
(Ruangan yang cukup gelap, dan kotor juga sangat lembab.
Terdapat beberapa sarang laba - laba yang menggantung di tepian dinding ruangan itu.
Dinding yang sudah dipenuhi lumut hijau, bahkan ada beberapa diantara nya yang sudah hampir ambruk.
Puing bangunan yang amat berserakaan di berbagai penjuru ruangan.
Rumput liar bertebaran dimana - mana, serta ubin yang sudah tidak terlihat warna aslinya karena tertutup oleh kotoran berupa gumpalan tanah.
Sementara di sudut ruangan itu, terdapat seorang gadis kecil yang tengah membenamkan wajah nya pada kedua lutut kaki nya.
Ia tertunduk sembari memegang kedua kaki nya yang terlipat.
Isak tangis yang pilu terdengar menggema di ruangan itu.
Gadis itu sesekali mengusap bulir air mata nya yang mengalir di kedua pipi nya dengan kedua telapak tangan nya yang halus dengan masih dalam keadaan tertunduk.
Ia hanya meratapi nasib nya, dan berharap ada keajaiban yang bisa membebaskannya dari penjara dunia tersebut.
Gaun putih selututnya yang sudah mulai lusuh dan tak lagi berwarna putih bersih, melainkan sudah tercampur dengan kotoran tanah lembab di ruangan itu.
Rambut nya yang pirang tak lagi menampakan kelucuannya sebagai seorang anak perempuan, hanya terurai berantakan dan tak lagi menghiasi kepala nya.
Kulit yang tadi nya putih bersih, kini sudah tak menampakan lagi keindahannya karena kotoran sudah memasuki pori - pori kulit gadis kecil itu.
Sepatu pantople merahnya yang berhias pita, sudah bercampur dengan kotoran tanah di dalam nya.
"Mama..Papa..tolong aku," lirih gadis itu dengan wajah nya menengadah ke arah langit.
Gadis itu berteriak sembari menyebut nama kedua Orang Tua nya.
Ia menangis lirih dan tak tahan dengan kondisi ruangan yang cukup mengerikan itu.
Krrrrreeeetttt
Terdengar suara pintu tua yang terbuka dengan perlahan, lalu masuklah seorang wanita yang usia nya jauh di atas gadis itu.
Wanita itu mengenakan high heals hitam dengan dres hijau sepaha serta rambut yang terurai rapih.
Wanita tersebut mendekati gadis itu lalu berjongkok dihadapannya.
Ia mengusap kepala gadis kecil itu yang tengah tertunduk.
"Hi, how are you kids?"
Wanita tersebut terus mengusap - ngusap rambut gadis kecil itu disertai senyum nya yang cukup mengerikan.
__ADS_1
Sorot mata nya yang tajam nampak seperti ia akan menyampaikan sesuatu pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu segera menoleh ke arah perempuan yang ada di hadapannya.
"Siapa kau? lepaskan aku!"
Bentak gadis kecil itu sambil menepiskan tangan wanita itu yang ada di kepala nya.
Wanita tersebut hanya terkekeh mendengar ucapan gadis kecil itu.
Ia mengangkat dagu gadis kecil itu dengan satu jari telunjuk nya.
Wajah nya yang imut, hanya mengikuti gerakan jari telunjuk wanita tersebut.
"Sebentar lagi ajal mu akan menjemput wahai anak manis," tawa perempuan itu yang cukup menggema di ruangan yang hening.
Ia tertawa dengan puas nya kala menyaksikan penderitaan gadis kecil dihadapannya.
"Tidak! Tuhan akan menolongku!"
Seru gadis kecil itu dengan lantang nya yang membuat wanita tersebut semakin geram karena perlawanan dari seorang gadis kecil.
Ia memegang kedua pipi gadis kecil itu dengan satu tangannya kemudian membisikan sesuatu pada dekat telinga gadis kecil itu.
"Ini adalah karma putri Hartawan hahaha,"
Terdengar suara decak yang menandakan pintu itu telah dikunci oleh nya.
Gadis kecil tersebut semakin menangis dengan keras, seperti seorang anak yang telah di rebut mainan nya.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara tetesan air dan mesin mobil dengan volume yang cukup rendah.
Grrlluukkkk
Terdengar suara perut gadis kecil itu, menandakan lambung kecil nya sama sekali belum dapat asupan makanan. Sudah dua hari satu malam ia mendekam di ruangan tak berpenghuni.
"Mamaaaaaa Alina lapar," rengek gadis kecil itu dengan suara teriakannya yang cukup nyaring. Ia mengusap air mata dengan telapak tangan nya yang penuh kotoran. Air mata nya sudah bercampur dengan peluh keringat nya yang kerap kali menetes secara bergantian.
Ia kemudian mencoba berdiri dengan bantuan kedua tangan nya yang kecil. Ia berhasil berdiri dan berjalan walaupun dengan langkah nya yang gontai. Ia berniat mencari sesuatu yang manakala setidaknya bisa memberikan titik terang untuk ia keluar dari penjara dunia tersrbut. Ia berjalan ke arah barat sambil mata nya terus menelisik setiap sudut ruangan. Tak lama setelah ia berjalan, lagi-lagi ia mendengar suara langkah sepatu mendekat ke arahnya. Jantung gadis kecil itu berdebar dengan sangat kencang, ia langsung berlari dengan tergopoh-gopoh ke tempat dimana ia biasanya merenung. Ia menyandarkan punggung kecil nya ke dinding ruangan yang sudah sangat kotor dan sedikit menghitam. Tubuhnya lunglai, nafasnya masih memburu serta mata nya yang terus mencari siapa sumber suara.
Gadis kecil itu mendengar seseorang tengah membuka pintu tua itu secara paksa.
Krrreeeettt
Pintu tua yang terletak di sudut sebelah timur ruangan, tiba-tiba terbuka dengan perlahan. Gadis kecil itu semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil hebat, serta peluh nya yang mulai bercucuran.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa," gadis kecil itu berteriak kala melihat siapa seseorang yang baru saja masuk. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menunduk.
__ADS_1
"De..de.. Ade kenapa disini? Ade lagi ngapain?" Tanya seseorang itu sambil mengguncang-guncangkan bahu gadis kecil tersebut. Ia kemudian melepaskan tangan yang menutupi wajah manisnya. Gadis kecil itu melihat seorang laki-laki tengah berjongkok dihadapannya sambil terus memperhatikannya dengan heran.
"Paman? Paman siapa?" Tanya Gadis kecil itu dengan wajah lugu nya. Ia menyeka keringatnya sejenak.
"Kenalkan, nama Paman..." ujar laki-laki itu sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Ade nama nya siapa?"
Gadis kecil itu hanya menggeleng dan enggan untuk menjawabnya. Kemudian ia menunduk.
"Yaudah gak papa, tapi.. kenapa ade ada disini," tanyanya yang menyaksikan sekujur tubuh gadis kecil itu sudah terkena beberapa kotoran.
"Waktu itu, aku dibawa kesini sama tante,"
"Tante? Tante siapa?"
"Okh..okh trus trus?"
"Katanya, aku mau dibeliin mainan gelembung kalo aku udah nganterin tante itu kesini. Tapi sampe sekarang, tante itu gak mau beliin aku gelembung. Aku takut sama tante itu," ia pun menangis dengan sangat kencang usai menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya.
Laki-laki itu berusaha menghentikan tangis gadis kecil itu sambil mengusap-ngusap kepala nya.
"Ade suka gelembung?" Tanya Laki-laki itu yang berusaha menghibur gadis kecil dihadapannya itu.
Gadis kecil itu hanya mengangguk dengan sumringah.
"Yaudah.. paman bantu kamu keluar dari sini yah. Yu," ia pun menggandeng tangan gadis kecil itu dan mengajak nya untuk keluar.
Pandangan orang-orang yang berlalu lalang, tertuju pada dua orang yang terdiri dari satu laki-laki, dan satu gadis kecil yang sedang bergandengan tangan. Kini mereka tengah berada di suatu taman dimana terdapat beberapa gelembung yang tengah bertebaran. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia kala menyaksikan sesuatu yang amat disukainya. Sesekali telunjuk kecil nya memecahkan gelembung yang menghampirinya.
"Rumah ade dimana?"
"Udah deket dari sini kok,"
"Paman kayaknya gak bisa anterin kamu sampe depan rumah gak papa?" Ucap laki-laki itu dengan sedikit membungkukan badan nya agar lebih setara dengan gadis kecil di hadapannya.
"Gak papa paman, makasih ya udah bawa aku keluar dari rumah kosong itu," jawab gadis kecil itu dengan lugu nya.
Laki - laki tersebut kembali berdiri tegak sambil mengusap lembut kepala gadis kecil itu.
Gadis kecil itu segera berlari meninggalkan laki-laki yang baru saja menghantarkannya sendirian.
Ditengah ia berlari, ia memutar tubuh mungil nya ke belakang sambil melambaikan tangan nya ke arah laki-laki tersebut.
Kemudian laki-laki tersebut membalasnya dengan tersenyum dan sesekali melambaikan tangan kanan nya).
Setiap orang pasti memiliki latar belakang yang kelam. Namun tak pantas untuk dijadikan sebuah acuan kita melupakan 0 tokoh utama dalam kehidupan``).
__ADS_1