AKU BUKAN IDAMANMU

AKU BUKAN IDAMANMU
BAB 07 Orangtua Butuh Bukti


__ADS_3

Seperti biasanya setelah mata kuliah yang menguras tenaga. Aku pergi untuk makan siang, mengisi perut yang sudah keroncongan akibat ikut berpikir keras. Bakso Pak Lik Salam selalu jadi makanan favorit mahasiswa. Selain ramah di kantong juga ramah di lidah.


“Gimana sih Khof supaya Aku bisa berpikir kaya Kamu? , Aku tuh bosan jadi orang kok cuma gini-gini aja. Pengen banget jadi mahasiswa yang aktif, terus dapat IPK tinggi. Orang tuaku pasti suka deh, nggak kaya sekarang yang suka mengomel mulu bilang Aku cuma bisa ngabisin duit aja”.


“Ada sih tipsnya”. Aku menjawab singkat.


“Ayolah kasih tau Khof. Ya hitung-hitung buat amal jariyah Kamu nanti deh Kalau misal sampai Aku bisa berubah”. Rara menyeringai membuat ku ingin tertawa. Tingkah lakunya yang seperti anak kecil masih belum bisa di perbaiki.


“Buktikan”.

__ADS_1


Seketika matanya langsung terbelalak. Aku tau maksudnya. Dia masih berusaha memahami apa yang baru saja Ku katakan.


“Ya buktikan kalau Kamu bukan seperti apa yang mereka katakan. Karena orangtua butuhnya bukti. Bukan hanya sekedar omongan dan janji”.


“terus gimana dong? ”.


“Haduh balik nanya lagi. Ya udah Kamu itu harus banyak membaca. Baca apa saja yang bersifat ilmu pengetahuan. Dengan itu Kamu akan bisa memberikan pendapat kepada segala sesuatu yang Kamu lihat. Misalnya nih, Kamu tau pulpen dan Kamu tau Sedetail-detailnya. Gunanya untuk apa, bentuknya bagaimana, harus beli dimana. Nah dengan itu Kamu akan bisa mendefinisikan tentang pulpen itu dengan bahasamu sendiri”.


“Bagus dong kalau gitu”.

__ADS_1


Semangkuk bakso Pak Lik Salam sudah di hidangkan di hadapanku. Cuaca yang cukup panas membuat Rara langsung meneguk setengah gelas es teh.


Kuliah di kampus swasta memang jarang di minati banyak orang. Kebanyakan lebih memilih kuliah di perguruan tinggi negeri karena alasannya lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi itu bukan masalah bagiku. Masalahnya adalah Aku harus konsisten masuk agar kualitas dan kemampuan diri Kita tak jauh beda dengan mahasiswa lulusan perguruan tinggi negeri.


...****************...


Flashback


Kuliah bukanlah sesuatu yang Aku impikan saat masih duduk di bangku SMA. Dulu Aku hanya ingin setelah lulus SMA mengabdi dan mendalami ilmu agama di sekolah berasrama terlebih dahulu. Saat masih SD Aku memiliki cita-cita yang banyak. Menjadi guru, designer dan arsitek. Tapi cita-cita itu luntur seiring berjalannya waktu. Bahkan saat sudah di kelas akhir temanku sudah memiliki pandangan untuk melanjutkan kemana, tapi Aku belum. Aku adalah tipe-tipe orang yang tidak pernah menuntut. Hanya bisa mengalir seperti air. Hingga akhirnya Aku sempat gap year.

__ADS_1


Bulan-bulan saat gap year adalah perjalanan yang sulit di tebak. Jalan hidup yang berliku-liku. Antara pahit dan manis. Karena memang hidup adalah ibaratkan sebuah piano, ada yang putih dan ada yang hitam. Setelah lulus SMA ada utusan untuk membantu di yayasan tempatku belajar. Akhirnya keinginanku untuk mengabdi tercapai. Mulai dari membantu di yayasan, membantu untuk membuatkan makanan anak-anak yang tinggal di sekolah berasrama, berbelanja untuk masakan setiap hari. Aku melaluinya dengan senang. Bulan demi bulan sudah lampau. Satu persatu teman seperjuanganku mulai banyak yang tidak betah disana. Banyak yang pulang kampung. Hingga yang bertahan hanya satu. Dia adalah Aku. Aku sendirian. Tidak punya teman.


__ADS_2