AKU BUKAN IDAMANMU

AKU BUKAN IDAMANMU
BAB 04 Kejadian Lama


__ADS_3

Pukul 02.00 dini hari di Sekolah berasrama.


Aku tidak bisa memejamkan mata. Melihat anak-anak yang tidur terlelap rasanya ingin seperti mereka. Tidur tanpa beban, tanpa ada rasa salah. Sedangkan Aku, masih terus terjaga. Ada sesuatu yang melintas di kepalaku. Kejadian Lama.


Aku terus teringat. Bahkan ketika Aku ingin melupakan kejadian itu untuk sementara waktu, sepertinya Tuhan tidak mengizinkan. Di saat sudah beberapa tahun memoriku menutup untuk ingat, tapi pada malam hari ini juga ingatan itu kembali.


Mbak Diyah, salah satu pengurus sekolah berasrama menangis sesenggukan di kamar, suara tangisannya cukup di dengar oleh Murid-murid lain yang masih terjaga. Mereka saling bertanya-tanya “Ada Apa? ”, mereka tidak ada yang tau alasan Mbak Diyah sampai menangis seperti itu. Mbak Imah yang berstatus sebagai ketua sekolah berasrama hanya mengatakan “Tidak ada apa-apa. Semua langsung masuk kamar dan tidur. Tidak akan ada yang boleh begadang sampai larut malam”. Kata-kata nya memang selalu tegas dan berwibawa. Sehingga tidak ada satupun Murid yang berani membantah.


Beberapa hari kemudian ternyata berita tentang kejadian itu sudah mulai tersebar. “Siapa sih pelakunya? jadi gemas deh Aku kalau gini”. Kata-kata seperti itu kerap kali di ucapkan para Murid di sekolah berasrama.

__ADS_1


Seminggu kemudian, seluruh Murid di kumpulkan menjadi satu di halaman depan sekolah berasrama. “Rasakan itu, emang ya kalau ngelakuin gak mikir. Bisa-bisanya si pelaku itu... Aduh jadi geregetan sendiri. Udah pasti habis ini pasti ketemu kok pelakunya. Kamu tenang aja, semua masalah akan selesai”. Kata Mbak Imah kepada Mbak Diyah yang lebih banyak diam sejak kejadian itu. Mbak Imah, meskipun sebenarnya Dia juga tidak banyak bicara, tapi akibat kejadian itu Dia ikut-ikutan bisa marah seperti teman-teman lainnya.


Semua Murid telah berkumpul di halaman. Sidang telah resmi di buka. Satu persatu Murid di panggil, ada yang mewawancarai sendiri. Dalam ruangan yang sempit, di sediakan berbotol-botol air yang sudah ada Jimatnya. Air itu nantinya akan di berikan kepadaseluruh Murid di Sekolah berasrama. “Apabila ada yang berbohong, maka kalian tinggal menunggu waktu saja. Hal yang tidak kalian inginkan akan terjadi. Makanya jangan macam-macam, Kalian tinggal disini tujuannya belajar. Bukan malah melakukan hal yang tidak-tidak”. Seru Gus Anam di depan seluruh Murid yang membuat Mereka semua menunduk ketakutan.


Satu persatu murid di panggil, tiba gikiranku. Aku mati-matian menahan ketegangan. Berusah memasang wajah setenang mungkin. Agar tidak ada seorangpun yang mencurigai Aku.


Dag dig dug serrr.....


“Berani bersumpah? ”.

__ADS_1


Deg... “Kenapa harus pake sumpah sih” umpatku dalam hati.


“Iya Gus”.


“Baik Kamu bisa keluar”.


Dengan itu, hatiku sedikit lega. Memang pertanyaan dari Gus Anam tidak banyak, tapi itu tadi Seluruh Murid harus memberikan pernyataan yang bukan main-main. Pernyataan Dunia Akhirat.


Sejak hari itu, tidurku mulai terganggu. Tidak bisa tidur tenang, mulai di hantui oleh rasa-rasa takut jika sampai terbongkar. Karena, Sepandai-pandainya Kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Tiap hari rasa bersalah itu semakin besar. Aku teringat saat melakukan tindakan itu. Sampai Aku menyiapkan kata-kata seandainya Aku di curigai, maka Aku akan membuat alasan pembelaan___.

__ADS_1


Srek... Srek...


“Suara Apa itu“


__ADS_2