
(Tio)
Sebenarnya, aku mengajak Mahasiswi ku ke Farmala Cafe bukan hanya keingin tahuan ku tentang kabar nya. Namun juga aku menyelipkan niat lain dan tentunya, mungkin ini terlalu singkat. Namun aku sudah tidak bisa berbohong lebih jauh pada hatiku. Aku ingin mengutarakannya hari ini.
Hari ini, dia menurutku sangat anggun dengan tubuhnya yang hanya dibalut dengan kaos putih dan celana jeans, namun sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih dan juga tubuhnya yang ideal menurutku. Namun aku berusaha menjaga pandanganku karena ia masih bukan makhramku, aku hanya memandangnya sekilas. Itu pun ketika ia tak menyadari mataku melihat wajahnya yang manis.
"Ya Allah, kenapa hati ku dag dig dug seperti ini?" Aku mengusap dada ku pelan sembari mengatur nafas.
Aku masih melihat Alina tengah asik memainkan ponsel nya. Dan sesekali, ia meminum minuman kesukaannya, lemon tea.
Tentu saja aku selalu memesannya ketika aku tengah bersamanya.
"Ehhmm, Alina?" ATanya ku yang mulai keluar keringat dingin.
"Ya?" Ia menaruh ponsel nya sejenak dan sedikit menggeser gelas dari hadapannya.
Ia menatapku polos, dan tampak penasaran dengan apa yang akan aku ucapkan.
"Sebenarnya.. saya ada niat lain mengajak kamu kesini," ucapku yang mulai gugup.
Alina hanya sedikit memiringkan kepalanya pertanda ia semakin penasaran dengan apa yang akan aku ucapkan selanjutnya.
"Saya ingin kamu menjadi pendamping hidup saya selamanya," ucapku dengan yakin.
Alina tampak menutup mulutnya dengan satu tangan sembari memundurkan badannya.
"Maksud Bapak? Saya tidak faham," ucapnya dengan hati-hati.
"Saya sudah berniat akan melamar kamu nanti. Dan saya akan langsung berhadapan dengan Ayah kamu,"
"Ta..tapi Pak, saya bukan perempuan baik-baik, terlebih saya seorang Atheis dan sangat bertolak belakang dengan kepribadian Bapak yang taat akan agama," ia mengutarakan semua kekurangannya kepadaku. Sungguh gadis yang polos.
"Saya tahu, namun saya juga tidak sebaik yang kamu fikirkan. Tapi entah mengapa, hati saya mengatakan bahwa kamu adalah takdir saya. Saya sudah menjalankan shalat istikharah, dan didalam mimpi saya, saya selalu bertemu kamu. Saya tidak main-main dengan ucapan saya. Soal kamu seorang atheis, saya sangat yakin, bahwa Allah akan memberi jalan terbaik mengenai masalah ini,"
Alina semakin tidak percaya dengan ucapanku. Ia tampak menelan saliva nya dalam dalam.
"Tapi Pak, saya rasa..." ia membenahkan posisi duduknya. "Maaf, saya menolak Bapak". Ia mengembuskan nafasnya perlahan. Tampak sayu tergambar di wajahnya.
"Jelaskan alasan kamu yang bisa meyakinkan saya bahwa kamu bukan takdir saya Alina!" Ucapku dengan nada yang semakin tinggi. Aku tak percaya Mahasiswi ku akan menolaku, namun, aku juga berusaha tetap tenang. Aku sedikit mencondongkan badanku ke depan sambil melipat tangan ku di atas meja.
"Sejujurnya.. saya memiliki perasaan yang berbeda sewaktu Bapak selalu bersama saya. Dan selalu menjadi cahaya yang ketika saya berada pada kegelapan. Saya merasa..bahwa Bapak bukanlah Dosen saya. Melainkan.." ia tidak melanjutkan ucapnnya. Penjelasannya semakin memberikan peluang untuk ia bisa menerimaku.
"Namun saya berusaha berfikir, bahwa semuanya sama saja. Dan menganggap, bahwa Bapak hanya merasa bahwa saya sekedar Mahasiswi Bapak. Dan..alasan saya menolak Bapak, saya fikir, masih banyak perempuan muslimah diluar sana yang jauh lebih baik dari saya. Saya merasa tidak sebanding dengan Bapak. Atau lebih tepatnya, derajat saya jauh lebih rendah dibandingkan Bapak," sambungnya dengan menyunggingkan senyum terpaksa.
"Hanya itu?" Tanyaku singkat.
Ia tak bergeming. Namun aku yakin, aku pasti bisa meluluhkan hati nya suatu saat nanti.
"Tapi.. apa Bapak berniat menikahi saya karena ingin menjadikan saya bagian dari islam?" Ia berusaha menyelidik niat ku untuk melamarnya. Aku berfikir, ternyata mendapatkan wanita sepertinya, bisa serumit ini. Aku telah salah dalam menilai seseorang.
Menurutku, dia memang tidak beragama, namun sangat berlogika dan bertatakrama baik. Dari situlah aku tertarik dengannya.
"Saya tidak seperti itu Alina. Niat saya menikahi kamu, saya tulus karena saya sangat yakin bahwa kamu takdir saya. Seperti yang tadi saya katakan, saya hanya berharap sang illahi memberikan keajaiban kepada kamu. Hanya hanya sekedar berharap Alina, bukan meminta. Karena semua takdir manusia, sudah tertulis rapi dalam naskah sang illahi," aku meyakinkan perasaanku kali ini.
Alina tampaknya terhipnotis dengan jawabanku, memang inilah tujuanku menikahinya. Atas dasar kepercayaan hati bahwa dialah pendampingku yang sesungguhnya.
Ia tampak memikirkannya lebih dalam, jari telunjuknya sedikit mengetuk-ngetuk meja Cafe. Tampak nafasnya yang sedikit tidak beraturan.
"Akan saya fikirkan terlebih dahulu Pak," ucapnya ragu.
Ahhh aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi. Akhirnya, ia mau memikirkan ulang. Dan itu artinya, ia juga membatalkan keputusannya menolaku. Aku tersenyum bahagia.
"Baiklah, saya akan senantiasa menunggu jawaban dari kamu. Calon makmumku," aku menyunggingkan senyum manis kepadanya. Ia tampak salah tingkah dengan tatapanku.
"Iya, saya.. izin pamit duluan. Saya harus kembali menulis novel," ia dengan terburu-buru merapikan bajunya dan meninggalkan aku begitu saja. Aku kembali tersenyum, hati ku terasa lega kala sudah mengatakan sesuatu yang cukup menjadi beban di hati ku.
"Ya Allah, semoga saya tidak salah melangkah," gumamku sembari menundukan pandangan.
(Alina)
Aku berjalan dengan sangat terburu-buru. Ingin rasa nya cepat pulang ke rumah, tidur, dan bisa beristirahat dengan tenang. Dalam hati, aku masih tidak menyangka bahwa Dosenku memiliki perasaan khusus kepadaku. Apalagi sampai berniat melamarku. Tubuh ku masih sedikit bergetar dikala aku tengah berjalan sekarang, rambutku berantakan karena terpaan angin, namun aku hanya mengabaikan dan tidak memperdulikan.
Perasaan ku saat ini adalah ingin pulang cepat dan bisa memikirkannya di rumah.
__ADS_1
Aku merogoh ponsel dari dalam tas selempangku, dan berniat mengirimkan pesan pada Dela.
Isi pesan :
'La? Lu dimana?'
Aku menghentikan langkahku sejenak, menunggu balasan pesan Whatsapp dari Dela. Matahari mulai naik, dan menampakan sinar nya yang berwarna kuning terang.
Aku berdecak kesal, pesan ku tak kunjung terbalas olehnya. Kini aku tengah berdiri di tepi jalan raya yang letaknya sudah agak jauh dari Cafe Farmala. Aku berniat menyewa taksi untuk aku bisa pulang ke rumah.
Tinggg
Aku terperanjat, aku segera membuka ponsel yang tengah ku genggam. Ahhh, ternyata pesan itu bukan dari Dela. Namun dari Pak Tio.
"Pak Tio?" Aku segera membuka pesan Watsapp darinya.
Isi pesan :
'Alina? Kamu sudah pulang?'
Aku menghela nafas sejenak.
'Belum Pak'
Hah? Aku terkejut. bagaimana tidak? Pesan ku yang barusan aku kirim, langsung centang dua biru. Artinya, Pak Tio langsung melihat pesan dariku.
'Langsung pulang, jangan mampir kemana-mana dulu!
Pulangnya dijemput atau kamu bawa mobil?'
'Enggak kok, ini saya lagi nunggu taksi'
'Hmmm'
Aku menghentakan kaki ku ke tanah. Aku fikir, ia akan menawarkan aku pulang bersamanya. Ternyata tidak. Hanya balasan HMMM.
Uhuk uhuk
Aku mendengar suara batuk dari arah samping kananku. Sepertinya, aku tidak asing dengan suara itu. Aku pun menoleh.
"Wahhh..Alina yah?" Ia melemparkan senyuman ke arahku.
"Ustadzah apa kabar? Ustadzah Nurul sedang apa?" Aku mempertanyakan alasan ia berdiri di tepi jalan seperti ini.
"Alhamdulillah baik. Ini, saya lagi nunggu taksi," tukasnya.
"Kamu sendiri apa kabar? Lagi nunggu jemputan yah," tanyanya.
"Saya baik Ustadzah. Saya juga lagi nunggu taksi Ustadzah,"
"Wahh sama dong," ia sedikit terkekeh.
"Ustadzah, kita satu taksi aja," aku menawarkan pulang satu taksi dengannya. Tak banyak bicara, ia langsung menerima tawaranku.
Aku duduk bersebelahan di atas kursi taksi bersama Ustadzah Nurul. Ia tampak sangat anggun dengan jilbab berwarna biru muda, dan dress panjang berwarna putih. Ia menumpangkan tas nya yang berwarna hitam di atas pangkuannya. Wajah nya terlihat adem, badan nya yang lebih besar dibandingkan aku, sedikit terguncang karena jalan yang kami lalui banyak sekali diantara nya kerikil yang bertebaran. Ia kerap kali membenahkan posisi jilbabnya. Tak ada perbincangan di antara kami, aku takut bila ada kalimatku yang menyakiti hari Ustadzah Nurul. Makadari itu, aku lebih memilih untuh diam.
"Ustadzah mau pulang?" Aku mencoba sedikit membuka perbincangan.
"Ahh tidak, saya berniat ke rumah sepupu saya," ia kerap kali menyunggingkan senyum ayu kepadaku. Walau pun usia nya tak lagi muda, namun aku rasa.. wajah nya masih terlihat cantik.
"Oh iya," ia mengeluarkan seperti kado berukuran kecil dari dalam tas nya yang berukuran cukup besar. Warna nya merah menyala, dan dihiasi pita berwarna kuning.
"Ini, saya yakin.. suatu saat kamu membutuhkan ini," ia memberikan kado berukuran kecil itu kepadaku, entah apa isinya. Namun aku bisa menebak bahwa itu adalah buku. Aku segera menerimanya.
"Ini apa Ustadzah?" Ucapku seraya memperhatikan dengan seksama kado yang tengah ku genggam.
Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun hanya tersenyum.
"Ahh baiklah, trimakasih Ustadzah," ucapku
"Sawangsulna,"
Aku tidak mengerti bahasa apa yang ia gunakan, namun aku bisa menebaknya bahwa itu adalah kalimat balasan dari trimakasih.
__ADS_1
Entah mengapa rasanya aku tidak ingin menaruh kado itu, ingin rasanya aku terus menggenggam tanpa melepaskannya.
Ahhh akhirnya, kaki ku kembali menginjak tempat ternyaman, kamar. Aku menaruh tas selempang, kado pemberian Ustadzah Nurul, dan ponsel ku ke atas meja belajar yang terletak agak berjarak dari tempat tidur.
Aku mendekati tempat tidur. Dan, ahhhh aku berhasil menempelkan seluruh tubuhku di atas kasur yang empuk dan nyaman.
Aku berniat memejamkan mataku, namun di fikiranku terlintas sesuatu. Pak Tio, ya! Pak Tio. Aku semakin teringat ucapan manis nya tadi kala ia berucap berniat menikahiku.
Aku sedikit menepuk-nepuk pipi ku berharap ini hanya mimpi belaka. Namun ternyata tidak, ini memang terjadi.
Jam beker di dekat tempat tidurku masih menunjukan pukul 11.30. Artinya, aku masih ada waktu untuk tidur siang sebelum larut senja.
Tinggg
Baru saja aku memejamkan mataku, suara notif chat watsapp berbuyi. Aku memutarkan kedua bola mataku seraya mendengus kesal.
Aku beranjak dari tempat tidur dengan malas. Aku mengambil ponsel ku yang tadi ku taruh di atas meja belajar. Lalu aku duduk di kursi belajar sambil memegang ponsel. Aku segera membuka pesan whatsapp ku.
Isi pesan :
'Lin? Malam ini, Papa sama Kak Fian mungkin tidak dulu pulang ke rumah. Masih banyak kerjaan soalnya, ditambah ada jadwal meeting. Bi Ina lagi ke pasar, kamu gak papa kan ditinggal berdua sama Bi Ina?'
Mataku bergerak ke kiri dan ke kanan. Cukup banyak pesan yang Papa kirimkan.
'Oh iya gak papa Pah, Papa sehat sehat😁'
Aku menunggu sejenak balasan pesan dari Papa, namun aku tak kunjung mendapat notif.
Anehnya, aku selalu lupa mematikan data ponselku ketika selesai nengghnakan. Sehingga selalu ada saja pesan yang masuk.
Aku kembali menaruh ponselku di atas meja, lalu melanjutkan istirahatku yang sempat terjeda.
Aku berada di tempat yang sangaaaaat indah. Namun aku tak mengenal tempat ini, udara sejuk dan srmilir angin membuatku sangat nyaman berada di sini. Aku melihat tubuh ku dibalut pakaian yang serba putih. Aku melihat di sekelilingku terdapat banyak bunga-bunga yang harum semerbak. Hamparan rumput hijau tertata sangat rapi bagai permadani. Awan-awan yang berbentuk kapas, menghiasi langit yang berwarna biru cerah. Namun anehnya, aku tidak menjumpai matahari ada di atas sana. Aku coba memastikan kembali, aku menengadahkan kepalaku. Namun tak kunjung aku temui. Benar, aku tak menemui matahari, tapi tempat ini tidak gelap, udara nya pun tidak panas ataupun tidak dingin. Aku rasa, tempat ini ada yang janggal, tidak ada orang sama sekali. Hanya aku dan keheningan semata. Tempat ini begitu rata, tidak ada gunung maupun bukit. Hang ada hanyalah pohon-pohon rindang dan rumpu hijau serta bunga yang beraneka jenis.
Aku berjalan ke arah barat, memetik salah satu bunga yang entah kenapa, aku sendiri tidak mengenal nama bunga ini. Namun saat ku petik, harum bunganya menempel di tanganku.
"Hah?" Aku menyaksikan kejadian yang semakin janggal. Bunga yang sudah aku petik, dari tangkai nya tumbuh kembali bunga yang baru dengan sangat cepat. Bahkan hanya dalam hitungan detik. Aku lalu memetiknya satu lagi untuk memastikan, dan benar! Bunga nya tumbuh lagi. Sungguh tak terfikir dengan akal dan logika.
"Dimana aku sekarang?" Aku berteriak sekeras mungkin sampai tenggorokanku rasa nya sakit. Namun tak ada yang menggubris perkataanku, hanya semilir angin yang lagi-lagi menjawab segala rasa penasaranku.
"Alinaa," Aku mendengar suara yang sudah tak asing lagi. Ya, aku yakin itu suara..
"Mama?" Lidah ku terasa kelu ketika aku mendapati siapa seseorang yang berada jauh di depanku. Hanya sepatah kata yang mampu ku ucap. Aku masih tak percaya akan bertemu Ibu ku lagi.
Aku sedikit mendekat ke arahnya. Bisa ku cium dengan hidung mancungku, bahwa tubuhnya begitu wangi, rambutnya tergerai rapi, serta berpakaian serba putih, sama sepertiku. Di kepala nya bertengger sebuah mahkota berwarna perak dihiasi batu merah delima yang terletak di pertengahan dan sisi sisi mahkota nya.
"Mamaaaaaa," aku berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Rasa rindu yang ku simpan semenjak kepergiannya, kini sedikit bisa terobati. Punggung ku sesekali diusap-usapnya dengan lembut.
"Mama, Alina mau iku sama Mama," aku menangis sesegukan, tak tahan rasa nya.
"Nak, jangan kamu harus tahu. Mama sudah bahagia disini. Sudah na, jangan tangisi apa yang sudah terjadi," ia melepaskan pelukannya sembari memegang kedua tanganku.
"Enggak Mah, Alina mau disini sama Mama," ucapku dengan memaksa.
"Nak, urusanmu didunia masih belum selesai.
Ada yang harus kamu pertanggung jawabkan dulu," ucapnya sembari memegang kedua pundaku.
"Maksudnya Ma?"
"TAKDIR!
Hidup, kamu belum menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Jadilah kamu bagian dari Islam nak, percayalah. Islam adalah sebaik-baik tujuan takdir yang harus kamu landasi."
"Tapi Ma..."
"Jadilah kamu seorang muslim sejati. Patuh akan perintah Allah nak. Dengan itu, Mama akan semakin tenang disini walaupun..." ibuku tersenyum dengan penuh harap. Aku sangat susah mencerna setiap kalimat yang diucapkan Ibuku, fikiranku terkecoh akan keindahan tempat ini. Dan sayangnya, Ibuku mengetahui akan tindakanku sekarang.
"Kamu mau tinggal disini?" Tanya nya sembari melihat sekeliling.
"Ma- mau," ucapku dengan mata yang berbinar.
"Islam! Islam! Islam!" Ucapnya berulang kali, lalu hilang begitu saja bagaikan awan yang tertiup angin. Aku mencari-cari Ibuku dengan berusaha berteriak sekeras mungkin, namun tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Sebuah tanaman yang masih menjadi bibit, perlu akar yang kuat untuk tetap tumbuh Artinya, setiap manusia harus punya pegangan hidup untuk tetap berdiri dan memprediksi takdir seperti apakah yang selanjutnya akan terjadi``).