AKU BUKAN IDAMANMU

AKU BUKAN IDAMANMU
BAB 12 Malaikat Maut


__ADS_3

Udara malam rasanya seperti menusuk tulang-tulang. Hawa dingin menyelimuti suasana. Belum lagi AC di ruangan itu menyala. Aku menyeruput kopi hangat di samping Bapak. Perutku seharian tidak terisi makanan. Aku Menyelonjorkan kaki sebentar. Meluruskan punggung yang hampir seharian belum istirahat.


“Bilang ke Mbak-mu Nduk, suruh Dia membersihkan rumah. Barang-barang yang terlihat kurang pantas ada di ruang tamu suruh menyingkirkan. ”


“Emangnya kenapa buk? ”.


“Sepertinya umur Bapakmu sudah tidak panjang lagi. ” Ibu membisikkan ke telingaku. Yang membuat jantungku ingin copot. Boleh jadi memang betul. Hawa malam ini berbeda dari biasanya. Sepertinya akan kedatangan malaikat malam ini_. Batinku dalam hati.


Aku pergi ke kamar mandi. Air mataku sudah tidak bisa di bendung lagi. Aku tidak mau Menumpahkannya di depan Ibu.


“Ya Allah kalau memang engkau akan mengambil nyawa Bapak tolong jangan malam ini ya Allah. Aku tidak akan sanggup melihat kejadian ini. ”


“Sholat Nduk nanti keburu ketiduran loh”. Harus Aku akui, Ibuku memang tidak ada tandingannya. Beliau selalu tenang dan tegar dalam menghadapi semua permasalahan. Aku tau, saat ini hati Ibu sedang kacau-kacaunya. Tapi beliau tidak menampak kesedihan itu kepadaku.


“Nduk kalau Bapakmu di ambil Kita ikhlaskan saja ya. Ibu tidak habis pikir kalau Bapakmu hidup dalam keadaan seperti ini, kata dokter Bapak mungkin akan terus memakai alat itu untuk membantu pernapasannya. Kasihan Nduk Bapakmu”. Aku menangguk kepada Ibu meskipun dengan berat hati dan menangis tak bersuara.

__ADS_1


“Ya udah Kamu tidur dulu aja. Ibu yang akan jaga Bapakmu”.


“Tidak bu, Aku akan ikut begadang menemani Ibu”.


“Kamu tidur Khof. Ibu tidak suka kalau Kamu terus mengeyel”.


Bagaimanapun ucapan Ibu ada perintah bagiku. Aku menurut. Menata bantal kemudian membungkus seluruh tubuhku dengan selimut. Aku membelakangi Bapak yang tidur di ranjang Rumah Sakit. Aku tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Bapak di usia yang baru setengah matang ini. Bapak harus mendampingiku sampai Aku dewasa. Sampai Aku lulus kuliah, kemudian meniti karirku hingga sukses. Kemudian menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu. Aku menangis dalam senyap di dalam selimut. Kalau kalian tau, itu rasanya sangat sakit. Tapi mau bagaimana lagi malam ini malam tidak bisa di ajak kompromi. Seperti benar-benar akan kedatangan malaikat maut. Aku akhirnya terlelap dan sudah berselancar dalam mimpi. Entah mimpi apa Aku lupa. Tapi hatiku rasanya sakit. Sesak. Hingga akhirnya Aku terbangun karena kedinginan. Ibu masih terjaga. Di samping Bapak sambil terus-terusan membaca do'a di telinga Bapak.


“Bu, gantian Aku yang begadang ya”.


Hawa dingin masih menyelimuti ruangan itu. Entah lebih cocok di sebut apa, seseorang atau sesosok . Menyingkap tirai Rumah sakit. Lantas menyapa Bapakku. Bapak tersenyum, mengangguk kemudian dalam beberapa saat kemudian Bapak memejamkan matanya dan tidak bernafas.


“Bapak...Bapak... ”.


“Nduk... ”

__ADS_1


“Bapak... ”. Semoga Bapak masih bisa bangun lagi .


“Nduk... Bangun sholat subuh”.


“Astaghfirullah... Bapak... ”


“Kamu kenapa? ”.


Aku melihat ke tempat Bapak berbaring.Alhamdulillah ternyata Bapak cuma tidur dan masih bernafas.


“Sholat Nduk... ”


Aku bergegas mengambil air wudhu. Suasana hati saat ini benar-benar kacau. “Ya Allah mimpi apa Aku semalam”. Batinku.


“Kalau memang engkau akan mengambil Bapakku tolong jangan sekarang Ya Allah”. Hanya do'a itu yang mampu Aku ucapkan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2