
“Kalau memang engkau akan mengambil Bapakku tolong jangan sekarang Ya Allah”. Hanya do'a itu yang mampu Aku ucapkan dalam hati.
Pukul 10.00 Pagi
Ibu menyuruhku untuk pulang karena Mas Ab telah menunggu di bawah. Sedikit lega setelah beberapa hari terakhir hanya bisa menghirup udara pengap rumah sakit. Sampai di rumah Aku langsung mandi, air di kamar mandi rumah sangat segar. Kemudian Aku mengambil makan. Seperti orang yang sedanga kelaparan, Aku menghabiskan dua piring nasi.
Mas Ab menelpon beberapa jam kemudian. Aku tertidur. Mbak Imah dan suaminya gugup menyiapkan barang-barang yang di sebutkan Mas Ab. Aku melirik jam di handphone.
Jam 15.00
Berarti Aku sudah tidur tiga jam. Notifikasi di handphoneku terus berbunyi. Aku buka grup keluarga. Mas Ab mengupdate setiap perkembangan yang terjadi pada Bapak.
Mas Ab
‘Tensi darahnya tinggi😪’
‘Alhamdulillah udah normal’
Aku deg-degan setiap kali membaca pesan dari Mas Ab di grup.
‘Bapak minta di bawain buah melon, katanya enak’
‘Oke, nanti di belikan Mbak Imah’. Aku membalas pesan itu sebelum ketiduran tadi.
Dan saat ini, saat Aku baru saja membuka mata. Membuka grup keluarga__
Mas Ab
‘Bapak tanya terus kapan sore katanya’
Mbak Imah
‘Mau ngapain katanya? ’.
__ADS_1
Mas Ab
‘Ya Allah do'ain ya... Ini napas Bapak udah nggak normal’
Mbak Imah
‘Kenapa Mas? ’
Mas Ab
‘Selang infusnya di lepas, Bapak nggak mau pake’
’Sebentar, Bapak udah naza' ’
Deg-Deg
Air mataku sudah berjatuhan. Apa Aku akan benar-benar kehilangan Bapak?
Mas Ab
^^^Saya^^^
^^^‘Mas? ’^^^
Mas Ab
‘Bapak sudah nggak ada_’
Aku menangis sejadi-jadinya. Mas Ahmad, suami Mbak Imah segera menyusul ke Rumah Sakit. Mbak Imah belum mengerti apa yang sedang terjadi. Anaknya rewel. Dia harus mengurus anaknya dulu.
“Mbak_.” Aku memeluk Mbak Imah sambil menangis.
“Jangan nangis, kenapa__”
__ADS_1
“Bapak pasti sembuh Kok__”
“Bapak udah nggak ada Mbak”
Mbak Imah syok. Dia langsung lemas hampir pingsan. Anaknya ikut bersedih melihat wajah Mbak Imah.
“Ibu__”
Tetangga sudah berbondong-bondong datang kerumahku. Aku yang masih berusaha menyiapkan mental untuk menghadapi hal ini masih tertegun. Hanya diam di tempat. Sedang orang-orang yang datang, para tetangga dan kerabat sudah memeluki Aku sebelum ada suara pengumuman di Masjid.
“Innalillahi wainnailaihi Rajiuun. Berita duka__.”
Setelah mendengar pengumuman di masjid tadi. Tangisku semakin pecah, para tetangga tidak tega melihat Aku. Ada yang menenangkan juga, ada yang menata keperluan untuk pemandian jenazah, sebagian lagi membaca surat yasin dan tahlil.
Satu jam kemudian barulah sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumahku. Orang-orang bersiap untuk membantu menurunkan jenazah Bapak. Aku lari ke dalam kamar, tidak sanggup jika harus melihat Bapak dalam kondisi sudah kaku.
“Ya Allah do'aku engkau kabulkan, Bapak meninggal dalam keadaan Aku tidak sedang bersamanya. Tapi kenapa do'aku agar engkau tidak mengambil Bapak dalam kondisi Aku masih berumur yang semuda ini tidak engkau kabulkan. ”
Mas Ab, Mas Ahmad dan kerabat-kerabat memandikan Bapak. Aku masih dikamar berdiam diri setelah Mas Ab menyuruhku untuk membuka jenazah Bapak saat belum dimandikan tadi.
Ibuku memang satu-satunya wanita tangguh yang pernah Aku temui. Tidak setetes pun airmatanya yang jatuh.
...****************...
Suasana hatiku seperti senyap. Hampa. Tidak karuan rasanya setelah kejadian itu.
😪😪😪
Ada yang mau menghibur author nggak nih❓😪
Yang mau cung☝ tangan dong😁
Jangan tegang-tegang ya guyyys kalo baca. Biar nggak lupa kasih vote sama like nya😇😇
__ADS_1