
Hari itu giliran Rayhan pulang ke rumah Alfina. Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Rayhan datang bersama Aisyah dan Sulaiman yang pulang dari sekolah.
"Assalamualaikum," ucap mereka ketika memasuki rumah.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut Alfina yang sudah cantik dan harum sehabis mandi sore. Aisyah dan Sulaiman menyalami Umminya. Dan Rayhan yang masuk paling belakang, Alfina mencium punggung tangan Rayhan dengan takzim, kemudian Rayhan mengecup kening Alfina, dan mereka berpelukan. Lama dan hangat.
"Umma, aku mandi dulu," ucap Aisyah yang naik ke lantai atas.
"Sulaiman juga mandi dulu," Sulaiman menyusul kakaknya, mereka seakan mengerti bahwa kedua orang tuanya ingin berdua melepas kerinduan.
"Mas Ray," ucap Alfina.
"Hmm...iya Al," sahut Rayhan.
Mereka kemudian melepaskan pelukannya dan saling berhadapan sambil saling memandang dan tersenyum, tangan Rayhan di pundak Alfina, sedangkan kedua tangan Alfina berada di pinggang Rayhan.
"Fatimah mana?" tanya Rayhan yang tak kunjung melihat putri bungsunya itu.
"Tadi masih main di kamarnya, aku turun duluan karena ini sudah jamnya kalian pulang," jawab Alfina yang wajahnya berseri-seri menyambut suaminya pulang.
"Oh...aku gerah pengen mandi, sebentar lagi Maghrib juga," ucap Rayhan.
"Baik, kita ke atas, aku akan menyiapkan baju ganti buat Mas Ray ke Masjid," kata Alfina, kemudian menggandeng lengan Rayhan dan mereka naik tangga bersama.
"Kamu ga kewalahan ngurus anak-anak sendiri Al?" tanya Rayhan.
"Alhamdulillah, nggak Mas, semua Allah mudahkan, Aisyah dan Sulaiman mulai bisa bertanggung jawab dengan apa yang mereka kerjakan," jawab Alfina.
"Misalnya?" tanya Rayhan.
"Kalau tidur kemalaman, bisa bangun kesiangan, terus gimana caranya biar ga kesiangan, tidur cepet, lalu kalau pagi ga cepet bangun, bisa-bisa telat ke sekolah, makanya pagi harus cepet bangun, dulu kan kita repot ya Mas, teriak-teriak bangun bangunnn... sekarang mah nggak, mereka bisa sendiri, kasian sama emaknya kali," ucap Alfina.
__ADS_1
"Ada hikmahnya berarti kalau aku ga di rumah, aku mandi dulu sayang," ucap Rayhan yang menutup pintu kamar mandinya.
Alfina segera menyiapkan baju ganti untuk Rayhan.
Setelah siap, Rayhan ke masjid bersama Sulaiman untuk sholat Maghrib berjamaah.
.
.
Malam harinya selepas isya mereka semua berkumpul di ruang tengah untuk belajar bersama. Kali ini tugas Alfina menjadi lebih ringan, karena Rayhan kembali membantunya mengajari anak-anak. Untuk belajar pelajaran akademik, Alfina yang mengajari mereka, dan untuk setoran hafalan Al Qur'an, mereka bersama Rayhan.
Fatimah yang sedari tadi menempel di pangkuan Rayhan, tidak mau sedetikpun jauh dari abinya, ia memeluk Rayhan seakan tidak mau ditinggal pergi lagi.
"Abi, Umma, Aisyah sudah ngantuk," ucap Aisyah, seraya menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Terlihat matanya sudah berair juga karena mengantuk.
"Yuk, Fatimah, ummi antar ke kamar, Fatim bobok sama mba Ais ya," ucap Alfina hendak meraih putri bungsunya itu.
"Ga mau, Fatim bobok sama Abi," ucap Fatimah menolak ajakan Alfina, dan tetap memeluk Rayhan. Rupanya gadis kecil itu sangat merindukan Abinya. Rayhan dibuat tersenyum olehnya.
"Ya sudah, kita semua tidur bersama di sini ya, Abi juga kangen kalian semua," ucap Rayhan.
"Yeaaa!!!" seru anak-anak. Alfina juga senang mendengar keputusan Rayhan, sudah lama juga mereka tidak tidur bersama-sama, terakhir kali waktu liburan di rumah mertuanya.
"Fatim, duduk di sofa dulu ya sayang, Abi mau ambil kasur," ucap Rayhan. Fatimah mengangguk patuh dan bergeser menuju sofa, lalu duduk manis di sana.
Rayhan bersama Sulaiman mengusung kasur dari ruang tv, dan Alfina bersama Aisyah mengambil bantal dari kamar atas.
Kemudian mereka berbaring bersama, berturut-turut Aisyah, Alfina, si kecil Fatimah di tengah, Rayhan, kemudian yang paling pinggir Sulaiman.
"Yuk berdoa yuk," ucap Alfina.
__ADS_1
"Bismikallahumma ammutu wa ahya," ucap mereka, Rayhan kemudian mematikan lampu dan kembali ke tengah mereka.
Setelah anak-anak tertidur, tangan Rayhan mengulur membelai rambut Alfina.
"Tidurlah Zaujaty...kamu pasti capek hari ini," ucap Rayhan. Alfina merasa sangat nyaman dengan belaian Rayhan.
"Iya ....Mas Ray juga, pasti sudah sangat capek bekerja seharian untuk kami, selamat tidur Mas," ucap Alfina. Dan tak lama kemudian semuanya sudah terlelap ke alam mimpi.
Rayhan sangat bersyukur dan bersyukur, dia sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini kembali. Bukannya tidak senang dengan Zia dan Maryam, tapi Rayhan juga merasa rindu dengan anak istrinya yang di sini.
.
.
Keesokan harinya Alfina sedang memasak di dapur, sedangkan Rayhan membantu Sulaiman dan Fatimah bersiap-siap, kemudian setelah Sulaiman dan Fatimah siap, disusul Aisyah mereka turun ke bawah untuk bersiap sarapan pagi.
"Kita sarapan apa nih?" tanya Raihan.
"Aku cuma bikin nasi goreng sama telur mata sapi Mas Mas gak keberatan kan?" tanya Alfina.
"Tentu saja tidak sayang yuk kita sarapan sama-sama," ucap Rayhan. Dan Alfina dibantu Aisyah menata piring-piring di meja makan kemudian mereka sarapan bersama.
Selepas sarapan Rayhan membawa anak-anak menuju sekolah dan Alfina mengendarai mobilnya sendiri menuju kedai ayam gorengnya.
"Hati-hati di jalan Al," ucap Rayhan.
"Mas Ray juga," sahut Alfina, dan mereka kemudian masuk mobil masing-masing.
Alfina sengaja membawa mobilnya sendiri karena nanti ia akan berbelanja beberapa bahan untuk kedai ayam. Maka jalan yang diambil sudah berbeda dengan mobil Rayhan. Mereka berpisah di persimpangan pertama dekat rumah mereka.
Alfina menyetir dengan kecepatan sedang saja, ia menyetir ditemani si kecil Fatimah. Namun sewaktu di lampu merah ada yang menyerodok mobilnya dari belakang.
__ADS_1
"Aaahhhh...." ucap Alfina. Dan Fatimah pun menangis karena terkejut. Alfina merasakan basah di bawah roknya. Dan dia semakin panik dan terkejut, karena ia menyentuh tempat yang didudukinya ,dan melihat warna merah di tangannya.
Setelah itu Alfina tak sadarkan diri. Beruntung sopir penabrak itu mau berhenti dan melihat keadaan Alfina.