
“Ke kantin yuk. Aku sudah lapar bestie”.
Rara, teman yang duduk di sebelahku. Jujur, Dia adalah orang yang pertama kali kukenal di kelas. Bukan maksud Aku sombong dan tidak mau berbaur, tapi mengenal lebih banyak orang akan membutuhkan banyak bicara. Dan itu akan banyak menguras tenaga. Introvert. Itulah sebutannya.
Orang yang introvert seringkali lebih banyak memilih untuk diam. Sehingga kebanyakan orang akan menyebut orang Introvert adalah sama dengan pendiam. Namun itu salah. Orang yang Introvert itu akan mendapatkan energi, kekuatan, dan motivasinya kembali dengan dirinya sendiri. Sehingga Dia lebih suka untuk diam, merenung, namun itu sudah biasa. Dengan caranya yang seperti itu, Dia akan menemukan energinya kembali. Tanpa harus dimotivasi oleh orang lain.
“Khof, makan dulu lah. Kamu dari tadi sibuk banget loh sama gadget Kamu”.
Rara mengingatkanku dengan wajahnya yang memelas. Sehingga Aku dengan malu-malu menurunkan gadget. Segera menyantap Bakso yang sudah kupesan sejak tadi. Hingga kuahnya Hampir dingin.
“Iya Ra, maaf. Hehe... ”.
“Eh, ngomong-ngomong Kamu tinggal dimana sekarang? Di kosan dekat sini? ”.
__ADS_1
“Enggak sih, Aku tinggal di sekolah berasrama. Jauh dari sini”. Aku Menyeringai.
“What? ”
Huk.. huk... huk... Aku kira Rara ngapain sampe tersedak segitunya, eh ternyata kaget karena tempat tinggalku jauh dari Kampus.
“Yaa... Buat pengalaman sih Ra. Biar bisa keluar-keluar gitu”.
“Eh asal Kamu tau, Bu dosen tadi sampe nungguin Kamu dateng lo. Soalnya kata beliau mahasiswa yang sangat spesial belum datang gitu. Terus pas Kamu datang langsung mulai tuh kelasnya. Emang Kamu udah kenal ya sama bu dosen tadi?”
“Ah yang bener Kamu, Kamu ini aneh ya Khof. Biasanya kalo Mahasiswi itu ngefans nya sama Pak Dosen, yang muda-muda gitu loh. Kamu ini aneh malah ngefans sama Bu Dosen”.
Sejenak Kami tertawa bersama.
__ADS_1
Rara. Aku baru mengenalnya beberapa jam lalu. Tapi rasanya sudah kenal dekat bertahun-tahun. Entah Aku langsung nyaman berteman dengannya. Bahkan Aku belum tau detail mengenai identitasnya.
Dia lebih banyak mengawali bertanya, sedang Aku lebih suka menjawab. Bagaimana mungkin seorang Khof yang alergi bertanya lebih dulu akan mau mengawali pembicaraan?
Ini situasi yang paling Aku suka. Punya teman yang suka bertanya. Sehingga Aku tidak akan bersusah payah menyiapkan pertanyaan jika berjumpa denganNya di kemudian hari.
“Eh Kamu bareng sama Aku ya, nanti bakal Aku antar sampe halte kok. Soalnya Aku belum hafal daerah sini”. Aku hampir tertawa mengakak, melihat wajah memohon Rara yang seperti anak kecil minta balon😂.
“Terus apa bedanya Kalo bareng Aku?.. Aku juga malah gak tau sama sekali daerah sini”.
“Kan nanti Kita bisa lihat di Google Maps, Aku yang nyetir Kamu yang pegang Gadget nya. Oke”. Tanpa seizinku Rara langsung menarik tanganku menuju ke parkiran. Membuat Aku tidak bisa mengelak. Hanya bisa menuruti kemauan teman baruku ini.
“Okelah. Pokoknya Kamu harus tanggung jawab. Nganterin Aku sampe halte beneran ya”.
__ADS_1
“itu mah gampang Khof, Ayo naik”