul kecil dada bidangnya.


Kak Fian semakin mendekapku dengan erat, ia mengusap-ngusap rambut ku yang sudah basah terguyur air hujan.


"Kamu tenang dulu, kita duduk dulu," ia memegang kedua pundaku lalu mengajak ku duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Apa yang sebenarnya terjadi kak?"


"Tadi, pas aku pulang sama Pak Andi, aku gak lewat pintu depan de. Aku denger suara dari gudang kayak ada orang teriak-teriak. Aku diam-diam masuk ke sana sama Pak Andi, aku liat Mama sama Papa udah diiket di kursi gudang. Aku gak tahu siapa perampok itu, tapi aku berhasil nyelametin Mama sama Papa keluar dari gudang dan langsung aku bawa ke rumah sakit," ucapnya sambil agak mendongkak karena ia berjongkok di depanku. Sementara aku dengan posisi duduk di kursi.


"Berarti pas Kak Fian nyelametin Mama sama Papa? Itu ada aku?"


"Aku gak tahu de, Pak Andi yang ku suruh ngcek"


"Iya non, saya melihat hanya ada satu orang perampok pas saya cek," timpal Pak Andi sambil berdiri di sampingku.


"Lalu darah itu?"


"Se- sebenarnya.. Papa kena tusuk sama salah satu perampok itu," ucapnya dengan gugup sambil terus memegangi tangan ku.


"Hah?!" Aku menutup mulutku tak percaya, memang benar darah itu milik kedua orang tua ku. Aku menangis sesegukan, aku tak tahu sudah berapa kali air mata ku turun hari ini.


Aku menyembunyikan wajah ku dengan kedua telapak tangan sambil menunduk.


"Ini jas siapa?" Tanya Kak Fian kala melihat ada sebuah jas yang tergeletak di samping tempat duduk ku dengan kondisi yang masih basah.


"Itu punya temen Alina," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


Beruntungnya Kak Fian tidak mempermasalahkan.


Tidak ada seorangpun yang terlihat baik-baik saja tanpa Tuhan. Bagaimanapun itu akan menjadi beban di hati nya\`\`)

__ADS_1


__ADS_2