Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
6. Mahasiswa itu seorang mualaf!


__ADS_3

"Hah? Jadi lu lagi deket sama Pak Tio?"


Alina segera membungkam mulut Dela saat ia usai menceritakan kejadian kemarin yang dimana, ia bisa seharian penuh meluangkan waktu bersama Dosennya, Pak Tio.


Semua orang yang ada di ruangan kampus itu, mereka dengan serentak menoleh ke arah Dela, Alina pun hanya bisa menenangkan semua nya agar kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing, dan jangan menghiraukan ucapan Dela tadi.


"Lepasin! Ini air liur ku mau keluar Alina! Ish!" Dela segera melepaskan tangan Alina yang menempel di mulutnya.


"Udah kagetnya?" Tanya Alina dengan ekpresi malas.


"Ya lagian ya, lu tuh jadi orang random banget.


Kadang kalo lagi baik, manggil nya 'AKU' kalo lagi kumat, manggilnya 'GUE'! " rutuk Alina sambil memasukan beberapa buku kampus nya ke dalam tas ransel.


"Iya iya sorry.


Sumpah, gara-gara mak gue, gue jadi gak bisa temenin Pak Tio.


Gue fikir, lu gak akan lama.


Tau gitu mah, gue bilang aja sama nyokap ada kelas tambahan"


"Udah kali ah"


Ddddrrrrrtttttt Ddddrrrrrtttttt


Ponsel Dela berdering menandakan ada panggilan masuk.


Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya. Lantas berdiri dan agak menjauh dari Alina.


Dela kembali dengan memasang wajah yang muram, ia mengatakan pada Alina bahwa ia akan pulang duluan.


"Udah duluan aja, gue gak papa kok"


"Tapi lu gak akan ketemu sama Pak Tio lagi kan?" Ucap Dela dengan tatapan menyelidik


"Gak lah, ngapain juga ketemu kalo gak ada yang penting"


Alina kini tengah berjalan melewati koridor untuk menuju parkiran kampus.


Ia berjalan dengan sangat pelan karena ditangannya sambil memainkan sebuah ponsel miliknya.


Brruukk


Seorang laki-laki yang tak sengaja menabrak tubuh Alina dari belakang.


Alina pun tersungkur ke lantai beserta ponsel yang tengah dipegangnya.


"Lin Lin sorry.


Aku buru-buru," ucap laki-laki itu sambil membantu Alina untuk berdiri dan mengambilkan ponsel Alina yang terjatuh tadi.


"Fikri?


Aduh ngapain lari-lari sih?" Rutuk Alina sambil menepuk-nepuk lutut nya karena terjatuh tadi.


"Kamu gak papa kan?


Sorry yah aku bener-bener gak sengaja"


"Iya santai aja.


Gak papa kok. Btw, kamu buru-buru mau kemana?"


"Aku mau ke ruangan Prof. Wang Lin"


'Prof. Wang?' Ucap Alina dalam hati


"Ahhh aku ikut"


"Yaudah ayo, nanti Prof. Wang nya takut keburu pulang." Fikri menarik pergelangan tangan Alina untuk membawanya menemui Prof. Wang.


Tok tok tok


"Asalamualaikum," ucap Fikri setelah berdiri di ambang pintu ruangan milik Prof. Wang.


Prof. Wang yang tengah sibuk dengan komputernya pun, ia segera menoleh ke arah pintu kala melihat seseorang memasuki ruangannnya.


"Fikri, Alina?


Silahkan masuk," ucap Prof. Wang dengan senyum yang sangat ramah


Alina pun duduk di kursi depan meja Prof. Wang. Sementara Fikri, ia tengah mengambil kursi dari sudut ruangan Prof. Wang.


'Kok Fikri kayak gak canggung sama sekali?' Tanya Alina dalam hati


Fikri lantas meletakan kursi yang ia bawa tadi ke samping kanan Alina.


Ia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas nya, lantas menyerahkannya pada Prof. Wang.


"Ini Prof, maaf saya terlambat," ucap Fikri dengan sopannya.


Alina memperhatikan dengan jelas tulisan yang ada di atas selembar kertas tersebut.


'Itu kan kertas biodata? Masa iya Fikri belum ngumpulin'


"Oh oke oke"


Prof. Wang memeriksa sejenak kertas yang tadi diserahakn Fikri kepadanya, lalu ia memasukannya ke dalam laci meja miliknya.


"Gimana kabar papa mu Fik?" Tanya Prof. Wang pada Fikri.


"Alhamdulilah sekarang udah baikan Prof"


'Kok Profesor pake nanyain orang tuanya Fikri segala?' Gumam Alina sambil terheran-heran.


"Oh baik-baik, sudah lama yah kita tidak bercengkrama seperti ini," ucap Prof. Wang sambil menghembuskan nafas nya perlahan.


"Hhe iya Prof


Saya juga sekarang langsung pulang-pulang aja. Kadang kalo mau ketemu Profesor itu susah banget"


Mereka pun tertawa bersama.


Alina semakin dibuat bingung dengan percakapan antara Prof. Wang dan Fikri.


Seolah, mereka terlihat sangat akrab, bahkan seperti bukan Dosen dan Mahasiswanya.


Obrolan mereka sama sekali tidak dicampuri dengan rasa canggung, berbeda dengan Alina yang sedari tadi hanya menyimak apa yang diperbincangkan oleh mereka.


"Mmmm maaf Prof, Fik.


Apakah Prosefor juga mengenal Fikri?" Tanya Alina yang mencoba mengetahui rasa keingintahuannya.


Fikri dan Prof. Wang yang sedang berbincang, tiba-tiba langsung menoleh ke arah Alina secara bersamaan.


Mereka pun hanya tertawa pelan mendengar ucapan Alina barusan.


Alina hanya kebingungan, ia mengoreksi lagi pertanyaan nya tadi.


Namun sepertinya, tidak ada yang salah.


"Hhhh aku sama Profesor udah kenal lama kali Lin," timpal Fikri yang sambil mengakhiri tawa nya.

__ADS_1


"Kenal lama?"


"Iya"


"Maksudnya ini gimana sih? Aku bener-bener gak ngerti Prof, Fik!" Jawab Alina sambil merapihkan kursi nya dan agak memajukannya ke depan.


"Apa boleh saya ceritakan Fik?" Tanya Prof. Wang pada Fikri.


"Silahkan Prof."


"Jadi seperti ini.


Sebenarnya, Fikri sudah empat tahun kuliah disini. Namun karena ia harus bolak-balik dari jakarta ke batam untuk memastikan keadaan papanya yang lagi sakit, makannya Fikri sering bolos kuliah.


Dan waktu itu, Fikri tidak seaktif sekarang dalam soal pendidikan.


Sehingga, Fikri harus mengulang S1 nya dari awal," jelas Prof. Wang yang menceritakan latar belakang Fikri.


"Dan..mahasiswa yang saya ceritakan waktu itu.."


"Fikri?" Belum sempat Prof. Wang menjelaskan lebih detail, namun Alina sudah menyela ucapannya terlebih dahulu.


"Tepat!"


"Hah?!"


Alina hanya bisa membungkam mulutnya dengan kedua tangan.


Ia begitu tak percaya dengan apa yang sudah di katakan Prof. Wang barusan.


Suasana hening sejenak, Alina masih tak habis fikir dengan kejadian beberapa menit yang lalu.


Alina hanya menoleh ke arah Fikri, dan Fikri pun hanya membalasnya dengan senyuman.


"Tapi saya rasa, Fikri sudah tahu banyak tentang islam bukan?" Tanya Alina.


"Betul, kan saya sudah pernah bilang.


Sekarang Fikri menjadi seorang muslim yang taat"


"Ah Prof..jangan seperti itu.


Saya masih belajar," timpal Fikri karena merasa tak enak hati dirinya sudah disanjung oleh Prof. Wang.


"Oh ya, Profesor sudah shalat belum?" Tanya Fikri pada Prof. Wang


"Belum Fik, atau mau bareng aja ke masjid biasa?" Tanya balik Prof. Wang


"Boleh Prof."


"Saya ikut," ucap Alina yang secara tiba-tiba.


"Boleh"


(Alina)


Aku tengah berada di sebuah bangunan yang aku kenal sendiri adalah masjid, tempat ibadahnya umat islam.


Dan ini kali kedua nya aku ke datang kemasjid ini.


Dan masjid ini pula yang pernah aku datangi bersama Pak Tio beberapa hari yang lalu saat aku mengantarnya shalat.


Aku hanya duduk di teras masjid ini untuk menunggu Prof. Wang dan Fikri selesai melaksanakan shalatnya.


Dari arah sebrang halaman masjid ini, aku melihat seorang ibu-ibu yang tengah kesusahan sambil membawa beberapa buku di tangannya.


Pandangannya kerap kali terhalang oleh beberapa tumpukan buku, aku tidak begitu mengenal buku itu.


"Maaf Ibu, biar saya bantu," ucapku yang menawari bantuan pada ibu itu.


Dia berpakaian sangat tertutup, kepala nya ditutupi oleh semacam kain yang panjangnya mencapai ke paha.


Ia mengenakan baju langsjng berwarna biru muda.


Serta badannya yang sedikit berisi dan tinggi nya masih dibawahku.


Wajah nya begitu teduh, terpaan angin yang menyebabkan kain panjang untuk menutupi kepalanya sedikit bertebaran.


"Tidak usah merepotkan nak, insyaallah Ibu bisa membawa nya sendiri," balas nya dengan melemparkan senyuman ramah ke arahku.


Entah mengapa ketika ia tersenyum, hatiku begitu sejuk dibuatnya.


Aku pun terus mendesaknya agar mau menerima bantuan ku, dan tak lama setelah itu. Ia pun menyetujui untuk aku membantunya membawakan beberapa buku itu. Aku mengikuti Ibu itu dari belakang dan hendak menuju ke dalam masjid tempat Fikri dan Prof. Wang yang tengah shalat.


''Asalamualaikum," ucap nya sambil membukakan pintu masjid


Pertama kali aku memasuki masjid, aku cukup kagum dengan desain ruangan nya yang tidak terlalu luas namun sangat bersih dan rapih.


Aku menyaksikan beberapa orang umat muslim yang tengah melaksanakan shalat.


Mata ku terus mencari keberadaan Prof. Wang dan Fikri dari beberapa orang diantaranya yang sedang melaksanakan shalat.


'Dimana mereka?' Batinku


"Disini saja nak," ucap ibu itu yang membuyarkan lamunanku.


"Oh baik Bu"


Aku dan Ibu itu segera meletakan beberapa buku di lemari khusus tempat buku-buku di masjid ini.


Namun, aku melihat Ibu itu meletakan buku nya dengan sangat hati-hati.


Aku pun meniru apa yang dilakukan Ibu itu untuk sekedar menghargainya.


"Ya ampun nak, trimakasih yah.. kamu sudah membantu Ibu," ucapnya sambil memegang kedua tanganku.


"Ahh tidak masalah Ibu, saya juga senang bisa membantu Ibu," ucapku yang membalas senyumannya.


"Oh iya, perkenalkan nama Ibu, Siti Nurul Az-Zahra biasa dipanggil Bu Nurul, nama kamu siapa?"


"Nama saya Alina bu," jawabku dengan sesopan mungkin.


Ibu itu hanya mengangguk sambil tak henti-henti nya terus tersenyum ke arahku.


"Maaf bu, buku-buku tadi.. itu buku apa yah?" Tanyaku yang membuka perbincangan dengannya.


Bu Nurul hanya mengernyitkan alis nya sembari menatap bingung ke arahku.


"Itu adalah Al - Qur'an, kitab suci umat islam," ucap nya dengan halus.


Aku hanya mengangguk setelah mendapat jawaban darinya.


"Tapi maaf nak, agama kamu apa?" Tanya nya dengan sangat hati-hati menanyakan pertanyaan itu kepadaku.


Aku tak tahu harus menjawab apa, sedangkan aku tidak mempunyai agama sepertinya.


Aku pun mengatakan yang sebenarnya kepada Bu Nurul bahwa aku seorang 'ATHEIS'.


Awalnya Bu Nurul sedikit terkejut dengan jawabanku, namun ia berusaha untuk lebih memahami dan menghargaiku, sehingga tidak menanyakan hal-hal yang lebih dalam tentangku.


Aku sangat mengagumi kepribadiannya, ia manusia yang sangat menghargai antar manusia lainnya.


Terlebih, dia adalah seorang muslim yang sangat baik kepribadiannya menurutku.

__ADS_1


"Asalamualaikum Ustadzah Nurul," tiba-tiba suara seorang laki-laki menghampiri aku dan Bu Nurul yang tengah berada di kursi halaman masjid.


Aku dan Bu Nurul pun segera berdiri untuk melihat siapa orang yang menyapa kami tadi.


Aku melihat Prof. Wang dan Fikri yang telah selesai melaksanakan shalat nya yang kemudian menghampiriku dan Bu Nurul.


"Waalaikumsalam Prof,"


Aku melihat Prof. Wang dan Bu Nurul saling merapatkan kedua telapak tangannya kemudian disimpan di depan dada sembari keduanya sedikit membungkukan badan.


'Apakah memang islam seindah dan sedamai ini?'


"Loh, Alina? kok kamu ada disini?" Tanya Prof. Wang kepadaku.


"Ahh iya Prof," balasku singkat


Tok tok tok


Aku mengetuk pintu rumahku lantas langsung masuk.


"Loh? Papa?" Tanya ku ketika melihat seorang laki-laki yang sudah berumur tengah terduduk di sebuah sofa depan tivi.


Di adalah ayahku, Irawan Faras Hartawan seorang pengusaha.


Tubuhnya yang tinggi dan terlihat sehat katena ia rutin berolahraga, dan di atas bibir nya terdapat kumis yang tidak terlalu tebal.


Mata yang yang sudah minus, mengharuskan ayahku untuk memakai kacamata setiap hari nya, kecuali bila saat akan tidur.


Ia akan melepasnya terlebih dahulu.


Rambut nya yang masih hitam, dan garis-garis di wajah nya yang mulai terlihat.


Kulit nya yang berwarna putih, sama sepertiku.


Ia hanya mengenakan celana pendek cargo berwarna cream, dan kaos hitam polos.


Di atas meja terdapat secangkir kopi hitam favorite nya, ditemani sepiring keripik singkong yang akan menemani nya saat ini.


"Duduk sini nak!" Titah nya sambil bergeser sedikit ke kiri.


Aku pun duduk di dekatnya dan meletakan ransel ku terlebih dahulu di lantai.


"Papa tadi pulang mungkin.. sekitaran jam 11 siangan lah. Karena meeting Papa di prancis alhamdulilah udah beres," jelasnya.


Aku hanya mengangguk lalu mengambil sebuah kripik singkong yang ada di atas meja.


Lalu melahapkannya ke mulut ku.


"Gimana, betah kuliah disana?"


"Betah dong pah.


Aku gak mau keluar malah," jawab ku sembari terkekeh.


"Eh tapi Pah, aku baru tahu kalo di dekat perusahaan papa ada masjid?"


"Emang dari dulu nya ada itu, mungkin kamu aja yang gak tahu"


"Gini.. udah kuliah nanti, kamu mau nerusin perusahaan Papa sama kakak kamu?"


"Maaf Pah Alina gak berniat, Alina udah punya tujuan tersendiri"


"Manusia berhak memilih jalur hidupnya sendiri, tapi tidak untuk menentukannya.


Papa izinkan kamu mau jadi apapun, Papa mau kamu hidup sesuai pilihan kamu sendiri.


Tapi satu nak, kamu harus tahu tuhan, Allah. Suatu saat.. kamu pasti faham. Allah itu seperti apa dan seperkasa apa menangani setiap permasalahan makhluknya."


"Tapi pah, Alina butuh waktu buat memperjelas itu!"


"Kamu sudah berapa tahun sekarang?


Delapan belas tahun bukan waktu yang sebentar Papa dan mama membiarkan kamu hidup tanpa mengenal Allah.


Memang ini salah Papa, yang tidak bisa memberikan pendidikan agama yang cukup untuk kamu. Papa gagal jadi orang tua nak, papa gagal!.


Papa faham perasaan kamu, papa sudah membiarkan kamu mengenal hidup terlebih dahulu, walaupun tanpa mengenal Allah.


Kamu tidak bisa terus-menerus seperti ini nak, ini jalan yang salah.


Tapi satu sisi papa yakin, kamu bukan orang yang bertabiat buruk.


Kamu pasti mengenal Allah, entah itu cepat atau lambat.


Papa sangat yakin!"


Aku hanya menitikan air mata ku kala mendengar penjelasan yang diberikan Ayahku kepadaku mengenai tentang tuhan.


"Kunci nya satu nak.


Ketika kamu mampu melupakan masa lalu yang pahit, maka kamu akan dengan segera mencari tuhan."


Darah ku berdesir hebat kala mendengar ucapan Ayahku barusan, kata-kata itu memang sangat singkat. Namun bermakna sangat dalam.


"Orang tua sangat berperan penting terhadap pertumbuhan anak-anak nya. Dengan dibekali ilmu yang cukup, maka anak nya akan mudah mencari jati diri nya," sambungnya


Ayahku memutar badannya menjadi menghadap ke arahku, ia memegang kedua pundak ku lalu mengatakan sesuatu.


"Nak, kamu berniat membahagiakan Papa dan mama?"


Aku hanya mengangguk


"Bila begitu, kebahagiaan Papa dan Mama adalah ketika kamu menjadi seorang mualaf suatu saat nanti.


Papa tidak butuh uangmu, hartamu, kekayaan mu nanti. Papa hanya butuh kamu mengenal Allah lebih dalam. Dengan begitu, kamu akan menjadi manusia yang sesungguhnya."


Aku tah tahan membendung air mata ku yang sepertinya akan tumpah dengan deras.


Aku memeluk Ayahku lalu menangis di pelukannya.


Aku bahagia bisa merasakan pelukan seperti ini, terlebih pada orang yang sangat berperan dalam hidupku.


"Maafin Alina Pah, Alina akan berusaha melupakan kejadian itu.


Dan dengan segera akan menemukan tuhan" ucapku yang sedikit susah karena sambil terus mengalirkan air mata ku dengan deras.


"Papa sangat percaya itu nak, Papa percaya.


Dan maafin Papa sama Mama yang telah gagal mendidik kamu, Papa menyesal nak, menyesal!


Rasa sesal ini selalu menghantui Papa, Papa sering men.." belum sempat Ayahku melanjutkan ucapannya, ia langsung menangis begitu saja masih dalam posisi berpelukan.


Ia menaruh kacamata nya di atas meja karena air mata yang menghalangi pandangannya.


Suasana rumah ku menjadi penuh duka dan air mata, aku tak menyangka kedatangan Ayahku kali ini akan membuka satu persatu jalan untuk aku segera menemukan tuhan.


"Sudah nak, kamu cepat istirahat.


Kamu pasti cape" ucap nya sambil melepaskan pelukannya dan sedikit menepuk-nepuk bahu ku.


Peran orang tua sangat penting terhadap pertumbuhan anak-anak nya.


Karena itu akan menentukan bagaimana gambaran masa depannya kelak``).

__ADS_1


__ADS_2