AKU BUKAN IDAMANMU

AKU BUKAN IDAMANMU
BAB 08 Bapak


__ADS_3

Libur semester telah tiba. Aku balas dendam kepada diriku. Waktuku lebih banyak Aku gunakan untuk istirahat. Perjalanan sehari-hari yang cukup jauh membuatku sering kali jatuh sakit. Tiba di suatu saat. Mas Ab, Kakak pertamaku menelpon dengan suara serak.


“Dek besok pulang ya. Ibuk sama Bapak sakit”.


Deg Deg__


Jantungku seperti tiba-tiba copot, nadiku sudah tidak berdenyut lagi.


“Dek Kamu denger kan? ”.

__ADS_1


“Eh iya Mas, kok bisa Bapak sama ibuk sakit bersamaan? Sakit apa Mas? ”.


“Udah musimnya Khof, pulang ya besok. Kasihan Mbak-mu jagain sendirian. Besok Mas jemput pagi-pagi”.


“Kalau sekarang aja gimana Mas? ”.


“Jangan sekarang lah, besok aja pagi-pagi habis subuh”.


“Kalau gitu Mas tutup dulu ya, jangan lupa besok pagi banget”.

__ADS_1


“Siap”


Malam itu juga Aku langsung membereskan barang-barang yang akan ku bawa pulang. Aku terus terjaga tidak bisa memejamkan mata samasekali. Mengingat kedua orang tuaku. Masih berpikir keras bertanya-tanya mengapa Bapak sama Ibu bisa sakit bersamaan? terus sakit apa? separah apa sampai Aku di suruh pulang ke kampung halaman?.


Tiba pagi buta setelah subuh, Mas Ab benar-benar menepati janjinya. Menjemput Aku masih petang. Setelah sekian lama Aku tidak pulang ke kampung halaman, sekarang Aku pulang dengan hati penuh keresahan. Sepanjang perjalanan Aku membayangkan hal-hal yang tidak kuinginkan sambil air mataku menetes. Aku mengingat tubuh Bapak yang lebih kurus dan Ibu yang tak selemah biasanya saat di kirimkan gambar Mas Ab tadi malam. Aku anak terakhir, Aku tidak ingin di tinggalkan orang tuaku sebelum benar-benar dewasa. Agar bisa menghadapi perihnya kehidupan dengan sendiri. Aku selalu di manja Bapak, meskipun Aku jarang berbicara secara langsung sama Beliau. Kalau Aku minta apa-apa selalu bilang ke Ibu. Bapak bukan tipe orang yang banyak bicara. Akan tetapi sangat berwibawa. Bijaksana. Meskipun Bapak pun jarang mengajakku berbicara, tapi Aku tau. Bapakku lebih sayang tanpa di ucapkan dengan kata-kata. Karena rasa sayang yang sebenarnya itu tidak bisa di ungkapkan akan tetapi di buktikan.


Sampai di rumah Aku langsung memeluk Bapak dan Ibu yang tidur berdampingan. Aku menangis. Tidak tega melihat orang tua yang sedang dalam keadaan lemah kedua-duanya. Inilah sesuatu yang tak pernah di inginkan oleh anak perantauan. Lama tidak bertemu orang tua, tiba-tiba ada keluarga yang menyuruh png atau memberikan kabar orang tuanya sudah di panggil tuhan. Itu sangat menyakitkan. Tapi Aku masih beruntung masih bisa melihat wajah Bapak dan Ibu meskipun dalam keadaan yang lemah itu lebih dari cukup.


Aku berharap semoga setelah Aku berada di rumah kedua orang tuaku di berikan kesembuhan. Di angkat penyakitnya oleh yang maha kuasa. Aku dengan senang hati merawat Mereka berdua. Bapak terbatuk-batuk dalam. membuatku tidak tega mendengannya. Apalagi sambil menahan rasa sakit yang dalam.

__ADS_1


Bapak, Aku sayang menyayangimu meskipun Aku tidak berani memulai bicara. Aku yang hanya dekat dengan Ibu. Tapi engkaulah pelindung keluarga ini. Sumber kehidupan keluarga. Engkau banting tulang demi menghidupi Kami.


Bapak, Aku mungkin saru-satunya anakmu yang tidak pernah berbicara. Tetapi rasa sayangmu tidak bisa ku balas dengan apapun. Bahkan jika boleh di bayarkan dengan uang, Aku tidak akan pernah mampu membayarkan Rasa Sayang itu.


__ADS_2