
Hari demi hari terus berjalan, mengalir seperti air. Tak terasa Aku sudah memasuki semester ke dua di kelas perkuliahan. Hari-hariku sudah disibukkan oleh statusku sebagai mahasiswa. Yang selalu orang-orang bilang, kuliah rasanya seperti kepala akan pecah. Banyak tugas yang rumit, deadline setiap hari, dan keluhan ini itulah yang justru akan mempesulit keadaan.
Bagiku, No. Hidup kita, tergantung pola pikir dan pola bertindak Kita sendiri. Tidak ada yang sulit, tidak ada yang berat, yang berat hanya mindset orang yang gagal. Aku, dengan segala kemampuanku selalu berusaha membuat pandangan hidup dan pola berpikir sesederhana mungkin. Punya tugas, ya di kerjakan. Deadline menumpuk, ya di selesaikan bukan hanya di pikirkan.
Aku memandang sama halnya dengan ketika kita lapar, solusinya makan. Ketika kita lelah, istirahat. Waktunya Belajar ya belajar, waktunya Kerja ya kerja. Hidup akan sesederhana itu kalau kita memiliki pola pikir yang sederhana. Namun, kebanyakan orang sering lupa memikirkan solusi, mereka hanya fokus dengan masalah. Padahal jika kita berbicara masalah, pasti selalu ada.
Setiap manusia dalam menghabiskan sisa umurnya tentu memiliki tantangan, hambatan dan rintangan sendiri-sendiri. Antara Aku dan orang lain memiliki jalan hidup yang berbeda. Akan tetapi tujuan kita sama. Yaitu mencapai sebuah impian.
“Mbak enak nggak sih kuliah? Kalau enak nanti Aku mau daftar kuliah deh”. Tanya Dela, adik kelas di sekolah berasrama yang akan lulus tahun ini.
“Enak enak aja sih Del”.
__ADS_1
“Katanya banyak dikasih tugas ya, sama di suruh-suruh Dosen gitu? ”.
“Dela, jangankan Kuliah, Kamu sekolah dari dulu juga selalu di kasih PR kan sama Gurumu, Kamu di suruh membuka halaman perhalaman, lantas di suruh membaca bukan? Nah kuliah juga sama halnya dengan Sekolah”.
“Iya sih mbak, jadi gitu ya”. Dia menggaruki kepalanya yang tidak gatal. Lantas Aku pergi menuju dapur sekolah berasrama. Melanjutkan aktivitas rutinku sebelum berangkat kuliah untuk bergulat dengan panci, wajan dan kawan-kawan.
...****************...
Sejak pertama kali kuliah, Aku hanya dekat dengan tiga teman. Rara, Raisa, dan Kaila. Untuk selebihnya Aku biasa saja. Kedekatan ku dengan mereka bukan segalanya bagiku, juga bukan palsu. Meskipun sejak dulu Aku lebih banyak diam, tapi Aku tidak pernah membeda-bedakan teman. Semua teman Aku anggap sama. Aku bisa berteman dengan siapa saja.
Kami berempat, selalu suka diam-diam kabur dari Kampus saat jam istirahat. Padahal sebenarnya itu masuk ke dalam point pelanggaran. Kami berempat memiliki kisah sendiri. Suka keluar kampus, beli jajan dan makanan di luar, hingga fotocopy di luar kampus. Meskipun Kami tau itu kurang benar, tapi dengan sangat bangga Kami selalu mampu melewati gerbang misterius itu, kata para mahasiswa karena Security yang serem dengan tubuh kekar dan suara yang menggetarkan isi bumi saat berteriak.
__ADS_1
“Kai, Kamu sudah ngerjain tugas mata kuliah psikologi? ”.
“Belum. Mungkin Rara yang sudah selesai”.
“Iya punyaku sudah beres”.
“Aduh gimana Aku bingung banget lo. Sampai-sampai kepalaku pusing gara-gara mikirin tugas itu”.
“Santai aja lah ngapain di bikin pusing”. Aku ikut mencomot sembarang topik yang mereka bicarakan saat makan di Kantin.
“Ya gimana sih Khof, Aku selalu tidak bisa santai kalau udah ada tugas. Harus begadang bermalam-malam kalau mau ngerjain”.
__ADS_1
“Iya Raisa kan maunya harus selalu perfect biar dapat nilai bagus, juga biar bisa deket sama Pak Dosen itu”. Kami semua tertawa dengan renyah.