
Pukul 07.00 Aku sudah bersiap-siap. Mandi, berdandan se-elegan mungkin. Berangkat menuju halte bus. Duduk. Menunggu bus antarkota berhenti.
Sebelumnya, Aku belum pernah pergi kemanapun sendirian. Aku hanya anak lulusan SMA yang sudah gap year satu tahun. Orang-orang bilang Aku anak pendiam. Namun, Aku tidak suka dengan pendapat mereka. Jika orang lain melihat Aku diam, maka sejatinya Aku bukan sekedar diam. Ketika Aku melihat, maka Aku bukan sekedar melihat. Saat Aku mendengar, Aku tidak sekedar mendengar. Bahkan jika Aku mencintai sesuatu, maka sejatinya Aku tidak sekedar mencintai. Orang lain tidak akan ada yang tau tentang itu, hanya Aku. Bahkan orang-orang terdekatku, Ayah, Ibu, Saudara, teman. Yang mereka ketahui tengtangku hanya sepucuk kuku hitam bagi semut. Banyak rahasia di balik rahasia.
“Yang dingin... yang dingin... yang dingin... ”. Suara pedagang asongan membuyarkan ide-ide yang akan ku tuangkan dalam tulisanku.
“Neng air neng? ”. Seorang Bapak-bapak menyodorkan botol aqua ke hadapanku.
“Maaf Pak”.
Aku tidak pernah memiliki keinginan untuk kuliah, karena lebih suka tinggal di sekolah berasrama. Tujuh tahun Aku tinggal disana. Kehidupannya sangat damai, tidak ada suara-suara kegaduhan seperti di halte ini. Lalu lalang kendaraan, keramaian calon-calon penumpang bus.
“Ayo Ayo segera masuk...penumpang yang akan menuju ke pusat kota segera masuk..... ”. Kondektur bus berteriak agar calon penumpang bus tujuan pusat kota segera naik. Membuat Aku menjadi kesal untuk kedua kalinya. Pertama karena Bapak-bapak penjual tadi, dan kedua karena Kondektur bus. Karena itu, Aku jadi kehilangan ide-ide untuk menulis.
__ADS_1
Di sekolah berasrama, Aku suka menulis. Dari menulis cerpen, kisah-kisah nyata, hingga Aku pernah menamatkan sebuah novel. Dengan menulis, seakan-akan ada kebahagiaan tersendiri. Aku bisa menceritakan apa yang sedang terjadi kepadaku. Suasana hati jadi semakin hidup. Aku tidak suka bercerita kepada orang lain. Bagiku, itu tidak ada gunanya.
“Mau kemana mbak?.. ”.
“Eh, mau ke pusat kota Bu”. Dengan singkat Aku menjawab pertanyaan ibu-ibu yang baru saja duduk disebelahku. Aku dengan tatapan mata masih mengarah ke layar gadget terus menulis. Tidak menghiraukan ibu-ibu itu. Perjalanan menuju pusat kota cukup lama, sehingga Aku memanfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat. Mengasah otak.
Hampir satu jam, jarak pusat kota sudah dekat. Aku memasukkan gadget kedalam tas. Lantas berjalan kedepan, memberitahu Pak sopir agar di turunkan di tempat tujuanku. Kampus.
Tiba di halaman Kampus, Aku langsung mencari ruang kelasku. “Busyet, sudah telat”. Aku berlari tergesa-gesa menuju lantai dua Fakultas Tarbiyah.
“Assalamu'alaikum”.
Dengan Napas tersengal Aku memberanikan diri mengucapkan salam. Rupanya Dosen sudah masuk sejak setengah jam yang lalu.
__ADS_1
“Wa'alaikum Salam. Masuk”.
Mataku menyapu seluruh ruangan mencari tempat duduk yang masih kosong. Di belakang.
“Baik, karena sudah hadir semua mari kita mulai kegiatan perkuliahan pada pagi hari ini”.
Kukira sudah mulai dari tadi, ternyata baru saja di mulai. Batinku sembari menghembuskan nafas lega “Huft”.
“Karena kalian masih mahasiswa baru, dan hari ini hari pertama kalian duduk di bangku kuliah, maka Saya ingin kalian untuk maju satu persatu memperkenalkan diri”.
Aku suka sekali dengan nada, gaya bahasa serta tampilan dosen ini yang elegant. Dengan make up yang tidak terlalu mencolok membuat wajah beliau tampak segar dengan usia sekitar 35 tahunan.
“Oke rupanya Aku akan mengagumi Dosen yang satu ini”. Batinku berkata seperti itu.
__ADS_1