AKU BUKAN IDAMANMU

AKU BUKAN IDAMANMU
BAB 10 Orang-orang Tercinta


__ADS_3

Mimpi tadi adalah mimpi aneh yang terjadi kesekian kali. Sejak saat itu hatiku di selimuti firasat buruk. Ada rasa seakan-akan Aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Ini seperti dulu sebelum Aku kehilangan seseorang yang sangat berpengaruh pada hidupku. Seseorang yang telah mendidik ku sejak pertama kali tinggal di sekolah berasrama.


Beberapa tahun lalu....


Aku masih duduk di bangku sekolah. Tepatnya di kelas akhir sebelum ujian kelulusan sekolah. Aku sangat dekat dengan beliau. Beliau adalah istri dari pendiri sekolah berasrama. Orang-orang biasanya memanggil Bu Nyai. Dalam istilah orang Jawa, Bu Nyai adalah istri dari seorang tokoh agama atau yang di sebut dengan Kiyai.

__ADS_1


Bu Nyai Fatimah merupakan seseorang yang sangat lembut, ramah dan tidak pernah marah. Aku dekat dengan Bu Nyai sejak pertama kali masuk sekolah berasrama atau orang sekarang menyebut dengan Pesantren. Bu Nyai sudah sama seperti dengan Ibuku sendiri. Bu Nyai sangat perhatian kepada semua santrinya.


Suatu saat, Ibu Nyai jatuh sakit. Tidak begitu parah juga tidak biasa saja. Setelah beberapa hari sakit, akhirnya Bu Nyai minta di rawat di Rumah Sakit. Saking tidak tahnnya, sampai-sampai Bu Nyai mau nekat berangkat sendiri ke Rumah Sakit pada saat malam hari. Putra Putri beliau melarangnya. Berjanji untuk mengantar beliau ke Rumah Sakit pagi-pagi sekali.


Paginya Putra Putri beliau menepati membawa Bu Nyai ke Rumah Sakit pagi sekali. Aku pergi ke sekolah. Temanku Eva yang ikut menjaga Bu Nyai di Rumah Sakit. Otomatis seluruh aktivitas di Pesantren Aku yang menghandle. Bu Nyai menyerahkan semuanya kepadaku.

__ADS_1


Sore harinya. Abah Yai, Putra dari Bu Nyai. Penerus ke dua Pesantren yang Aku tempati mengunjungi Bu Nyai ke Rumah Sakit. Aku yang hanya Abdi Ndalem tentu di ajak beliau mengunjungi Bu Nyai. Hatiku berbunga-bunga. Bertemu Bu Nyai memang sesuatu yang selalu di tunggu-tunggu para Santri. Saat sudah sampai di sana, Aku menciun punggung tangan Bu Nyai. Entah mengapa sesuatu yang tadinya sangat kuharapkan kini berubah. Hatiku rasanya sedih melihat Bu Nyai yang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Kulitnya semakin keriput tidak seperti Bu Nyai yang beberapa hari Aku kenal. Kemarin beberapa hari yang lalu Bu Nyai masih segar meskipun usianya cukup lanjut. Namun hari ini beliau terbatuk-batuk. Ada selang infus di hidung dan tangan beliau. Hatiku tidak tega melihat Bu Nyai yang sekarang.


Malam itu juga, Abah Yai memutuskan meninggalkan Aku di Rumah Sakit untuk menemani Eva merawat Bu Nyai. Malam semakin larut. Bu Nyai terus terbatuk-batuk. Tidak hanya itu, ternyata ada sesuatu yang di sembunyikan Bu Nyai. Beliau selalu mengusap ujung bibirnya. Ternyata baru kusadari. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Itu ternyata karena ada darah.


Semalaman penuh Aku terus terjaga. Eva terkadang tidur terkadang juga terjaga. Kasihan sekali Dia seperti sangat lelah. Tiba di pagi hari, Aku memutuskan untuk kembali ke Pesantren terlebih dahulu. Sudah tiga hari belum ada tanda-tanda Bu Nyai segera kembali ke Ndalem. Eva pun masih menjaga Bu Nyai di Rumah Sakit.

__ADS_1


__ADS_2