
Pukul 04.30 Aku tiba-tiba terbangun dari tidur. perasaanku sangat tidak enak. Serasa akan terjadi sesuatu yang menyakitkan. Aku langsung menghadap ke cermin. Karena itu kebiasaanku saat bangun tidur. Bukan karena ingin bercermin, tapi Aku hanya suka bercerita dengan cermin saat pagi hari. Ku tatap wajahmu di cermin. Entah akan terjadi apa, air mataku ingin tumpah begitu saja. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Ikut berbaris di antrian selanjutnya.
Aku menangis di dalam kamar mandi. Entah mengapa hati nuraniku berkata bahwa Aku akan kehilangan Bu Nyai. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus bercucuran itu.
“Halloo... Siapa di dalam? ” Seseorang menggedor pintu kamar mandi.
“Iya”
“Jangan lama-lama Mbak, ini masih banyak yang pada ngantri... ”. Aku lupa jika sudah terlalu lama menangis di dalam kamar mandi.
“Mbak ngapain aja sih, lihat tuh kamar mandi sebelah yang keluar udah empat kali loh... ”.
__ADS_1
“Iya Maaf”. Aku bergegas berganti pakaian, pergi ke ndalem untuk bersih-bersih seperti biasanya. Saat sudah sampai di kamar Bu Nyai, air mataku seperti tidak bisa di tahan lagi. Firasatku selalu berkata bahwa Bu Nyai akan tiada.
Dan betul, tidak lama lagi setelah Aku selesai bersih-bersih, seseorang datang sambil menangis histeris dengan menggenggam handphonenya.
“Ada apa Bu? ”
“Bu Nyai... Bu Nyai... ”. Saking histerisnya hingga Dia tidak mampu mengucapkan kata-kata dengan sempurna.
“Bu Nyai kenapa Bu...? ”. Tangisan Ibu itu semakin histeris ketika ada suara salam dari arah masjid. Bahkan sebelum Dia menyelesaikan ucapannya. Aku sepertinya sudah paham dengan apa yang sedang terjadi. Aku pergi meninggalkan kerumunan menuju ke kamar.
Tak Lama kemudian Eva datang dari Rumah Sakit. Tubuhnya lemas, matanya sembab. Aku tau perasaannya saat ini, Dia termasuk orang yang dekat dengan Bu Nyai selain Aku. Mungkin Dia juga merasakan firasat yang sama denganku sejak beberapa hari terakhir.
__ADS_1
Aku memeluk Eva. Berusaha untuk saling menguatkan dalam kondisi seperti ini. Dia sepertinya semakin lemas dan akhirnya_.
“Eva... Va bangun... ”. Dia tak sadarkan diri. Jatuh di dalam pelukanku.
“Dek tolong bantu bawa Mbak Eva ke kamar ya”.
Warga setempat sudah saling berdatangan. Mereka semua saling menguatkan. Mengingat kebaikan Bu Nyai, tentu sangat berpengaruh pada Mereka. Mereka membaca surat yasin dan tahlil bersama-sama sambil menunggu jenazah Bu Nyai datang.
Beberapa menit kemudian Eva sudah siuman, Dia langsung memelukku erat-erat. Ini adalah kejadian kejadian menyedihkan yang pertama kali terasa sangat berat dalam hidupku.
...****************...
__ADS_1
Beberapa hari setelah Bapak di rawat di Puskesmas terdekat, tetap belum ada perubahan. Dokter memberikan surat rujukan untuk Bapak agar Kami bawa ke Rumah Sakit yang lebih memadai. Aku yang sepanjang hari menjaga Bapak mulai saat di rawat di Puskesmas hingga di Rumah Sakit.
Beberapa hari kemudian mulai terlihat perubahan, Ibu sudah mulai bisa beraktivitas sehingga memutuskan untuk menggantikanku menjaga Bapak. Aku menolaknya karena Aku belum tega dengan Ibu yang baru saja sembuh.