Aku, Dia, Dan Tuhan

Aku, Dia, Dan Tuhan
13. Kekecewaan


__ADS_3

Hari ini, gadis itu berniat memenuhi jawaban atas pertanyaan Dosennya beberapa hari yang lalu sebelum ia menjadi seorang mualaf. Ia tampak senyum-senyum sendiri sambil terus mengguling-gulingkan badan di tempat tidurnya.


"Ahh bagaimana nanti tanggapan Pak Tio?" Gumamnya seraya menahan tawanya.


Tinggg


Satu pesan berhasil masuk ke benda pipih yang tergeletak di samping kepala gadis itu. Ia dengan segera mengeceknya.


'Alina? Kamu tidak lupa kan?'


'Ah tentu saja saya tidak lupa. Apa sekarang saja Pak?'


'Boleh, kamu siap-siap aja dulu. Saya tunggu di tempat biasa (CAFE FARMALA)'


'Baiklah'


Begitulah kejadian yang semakin membuat gadis itu salah tingkah tak karuan. Saling berbalas pesan, padahal sebentar lagi mereka akan bertemu.


"Ya Allah, aku masih belum bisa berhijab," lirih gadis itu yang tampak menghembuskan nafas beratnya sambil menghadap cermin.


(Pov Tio)


Kini aku tengah menunggu seorang gadis, mahasisiwi ku sendiri karena kami sudah membuat janji untuk bertemu. Aku hanya mengenakan kemeja hitam dipadu dengan celana hitam juga. Pandanganku terus saja beredar memastikan kedatangan mahasiswiku, Alina.


Ada tujuan tertentu aku mengajaknya kemari, ke Cafe Farmala. Namun, terasa berat bagiku untuk mengataknnya, aku takut bahwa janji ku waktu itu hanya sekedar omong kosong bagi Alina. Namun apa daya, hal ini bukan keputusanku, melainkan kedua orang tua ku yang kini terus mendesak agar aku cepat menikah. Aneh!


"Asalamualaikum Pak?" Suara seorang perempuan berhasil membuyarkan lamunanku. Aku lantas segera menoleh, dan benar saja, Alina tengah berdiri di sampingku dengan wajah cerianya. Tak tega rasa nya aku mengubah ekpresi wajah itu menjadi muram.


Ahhhhh ya Allah, aku harus bagaimana.


"E- ehh wa'alaikumsalam. Duduk duduk," ucapku sambil mempersilahkannya duduk.


Aku segera memesan makanan dan minuman yang biasa kami konsumsi pada saat-saat seperti ini.


"Silahkan Pak," ucap salah seorang pelayan sambil meletakkan beberapa menu pesananku.


Aku hanya mengangguk, fikiranku benar-benar kalut hari ini. Entah aku harus memulai dari mana.


"Alina? Gimana perkembangan kamu?" Tanya ku yang membuka keheningan.


"Ohh alhamdullilah Pak, ya.. walaupun saya masih belum berhijab," jawabnya sambil sedikit membenahkan posisi duduknya yang terlihat kikuk.


"Oh.. itu, nanti juga pasti bisa. Baiklah," aku menyandarkan punggungku ke kursi.


"Mmm Pak? Apa perlu saya menjawab pertanyaan tempo hari itu?" Tanyanya sambil sedikit malu-malu.


Omg! Bagaimana ini?


"Ahh Alina..kamu tidak perlu menjawabnya,"


"Ma- maksud Bapak? Gimana yah?" Ia mulai memasang ekpresi bingungnya.


"Sebenarnya... tujuan saya mengajak kamu kesini untuk menjelaskan bahwa kamu tidak perlu menjawab pertanyaan saya waktu itu, dan... lupakan saja seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa," ucapku dengan terpaksa.


"Apa Bapak waktu itu hanya main-main?" Tanya nya yang sudah mulai gusar.


"Bukan bukan, bukan seperti itu,"


"Jadi saya tidak perlu menjawab pertanyaan Bapak waktu itu, karena Bapak gagal berniat untuk menikahi saya? Betulkan Pak?" Ia mendesaku dengan beberapa pertanyaan yang aku sendiri bingung untuk menjawab yang mana terlebih dahulu.


Aku menghembuskan nafasku sejenak.


"Bukan!" Aku sedikit menaikan nada bicaraku dan membuat Alina sedikit tersentak.


"Saya... orang tua saya sudah menjodohkan saya dengan perempuan pilihannya. Orang tua saya mendesakagar saya cepat menikah. Namun, hal itu tidak saya niatkan pada orang lain," jelasku mencoba meyakinkan Alina.


"Jadi.." entah mengapa ia menjatuhkan air mata nya begitu saja. Aku paling tak tega melihat seorang wanita menangis lemah dihadapanku.


"Jadi saya tidak perlu menjawabnya? Baiklah. Akan saya penuhi


Dan..". Ia terlihat beranjak dari kursi dan hendak pergi.


"Terimakasih selama ini.. Bapak sudah menjadi laki-laki yang bisa mengubah hati saya.


Semoga Bapak selalu bahagia," ia tersenyum paksa namun mata nya terlihat berembun. Benar saja, kekecewaan itu begitu tergambar di wajah cantiknya.


"Alina.. Alina ini tidak seperti yang kamu fikirkan," ucapku yang mencoba menahannya pergi.


"Maaf Pak, saya ada urusan," ucapnya tanpa menghiraukanku. Ia lantas meninggalkan ku begitu saja.


Aku kembali terduduk lemas, aku mengusap rambutku ke belakang.


Ya Allah, saya hanya ingin menikahi wanita itu, bukan orang lain. Tolonglag ya Allah, luluhkanlah hati kedua orang tua ku agar aku bisa memilih jalanku sendiri.


(Pov Author)


"Asalamualaikum," ucap Alina sambil memasuki rumah nya yang terlihat megah.


"Waalaikumsalam, non makan dulu yah,"


"Enggak usah Bi, Alina mau ke kamar dulu," telihat lesu terukir di wajahnya.

__ADS_1


Bi Ina hanya menatap kepergian Alina dengan kebingungan.


Hening menjadi alunan sunyi malam ini.


Tak nampak bulan menampakan cahaya indahnya. Semilir angin memasuki celah-celah jendela kamar itu. Entah malam ini akan turun hujan atau memang suasana nya dirancang seperti ini oleh sang illahi. Lampu kamar dibiarkannya redup.


Di sudut tempat tidur, terdapat seorang gadis yang tengah meratapi nasibnya sambil memeluk kedua kaki nya. Beberapa kali air mata nya tumpak begitu saja, mata nya terlihat sembab karena menangis.


"Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini? Pedih..


Aku tahu, ini adalah ujian terberat pertamaku. Aku tahu, engkau tidak akan menyuguhkan ujian yang tidak mampu hambanya lewati. Namun mengapa ini terasa begitu berat ya Allah," lrihnya sambil terus terisak.


Tinggg


Suara pesan masuk.


'Alina? Apa kamu baik-baik saja?'


Alina merik ponselnya sejenak, Pak Tio.


Ia kembali mengabaikannya.


Tok tok tok


"Lin? Boleh Papa masuk?" Teriak seorang laki-laki.


Sontak Alina segera mengusap cepat air mata yang masih tergenang di wajahnya. Ia kembali menyalakan lampu dan bergegas untuk membuka pintu. Namun ia terlihat mengurungkan niatnya.


"Iya masuk Pah,"


Cklak


Suara pintu terbuka. Lalu masuklah seorang laki-laki yang tak lain adalah Ayah kandung Alina.


Irawan hanya berjalan santai ke arah tempat tidur Alina. Sepertinya, ia hendak menanyakan sesuatu pada putrinya.


"Ahh Lin. Ada yang ingin Papa katakan," Irawan tampak sangat ragu mengatakan ini.


"Katakan saja Pah, ada apa?" Alina membenarkan posisi duduk nya menjadi menghadap Irawan.


"Sudah saatnya kalian tahu tentang ini,"


"Bentar. Pah sebenarnya ini ada apa sih? Kok jadi gini. Kak Fian mana? Kak Fian gak dikasih tahu?" Sejuta pertanyaan Alina lontarkan pada Irawan namun Irawan hanya tampak kebingungan untuk menjawabnya.


"Kakakmu sudah Papah kasih tahu dulu. Tinggal kamu, Papa hanya menunggu waktu yang tepat setelah kalian dewasa," Irawan tampak menelan ludahnya dalam - dalam. Tak siap melihat putri tercintanya akan menangis dihantam takdir selanjutnya.


"Iya Pah ada apa?" Alina mencoba menanyakan sekali lagi. Alina terhanyut dalan suasana dan tampak melupakan beban yang baru saja menimpanya. Perihal cinta.


"Apa kamu berfikir Sasmita, Ibumu adalah ibu kandungmu?" Tanya Irawan sambil memejamkan matanya takut.


"Baiklah. Akan Papa katakan sesungguhnya. Namun kamu harus siap menerima kenyataan nak,"


"Sebenarnya..


Sebenarnya Sasmita bukan ibu kandungmu nak. Dia adalah ibu sambungmu. Namun kasih sayang nya begitu tulus pada kamu dan kakakmu," Irawan terpaksa harus mengatakan ini pada kedua putra dan putri nya. Karena dirasa waktunya sudah tepat untuk mereka tahu, maka Irawan terpaksa mengatakan hal menyakitkan ini hari ini, pada Alina.


"Pah, ikhlaskan Mama Pah. Mama udah tenang. Papa jangan begini,"


"Papa gak sakit nak...


Dengar Alina," Irawan megang kedua bahu Alina.


"Kamu harus kuat, kamu harus bisa terima kenyataan. Sasmita adalah ibu sambungmu!"


Gadis itu tampak luluh dengan ucapan Irawan. Ia sekarang seperti sudah percaya, ia meluruhkan air mata yang sudah sejak lama ia tahan dari tadi walau mata nya sudah berembun.


"Pah, Papa cuma becanda kan? Iya kan?" Alina mengusap kasar air mata nya.


Irawan hanya menggeleng sambil tersenyum lirih.


"Kenapa Papa berbohong!


Kenapa gak dari dulu Alina tahu!" Alina menangis sejadi-jadinya. Lalu ia didekap Irawan guna untuk menenangkan hati nya.


Tak terbayang, baru saja ia harus kehilangan sosok Laki-laki yang dicintanya, dan sekarang, takdir kembali menghantam batinnya.


"Tenang nak, tenang. Kamu masih punya Papa dan Kak Fian. Kamu harus kuat. Kamu harus seperti ibumu, ia wanita yang kuat," ucap Irawan sambil menangis pilu. Ia mengusap-ngusap rambut halus Alina.


"Lalu ibu kandung Alina dimana Pah," ucap Alina sambil menangis.


"Bundamu..


Saat kamu dan Fian masih kecil.


Bunda mu tertangkap basah oleh asisten pribadi Papah, ia tengah berada di club malam bersama banyak laki-laki.


Dan...


Ia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Papa begitu tak sudi bila harus mempunyai istri seorang pelacur. Akhirnya, Papa mengusir bundamu dari rumah.


Dan sekarang.. Papa tak pernah bertemu lagi dengan Bundamu. Ia menghilang sampai sekarang. Tidak ada satu orang pun yang bisa menemukan bundamu. Lalu, teman Papah, Sasmita atau ibumu, ia begitu menyukai kamu dan Fian. Karena ia adalah seorang janda dan diceraikan suaminya karena tidak bisa memiliki anak. Papa merasa kasihan pada kalian berdua, Papa ingin kalian merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua. Dan.. Akhirnya Papa dan Ibumu menikah," Irawan pun menjelaskan masa lalu dan riwayat hidupnya kepada Alina dengan raut wajah yang tampak kecewa. Alina tak henti henti menagis sampai air mata nya hampir habis dikuras.

__ADS_1


"Tapi Papa tanya, apa pernah Mama kamu memperlakukan kamu tidak baik?"


"Nggak Pah! Mama selama ini gak pernah bentak Alina ataupun buat kesalahan sama Alina. Alina begitu menyayangi Mama, dan makannya.. Alina gak percaya kalau Mama itu bukan Mama kandung Alina," Alina mencoba menjelaskan semuanya sambil berlinang air mata. Perasaannya begitu kalut malam ini.


"Istirahat lah dulu," Irawan kemudian beranjak meninggalkan kamar Alina.


"Apakah mungkin waktu itu.." Alina kembali mengingat-ingat kejadian yang ada sangkut pautnya dengan pernyataan ini.


Flashback


Alina tengah mengantar Sasmita untuk bertemu teman arisannya. Ia sengaja mengajak Alina karena pada waktu itu Alina belum banyak kegiatan, terlebih ia masih duduk di bangku SMP.



Adzan isya berkumandang, Alina segera meninggalkan meja belajarnya untuk mengambil wudhu. Lalu setelahnya, ia menggelar sejadah dan melaksanakan shalat malam.


Beberapa rakaat pun telah diselesaikannya, ia bersimpuh menghadap sang kuasa.


Gadis itu mengadukan segala kesusahan hatinya terhadap sang khalik, ia menangis dalam do'a, lemah tak berdaya saat berkomunikasi dengan Tuhannya. Air mata nya tak henti mengalir kala ia mengingat ujian yang begitu melemahkan batinnya sekarang.


Pagi hari, gadis itu beranjak meninggalkan tempat tidurnya. Lalu merapikannya terlebih dahulu. Ia bersiap-siap untuk makan pagi bersama Ayah dan kakak laki-lakinya.


"Pagi Lin," sapa Irawan ketika melihat Alina tengah menuruni tangga.


"Iya Pah," jawab gadis itu yang tampak sedikit lesu.


Alina pun menarik kursi lalu mendudukinya. Dengan posisi ia berada di depan Irawan.


"De, hari ini ngampus gak nih?" Tanya Fian yang berusaha mengalihkan kesedihan Alina semalam.


"Alina gak ada jadwal sih, tapi nggak tahu nanti mau ngumpulin makalah sama Dela," jawab Alina sambil terus mengoleskan beberapa sendok selai coklat ke atas roti.


Fian hanya mengangguk sambil sedikit menghembuskan napas nya.


Acara makan pagi pun berjalan dengan suasana yang terasa canggung. Tidak ada percakapan di antara ketiganya, hanya sepi yang menjadi penenang suasana serta suara sendok dan garpu yang saling bertabrakan.


"Alina, setelah selesai makan, Papa tunggu di ruang keluarga. Ada yang mau Papa bicarakan." Ujar Irawan yang membuat Alina serta Fian langsung menoleh dengan tatapan yang terlihat bingung.


"Fian, kamu juga ikut!" Tukas nya lagi.


Kedua nya pun mengangguk lalu kembali melanjutkan sarapan pagi.


Gadis itu tengah duduk di pinggir tempat tidur sambil melamun memikirkan sesuatu. Entah apa yang ia fikirkan. Rasa rindu yang mungkin ia tengah rasakan sekarang, kehilangan sosok orang yang kita cintai memang menyakitkan. Namun jangan menjadikan hal itu acuan kita untuk melupakan dunia. Percayalah, takdir tengah mempersiapkan episode indah untukmu.


Terkadang, kita perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Antara melepaskan, dan mendapatkan adalah dua hal yang sama-sama terasa berat bila dilakukan.


Tok tok tok


Ketukan pintu terdengar dari luar, gadis itu segera refleks menoleh lalu berjalan untuk membukakan pintu.


"De, ayo ke bawah. Tadi Papa udah manggil," ujar Fian tanpa basa-basi.


"Yaudah," jawab Alina. Kemudian berlalu dari hadapan Fian tanpa menghiraukannya.


Kini mereka bertiga tengah berada di ruangan yang sama. Entah mengapa suasananya menjadi sangat canggung dan tegang.


"Alina, Papa... Mau tanya. Siapa yang sudah membimbing kamu masuk islam?" Tanya Irawan tanpa panjang lebar lagi.


Alina sedikit mengernyikan alis nya mendengar apa yang baru saja di ucapkan Papanya.


"Ustadzah Nurul pah," jawab Alina pelan.


"Siapa dia? Kenapa kamu bisa kenal sama dia?" Tanya nya lagi.


Alina pun menjelaskan awal ia bertemu dengan Ustadzah Nurul sekaligus yang telah membimbing nya masuk islam. Sementara Fian dan Irawan hanya menyimak apa yang tengah dibirakan Alina. Sesekali Irawan tampak mengangguk-ngangguk kecil pertanda faham apa yang di utarakan oleh Putrinya.


"Baiklah, besok antar Papa menemui orang yang sudah membimbingmu!" Alina semakin bingung apa yang sebenarnya Irawan inginkan.


"Buat apa Pah?"


"Tidak usah banyak bertanya, antar saja Papa besok."


"Yaudah,"


"Dan satu lagi yang harus Papa bicarakan. Papa, dan Fian sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan laki-laki yang tak lain adalah teman bisnis Papa sendiri,"


Tentu saja pernyataan Irawan membuat Alina terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba aroma pernikahan kian menyeruak. Alina tak menyanggupi permintaan Irawan. Karena ia harus melanjutkan pendidikan S1 nya.


"Papa apa apaan sih! Kenapa tiba-tiba ada perjodohan segala! Kak Fian lagi!" Ketus Alina yang tampak tak terima dengan keputusan Fian dan Irawan.


"Bentar dulu de, sabar dulu. Nanti di jelasin sama Papa," Fian berusaha menenangkan Alina yang tampak bergemuruh.


"Jadi begini Alina. Papa gak mau liat kamu terus-terusan kamu bersedih, apalagi setelah kamu mengetahui riwayat keluarga ini. Papa sengaja menjodohkan kamu, agar kamu ada pendamping hidup yang barangkali bisa menghilangkan kesedihanmu,"


"Tapi Pah, apa Papa fikir dengan nanti Alina menikah apalagi dengan Laki-laki yang Alina sendiri nggak tahu, Alina akan bahagia?"


"Tentu saja Papa jamin itu. Yang nama nya orang tua tidak akan salah memilihkan yang terbaik untuk putra putrinya,"


"Pokoknya minggu depan calon mempelai pria akan datang ke rumah kita. Kalian akan bertunangan," sambung nya lagi.


"Tapi Pah," Alina tampak pasrah dengan keputusan Irawan. Ia paling tidak bisa membantah apalagi berkaitan dengan orang tuanya.

__ADS_1


"Alina," ucap Fian lalu mengepalkan tangannya tanda memberi semangat.


Kehilangan sosok orang yang kita kagumi, adalah sesuatu hal yang paling menyesakan hati. Bukan, bukan raga nya, tapi sikap nya. Yang dulu ia adalah seorang yang paling berpengaruh dalam hidup, kini hanya tinggal jejak yang berbicara. Begini kah rasa nya hidup di atas putaran dunia, tak selalu apa yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Pergilah kamu dengan hidup mu, dan kisah mu. Selamat jalan``).


__ADS_2