
Setelah dua jam perjalanan, Rayhan dan Zia telah sampai di pelataran rumah orang tua Rayhan. Rumah itu terletak di dalam komplek rumah mewah di kota itu, namun terlihat berbeda dengan rumah-rumah lainnya di lingkungan itu. Bila rumah di sekitarnya dibangun besar, megah dan mewah, rumah orang tua Rayhan ini termasuk sederhana dan asri, rumah bercat serba putih, dan halamannya luas dengan hamparan rumput jepang juga beraneka warna bunga menghiasi. Rupanya hanya setengah dari luas tanah yang dibangun rumah, selebihnya dibuat taman.
"Ma syaa Allah, bagus banget Mas, Ayahnya Mas Ray pengusaha juga?" tanya Zia saat mereka masih di dalam mobil.
"Bukan, papa seorang dokter, internist, sebentar lagi pensiun beliau," sahut Rayhan.
"Internist?" tanya Zia belum mengerti.
"Penyakit dalam, dokter spesialis penyakit dalam, kalau mama ibu rumah tangga, suka berkebun dan menjahit seperti kamu Zi," jawab Rayhan.
"Apa mereka akan menyukai ku Mas?" tanya Zia.
"Kenalan dulu Zi, kalian belum berkenalan, kan pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, yang jelas mereka tidak membencimu,"
"Serius Mas?"
"Kalau mereka benci, mengapa mengizinkan anaknya menikah dengan kamu, yuk masuk, mereka sudah menunggu di dalam," ajak Rayhan yang melepas tali sabuk pengamannya.
Rayhan menggandeng tangan Zia memasuki rumah masa kecilnya itu.
"Assalamualaikum," sapa Rayhan memasuki pintu rumah yang terbuka itu.
"Lepas sepatumu Zi, kita ganti sandal rumah itu," Rayhan menunjukkan barisan sandal dalam rak. Zia mengikuti saja.
"Waalaikumussalam, kalian sudah datang," seorang perempuan berumur pertengahan enam puluh tahun keluar dari dalam rumah dengan senyuman terukir di wajahnya.
"Iya Ma, ini Zia Ma," Rayhan memperkenalkan mereka.
Zia dan Rayhan mencium punggung tangan mama Hasna.
"Yuk masuk, papa sudah nunggu di meja makan, ada Rangga," ucap mama Hasna memimpin jalan ke ruang makan.
__ADS_1
"Assalamualaikum pa.." sapa Rayhan pada papa Ridwan dan Rangga yang tengah sarapan.
"Waalaikumussalam," sahut mereka.
Rayhan dan Zia juga mencium punggung tangan papa Ridwan, kemudian Rayhan menyalami adik bungsunya Rangga, sedang Zia hanya menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Ma, Pa, aku udah selesai, berangkat dulu ya," pamit Rangga seraya berdiri dari kursinya.
"Buru-buru banget Ngga," ucap Rayhan.
"Iya Mas, udah jam nya, mau telat nih, nti nginep kan? Tunggu aku pulang kerja," ucap Rangga kemudian berpamitan kepada kakak dan orang tuanya.
"Yuk sarapan Zia, mama cuma masak seadanya, habisnya Rayhan ndadak bilang mau sarapan di sini, jadi ga sempat siapkan apa-apa," kata mama Hasna.
"Iya Ma, ma syaa Allah ini juga kelihatan enak kok, eh iya maaf saya juga ga bawa apa-apa, mas Ray bilangnya juga dadakan," sahut Zia.
"Iya kamu cicipin aja masakan mama, tuh ambilkan buat suamimu," ujar mama Hasna.
Zia mengambil piring di hadapan Rayhan dan mengambilkan nasi beserta sayur dan lauknya, kemudian meletakkan piring itu kembali ke depan Rayhan.
"Waiyyak," sahut Zia sedikit berbisik, kemudian ia mengambil makan untuk dirinya sendiri dan duduk di samping Rayhan.
Zia membuka cadarnya dan makan dengan pelan, jujur ia masih canggung berada di tengah mertua barunya.
"Anak-anak ga ada yang ikut ini?" tanya papa Rendra.
"Semuanya masih sama Al Pah, Al memberi waktu buatku dan Zia agar lebih dekat dan mengenal lebih dalam lagi," sahut Rayhan. Sedangkan papa Rendra hanya mengangguk-angguk saja.
Selesai sarapan, papa Rendra mengajak Rayhan berbincang di taman belakang rumah. Sedangkan Zia membantu mama membereskan meja makan, dan ada asisten rumah tangga mereka yang mencuci piring.
"Sebenarnya papa dan mama cukup terkejut dengan keputusan kamu berpoligami, kenapa? Apa Al sudah tidak sanggup melayani kamu Ray? Apa dia ada sakit?" tanya papa Rendra.
__ADS_1
"Alhamdulillah dia sehat Pa, ya mungkin sudah kewalahan denganku Pa, tapi dia sendiri yang menawarkan aku untuk berpoligami, dan Zia dan putrinya memang sangat membutuhkan aku, dan bismillah kami jalani pelan-pelan, minta bantuan Allah agar aku bisa adil dengan mereka berdua, dan Allah cukupkan rezekiku untuk mereka," jawab Rayhan.
"Kalau itu sudah jadi keputusan kalian, maka sebagai orang tua kalian, papa dan mama cuma bisa mendoakan dan merestui, tapi jangan kamu sakiti diantara mereka berdua, mereka juga putri berharga orang tuanya, dan jangan keasyikan sama yang baru, kamu telantarkan istri tua kamu," tutur papa Rendra.
Rayhan tersenyum mendengar penuturan papanya. "In syaa Allah Pah, eh papa ga ke rumah sakit?" tanya Rayhan.
"Iya, papa siap-siap dulu, kamu jangan lupa telpon Al," ucap papa Rendra.
"Baik Pah," sahut Rayhan. Setelah papanya pergi ke dalam rumah, Rayhan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelpon istri pertamanya sesuai perintah sang ayah, Rayhan memang terbiasa menurut kepada orang tuanya.
Di dapur, sang asisten rumah tangga yang bernama Mba Santi itu sibuk mencuci piring, ditemani Zia. Mama Hasna ke kamar untuk membantu papa Rendra bersiap-siap.
"Saya bantuin Mba," ucap Zia menawarkan diri, ia merasa tak enak melihat Mba Santi bekerja sendiri, dan dari tadi Mba Santi hanya diam tidak menyapa Zia. Dalam hati Zia berpikir mungkin sifatnya memang cuek seperti itu.
"Nggak, ga perlu," sahut Mba Santi dengan sedikit sewot.
"Mba namanya siapa?" tanya Zia.
"Santi, udah sana jangan ganggu saya kerja, kamu bukan nyonya di sini," sahut Mba Santi dengan nada yang tidak bersahabat. Zia sungguh terkejut dengan perlakuan asisten rumah tangga itu.
"Zi," panggil Rayhan yang masuk dari pintu belakang.
"Iya Mas Ray," sahut Zia.
"Ke kamar yuk, aku capek nyetir tadi," ajak Rayhan seraya meraih pinggang Zia dan membawa Zia ke kamar paling depan. Zia hanya diam menurut.
"Ini kamar Mas Ray sama Mba Al?" tanya Zia, ia merasa tidak enak harus menempati kamar yang biasa dipakai oleh madunya.
"Dulu sih, tapi setelah kelahiran Sulaiman, pindah ke paviliun belakang itu, di sini terlalu sempit buat aku, Al, sama tiga anak, apalagi setelah ada Fatimah,"
"Oh... anak-anak ga di kamar sendiri?" tanya Zia.
__ADS_1
"Ga, aku yang mau begitu, biar aku bisa menahan diri untuk tidak menggangu umminya, bagiku kurang nyaman, melakukan hal intim di rumah orang tua atau mertua, semoga kamu bisa mengerti kalau aku tidak menyentuhmu sewaktu di rumah ini, atau di rumah bapak ibumu," ucap Rayhan.
Zia hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Rayhan, sebenarnya ia masih kepikiran dengan perlakuan asisten rumah tangga tadi.... Apa karena ia hanya istri kedua sehingga pantas diperlakukan seperti itu...